Feeds:
Posts
Comments

*********

Chapter 9: KEMBALI KE KOTA

Perlengkapan sudah masuk bagasi mobil  Beberapa kardus berisi oleh-oleh dan souvenir sudah diletakkan di jok belakang.  Pagi ini aku dan Pak Martin sudah siap kembali ke kota.  Keluargaku berkumpul di teras depan untuk mengantar keberangkatan kami.

“Terima kasih Bapak dan Ibu, saya mohon pamit..” Pak Martin memulai untuk pamitan kepada bapak dan ibu.

“Terima kasih Nak Martin, tolong Kris dibimbing, biar sukses seperti Nak Martin…” Bapak serius berharap.

“Pak Kris pekerja hebat lho, jadi Bapak tidak perlu khawatir, tinggal doa  restu Bapak dan Ibu saja…” Pak Martin berdiplomasi, terdengar oleh telingaku cenderung basa basi.

Aku menyalami semua anggota keluargaku satu persatu sambil berlanjut dengan pelukan.  Saatnya untuk berpisah.  Saatnya aku untuk kembali ke kota.  Saatnya harus kutinggalkan kampungku.  Saatnya kutinggalkan Gadis untuk sementara sebelum aku jemput untuk kunikahi.  Saatnya aku berpikir di kota untuk kehidupanku selanjutnya.

Wajah bapak masih terbayang.  Wajah Ibu masih terngiang.  Wajah-wajah bahagia keluargakupun menyusul memburu bergantian dibenakku.  Setelah sejam perjalananku ternyata belum juga pudar.

“Kamu masih kangen sama keluarga, Kris?” Pak Martin memecah lamunanku.

”Ya” aku menjawab jujur

”Kamu masih ingat Gadis?” pertanyaannya kali ini bernada menyelidik.

”Cemburu?” aku meledeknya

”Ya” Pak Martin jujur

”Sorry… kan sudah saya ceritakan semuanya tentang aku dan dia?” aku coba untuk meyakinkan beliau untuk tidak ragu.

”Yup, thanks Kris..”

“Your welcome..” aku hanya tersenyum

”Kris, kira-kira Gadis akan memaklumi kita tidak ya?”

”Saya yakin, saya percaya sama dia.  Dia tidak main-main dengan ucapannya.  Tujuan hidupnya bukan saya, tapi bebas dari kungkungan keluarganya” aku menjelaskan sambil terus menguatkan Pak Martin agar tidak ragu akan keputusanku.

”Kasihan Gadis…” Pak Martin kali ini simpati.

”Kita bantu dia…” aku berinisiatif

”Menguntungkan kita juga kan?” Pak Martin melirik culas.

”Ya, lihat saja nanti…” aku sedang tidak ingin melanjutkan membicarakan Gadis.  Biarlah dia dengan dunianya dan keinginannya sendiri.  Biarlah dia mewujudkan impian hidupnya sendiri.  Biarlah dia memilih tapak hidup ke depannya sendiri.  Aku tidak berhak untuk menghentikannya.

”Stt..kita sarapan di mana? Sudah jam tujuh nih, aku lapar” Pak Martin mengingatkanku.  Aku pun baru meyadarinya, lalu aku mengamati keadaan sekeliling di daerah yang kami lewati.  Mudah-mudahan ada restoran yang sudah buka sepagi ini.  Kalau tidak warung kecil yang menyediakan dagangan untuk  sarapan pagi.

“Di depan ada gerobak bubur ayam, mau mampir? Ada parkirnya juga, jadi kita bisa pesan dan makan di mobil…”  Pak Martin menawarkan pilihannya.

“Okay, no problem…”

Kami hampiri gerobak bubur ayam dan tendanya yang cukup ramai oleh pengunjung.  Bisa jadi ini tempat favorit dan digemari untuk makan.  Menunya cukup spesial lezatnya.  Aku ajak Pak Martin untuk makan di tenda.  Kami tidak jadi makan di mobil.

Suasana pagi yang dihiasi oleh sinar matahari yang menyehatkan, membuat pengunjung asik dengan santapan buburnya.  Pemandangan di sekitar tenda penuh dengan nuansa hijau daun jati.  Tidak jauh dari belakang tenda, terhampar hutan jati yang masih diselimuti kabut.

”Aku lapar banget…” Pak Martin menyela di saat makan buburnya

”Jelas saja, kita belum sarapan…” aku menimpalinya sambil meredakan panas di mulutku.

”Bukan hanya itu, Kris…” bisiknya

”Kenapa?” aku mengernyitkan alisku tajam

”Karena habis bertempur sampai subuh…” masih dengan berbisik Pak Martin sedikit menggodaku.

”Ya, kedudukan seri,  dua – dua…” aku balik menjawab asal

”Hush…yang lebih penting adalah catatan rekor waktunya dong…” Pak Martin berlanjut berkelakar.

”Dalam hal apa?” aku memancingnya

”Kamu hebat…” Pak Martin menatapku senang

”Kenapa?” aku mencoba mengelak dari tatapannya, takut pengunjung lain mengetahui aliran keganjilan dari sikap kami.

”Kamu selalu lebih lama… hahaa..” bisiknya. Sambil menelan buburnya Pak Martin tertawa kecil.  Aku makin sigap mengamati sekelilingku, takut ada yang mendengar pembicaraan kami.

”Ya dong..” aku mendelikkan mataku ke arahnya, memberikan isyarat untuk menghentikan pecakapan kami.

Perjalanan kembali kami lakukan.  Setelah kenyang dengan sarapan bubur ayam spesial, kami siap menempuh kira-kira lima jam lagi perjalanan.  Aku yakin waktu perjalanan kami akan lebih menyenangkan.

Jam demi jam berlalu, sampai hitungan angka lima.  Perkiraanku ternyata tidak terlalu jauh meleset.  Lima jam perjalanan, tanpa harus ada acara ekstra dengan Pak Martin di tengah perjalanan, membuat perjalanan kembali ke kota menjadi lebih cepat.

Apartemen Pak Martin yang indah sudah di depan mata.  Tidak lama, sambil masih membawa sekian barang bawaan, kami tergontai menuju pintu kamar.  Petugas front desk membantu kami membawa tas ransel dan koper.

Setelah di dalam ruang tamu, tubuhku terasa leluasa.  Ingin cepat-cepat aku ganti baju lalu meluruskan badan,  istirahat sepuasnya.  Aku menuju ke kamar tidur.  Kulucuti t-shirt dan celana jeansku.  Lalu kuletakkan di tempat pakaian kotor di rak dekat pintu kamar.

Tak berapa lama, tubuhku lunglai di atas tempat tidur.  Tanpa disadari olehku, aku sudah terlelap.  Aku baru terbangun saat suara Pak Martin menyentak cukup keras di lapisan gendang telingaku.

“Kris bangun..sudah setengah tujuh…” ada suara menyusupi telingaku

“Hm…” aku cuma merespon dengan mendehem malas.

“Kris bangun..” Pak Martin makin penasaran.

“Hmm..” aku membuka mata dengan malas. Aku masih butuh istirahat untuk mengembalikan energiku yang terbuang hari ini.

“Kris..” suara itu masih belum berhenti juga.

”Hmmm…masih ngantuk..” aku menguap malas

”Ayo honey..bangun, kita makan malam…” tepukan tangan Pak Martin di pipi kananku makin terasa. Aku mencoba membuka mataku lebar-lebar.

”Kamu mandi dulu sana..” Pak Martin beringsut dari duduknya, lalu melangkah menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.  Tubuhku bergerak malas, lalu tetap terlentang di atas tempat tidur.

Harum aroma makanan dari dapur cukup membuatku bergerak untuk cepat bangun lalu menyeret tubuhku ke kamar mandi.  Setelah terasa segar aku menyiapkan diri untuk makan malam.

Makan malam sudah disiapkan oleh Pak Martin.  Menu eropa dicampur dengan menu daerah.  Kurang cocok, tapi menarik untuk dimakan, apalagi dalam kondisi perut yang lapar dan tubuh butuh asupan makanan pengganti energi yang kugunakan untuk menyalurkan imajinasiku dengan Pak Martin.

“Kris, kapan hari pertunaganmu?”  di tengah kami menyantap hidangan campuran itu, Pak Martin melontarkan satu pertanyaan yang menyentak batinku.

Pertanyaan Pak Martin yang tiba-tiba kali ini ternyata dapat menghilangkan selera makan malamku.  Aku benar-benar seperti baru tersadar, bahwa aku saat ini  sedang memegang janji kepada keluargaku untuk cepat menikahi Gadis.

Keenggananpun menyergapku tiba-tiba.  Entahlah.  Aku menjadi tidak berselera lagi untuk meneruskan makan malamku.  Namun aku cepat merubah pikiranku, agar tidak menyinggung perasaan Pak Martin.  Pelan-pelan aku menghabiskan hidangan yang Pak Martin buat untuk dinner.

Aku terbelit kericuhan hatiku sendiri.  Entah apa namanya, namun itu sudah mampu membuatku bimbang dengan janji yang aku sudah ikrarkan pada keluargaku. Apakah aku pengecut?  Kepalaku mendadak berat.

*****

*********

Chapter 8: PERJODOHAN

Suasana makan malam di rumah kali ini seperti dalam freezer.  Membeku.  Tidak ada suara manusia.  Hanya kadang-kadang terdengar suara gemeretuk kerupuk yang digigit,  atau suara klontang lirih garpu atau sendok yang berdenting bertsentuhan dengan piring, sampai-sampai suara kunyahan mulut terdengar samar.

“Suasana yang menjijikan!” pekikku dalam hati.

Suasana seperti ini sangatlah tidak mengenakanku.  Suasana seperti ini tercipta karena masing-masing hati sedang berkecamuk.  Hati semua penghuni rumah ini sedang melanglang hambar entah kemana.  Mungkin saja sedang menerawang jauh tanpa tujuan dengan dibebani sejuta perasaan tak menentu.

”Sampai kapan diam begini?” aku mencoba memecahkan suasana.  Kurasakan kaki Pak Martin menyentuhku, memberi isyarat untuk meredam emosiku.

”Kris, kamu melukai hati bapak..” Mbak Helga selalu to the point.

”Apa salah saya punya hidup sendiri?”

”Nggak, nggak ada salahnya” Mbak Helga berusaha sabar.

”Apa tidak kebalik, selama ini bapak yang menyakiti hidup kita?” aku bersungut-sungut, meskipun sudah mengerem emosiku.  Lagi-lagi kaki Pak Martin yang duduk di sebelahku menyenggolku.  Kali ini lebih kencang.

”Jaga mulutmu, Kris..” pinta Mbak Novi pelan tapi tegas.

”Bapak sakit, darah tingginya kambuh…” Mbak Helga menimpali.

”Uh..” aku belum bisa menerima sikap bapak yang tidak pernah mau tahu dengan hidupku, mungkin hidup ibuku, atau mungkin juga kedua kakakku.  Tapi kenapa mereka sekarang malah seperti membela bapak?  Apa karena kondisi fisik bapak yang sekarang?

”Kris, bapakmu mau bicara sama kamu…” tiba-tiba Ibu sudah berdiri di belakangku, memberitahu keinginan bapak.

Aku lunglai menuju ke kamar tidur bapak.  Kenapa sudah sebesar ini aku masih saja kecut kalau harus bertemu bapak?  Kenapa dari kecil aku tidak bisa memupuk keberanian untuk berargumen dengan bapak?  Sekarang pun aku tidak akan punya daya untuk menepis takutku.  Begitu traumakah hatiku karena perlakuan bapak selama ini?

”Duduk Kris…” bapak terbaring di tempat tidurnya

”Ada apa Pak?” aku duduk di kursi di samping tempat tidur

”Kapan kamu kembali ke kota?” suara bapak masih lantang

”Mungkin Senin..” aku mencoba menatap wajah bapak.  Sudah banyak kerutan dan ubannya sudah sampai ke rambut alis.

”Kris, pak Gondo teman dekat bapak.  Banyak hal yang bapak lalui dengan dia.  Banyak budi baik beliau yang tak terbalaskan.  Banyak kebaikan yang tak mungkin dapat bapak hitung.  Banyak keikhlasan yang beliau berikan untuk bapak dan keluarga…”  bapakku tergugu kuyu.

”Itu sebabnya bapak menjodohkan saya dengan anaknya?”

”Ya.. Pak Gondo meminta ke bapak tentang hal itu…”

“Bapak menyanggupi?”

“Ya, karena itulah satu-satunya permintaan Pak Gondo terhadap bapak.  Pak Gondo percaya sama kamu, sehingga memilihkan kamu sebagai suami Gadis, anaknya semata wayang…” bapak seperti memberikan keyakinan kepadaku.

”Kenapa bapak tidak menolak?”

”Karena Gadis anak baik, bapak percaya dia bisa membahagiakanmu…” bapak larut dalam keharuan.

Aku terdiam, tidak bertanya lagi.  Ada keharuan menyusup pelan namun berkesan di hati nuraniku.  Dibalik kekerasan bapak tadi, sebenarnya bapak menyimpan maksud yang paling baik untuk  hidupku.  Karena keadaanku seperti inilah yang membuat aku bereaksi cepat menolak maksud baik itu.

Aku makin bimbang.  Namun aku tahu maksud terbaik apa yang sebenarnya bapak ingin berikan kepadaku.  Sebenarnya aku juga sudah pasrah, tidak kuasa dan sulit untuk melukai hati keluargaku dengan menolak atau menentang kehendak bapakku.

”Gadis anak baik..” kembali bapakku memujinya

”Saya akan coba mengenalnya…, beri saya waktu, pak”

”Ya, bapak harap kamu menikahinya…bahagiakan dia…” pinta bapakku terdengar serius, aku tidak tahu maksud dibalik permintaan bapakku

Aku keluar dari kamar bapak.  Semua orang yang di meja makan berwajah serius dan penasaran.  Akupun tidak berminat untuk menceritakan kepada mereka.  Aku akan biarkan rasa penasaran mereka terhadap pertemuan empat mataku dengan bapakku.  Biarlah mereka terus menebak-nebak.

Udara malam menerpa tubuhku.  Dinginnya sampai ke tulangku.  Namun aku tak perduli.  Aku terus merenung.  Entah sudah berapa lama aku tak bergeming dengan pikiranku.  Sudah berapa lama teras depan rumahku menjadi tempatku mengembarakan kepenatan pikiranku.

”Belum tidur Kris?” Mas Adam menegurku

“Belum Mas, susah tidur..” aku mengakui

“Tentang bapak ya?” Mas Adam menebak

“Mungkin, tapi gak sepenuhnya…”

“Tentang perjodohanmu?”

“Bisa jadi, tapi saya tidak tahu persis…”

“Boleh Mas kasih pendapat?”

“Ya”

“Kalau pikiranmu gundah oleh perjodohan, coba kamu kenali Gadis lebih jauh.  Jika ternyata kamu mendapatkan banyak kebaikan darinya, maka jangan buang kesempatan itu…”

“Meski saya tidak mencintainya?”

“Kamu belum kenal dia kan? Dari mana kamu akan bisa mencintainya?  Minimal ada rasa suka dan nyambung dalam berkomunikasi…”

””Kenapa begitu?”

”Karena itu awal dari benih sebuah cinta.  Kalau kamu sudah bisa suka dan merasa nyaman berkomunikasi dengannya, maka cinta akan tumbuh seiring dengan waktu, karena lama-kelamaan muncul pengertian di antara berdua, dan itulah sesungguhnya cinta yang dicari semua orang…” Mas Adam menjelaskan filosofi cinta. Entah dari buku mana Mas Adam mencuplik definisi itu.

Aku tertegun dibuatnya.  Apa yang dikatakannya memang teramat sangat benar terjadi padaku dan Pak Martin.  Cintakah aku sama beliau?  Itukah cinta sejatiku yang aku punya untuk Pak Martin?  Cinta yang sesungguhnya yang Mas Adam maksudkan?  Kalau hal itu benar, tidaklah  heran jika aku teramat galau ketika menyadari bahwa cintaku akan dipisahkan oleh tradisi menikah dengan pilihan keluarga, tepatnya bapakku.

”Mas dulu juga seperti kamu, awalnya menolak apa yang diharapkan bapak, untuk dijodohkan sama Mbakmu…”

”Oh ya?”

”Untungnya Mas mau mencoba berkenalan lebih dekat, dan Mas jadi yakin akan pilihan terbaik orang tua…” Mas Adam tersenyum meyakinkan.

”Jadi saya harus kenal Gadis?”

”Kamu bukannya sudah kenal? Gadis teman es de mu kan?”

”Itu sudah sangat lama. Saya juga tidak tahu banyak tentang Gadis.  Es em pe nya kami berbeda, dan setelahnya saya tidak pernah lagi bertemu…”

”Kenali dia lebih jauh, mudah-mudahan kamu mendapatkan yang terbaik untuk hidupmu, Kris..”

”Saya akan coba…”

”Kris…kamu harus maklum dengan sikap bapak, ya” suara Mas Adam terdengar jelas sedang mengharap.

”Ya” aku mengangguk pelan.

Aku mulai bisa melebur kegalauanku.  Meski sangat perlahan, namun aku berharap bisa meringankan saratnya beban pikiranku.  Percakapan dengan Mas Adam sedikit menguatkan niatanku semula.

”Saya tidur dulu Mas…” aku izin ke Mas Adam.

“Silakan, istirahat yang cukup, Kris..”

”Ya”

Kulihat Pak Martin sudah tidur lelap.  Kedatanganku di kamar tidak membuatnya terbangun.  Kuperhatikan raut wajahnya yang tampan.  Wajah inilah yang telah memikatku saat aku diwawancara dulu.  Sosok beliau inilah yang telah menarikku pada titik cinta yang sesungguhnya.  Aku tidak pernah berani menyatakan cinta padanya, namun aku selalu bahagia di dekatnya.  Akupun sudah sering merasa kangen jika tidak bertemu beliau.  Sampai sore tadi, seseorang yang kubutuhkan sebagai tempat sharing galaunya perasaanku adalah dirinya.

Aku duduk di lantai yang berkarpet. Kepalaku direbahkan di tepi tempat tidur, sejajar dengan dada Pak Martin.  Kupandangi laki-laki yang setahun ini tidak pernah berubah komitmennya untuk mencintaiku.  Beliau bisa memberiku kebahagiaan yang benar-benar berarti dalam hidupku.

Kupandangi wajahnya yang lelap. Raut ketampanannya tidak berubah.  Namun saat ini sepertinya tampak letih.  Aku menarik nafas dalam-dalam.  Lalu hatiku menjadi nyeri tiba-tiba.  Terlukakah hati Pak Martin dengan masalah batin yang sedang aku hadapi sekarang? Seterluka apakah hatinya sekarang?  Ada rasa bersalah telah melibatkan dirinya dalam kekacauan jiwaku.

Tanpa kusadari, tangan kanan Pak Martin sudah mengelus kepalaku.  Kulihat dia terbangun dan senyumnya sudah mengembang.

”Belum tidur Kris?’ suaranya lembut penuh perhatian

”Ya, sulit tidur..” aku berkata jujur

”Teramat berat masalahmu ya?”

”Ya, karena akan melibatkan bapak…” aku mengangguk berat

”Jangan pikirkan aku, Kris..  Apapun keputusanmu, aku cukup meminta kamu untuk tidak meninggalkanku…” Pak Martin sangat berharap

”Ya..” aku sungguh-sungguh

Aku beranjak naik ke tempat tidur.  Kudekap erat Pak Martin. Kutunjukkan isyarat cintaku padanya tanpa ucapan.  Kutransfer imajinasi dan gairahku dengan melumat tubuhnya.

Pak Martin membalasnya dengan lembut.  Kami berdua saling menumpahkan kegalauan hati masing-masing.  Aku yakin, cinta tak terucap antara aku dan dirinya dapat dirasakan bersama.  Aku tidak pernah bisa membohonginya.

Malam ini aku berikan isyarat cintaku tanpa harus berkata cinta.  Aku yakin Pak Martin akan mengerti dan memahami kata hatiku yang tulus.  Malam ini aku habiskan untuk mencurahkan cintaku dengan kebisuan.

”Pak Kris, saya akan keliling kota lagi, sambil mencari oleh-oleh untuk teman-teman di kantor..” keesokan harinya, Pak Martin minta izin kepadaku saat selesai sarapan pagi bersama keluarga.

Mbak Helga dan Ibu sibuk mencuci piring di dapur.  Sedangkan Mbak Novi tengah menyuapi anaknya di ruang tengah.  Bapakku tidak terbiasa sarapan sepagi ini.  Biasanya pagi-pagi bapak membaca koran di teras depan.

”Maaf ya Pak, saya selalu tidak dapat menemani…” aku berakting berbasa-basi

”Tidak apa-apa, Pak Kris, saya sudah tahu daerahnya..” Pak Martin menimpali.

”Have a nice day..”

“Pak Kris mau titip oleh-oleh apa?” Pak Martin menawarkan jasa

“Terserah Bapak saja…”

“Permisi”  Pak Martin berdiri dari duduknya, lalu pergi keluar menuju mobilnya yang diparkir di depan rumah.

“Hati-hati  Pak Martin..”

“Bos kamu baik sekali Kris” Ibu sudah duduk di sampingku. Aku masih nyemil kerupuk udang yang kuambil dari toples di atas meja makan.

“Ya, orangnya dermawan dan rendah hati”

“Ganteng lagi” seloroh ibu.

“Halaah.. Ibu ya, bisa saja” aku meledek ibuku sampai tersipu-sipu salah tingkah

”Sudak menikah dia?” selidik Ibu

”Pernah” aku menjawab asal

”O, duda toh?”

”Jadi Ibu tertarik ya? Hahaha” aku makin meledek

”Hush…ngaco aja kamu Kris.  Hari ini kamu jadi ketemu Gadis?” Ibu seperti sedang memastikan.

”Ya, kenapa? Ibu mau ikut?”

”Nggak, tar malah bikin kacau suasana pertemuan khususmu sama Gadis..”

”Ibu bisa saja”

Hari ini memang aku berniat ketemu Gadis.  Lewat telepon aku janjian ketemu di suatu tempat makan yang lumayan menarik di tepi danau.  Aku mencoba untuk melakukan saran Mas Adam.  Aku mencoba untuk mengenal Gadis lebih dekat.

Jam sembilan tiga puluh tepat, aku sudah sampai di area tempat janjianku dengan Gadis.  Ternyata dia sudah ada di sana, sedang duduk diam di gazebo kecil, sambil memandangi riak air danau dan kabut yang masih tampak tebal beberapa centimeter di atas permukaan air danau.

Pemandangan pagi ini teramat indah untuk dilupakan.  Pemandangan yang sudah tidak ada lagi di kota hingar bingar tempatku merantau dan berdomisili.  Sejak aku diterima kerja, aku sudah dinyatakan sebagai penduduk resmi di sana, dengan disyahkannya KTP kotaku.

Gadis menyadari kehadiranku, lalu buru-buru dia menyambutku dengan sapaan: ”Hai Kris…”

”Hai, sudah lama menunggu?”

”Lumayan, saya suka di sini kalau pagi.  Dengan naik sepeda, saya ke sini untuk menikmati pemandangan danau yang tenang, udara dingin yang nyaman, atau kicauan burung di antara ranting pinus.  Semua bisa menghiburku..”  Gadis lancar bertutur.  Aku jadi salah menebak tentangnya.  Aku pikir dia wanita yang diam dan pemalu, ternyata wanita yang bisa bercerita dengan suara lembutnya.

”Pemandangan yang indah…” aku mencoba menghayati arti indahnya riak air  danau yang tampak kehijauan dan gerakan pelan kabut yang menggelantung di atasnya.

”Lama kamu tidak pulang ya Kris?” Gadis bertanya setengah menyelidik

”Hampir dua tahun..”

”Cukup lama ya..” Gadis sedikit menilai

”Kamu sepertinya menikmati kesendirian di sini?”

“Yap, ketenangan batinku ada di sini…”

“Oh” aku terdiam sebentar sebelum melanjutkan: “ Ini tempat favoritmu ya?”

“Ya, di sinilah segala macam perasaan saya tumpahkan…”

“Seperti saat ini?”

”Ya, saya yakin masalahnya kamu sudah tahu…”

”Antara kita?”

”Ya, perjodohan kita…”

”Kita dijodohkan?”

”Ya, dipaksa mungkin…” Gadis menilai perbuatan orang tua kami adalah memaksa dalam memberikan seseorang sebagai teman hidup.

”Menurutmu bagaimana?”

”Saya tidak tahu.   Saya wanita lemah yang tidak punya pilihan.  Saya hanya menjalani hidup ini, karena arahnya sudah dibuatkan oleh bapak saya…” Gadis tercenung.  Bola matanya meredup, menerawang jauh ke depan.

”Hidup memang tidak bisa ditebak..”

”Makanya, saya jalani saja.  Pendapatmu tentang perjodohan ini bagaimana?”

”Lucu saja, awalnya saya berontak, tapi saya tidak bisa membongkar tembok watak keras bapak, saya tidak mampu untuk melukai hatinya, walau saya sudah membenci tabiatnya…” aku ikut tercekat, kelu.

”Yah..” Gadis menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengusir galau hidupnya.  Dengan masih menarik nafas panjang, dia melanjutkan: ” Kita sepertinya bernasib sama ya…” dia menatapku sambil tersenyum getir.

”Ya, sama-sama lemah untuk berontak dari ambisi bapak..”

”Bisa saja kamu Kris…”

”Tapi benar kan?”

”Ya, saya hanya ingin membahagiakan orang tua…klise kedengarannya ya Kris?” Gadis tersenyum malu, berkesan sedang mencibir dirinya sendiri.

”Karena itu dianggap orang sebagai suatu kewajiban” aku rada protes.

”Balas jasa?” Gadis menegaskan

”Ya”

Kris, jangan marah ya…”

”Kenapa?”

”Apakah kamu menerima perjodohan ini?’

”Tidak tahulah, kamu bagaimana?”

”Saya menerimanya.  Saya sudah memutuskan, siapapun laki-laki yang dijodohkan bapak, saya akan menerimanya..” kepasrahan atau keputus-asaankah apa yang diucapkan Gadis barusan?

”Maksudmu?”

”Walaupun bukan kamu orangnya, saya tetap akan menerimanya.”

”Seburuk apapun orangnya?”

”Ya”

”Sejelek apapun tabiatnya?”

”Ya”

“Oh, come on.. kenapa kamu memilih itu?” aku tidak habis pikir

“Karena saya sudah tidak punya masa depan sendiri. Haha, kedengaran konyol ya Kris?” Gadis tertawa, tepatnya mentertawakan dirinya sendiri

“Kamu gila, Gadis…” aku makin tertarik ingin tahu lebih lanjut apa yang ada dalam pikirannya saat ini.  Muncullah keyakinanku bahwa dia tengah mengalami hal yang sama denganku: peperangan batin atau pergolakan nurani yang dahsyat.

“Saya tidak tahu tepatnya, apakah benar-benar saya ini sudah gila atau tidak.  Saya cuma menuruti apa kata bapakku…”

“Itu teramat berlebihan..”

“Kris, saya wanita terbuang…” Gadis terdiam sejenak. “Semua orang menilai saya wanita yang malang, yang perlu  bantuan untuk dicarikan jodohnya, yang tidak berhak untuk memilih jodohnya, perawan tua yang sangat perlu dikasihani, sehingga orang-orang menunjukkan sayangnya dengan menjajakan saya lepada laki-laki yang mau menikahi saya…” Gadis tertunduk dalam-dalam.  Dia tidak lagi menghiraukan aku yang ada di sampingnya.  Kurengkuh pundaknya untuk memberinya kekuatan.

“Kamu tidak perlu berkata begitu..”

”Kamu adalah laki-laki kesekian yang telah ditawarkan bapakku untukku..”

”Kamu tidak mencoba untuk berontak?”

”Untuk apa? Saya hanya bisa pasrah, karena itu yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk hidup saya..”

”Kenapa?”

”Kris, hidup saya sudah apatis, saya sudah tidak lagi mengharap masa depan, saya sudah tidak lagi tertarik akan apa yang akan terjadi di kehidupan saya di masa mendatang.  Saya hanya akan melakoninya saja. Saya bisa untuk menyenangi sepahit apapun hidup saya mendatang…” Gadis bersungguh-sungguh.

”Tapi kamu tersiksa..”

”Ya, mungkin saja…”

Aku tertegun mengetahui perasaannya.  Aku pikir dia pendiam, aku pikir dia putus asa, aku pikir dia tidak ingin hidup, aku pikir dia tidak mau menerima hidupnya, aku pikir dia bahagia dengan hidupnya, aku pikir dia tidak berani menghadapi hidupnya…

”Kris, kamu menerima perjodohan ini?”  tanya Gadis tandas

”Saya bingung…”

”Kenapa? Kamu sudah punya pacar?”

”Bukan, bukan itu, hhhh, sulit untuk dikatakan…” aku terperangkap oleh luapan kegelisahan batinku.

”Kalau kamu sudah punya pacar, lebih baik kamu menolaknya…”

”Bukan itu, maaf Gadis, saya belum bisa bercerita, saya belum siap..”

”Tidak apa-apa.. saya mengerti, namun jika kamu memang menerimanya, saya sangat berterima kasih, Kris..”  ucapnya lirih. Ada hamparan sedih bergelayut di mata beningnya.

”Kenapa Gadis?”

”Saya sudah bosan hidup di rumah… Bawa saya Kris… Saya sudah teramat tersiksa di sini.. Saya akan menerima apapun kamu Kris, saya tidak akan menuntut banyak ke kamu Kris, cukup bawa saya…” nadanya setengah putus asa

”Jangan bicara begitu, Gadis…” aku menepuk pundaknya beberapa kali, mencoba menenangkannya

”Saya akan menerima apapun perlakuan kamu nantinya.  Seandainya kita pura-pura menikahpun, saya terima.  Seandainya kamu tidak mencintai sayapun, tidak apa-apa, asal saya keluar dari rumah.  Seandainya saya diduain pun, saya akan lapang dada.  Kris, kamu orang yang sangat baik, saya percaya kamu…”

”Gadis, tak perlu harus begitu… Saya hanya belum siap saja cerita, ini sangat diluar kewajaran, hidup saya penuh dilema, hidup saya tidak seperti apa yang kamu lihat selama ini, hidup saya…ah, sudahlah, saya bingung, Gadis”

”Kris, bawa saya, apapun diri kamu, saya tidak mempermasalahkannya…”

”Hmm..” aku menahan nafas dalam sekali.  Hatiku tertumbuk pada kondisi yang sangat sulit untuk menentukan.

”Kris, pikirkan ya… Saya mohon, Kris, saya percaya kamu..”

”Hmm..” aku terdiam, terus menahan nafas dalam-dalam.  Udara dingin masih terasa mengalir di kedua lubang hidungku, dan berakhir di paru-paruku.

“Kris, maafkan saya ya…” pelan suara Gadis menyeruak di gendang telingaku.

“Tidak apa-apa, kamu tidak berbuat kesalahan apapun, Gadis.  Saya sangat mengerti keadaaan kamu sekarang.  Kita sama-sama terbelit dilema rupanya..” aku tersenyum, agar Gadis juga terhibur.

”Pikirkan ya Kris, bawa saya…, sekalipun nantinya fungsi saya cuma sebagai pembantu di rumahmu..”  Gadis sudah di ujung kata hatinya yang terdalam.  Nelangsa sekali ucapannya.  Separah inikah hatinya terluka?

”Ya, Gadis…” aku ikut terpuruk kasihan.

Perjodohan sudah berlangsung di tepi danau.  Perjodohan yang ganjil  Perjodohan antara aku dan Gadis.  Perjodohan yang berupa kesepakatan hati bukan untuk menjalin cinta, namun kesepakatan hati antara rasa kasihanku dan putus asanya Gadis.

Aku putuskan ini, karena kuanggap ini yang terbaik bagi hidupku dan hidup Gadis.  Kemungkinan besar juga akan membahagiakan keluarga masing-masing. Bisa  saja nantinya yang terjadi antara aku dan Gadis dalam berumah tangga adalah perkawinan pura-pura.  Yang tahu itu hanyalah  aku dan Gadis.  Aku pun akan bisa leluasa melanjutkan hubunganku dengan Pak Martin seperti biasanya.  Hatiku saat ini menjadi rakus.

Sesuai yang sudah aku bayangkan, bapak dan ibuku berbinar senang, saat aku katakan menerima perjodohan itu.  Tak luput Mbak Novi dan Mbak Helga ikut menikmati kebahagiaan bapak dan ibu.  Semua anggota keluargaku menyambut dengan perasaan bahagia.

Sarapan Minggu pagi kali ini sepertinya sarapan pagi yang paling bahagia bagi bapak.  Dari pancaran wajah beliau yang selalu dihias senyum, teramat membuatku terkesima.  Bapak terlihat sangat bahagia, haru mengalir dalam hatiku.  Inikah kebahagiaan sejati, saat bisa membahagiakan orang tua?  Inikah bentuk bakti yang murni kepada orang tua? Aku tak tahu.

”Besok saya kembali ke kota..” saya menginformasikan rencanaku.

”Kalau begitu, nanti sore kita datang ke rumah Pak Gondo…, kita harus kabarkan hal baik  ini secepatnya…” bapak sepertinya terlalu antusias.

”Saya siapkan semuanya..” Mbak Novi masih dalam sauasana bahagia.  Aku memperhatikan mereka teramat sangat gembira. Hatiku cuma bisa tergugu haru dan galau.  Haru karena ternyata keputusanku membuat keluargaku bahagia.  Galau karena aku tahu persis kepura-puraan ini, karena perjodohanku dengan Gadis adalah perjodohan yang ganjil.

Acara di rumah Pak Gondo penuh dengan gelak tawa bahagia.  Sepertinya mereka bahagia, karena apa yang selama ini didambakan terjadi juga.  Aku perhatikan wajah Pak Gondo yang penuh dengan lekukan karena senyum dan sesekali giginya yang masih putih terlihat saat mulutnya tertawa lebar.

Meriahnya sore di ruang keluarga Pak Gondo, sepertinya tidak semeriah hati Gadis.  Dia sedari tadi terdiam, kadang-kadang tersenyum dipaksakan.  Aku semakin nelangsa melihatnya.  Karena aku tahu, setelah acara ini, maka dia akan benar-benar mengorbankan dirinya pada jalur kehidupanku, hanya karena ingin keluar dari siksaan bapak, keluarga dan lingkungan sosialnya.

Aku sendiri belum tahu sejauh mana siksaan batinnya karena perlakuan bapaknya. Aku hanya tahu bahwa dia ingin lari dari keluarga itu.  Rumah baginya sebuah kurungan sosial yang ketat dan menghimpitnya.  Rumah bukan bangunan yang membuatnya nyaman untuk berekspresi sesuai kemauan hidupnya.  Rumah bukan tempatnya untuk kembali.  Pengembaraan untuk menenangkan nurani dan  impiannya yang dipilihnya  justru keluar dari rumahnya.

Perjodohan sudah selesai.  Acaranyapun berakhir  dengan  keputusan dari kedua belah pihak keluarga tentang hari lamaran dan pernikahanku dengan Gadis.

***

*********

Chapter 7: GALAU

Aku butuh Pak Martin untuk berkeluh kesah. Tadi pagi, setelah beres-beres rumah, sengaja Pak Martin pura-pura jalan keluar sesuai dengan tujuan palsunya ke kota dekat kampungku.

Aku terpaku sendiri di teras depan. Tadi Bapakku benar-benar sudah mendidih menghadapiku. Padahal aku hanya sekedar mencoba berargumentasi dengannya. Padahal aku hanya butuh penjelasan dan waktu untuk berfikir. Namun bapak sudah yang mendoktrin dan memutuskan sepihak.

Sms masuk di hpku. Sms dari Pak Martin. Beliau bilang sedang di tepi danau, istirahat, setelah seharian berkeliling di sekitar daerahku. Aku tersenyum dan segera membalasnya. Setelah itu, aku buru-buru mengambil kunci motor Mbak Novi.

”Pinjam motornya dulu ya..” pintaku

”Ke mana Kris?” Mbak Novi sedikit cemas

”Jalan-jalan, refreshing lah Mbak, lagian saya juga kangen dengan kampung, mau jalan-jalan keliling danau…”

”Oh” kali ini suara Mbak Novi terdengar lega

Aku tancap gas arahkan motorku ke danau yang terkenal di daerahku. Tidak jauh dari kampungku. Hanya seperempat jam naik motor, sudah sampai di sana. Aku membayar karcis masuk yang cuma lima ribu rupiah, lalu aku parkir motorku disebelah BMW Pak Martin yang juga ada di sana.

Aku menuju tempat yang disebutkan Pak Martin. Di sana aku lihat beliau sedang mengetik di laptopnya. Entah apa yang sedang diketiknya. Semoga bukan soal yang berkaitan dengan kerjaan, sehingga aku bisa leluasa untuk sharing kegalauan hatiku saat ini.

”Hai Kris..” Pak Martin menyapaku duluan

”Sudah lama di sini Pak?” aku bertanya asal

“Yup, setengah jam, tadi habis makan gado-gado di warung dekat parkiran, aku tertarik untuk duduk istirahat, bersantai di tepi danau ini..”

“Sedang membuat laporan kantor?”

“Tidak..” Pak Martin menutup laptopnya. Tidak meneruskan pekerjaannya.

”Pemandangan akan lebih indah jika kita berada di atas sana…” ucapku sambil menunjuk ke arah perbukitan pinus di sebelah barat danau.

”How to get there?” Pak Martin tertarik penjelasanku.

“Motor aja, saya bawa motor..”

“Oke, lets’ go…”

Kami menuju ke area parkir bersamaan. Pak Martin mengikutiku dari belakang sambil menenteng laptopnya. Sebentar Pak Martin meletakkan laptop, lalu memberi alarm pada mobilnya. Sementara aku siap menstarter motor.

Pak Martin memboncengku. Segera aku arahkan ke tempat yang aku jelaskan tadi, melalui jalan paving block yang ditata rapi oleh pihak pengelola area ini. Pak Martin memegang erat pinggangku seperti ketakutan. Aku tersenyum geli. Aku yakin beliau baru kali ini beliau naik sepeda motor.

Suasana sore sudah sepi, apalagi yang ada di atas. Kabut tipis sudah mulai turun perlahan. Aku hentikan motorku di samping gazebo kecil. Tentunya di daerah yang tidak ada orang. Suasana benar-benar sepi.

Kami masih duduk di atas motor, memandangi danau dan pohon-pohon di bawah sana. Benar-benar pemandangan yang indah, apalagi sinar matahari sore yang merah bata memantul di atas riakan ombak kecil air danau. Berkilau-kilau seperti emas.

”Romantis..” Pak Martin menciumi tengkukku pelan. Aku celingukan mengamati sekitar. Ternyata sangat sepi. Sudah tidak ada lagi pengunjung atau orang kampung yang sedang mencari kayu bakar.

Udara dingin yang menyeruak betisku meningkatkan konsentrasiku pada perlakuan cumbuan Pak Martin. Aku mulai larut dalam gairahku. Kubiarkan Pak Martin terus melakukan kegiatannya.

Beberapa saat dalam diam alam di sore yang keemasan, kami masih duduk berboncengan di atas sepeda motor. Kami habiskan untuk menuntaskan gairah yang tercipta karena kegalauan. Setelahnya, kami terdiam, lalu aku beranjak menuju ke tempat duduk yang ada di gazebo kecil. Pak Martin mengikutiku. Kami duduk bersebelahan. Sambil memandang jurang di depan, aku mulai sharing.

”Saya bingung..” aku memulai pembicaraan

”Bapakmu?”

”Ya”

”Aku tidak tahu harus berbuat apa. Sulit memang keadaanmu, Kris..”

”Bapak sudah menyumpahi saya..”

”Kenapa?”

”Saya beralasan belum siap menikah..”

”Oh itu… apa rencanamu selanjutnya?”

“Tidak tahu, bingung.. bapak marah besar”

”Apa kamu sudah diperkenalkan dengan Gadis?”

”Sudah”

”Lalu?” Pak Martin menyelidik

”Cantik, tapi apa saya bisa menikah dengannya tanpa ada rasa ketertarikan saya?” saya berkata jujur.

”Itu pilihanmu, Kris..” suara Pak Martin setengah pasrah

”Bapak bagaimana?” aku masih mengingat sikap bapak tadi.

”Maksudmu?” Pak Martin tergeragap.

”Bapak marah dengan kondisi saya?” aku menunduk kelu. Galau belum juga hilang dari otak dan hatiku. Sebentar aku alihkan pandanganku ke Pak Martin. Beliau menggeleng berat.

”Kecewa?” tanyaku hati-hati.

Pak Martin kembali menggeleng berat, lalu menunduk. Tanpa disadari olehku, air matanya mengalir pelan.

”Aku sedih Kris…apakah hubungan kita akan terus bahagia?” Pak Martin mengungkapkan perasaannya yang terdalam.

”Saya tidak tahu..”

”Kita sudah bahagia dengan cara kita…apa salah?” Pak Martin seperti bertanya bukan kepadaku.

“Ya” aku tegaskan

“Kita saling menyayangi dan membahagiakan satu sama lain…”

“Ya”

“Kita saling mengerti dan aku sangat mencintaimu, Kris…” nada bicara Pak Martin masih terdengar seperti protes entah kepada siapa. Sepertinya ada luka tergores di hatinya.

“Ya..”

“Sepertinya aku tak mungkin untuk hidup sendiri tanpa kamu, Kris..” oh, sudah sejauh itukah perasaan dan niatan Pak Martin? Aku tergugu getir dalam hati.

“Saya mengerti..” aku berucap sangat lirih. Dadaku sudah sesak oleh nafas yang memburu karena berjuta emosi meleburnya.

“Sekarang kamu bagaimana? Kamu turuti keinginan bapakmu? Kamu tinggalkan aku? Kamu menikah dengan Gadis?” pertanyaan Pak Martin bertubi-tubi menerjang gendang telingaku. Pak Martin sungguh terpuruk. Sementara aku tidak tahu harus berbuat apa, karena hatiku juga sudah terjebak oleh emosiku. Yang masih mampu aku berbuat hanyalah menjaga kesadaran otakku agar tidak berlanjut negatif.

”Saya tidak tahu, saya takut. Jika saya menuruti kehendak bapakku, berarti saya harus menikah dengan Gadis. Artinya, saya dianggap tidak durhaka oleh orang tua saya. Berarti saya dianggap sudah berbakti kepada orang tua. Berarti saya dianggap bisa membahagiakan orang tua dan keluarga. Berarti mudah-mudahan bapak tidak lagi marah dan menyumpahi saya lagi…”

”Kamu akan melupakan aku?” Pak Martin merintih pedih

”Tidak..”

”Bagaimana dengan Gadis?”

”Tidak tahu..”

”Jika saya menentang bapak… oh, saya tidak mampu, Pak.., saya ingin berontak, kemarin dan tadi pun saya sudah mencoba, tapi..ohh…” aku menangis lirih, pilu. Tak berapa lama sesenggukan sendiri

”Aku mengerti, tapi jangan lupakan aku, Kris..” Pak Martin sangat berharap

”Tentu, Pak..saya sayang Bapak..” aku mencoba meyakinkannya.

”Aku tahu ini berat, karena kita diluar batas kewajaran penilaian orang-orang…aku sadar, kita bukan di tempat di mana orang bisa menerima kita, mereka belum bisa memaklumi perasaan kita…” Pak Martin menyadari keadaan kami yang runyam ini.

”Ya” aku lirih menimpali.

”Kenapa harus ada penciptaan orang-orang seperti kita, kalau akhirnya kita dianggap sampah dan tidak diterima?” Pak Martin kembali protes, entah kepada siapa.

”Sudahlah, mudah-mudahan ada jalan keluar..”

”Ya” Pak Martin berusaha meredakan emosinya.

”Saya berfikir, mungkin saya harus menikahi Gadis..”

”Menikahlah dengan Gadis, tapi jangan lupakan aku, Kris..” pinta Pak Martin.

”Ya’ mungkin itu akhirnya keputusanku. Keputusan yang sangat sulit untuk hidupku mendatang. Keputusan yang ganjil dan melibatkan perasaan yang sangat njelimet. Keputusan yang tidak juga menghilangkan galauku saat ini.

***

*********

Chapter 6. PERTEMUAN KELUARGA

Hari Jumat yang tidak kuharapkan datang juga. Datang setahun setelah aku hidup bersama dengan Pak Martin. Setahun setelah aku semakin kenal baik dengan beliau. Setahun setelah mulai muncul rasa kasih sayang, cinta dan pengertian di antara kami.

“Wake up, honey” Pak Martin mengecup pusarku yang sedikit berbulu. Disibakkannya selimut yang menutupi tubuh polosku. Mendadak gigil menyergapku. Pak Martin bergairah melihatnya. Lalu tanpa kuduga diluapkan gejolaknya dengan semangat. Aku menanggapinya dengan lebih bersemangat.

Setelahnya, kami lunglai, namun Pak Martin belum lupa dengan tujuannya membangunkanku pagi ini.

”Kris…”

”Hmm”

”Mandi”

”Hmm..”

”Come on, mandi, sudah jam tujuh ..”

”Malas”

”Kamu bilang kita harus berangkat pagi ke kampungmu”

”Malas”

”Keburu siang”

Pak Martin tidak kehilangan akal. Dibopongnya aku menuju ke kamar mandi. Aku biarkan Pak Martin mandi dan memandikanku. Aku diperlakukan seperti anak kecil. Selesai mandi aku diberi handuk dan disuruh untuk cepat berpakaian. Pak Martin melakukannya dengan sabar.

Sejam kemudian kami siap. Semua perlengkapan dan bekal juga sudah disiapkan. Aku hanya menyiapkan satu tas ransel agak besar dan beberapa oleh-oleh untuk keluarga di kampung.

Pak Martin pun sudah siap dengan bekalnya. Satu buah tas koper berisi baju. Satu buah tas ransel hitam dan beberapa keranjang kertas berisi berbagai macam makanan dan minuman kaleng.

Semalam aku memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan apapun yang akan terjadi di kampungku. Anggap saja ini jalan-jalan pulang kampung seperti biasanya. Aku sedikit punya persediaan nyali untuk berontak sama bapakku jika ternyata aku harus mendapatkan doktrin.

Perjalanan menentang matahari membuat kami bertambah segar dan bersemangat serta sedikit menenangkan jiwaku. Pak Martin di samping kananku tengah serius menyetir. Jalan tol antar kota memang sedikit padat hari ini. Maklum, masih hari kerja.

”Kita akan sampai empat jam lagi” cetusku setelah mengamati kondisi lingkungan yang kami lewati.

”No problem” Pak Martin masih setia dan tahan menyetir

”Masih oke nich?” aku sedikit meledeknya.

Pak Martin cuma mencibir. Jelek.

“Gak cape kan Pak?”

“No” beliau menggeleng mantap

“Good” aku asal komentar

“Sudah siap ketemu bapakmu?”

“Yup”

“Sudah siap melawan doktrin dan kemauan bapakmu?”

“Yup”

“Kris, kalau seandainya benar bapakmu meminta kamu untuk menikah bagaimana?”

“Entahlah, semoga bukan karena itu”

“Itu artinya kamu belum siap”

Aku mengernyitkan kedua alisku, tanda aku tidak mengerti apa yang dimaksudkan Pak Martin. Aku belum siap. Itu pernyataan beliau barusan. Kembali bagai tombak berujung runcing, galau menyerbuku.

“Menurut Bapak, saya harus berbuat apa?”

”Jelasin aja tentang kita yang sebenarnya”

”Ups” aku tersedak oleh kagetku sendiri.

”Kenapa?”

”Itu bukan solusi”

Wajah bapakku terbayang melintas. Sudah lama aku tidak menatapnya. Tentu raut mukanya sudah banyak berkerut. Usia bapakku sekitar enam puluh empat tahun. Tentulah sudah tidak lagi sekuat dulu. Mungkin tidak lagi segalak dulu. Tidak segarang dulu kalau berbicara. Tentu energi marahnya tidak lagi semenggelegar dulu.

Aku makin hanyut dalam masa lima belas tahun silam. Aku hidup dalam ketidaktahuan. Masa remaja yang mengalir dengan begitu saja mengikuti kemana arus hormon dalam tubuhku. Hormonku terdeteksi laki-laki. Namun psikisku tergolong halus dan perasa. Sedangkan orientasi sexku cenderung labil menyimpang tak terasa.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba semuanya menjadi seperti ini. Apakah karena masa kecilku selalu dalam kungkungan tabiat bapakku yang pemarah? Atau karena pengaruh perbuatan dan tingkah laku kakakku yang semuanya perempuan? Atau karena aku tak sadar mengimitasi mereka? Atau karena aku tidak pernah tahu bagaimana menjadi laki-laki? Atau karena aku bergaul dengan kak Bowo?

Bapakku teramat disiplin dan keras. Sedikit kesalahan yang diperbuat anak-anaknya langsung ditanggapi dengan marah. Jika bapak sedang banyak tugas di kantornya, stressnya dibawa ke rumah seluruhnya. Orang rumah yang ketimpaan apesnya. Apa iya, sikap dan tingkah laku bapak menyebabkan bergesernya hormon laki-lakiku?

Aku tidak tahu.

Ibu dan kedua kakakku sangat memperhatikanku. Mereka seolah berebut untuk mencari perhatianku. Dari kecil aku merasa aku memang menjadi pusat perhatian mereka. Ibu sangat berlebihan menyayangiku meski dengan sembunyi-sembunyi di di belakang bapak. Kedua kakakku senang sekali berbagi mainan denganku. Ada mainan rumah-rumahan, masak-masakan dan mainan perempuan lainnya. Akupun tidak menolak dan lama-lama menjadi suka.

Aku tidak ada contoh untuk menjadi laki-laki?

Entahlah.

Bowo? Oh, kemanakah dia sekarang? Tiba-tiba terbersit kangen akan dirinya. Masih sangat lekat dalam ingatanku apa-apa yang kami lakukan bersama, tanpa orang lain curiga.

Bapakku dan ayahnya Bowo adalah teman dekat waktu mereka mahasiswa. Kebetulan sama-sama pegawai negeri dan ditugaskan di kantor yang sama. Bapakku adalah bawahannya.

Karena Bowo anak satu-satunya, maka dia tidak punya teman di rumahnya. Bowo sendiri anak yang supel dan menyenangkan. Tidak berapa lama aku sudah kenal akrab dengannya.

Kami berdua main bersama, mandi bersama, tidur bersama tidak ada yang mencurigainya. Semua yang kami lakukan menjadi rahasia berdua tanpa ada yang membongkarnya sampai sekarang.

Dari kebersamaan dengan Bowo itulah, aku mendapatkan pengalaman sex. Tak pasti itu termasuk dalam sex education atau tidak. Bowo mentransfer apa yang dia tahu untuk melampiaskan nafsunya kepadaku. Masih terbatas pegang-pegangan dan masturbasi sederhana. Bukan hal yang sampai melakukan hubungan intim. Namun semuanya sudah membekas erat dalam pikiranku, sehingga akupun tanpa sadar sudah terkungkung oleh orientasi sexku sendiri. Imajinasiku telah dibangun tanpa fondasi arah yang benar. Bentangan nafsuku terarah kepada sejenis. Bahkan sampai-sampai aku sempat bertingkah sedikit seperti perempuan. Kalau sudah begitu, semua orang di rumah membentakku untuk menghentikan tingkahku.

Aku dapat mengerti mereka saat itu. Maka buru-buru aku merubahnya. Aku bisa. Dan aku bertingkah seperti laki-laki layaknya. Namun aku tetap dekat dengan Bowo. Namun aku tetap beraktivitas bersamanya. Namun aku masih mendapat ”sex education” nya. Anehnya aku tidak merasa terpaksa.

Di rumah Bowo, awalnya dia mengajariku matematika. Dengan sangat telaten dan semangat dia mengajari pelajaran yang aku paling benci di sekolah. Biasanya kami belajar di meja makan, Biasanya kami duduk bersebelahan. Biasanya orang tua Bowo tidak mencurigai apapun yang kami lakukan. Biasanya mereka tidak tahu apa yang tanganku lakukan di bawah meja makan yang tertutup taplak meja besar.

Belajar bersama yang dilihat orang tua Bowo waktu itu, yang sesungguhnya terjadi yang tidak pernah dilihat mereka adalah pelajaran bagaimana Bowo mengajariku menyelusupkan tangan kiriku ke dalam celana bolanya.

Tangan kananku menulis menyelesaikan latihan matematika, sedangkan tangan kiriku sibuk dan asik melakukan hal lain untuk Bowo. Aku makin berani untuk berbuat lebih. Bowo makin membiarkan aku berkreasi sampai dirinya benar-benar mendapatkan apa yang diharapkannya. Ejakulasi!

”Kamu pernah merasakan ini, Kris?” Bowo bertanya berbisik-bisik, setelah tubuhnya menjadi rileks kembali. Aku menggeleng. Belum sempat aku menjawab, tangannya sudah mendarat di celanaku.

Aku hanya tertegun, tapi tidak berontak. Entahlah, semua mengalir begitu saja. Kubiarkan Bowo memperlakukanku dengan hal yang barusan aku lakukan terhadapnya. Kami terus dengan sembunyi-sembunyi beraktivitas. Momen sore itu ternyata terus berlanjut pada kesempatan berikutnya…

”Ada apa Kris? Dari tadi melamun?” Pak Martin menepuk pundakku. Aku tergeragap dan tidak menyadari kalau mobil sudah berhenti sedari tadi. Aku sembunyikan rasa maluku di depan Pak Martin.

“Kita makan dulu” ajak Pak Martin. ”Rumah makan ini terkenal makanan enaknya, kamu suka Kris?” lanjutnya sambil membuka seat belt nya.

“Ya, aku suka, lets’ eat” aku mencoba mencairkan suasana ketertegunanku.

“Lapar nih?”

“Begitulah”

Kami berdua masuk ke restauran. Lalu disambut oleh penjaga pintu, dan kami pilih duduk di dekat jendela yang berpemandangan pegunungan yang berkabut. Kulitku masih merasakan udara dingin dari pengaruh kabut.

Kami memesan makanan sesuai dengan selera kami. Setelah itu, aku berinisiatif ke restroom. Kantong kemihku sudah cukup penuh untuk dikeluarkan biar perutku tidak terdesak sakit olehnya.

”Kris wait…” Tak berapa lama Pak Martin mengikutiku dari belakang. Beliau juga punya hasrat yang sama, apalagi sudah tiga jam nonstop menyetir. Kami berbarengan menuju ke restroom.

Restauran ini berdisign minimalis. Semua perabotan ditata rapi. Warna ruangan bernuansa tradisional yang didominansi warna cerah dan warna tanah. Aku yakin, pengunjung akan dibuat nyaman untuk makan di sini.

Siang ini restauran sedang sepi pengunjung. Aku jadi sedikit santai menikmati suasananya. Rasa penatku sedikit terkurangi. Ternyata area restroom lebih sepi lagi. Restroom yang indah dan nyaman.

Di luar perkiraanku, dari belakang Pak Martin meremas kedua pantatku dengan kedua telapak tangannya. Aku tergelinjang kaget, namun aku merasa jadi lebih releks, maka aku biarkan saja. Ternyata Pak Martin makin nakal. Kami menuju toilet tertutup dan melanjutkan kebersamaan yang penuh sensasi seperti biasanya.

”Sst.. kita sudah terlalu lama di restroom..ouch, seperempat jam…” aku terlonjak sendiri.

”Kamu duluan keluar Kris..hehee..” Pak Martin tersenyum lucu, menahan malu.

”Oke..” aku cepat-cepat membereskan pakaianku. Lalu kubuka pintu toilet itu. Seperti maling, aku longokkan kepalaku dulu, lalu celingukan mengamati keadaan restroom. Setelah dirasa aman, aku keluar menuju washtafel, cuci tangan dengan sabun, kumur-kumur dan cuci muka. Setelah kurasa bersih dan segar, aku keluar dari restroom menuju ke meja makan.

Aku kagok sebentar, karena sudah ditunggu oleh waiter dengan meja yang sudah penuh dengan makanan pesanan kami. Waiter itu tersenyum, namun aku merasa sedikit malu. Mudah-mudah itu hanya perasaanku saja. Mudah-mudahan waiter itu tersenyum karena untuk tampil ramah, bukan karena curiga karena terlalu lamanya aku di restroom.

Aku duduk dan sedikit berbasa basi: ”Wah, udah siap nech..”

”Silakan Pak…”

”Oke, thanks… mmm, asik juga ya pemandangan di belakang sana…” aku berpura-pura tahu pemandangan sekitar, biar tampak netral.

”Teman Bapak belum datang?”

”Tadi sempet keluar sebentar, mau ngerokok kali.. entar juga datang Mbak, gak usah dipikirin, haha, kebetulan dong, saya bisa duluin dia makan… hai itu dia, sialan sudah datang dia.. hehe..” aku mencoba membangun image waiter di depanku.

”Wah sudah siap nech Kris, kita santap langsung aja…” Pak Martin memang jago berakting. Semua terlihat biasa saja. Seperti tidak terjadi apa-apa barusan.

”Selamat makan Pak…” waiter itu menyilakan kami makan, lalu pergi.

”Terima kasih..” aku membalas.

Kamipun makan dengan lahap. Perut kami makin keroncongan saja apalagi setelah pergulatan di kamar toilet tadi, tentu tubuh kami butuh asupan energi dari makanan.

”Hahaha….” kami tertawa terbahak-bahak berbarengan setelah di mobil.

”Gila…aku benar-benar kalap tadi…” Pak Martin berterus terang.

”Kalap makan apa kalap di toilet?” aku berseloroh menegaskan

”Yang di toilet dong…” Pak Martin seperti masih merasakan kejadian itu.

”Hmm…” aku menggumam

”Kenapa Kris?” Pak Martin mengernyitkan alisnya,lanjutnya: ” Kamu gak suka?”

”Suka, tapi kita butuh mandi…” aku berseloroh

”Okay, we are looking for a shelter..” Pak Martin tahu maksudku.

Jalan tol ke arah kotaku banyak shelter yang menarik dan menyediakan tempat mandi yang bersih. Kami mampir di salah satunya. Hati kami menjadi bungah kembali karena lagi-lagi tempat mandi yang kami tuju dalam kondisi sepi. Tanpa dikomando, kami berinisiatif sama, untuk mandi bersama. Tentunya dengan bumbu tambahan bersensasi bersama.

“Journey yang mengasikkan..” bisik Pak Martin di telingaku.

”Yeah..” aku merasa lebih segar di bawah pancuran air dari shower.

“I love you Kris…” Pak Martin mendesis, lekat di telingaku

Kami terdiam sebentar, setelah tersadar, kami cepat-cepat bilas. Membersihkan diri sebentar, setelah itu bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan.

Kampungku tinggal satu jam lagi dari kota berkabut ini. Aku makin merasa tidak tenang. Pak Martin membiarkanku hanyut oleh pikiranku. Beliau hanya konsentrasi menyetir, sambil sesekali bertanya ke arah mana mobil harus digerakkan. Supirku yang baik, aku bercanda dalam hati untuk diri sendiri.

”Saya cemas..” tak kuat aku pendam perasaanku sendirian

“Kamu harus tetap tenang, Kris..”

”Oke, I’ll try, thanks…” akupun mencoba menenangkan diri.

Satu jam ternyata sangat cepat berlalu bagiku saat ini. Tahu-tahu mobil sudah berhenti di halaman rumah keluargaku. Pak Martin sudah selesai mematikan mesin mobilnya. Namun aku masih tetap lekat duduk di jok depan. Harus apa aku ini? Bukankah ini rumahku juga? Kenapa tiba-tiba aku malah jadi enggan ke sana? Perlahan aku kuatkan diri. Aku harus hadapi, apapun yang nantinya akan terjadi, pikirku menimpali, memberiku semangat.

Sekian tahun aku tinggalkan rumah ini, ternyata sudah banyak berubah. Bangunan yang dulu sederhana, sekarang tampak tertata. Rumah Bapak sudah direnovasi menjadi rumah yang menarik dengan dominan warna krem bernuansa modern.

Sedikit ragu aku menuju teras rumah. Pak Martin mengikutiku dari belakang sambil membawa barang bawaannya. Kuketuk pintu tiga kali. Tidak lama Mbak Novi membukanya. Dengan sumringah dia menyambutku. Dari raut wajahnya, dia menunjukkan kangen yang teramat dalam. Aku jadi ngilu tiba-tiba.

Kupeluk Mbak Novi. Aku menjadi sedikit bersalah telah sekian lama memisahkan diri dari mereka, dari keluargaku, hanya karena ketidaknyamanan hati untuk tinggal di rumah ini. Dulu saya punya keinginan untuk menghindari situasi rumah ini. Terutama dengan tabiat bapakku.

”Gimana kabarmu? Sekarang tambah cakep aja, tambah bersih lho Kris” Mbak Novi seperti tidak pecaya dengan penampilanku yang terawat ini.

”Masa sih? Gak pernah kena sinar matahari sih di kota. Kerja pagi pulang sore. Gak pernah ketemu matahari…” aku menjelaskan

”Gimana kerjaanmu? Sukses ya?”

”Begitulah, berkat doa keluarga” aku berfilosofi sedikit

”Mbak tahu kalau kamu pekerja keras, jadi wajar kamu dapatkan apa yang menjadi impianmu untuk sukses…”

”Mbak kenalkan, ini Pak Martin, managerku. Aku asisten beliau. Karena orang marketing, beliau mau meninjau daerah sini, sapa tahu ada chance untuk mengembangkan jajahannya…haha..” aku perkenalkan Pak Martin ke Mbak Novi sewajar mungkin.

”Martin..” Pak Martin memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Mbak Novi.

”Novi, silakan masuk, ayo, semua ada di dalam, sudah menunggu kamu Kris… ayo Pak Martin, jangan sungkan lho ya…” Mbak Novi seperti biasanya, meriah.

”Terima kasih” Pak Martin menjawab sopan.

Kami menuju ke dalam rumah, tepatnya ruang keluarga. Di sana seluruh anggota keluarga sudah menunggu. Ada Mas Adam, suaminya Mbak Novi yang sedang menggendong anaknya, ada Mas Topan dan Mbak Helga, ada Ibu yang terlihat sudah banyak beruban, ada kakek dan nenek yang duduk berdampingan di dipan kayu asem yang dulu dibuat kakek, dan ada bapak yang sekarang duduk di kursi roda!.

Ah, apa yang terjadi dengan bapak?! Aku terpekik dalam hati, kelu.

Oh Kris…” seperti paduan suara mereka menyambutku dengan berbarengan menyebut namaku. Lalu aku berpelukan dengan semua yang menyambutku. Kupeluk satu-satu dengan haru. Mereka teramat kangen denganku, bisiklu lirih tercekat dalam hati. Untuk sementara Pak Martin tidak aku hiraukan. Mudah-mudahan beliau mengerti. Kulihat sepintas, dengan tenang beliau duduk di sofa di sudut ruangan ini.

Kupeluk bapakku erat namun pelan. Apa yang terjadi dengan bapakku? Beliau sudah teronggok tak berdaya di atas kursi roda. Beliau tidak bersuara sepatahpun menyambutku, namun aku rasakan dari degup dan air mata yang menetes dari matanya, beliau ingin bercerita banyak tentang rumah ini.

”Maafkan Kris, lama tidak pulang…” aku terisak tanpa sadar.

”Tidak apa” bapak menjawab lancar

”Ini Pak Martin, atasanku, aku asistennya beliau, sorang pakar marketing di kantorku. Beliau ingin meninjau daerah ini, siapa tahu ada peluang, survey kecil-kecilan, dan biar mengirit biaya, aku sarankan menumpang beberapa hari di rumah…” penjelasanku tidak ada yang ganjil. Pak Martin pun bersikap sama.

”Maaf kalau saya merepotkan. Pak Kris terus memaksa saya untuk tinggal bersama di rumah ini, kalau keluarga tidak keberatan…”

”Silakan Pak Martin.., kami sangat senang” serentak orang yang ada menjawab. Aku menambahkan: ” Maaf ya Pak Martin, tempatnya sederhana, dan saya tidak formal berbicara…”

”Tidak apa-apa Pak Kris, saya senang bisa berkenalan dengan keluarga Pak Kris” Pak Martin berbicara dengan wibawa.

”Pak Martin mau istirahat dulu? Silakan ke kamar depan saja Pak, itu dulu kamar Kris, sekarang kosong, sudah saya bereskan tadi pagi…silakan Pak..” Mbak Novi sigap bertindak.

”Terima kasih” Pak Martin mengikuti langkah Mbak Novi sambil menjinjing tas bawaannya.

Aku duduk di sebelah kursi roda bapakku. Kuperhatikan dengan seksama keadaan fisik bapak. Sekian tahun ini ternyata sudah banyak perubahan. Bapak seperti tidak berdaya tanpa kursi rodanya. Bapak sudah teramat susut berat badannya. Bapakku sudah tidak lagi punya energi untuk berjalan. Bapak seperti hanya pasrah di atas kursi rodanya. Aku menjadi trenyuh melihat kondisi ini.

”Bapak terkena strok ringan enam bulan lalu…kakinya lumpuh” Mbak Helga berbisik menjelaskan. Sepertinya kakakku yang satu ini tahu apa yang aku pikirkan.

”Oh..” aku menelan ludah kelu

”Darah tinggi bapak naik drastis, karena masalah yang dihadapi di kantor” Mbak Helga terus menjelaskan.

”Bapak masih aktif kerja? Bukannya harusnya sudah pensiun?”

”Bapak tidak mau pensiun Kris..” Bapak menyela. Suaranya masih lantang, suaranya masih garang dan suaranya masih menunjukkan keras kepalanya.

”Hmm” aku setengah mengeluh. Watak bapak belum berubah, gumamku dalam hati

”Bapak masih kuat bekerja, kenapa harus pensiun?” bapak membela diri

”Usia bapak sudah saatnya pensiun kan?” aku mencoba meluruskan pikiran bapak

”Bapak masih kuat bekerja” bapak tidak mau mengalah

”Kan masih bisa beraktivitas di rumah?” akupun terpancing untuk meladeni. Aku tidak mau lagi seperi dulu, hanya diam dan menuruti apa kata bapakku. Aku merasa sudah saatnya aku punya pendapat sendiri. Terserah bapak mau terima atau tidak.

”Kris, sejak kapan kamu berani menggurui Bapak? Merasa sudah berhasil?” bapakku memojokkan dengan kalimat sinis. Selalu begitu, tak ada yang berubah.

”Saya tidak bermaksud begitu” aku menunduk

”Sudahlah Pak, maksud Kris kan baik, memberikan pendapat” Mbak Novi menimpali. Ternayata dia mendengar percakapan kami sedari tadi.

”Pendapat macam apa itu?!” bapak terlihat keki.

”Saya pikir masuk akal, usia Bapak sudah usia pensiun, sewajarnyalah pihak kantor memberhentikan bapak untuk bekerja, karena hak bapak bekerja sudah selesai, lebih baik bapak beraktivatas atau sebut aja bekerja di rumah, berusaha di rumah, tidak perlu di kantor…” aku akhirnya ngedumel

”Kamu sudah banyak berubah, Kris” bapakku setengah membentak. Ternyata bapak benar-benar belum berubah tabiatnya, aku memastikan dalam hati.

”Saya tidak berubah, saya hanya berpendapat..” aku ternyata bisa keras kepala

”Pendapat apa itu?!” kembali bapakku mengulangi ucapannya.

”Sudahlah Kris, tidak usah dilanjutkan, kita ngobrol yang lain saja…” Mbak Helga menengahi. Bapakku masih cemberut tidak suka, cuma bapak tidak berdaya di kursi rodanya.

”Berapa lama kamu akan di rumah?” tanya Mbak Novi

”Sampai Minggu, hari Senin saya harus balik ke kota, memang kenapa Mbak?” aku tidak tahu maksud pertanyaan Mbak Novi, makanya aku balik bertanya.

”Bapak selalu bertanya tentang kamu..” Mbak Helga menimpali

”Kenapa memang?” aku mengernyitkan alis

”Bapak selalu tanya, kapan kamu berkeluarga..” Mba Novi menegaskan

”Tiap hari bapakmu tanya terus, sampai ibu bosan..” Ibuku turut memberikan komentar. Sedari tadi Ibu cuma diam memperhatikan percakapan kami. Ibuku pendiam, tidak banyak bicara, lebih baik menarik diri dari percakapan jika dirasa akhirnya berujung pertengkaran, dengan bapak ibuku selalu mengalah, ibuku bukan tipe orang yang suka ribut.

”Umurnya sudah tua, sudah punya pekerjaan bagus, sudah kaya, sudah mampu untuk berkeluarga, wajar kalau bapak tanya…” bapakku masih mengikuti pembicaraan kami.

”Saya belum terpikir untuk berkeluarga…” aku menandaskan, namun berujung dengan kemarahan bapak. Bapak meledak-ledak mengagetkanku.

”Kamu kurang ajar Kris! Tidak tahu perasaan orang tua selama ini. Banyak yang bertanya sama bapak soal itu, bapak malu!..” nafas bapak sedikit tersumbat.

”Gimana lagi, saya kan memang belum siap berkeluarga” aku makin tidak suka

”Sudah Kris..” Mbak Helga menahan tanganku, bermaksud untuk mencegahku berkata lebih banyak lagi.

”Kamu benar-benar kurang ajar..” bapak terus menuduhku

”Saya selalu hormat sama Bapak, sama seluruh keluarga, tidak mungkin saya kurang ajar, saya hanya belum siap berkeluarga” aku mencoba menjelaskan kata hatiku

”Kamu sudah tua, sudah saatnya berkeluarga, atau kamu tidak normal?” bapakku sudah keterlaluan.

”Sudahlah pak, biar saja Kris berpendapat” kali ini Mbak Helga yang mencoba menenangkan bapak yang sudah melantur tidak karuan. Buru-buru Mbak Novi menggerakkan kursi roda bapak menuju ke kamar bapak. Ibu mengikutinya dari belakang.

”Bapak tidak sejalan dengan pendapatnya” bapakku seperti anak kecil, keras kepala dan tidak pernah mau mengerti perasaan orang.

Bapak tadi bertanya normalkah aku? Asal tahu saja, aku terlahir sudah tidak normal! Geramku dalam hati. Mau terus terang? Ah, aku belum atau bahkan tidak punya nyali. Aku masih bisa menghargai perasaan keluargaku. Aku tidak mungkin bisa menyakiti perasaan mereka. Aku terdiam.

”Kris, kamu istirahat saja dulu, mungkin Pak Martin perlu teman..” Mbak Helga mengingatkanku.

”Aku mau tidur di sofa saja”

Pak Martin bagaimana?” Mbak Helga terus mendesakku

”Bisa tidur sendiri kan? Saya jengah Mbak dengan atasanku, harus berbicara formal, apalagi Pak Martin itu orangnya sangat smart, saya minder lah..” aku mencoba beralasan pura-pura.

”Kasihan Pak Martin, kan cuma kamu yang kenal dia.. Temenin dia…” Mbak Helga memaksa. Lagi-lagi aku pura-pura malas.

”Ya udah deh..” aku ngeloyor ke kamarku, masih pura-pura malas.

Kuketuk pintu kamarku sambil berucap: ”Pak Martin, permisi, bisa saya masuk?”

”Silakan Pak Kris, tidak dikunci..” suara Pak Martin seperti di kantor saja.

Kubuka pintu kamarku. Semua sudah berubah. Dinding kamar sudah berganti warna cerah. Tidak seperti dulu, kusam. Pak Martin sedang berbaring santai di ranjang, sambil cekikikan tertahan biar tidak bersuara. Sepertinya beliau kegelian sendiri. Buru-buru kututup kembali pintu kamarku, dan menguncinya perlahan.

Kuhampiri Pak Martin yang berbaring polos. Perselisihan pendapat dengan bapakku tadi seakan lenyap begitu saja setelah melihat pemandangan di depanku. Aku mencoba berpenampilan yang sama dengan Pak Martin.. Lalu mengambil inisiatif. Pak Martin membalasnya. Setelah itu berlanjut dengan kegiatan tradisi kebersamaan kami. Hubungan ganjil dan terlarang ini berlangsung mengalir tanpa ikatan formal dan tidak akan pernah diakui oleh semua lapisan masyarakat.

Tak terasa akhirnya kami tertidur. Aku terperanjat, saat ada ketukan di pintu kamarku. Dengan masih menggeliat malas, aku jawab ketukan itu dengan teriakan ”ya”. Buru-buru aku membangunkan Pak Martin, dan membisikinya untuk cepat berpakaian. Akupun berpakaian dengan gerak cepat. Pak Martin mengikutinya.

”Ada apa Mbak?” aku masih menguap sambil bertanya kepada Mbak Helga yang mengetuk pintu.

”Sudah jam tujuh malam lho…” Mbak Helga mengingatkan

”Ha?” aku pura-pura kaget.

”Mandi dulu saja, sudah ditunggu makan malam tuh..”

”Oke” aku masuk kamar kembali.

Kulihat Pak Martin sudah siap dengan peralatan mandinya. Di lehernya sudah diselempangkan handuk halusnya.

”Kris..mandi bareng yuk..” ajaknya manja.

”Cari penyakit..” aku menatapnya dengan mendelikkan mata.

”Haha..” Pak Martin cekikikan pelan.

”Kamar mandi ada di belakang ya, sangat berbeda dengan apartemen Bapak, jadi gak ada komplain…” aku menjelaskan sambil terus menatapnya.

”Oke, aku mandi dulu ya..” sambil meremas burungku sebentar, Pak Martin izin untuk mandi.

”Ssttt…Saya antar..” bisikku

Kami keluar kamar sudah dengan penampilan ”baru” dan formal. Aku bersikap seperti di kantor layaknya. Pak Martin adalah lawan aktingku yang paling hebat. Semuanya jadi tampak wajar.

Saat makan malam, Pak Martin menjadi pusat perhatian. Mas Topan bertanya paling seru tentang bisnis, terutama marketing. Aku biarkan mereka terlibat dalam pembicaraan serius. Aku bergabung dengan pembicaraan Ibu dan Mbak Helga. Mas Adam dan Mbak Novi sudah pulang. Besok mereka akan datang lagi.

Bapak tidak ikut makan malam. Bapak harus mengikuti diet ketat. Kakek dan nenek sudah di kamar tidur. Mereka sudah sepuh, sehingga tidaklah mungkin akan bergabung dengan kami berlama-lama.

”Kris, Ibu sangat berterima kasih sama kamu..” suara Ibu masih lembut seperti dulu.

”Untuk apa?” aku masih asik dengan sup kacang merahku

”Karena kamu sudah sangat membantu keluarga” Ibu menjelaskan.

”Itu lho Kris, setiap bulan kan kamu kirimi bapak uang, itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup orang di rumah…” Mbak Helga berusaha mempertegas

”Sudah niatan saya kok..” aku jujur

”Iya, tapi Ibu harus berterima kasih dong, Ibu ikut bahagia kalau kamu berhasil di kota..” Ibuku tidak pernah akan pura-pura.

”Mohon doa restunya aja ya bu..”

”Kelebihan uangnya selalu Bapak simpan…” Ibu sepertinya masih antusias membahas seputar kiriman uangku tiap bulan.

”Kris, terima kasih juga lho kiriman uangnya enam bulan yang lalu untuk biaya berobat bapak” Mbak Helga menimpali

”Hmm” aku cuma tersenyum, namun dalam hatiku sebenarnya bertanya-tanya tentang kiriman uang enam bulan yang lalu itu. Bapak menerima transferan uang untuk biaya berobat bapak? Seingatku, aku tidak mentransfer uang dengan jumlah sebesar itu enam bulan lalu. Apakah Pak Martin yang melakukannya? Tak tahulah!

”Waktu itu, Mbak sudah kebayang berapa biaya yang diperlukan Bapak”

”Ibu juga sudah khawatir tentang biaya itu…”

“Sukur kamu mengirimi uang yang cukup, bahkan berlebih, akhirnya sisanya kami buat untuk merenovasi rumah..” Mbak Helga makin bersemangat berpendapat

Lagi-lagi aku hanya terdiam. Aku sendiri masih dalam kebingungan tentang hal itu. Pak Martinkah yang melakukan? Bisa jadi.

”Uang tabungan saya…” aku memandangi mereka dengan sayang

”Oh ya?” Mbak Helga terbelalak

”Biar lebih bermanfaat..” selorohku

”Terima kasih lho Kris” Ibu sungguh terharu

”Kris, kamu sudah punya pacar atau calon istri?” Mbak Helga bertanya sangat to the point. Aku menghentikan diri untuk melahap ayam panggang buatan Ibu.

”Kenapa memang?” aku berusaha untuk santai. Mudah-mudahan Pak Martin yang masih asik berbincang dengan Mas Topan tidak mendengar percakapan kami kali ini.

”Bapak sudah tanyain terus” Ibu menimpali

”O gitu, kan sudah aku katakan, aku belum siap…”

”Tidak bisa begitu toh Kris, usiamu sudah matang untuk berkeluarga” Mbak Helga seperti mengingatkan. Mulutnya masih mengunyah kacang merah.

”Tapi gimana dong Mbak?”

”Gimana apanya? Kamu belum punya pacar ya?”

Aku terdiam tidak bisa mengelak. Kenyataannya memang seperti itu. Tidak ada pacar atau teman dekat wanitaku. Adanya juga Pak Martin. Hmm, ironis dan akan sangat ganjil kedengarannya oleh telinga keluargaku. Tidak mungkin aku akan blak-blakan cerita toh? Itu namanya bunuh diri.

”Kris, bapak sudah punya calon untukmu..” Mbak Helga tidak berbasa basi. Aku hampir tersedak dibuatnya.

”Sampai segitunya…” aku tidak suka mendengar informasi itu

”Tahu sendiri kan Bapak…” Mbak Helga malah memaklumi

”Saya sudah dewasa, sudah berhak menentukan hidup sendiri” aku berdalih

”Tidak semudah itu lho Kris..”

”Tapi..”

”Makanya, kalau kamu sudah punya calon istri, katakan saja kepada Bapak, biar bapak tidak memaksamu nantinya..”

”Memaksa?”

Tabiat Bapak dari dulu kan? Masa kamu lupa?”

”Sudah sudah..” Ibuku menetralkan kami

”Kamu kenal Gadis, anaknya Pak Gondo?” Mbak Helga masih berkutat seputar permasalahan jombloku.

”Ya, teman es de saya dulu..”

“Itu calonmu… bapak sangat terikat pertemanan dengan Pak Gondo, dan bapak cocok dengan Gadis, dia itu baik, cantik, menurut sama orang tua, pokoknya di mata bapak, Gadis ádalah perempuan yang sempurna untukmu..”

Aku makin tercekat. Aku makin tak bisa menelan. Akhirnya aku tidak melanjutkan menyantap sisa ayam pangganggku. Keresahanku makin membuncah, sampai-sampai terbawa terus semalaman. Aku tidak dapat tidur. Rasanya susah untuk memejamkan kedua kelopak mataku barang sedetikpun.

”Kenapa Kris..” Pak Martin melihat gelagat resahku. Lalu dia mengambil posisi duduk di sebelahku.

”Kamu tidak bisa tidur?” Pak Martin terus memperhatikanku. Aku hanya diam. Tapi hatiku teramat bergemuruh. Berjuta perasaan berkecamuk dalam nuraniku. Kesal, resah, marah, tak berdaya, kecewa, menyalahkan diri, benci pada keadaan dan perasaan tidak menyenangkan lainnya terus merubungi otakku.

”Inikah hidup?” aku terisak lirih. Pak Martin cepat berinisiatif memelukku.

”Kenapa?”

”Saya benci dengan hidup saya”

”Kamu kecapean Kris..”

”Mungkin, itu karena hidup saya yang begini…”

”Kita sudah sama-sama tahu kan Kris?”

”Ya, saya merasa bahagia hidup dengan Pak Martín …”

“Lantas?”

“Saya tidak mungkin hidup seperti laki-laki lain…”

”Kamu bisa memilih sesuai keinginan hidupmu, Kris”

”Tidak, saya tidak berhak memilih, karena yang saya pilih adalah sesuatu yang bertentangan dengan aturan normal keluaraga dan masarakat…”

”Seharusnya mereka juga bisa mengerti hidup kita”

”Mana mungkin? Kita yang dianggap menyimpang, jadi harusnya kita yang memperbaiki diri sesuai aturan mereka..”

”Tidak adil”

”Itulah kenyataannya..”

”Kita bisa memilih untuk tidak mematuhinya..”

”Saya tidak mampu…karena saya tidak mungkin bertentangan dengan keluarga. Itu berarti akan mempertaruhkan nama baik keluarga… saya pusing”

”Ya, kamu sendiri bagaimana keputusannya?”

”Saya pusing..” aku menunduk, sambil menutup wajahku dengan dua telapak tanganku. Sangat sulit bagiku saat ini untuk berkata ya atau tidak, memilih kata hatiku atau tidak, menyatakan hal yang sebenarnya atau tidak, mempertaruhkan diri atau tidak, menuruti kata hatiku atau tidak…

”I really understand…” Pak Martin berkata dengan suara berat tercekat, mengerti kondisi sulit yang sedang menghimpitku.

”Maafin saya ya Pak..” aku tidak menyadari perkataanku

”Mudah-mudahan ada jalan keluar Kris..” Pak Martin sungguh-sungguh berharap

Haruskah aku mengikuti aturan dan kehendak keluargaku? Haruskan aku berkeluarga hanya untuk tujuan tidak mencemarkan nama baik keluarga? Haruskah hanya menikahi Gadis pilihan bapakku? Haruskah aku ikuti konflik batin seperti Siti Nurbaya? Haruskah aku mengesampingkan jati diriku? Haruskah aku membohongi diri sendiri? Haruskah…

Aku benar-benar dalam kepanikan dan keresahan tiada tara.

Masalahnya sepele kan? Sisi hatiku yang lain menimpali. Menikah. Itu kan? Kamu sudah dewasa, kamu sudah mapan penghasilannya, kamu sudah mampu menghidupi anak orang, kamu sudah siap secara biologis, kamu sudah layak berkeluarga, kamu sudah pantas menyandang gelar suami, kamu sudah semestinya berkeluarga…

Aku sudah semestinya berkeluarga? Itukah norma yang ada? Itukah tataran sosial yang harus aku lewati? Jika aku tidak melewatinya, apakah aku termasuk orang yang durhaka pada aturan? Durhaka pada keluarga? Orang tua? Masyarakat? Dunia?

Aku terpuruk dalam-dalam. Karena aku sendiri tidak akan terpikir untuk beristri. Aku beranggapan kuat jika aku tidak mungkin akan hidup bersama wanita. Terpikat pada wanita saja, itu hal yang sulit. Apalagi untuk mencintai? Lalu hidup bersama satu atap? Lalu berlaku untuk bertanggung jawab membahagiakan istri? Katakan mungkin aku bisa memberikan kebahagiaan lahiriah. Lantas kebahagiaan batin istri? Batinku takkan bisa sepenuhnya dapat melakukannya.

Apakah berarti aku harus berbohong? Membohongi diri, membohongi bapak, membohongi Pak Martin, membohongi Ibu? Membohongi istri? Membohongi anak, jika nantinya aku punya anak? Oh, rasanya seperti mau pecah otak dalam tempurung kepalaku.

Tidak ada solusi. Atau aku akan jadi gila?

Pagi-pagi harus bangun. Mataku baru seperempat terbuka. Mulutku tidak usai menguap sedari tadi. Tubuhku benar-benar lemah, namun aku paksakan untuk bangun pagi, dan mengikuti ritme kegiatan orang-orang di rumah. Aku belum menyadari mengapa orang serumah sepagi ini sudah sesibuk ini.

”Ayo Pak Kris…semangat” Pak Martin ikutan sibuk memindahkan kursi ke teras depan. Mas Adam ikut membantunya. Aku masih malas-malasan di sofa ruang keluarga.

”Bangun dong Kris..” Mbak Helga juga sibuk beres-beres curtain.

”Ada apa sih? Pada sibuk bener…”

”Ohoo, ini hari istimewamu, Kris..”

”Saya gak lagi ulang tahun..”

”Bukan itu…” Mbak Helga membuatku jadi penasaran.

”Lantas? Untuk kepulanganku?”

”Mungkin, yang jelas jam sepuluh nanti, Pak Gondo sekeluarga akan datang..” Mbak Helga gamblang menjelaskan. Belum selesai kantukku habis, aku terlonjak seperti tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Secara refleks aku sudah menebak ke arah mana nantinya pertemuan dua keluarga ini. Tepatnya pertemuan bapakku dan Pak Gondo yang secara sepihak melibatkan seluruh anggota keluarga. Rasanya ingin lari!

”Kamu akan diperkenalkan sama Gadis..”

”Oh ya?” aku coba senetral mungkin

“Kamu gak suka?”

“Apa harus serepot ini?”

”Menghormati keluarganya lah…” Mbak Helga masih sibuk memasang curtain ruang tamu.

”Menghormati keinginan bapak kali..” aku nyinyir

”Hush, ambil positifnya dong..”

”Apa?” tantangku

”Kamu jadi gak repot cari calon istri…” Mbak Helga cekikikan.

“Gombal” aku menggerundel dalam hati. Pikiranku makin terpojok pada dinding yang berduri besi yang runcing dan tajam. Sepertinya kepalaku benar-benar mau pecah.

Pertemuan antara dua kepala keluarga. Pertemuan antara dua anggota keluarga. Pertemuan antara dua kebudayaan. Yang berakhir dengan pertemuan dua insan manusia. Aku dan Gadis. Aku lewati acara ramah tamah itu dengan perasaan yang masih kusut.

Bapakku sangat dekat dengan Pak Gondo. Bapakku terlihat semangat bercerita tentang keberhasilanku merantau. Bapakku terlalu bergembiranya mempromosikanku. Tepatnya bapakku tengah menjajakanku ke kepala keluarga yang bernama Pak Gondo!

Setali tiga uang. Ternyata Pak Gondo berlaku hal yang sama. Saat percakapan itu, semua orang yang hadir seperti harus patuh mendengarkan. Mereka layaknya dua orang raja yang sedang bertitah. Forum itu serasa hanya milik mereka berdua. Membosankan! Pekikku dalam hati, keki.

Kuperhatikan Gadis yang duduk di sébelah ibunya. Cantik. Aku yakin semua pria normal yang melihatnya pasti tertarik. Aku mengakui kecantikan dan penampilan lembut Gadis, yang dulu teman es de ku. Kini Gadis sudah sarjana dan bekerja membantu usaha pertanian bapaknya. Dia anak tunggal. Sepertinya dia tidak boleh jauh dari orang tuanya.

Hasil pertemuan pagi itu dibahas bapak sore harinya. Seperti raja, bapak menjelaskan semuanya. Di ruang keluarga, meski bapak tak berdaya di atas kursi rodanya, adalah penguasa keluargaku. Tabiat dan keras kepalanya raja rumah ini belumlah secuilpun berubah. Semua orang harus tunduk dan patuh pada aturan dan kehendaknya.

”Kris, kamu sudah harus siap untuk berkeluarga. Bapak sudah bicarakan kepada Pak Gondo tentang kamu dan Gadis” suara bapak masih datar tapi terdengar di telingaku penuh tekanan intimidasi.

”Harus secepat ini?” aku sudah tidak tahan untuk bicara

”Lantas kapan? Kamu sudah hampir tiga puluh tahun. Sudah layak untuk menikah. Teman-temanmu saja sudah pada punya anak…”

”Mereka memilih untuk itu..” aku mencoba berkilah. Namun hal itu membuat darah tinggi bapakku mendadak naik. Maka tak terkontrollah ucapannya. Suaranya sudah berubah menjadi menggelegar.

”Bapak sudah bicarakan semuanya. Bapak sudah tentukan semuanya. Kamu tidak bisa membantah. Kamu harus menuruti bapak. Jangan bikin malu bapak dan keluarga. Semua orang menggunjingkanmu. Berarti semua orang menggunjingkan keluarga ini. Bapak tidak terima!…” bapak sampai tersengal-sengal menyelesaikan ucapannya. Semua orang yang hadir di ruang keluarga terdiam. Semua membeku.

”Kalau saya merasa belum siap bagaimana? Apa harus memaksakan diri?” aku masih memberanikan diri

”Apanya yang belum siap? Usiamu sudah tua! Kamu sudah berpenghasilan cukup, bahkan menurut bapak berlebih! Tidak ada alasan untuk tidak siap! Bapak tidak mau lagi dengar alasanmu lagi,. Bapak tidak mau dengar lagi gunjingan orang..”

”Kenapa harus peduli gunjingan orang..” aku sudah tidak sabar. Tiba-tiba tangan Mbak Helga yang duduk di sebelahku mencengkeram pundakku.

”Ssstt.. stop dulu..” bisiknya tegas

”Kamu kurang ajar Kris! Kalau kamu menolak, lebih baik kamu pergi saja! Tidak usah lagi kamu hiraukan bapak! Tidak usah lagi kamu pulang ke rumah ini..!” bapakku benar-benar kalap. Sambil marah, bapak memutar kursi rodanya menuju kamar tidur.

”Bapak sudah atur semuanya. Kamu harus menikah dengan Gadis!” suara bapak di depan pintu kamar tidur, terdengar lantang, menyeruak jelas di gendang telingaku.

Orang-orang dibuat terdiam. Kedua kakak iparku sudah larut dalam kebekuan. Mereka tidak mungkin akan memberikan pendapat apapun. Sepertinya mereka sudah teramat paham dengan tabiat bapak.

Inikah arti pentingnya keluarga? Tapi ini keluargaku.

***

*********

Chapter 5. PULANG

Aku masih asik duduk-duduk di antara pepohonan besar di taman kota. Rumput yang aku jadikan sebagai alas sepertinya tidak berontak untuk mengusirku. Malah kurasa semakin nyaman saja.

Sengaja sore ini aku berlama-lama menghirup oksigen di sini. Sepertinya otakku memang butuh supply zat gas itu lebih banyak untuk meringankan kelelahan sel-selnya setelah berpikir keras seminggu ini..

Air danau buatan di depanku beriak kecil dihempas angin sore. Dingin menyertai hembusannya. Lumayan, cukup membuat tubuhku segar. Konsentrasiku makin terfokus pada danau itu mana kala sekeluarga bebek berleher belang coklat berbaris berenang melintas.

Suasana sore di taman kota kali ini cukup menghiburku. Aku bisa membuang sedikit demi sedikit kepenatan tubuh dan pikiranku yang seminggu belakangan aku porsir untuk mencapai target semua program marketing di perusahaan.

Sampai siang tadi aku berjuang keras untuk mendapatkan client yang mau untuk bekerja sama dalam proses penjualan produk baru. Lumayan, meski aku hanya dapat menjaring lima client, tapi tiga di antaranya adalah tergolong kelas kakap.

Mr. Baron dari Malaysia, Pak Budhi Waluyo dari Pontianak, Pak Bram dari Jakarta, Nyonya Maryati pengusaha terkenal di kota ini, dan Bu Marleen dari Bandung. Mudah-mudahan Pak Martin juga puas dengan hasil jerih payahku dalam membantunya.

Seminggu aku merancang program launching ini agar sukses. Pak Martin tengah mengujiku kembali, dengan menyerahkan tanggung jawab kepadaku untuk mengatur program itu. Aku memang sedang diberi kesempatan untuk maju oleh perusahaan tempatku bekerja.

Aku sendiri salut dengan bosku itu. Jangan harap aku akan punya dispensasi dari Pak Martin untuk urusan kerja. Tapi untuk urusan diluar itu, aku sangat percaya betapa sayangnya beliau terhadapku. Aku sendiri heran dengan kenyataan yang ada di depanku. Ternyata aku bisa membuat beliau menikmati hidup ini lagi. Atau aku yang telah menilai hal ini secara berlebihan?

Bahagia.

Kata itu yang kerap diucapkan olehnya di depanku. Pun aku tidak dapat memungkirinya. Sejak aku tinggal bersamanya, segalanya menjadi berubah penuh keceriaan. Aku sendiri tidak tahu apakah kebahagiaan yang diucapkan beliau memang pancaran dari lubuk hatinya. Aku tak peduli, toh resikonya beliau yang tanggung apabila beliau berbohong.

Jam lima sore. Cahaya matahari semakin memerah. Angin semakin dingin. Air danau semakin beriak. Taman semakin sepi. Lampu semakin terang terlihat. Namun aku malah semakin hanyut dengan ketenangan suasana ini.

Nada dering handphone ku telah mencairkan ketertegunanku memandang danau. Baru kusadari sudah tidak ada lagi sekeluarga bebek danau tadi. Sudah sepi.

:Hallo Pak..”

“Kris, where are you?” suara Pak Martin menyusup di telingaku

“Taman”

“What are you doing there?”

“Relaxation..”

“O I see, hi congratulation honey.. success for today…”

“Oh, thanks…” aku turut bergembira. Kabar itu membuat diriku makin ringan. Beban pikiranku jadi semakin longgar. Kecemasanku pudar seketika, dan aku senang mendengar ucapan selamat dari bosku tadi. Itu berarti aku berhasil, kerjaku sukses, atau minimal tidak sis-sia. Indahnya berita itu, Indahnya sore ini.

“Mau dijemput?”

“If you don’t mind..”

“Of course, I’ll be there on ten minutes, okay?”

“Yap, thanks..”

“Bye, see you..”

“Bye..”

Aku menutup pembicaraan. Hatiku rada plong dengan berita yang disampaikan Pak Martin barusan. Sengaja aku pulang duluan tadi, karena aku ingin istirahat, merenung, dan menunggu hasil evaluasi kerjaku. Saat-saat yang memang sering mendebarkanku, karena hal itu bisa menjadi performance assessment bekerjaku di tahun ini.

Pak Martin pulang belakangan. Mungkin beliau harus bertemu dengan bosnya dulu, memberi general report program itu secara lisan. Biasanya Pak Martin akan sangat concern bekerja justru pada saat acara selesai. Beliau akan langsung menganalisa hasil kerja semuanya.

Aku sendiri sudah “mabuk” dengan segudang agenda di acara tadi. Aku sudah rencanakan semuanya jauh-jauh hari sampai hal yang paling kecilpun. Tempat acara, teknis acara, person in charge, koordinator, perlengkapan, konsumsi, guest book, sampai tusuk gigi untuk pelengkap meja makan.

Makanya, seusai acara, aku minta izin sama Pak Martin untuk pulang cepat. Beliau mengerti dengan kondisiku. Beliau mengijinkanku. Namun di perjalanan pulang dengan taxi, aku berpikir untuk mampir di taman kota. Isengku menggiringku untuk bersantai di bawah kanopi pohon di taman ini.

Ternyata benar, angin, keluarga bebek, danau, riakan air, daun gugur, oksigen, dering hp dan yang lainnya merupakan suasana indah sore ini yang mampu menghibur dan menghilangkan kepenatan tubuh dan otakku.

Kembali hp ku berdering

“Hallo Pak..”

“Di mana kamu Kris?”

“Tepi danau..”

“Ok, aku ke sana ya..”

“Ya”

“Klik”

Pak Martin sudah sampai di taman. Mungkin tinggal parkir dan berjalan menuju ke arah danau. Aku tetap duduk tak bergeming menunggu kedatangan beliau.

“Hi..Kris” Pak Martin sudah di sisiku. Tidak ada lima menit aku menunggunya. Beliau mengambil posisi duduk yang sama di samping kananku.

“Selamat ya Kris, kamu hebat” Pak Martin membuka pembicaraan.

“Thanks, saya hanya berusaha…”

“Seperti biasa, kamu selalu merendah..”

“Yang bekerja bukan hanya saya toh?”

“Ya, kamu betul”

“Saya cuma dapat lima client”

“Kerja bagus, karena at least tiga diantaranya memang yang menjadi target kita. Terutama Pak Bram dari Jakarta…”

“Saya ketemu dia rada lama, orangnya detail, teliti, smart, harus bisa berargumentasi, yang paling penting bisa menariknya untuk percaya, dan beli.. haha”

“Kamu sudah menunjukkan kepiawaianmu menarik konsumer, kamu punya talent sebagai marketer tangguh…”

“Bapak berlebihan..”

“Am I?”

“Pak, diner di mana nih?”

“Ok, aku punya tempat special, Japanese restaurant, aku yakin itu yang kamu suka Kris..”

“Aku yang traktir ya..” aku berharap Pak Martin setuju.

“Cukup uangnya?” selidik Pak Martin bercanda

“Saya bawa KTP dan SIM kok..hahaha..” aku membalas candaannya.

“Ok, let’s go..” hampir Pak Martin mencubit pipiku gemas, kalau saja tidak disadarinya kami masih di tempat umum. Mungkin kami sudah melantur. Ah, indahnya sore.

Makan malam yang spesial. Menu masakan Jepang kesukaanku tersaji lengkap. Makan malam sebagai selamatan atas keberhasilan program launching tadi siang. Diner yang pertama kalinya aku yang mentraktir bosku.

Selama ini Pak Martin selalu tidak memperkenankan aku mentraktirnya. Malah justru sebaliknya, aku yang selalu dihujani hadiah dan traktiran olehnya. Awalnya aku jengah, tapi lama kelamaan aku terbiasa. Atau nglunjak? Tak tahulah. Yang jelas aku tidak pernah memintanya.

Kalau kami makan pasti beliau yang bayar. Apartemen, tak sepeserpun uang keluar dari kantongku. Beliau beli baju, pasti ada satu atau dua helai yang spesial untukku. Keperluan untuk kami, seperti sabun mandi, shampoo, listrik, air, dan sebagainya, beliau tinggal tunggu drop dari apartemen.

Aha, setelah diurut-urut, aku mengeluarkan uang hanya untuk membeli keperluanku saja, itupun harus secara sembunyi-sembunyi, seperti: traktir teman makan baso, beli es campur di kantin, atau beli majalah. Sebenarnya aku risih juga dengan segudang kebaikan beliau padaku, walaupun aku yakin sekali, semuanya dilakukannya dengan tulus hati.

Pernah sekali waktu aku mengutarakan niatanku untuk membantu kehidupan orang tuaku yang bisa dikategorikan pas-pasan. Bapak seorang pegawai rendahan di kantor kecamatan. Setahun yang lalu pensiun. Setidaknya aku akan membalas budi kepada orang tuaku yang telah susah payah menyekolahkanku sampai menjadi sarjana akuntansi.

Sebelum aku tinggal bersama Pak martin, aku membagi sepertiga besar gajiku untuk mereka. Aku rutin mengirimnya setiap bulannya. Sepertiga untuk bayar kebutuhan hidupku di kota ini, dan mudah-mudahan sepertiganya lagi aku bisa tabung.

“Tidak usah terharu begitu dong Pak…” waktu itu aku setengah meledek Pak Martin memberikan komentar betapa seriusnya beliau mendengarkan curhatku. Saat itu kami tengah menikmati udara puncak yang segar di warung kecil. Setelah tea walk kami mampir di warung itu untuk istirahat sebentar.

“Ok, aku simpati saja sama you…”

“Bukankah ini wajar saja sebagai anak?” selaku

“Betul, tapi tidak semua anak berpikir seperti kamu…”

“Dari mana Bapak tahu?”

“Aku tidak pernah berpikir begitu sama ayahku…” Pak Martin terlihat sedikit senewen

“Sudah Pak, do not remember it again, okay?” aku menenangkan beliau

“Ok”

“Tapi sama ibu, Bapak curahkan semua perhatian kan?”

“Ya

“Itu salah satu bentuk rasa terima kasih kita toh? Sebenarnya itu adalah naluri seorang anak terhadap orang tuanya, entah bapak atau ibu..”

“Aku punya usul..” tiba-tiba Pak Martin menyeletuk

“What is that?” aku terpancing untuk penasaran

“Berapa yang kamu keluarkan untuk keperluanmu?”

“Sepertiga”

“Ok, berikan setengah gajimu untuk orang tua kamu, dan aku tambahin untuk keperluanmu, setuju?” Pak Martin bersemangat

“Berlebihan”

“Apanya?”

“Bapak tidak usah pusing untuk berbuat begitu”

“Kamu tidak percaya aku ya Kris..”

“Jangan jadi salah tafsir dong Pak..saya tidak berhak menerimanya Pak”

“Tapi aku berhak memberinya kan?”

“Bapak sudah banyak memberi saya, jadi biarlah aku berpikir untuk memberi kepada keluarga saya ya.. deal?”

“Ok”

Ternyata pembicaraan itu membuat Pak Martin bersikeras untuk tetap bisa membantu keluargaku. Salahku juga sih, kenapa harus membuka topik pembicaraan itu. Tapi kalau dipikir, Pak Martin pun hidup seorang diri. Ibunya sudah tiada. Bapaknya entah kemana, dan beliau tidak pernah mau mengakuinya.

Bisa jadi beliau ingin share kepada orang lain. Tapi, bukankah masih banyak panti asuhan, panti jompo, dan panti social lainnya yang berserakan di kota ini yang masih perlu biaya? Terkadang aku sebel sendiri karena aku tidak bisa menolak pemberian beliau.

“Kenapa diam Kris?” Pak Martin menegur ketertegunanku.

“Saya menikmati diner ini..”

“Bingung bayarnya ya?” Pak Martin sedari sore terus meledekku

“Kan saya udah bilang saya bawa KTP, kalau gak cukup ada SIM nih…”

“Lucu..” Pak Martin hampir tersedak karena makan sambil tertawa

“Saya ingat waktu kita di puncak..” aku alihkan pembicaraan.

“Yang mana? Waktu di kebun teh?”

“Itu mulu yang diinget..”

“Haha.. “ Pak Martin terlihat malu setelah tahu maksudku.

“Makan sushi di sana ternyata kurang cocok…”

“O makan sushi, kirain waktu makan sosismu..”

“Di kebun teh?”

“I like it, kapan lagi ya?”

“Cukup sekali, biar terkenang terus Pak…”

“Kamu selalu punya ide bagus Kris, ingat tidak waktu kita pertama bertemu di basemen? Aku tidak pernah akan lupa Kris, itu pertama kalinya aku ..”

“Sudah ah, habiskan dulu makanannya…”

“Terus yang kedua yang di kebun teh itu…ada yang ngelihat dari atas tidak ya Kris?”

“Ada mungkin…”

“Gawat dong..”

“Mungkin saja”

“Hahaa… paling yang ngelihat pasti pengen kan Kris?”

“Bisa jadi.. hahahaa..” aku ikutan tertawa

“Sepagi itu kita benar-benar bergulat di antara pohon teh…”

“Sudah ah jangan dibahas lagi..”

“Ok”

Makan malam yang indah. Hatiku pun sedang senang dengan hasil kerjaku siang tadi. Semuanya berjalan sukses. Aku mendapatkan hasil yang optimal dari kerja kerasku dan teman-teman teamku. Menikmati keberhasilan kerja sambil mengevaluasi diri dengan merenung dan melamun di teras apartemen merupakan kebiasaan yang menyenangkan bagiku.

Dari teras lantai lima apartemen Pak Martin aku bisa melihat keadaan malam hari kota komersial tempat aku mengadu nasib. Sengaja aku matikan lampu teras dan lampu ruang tidur, agar tidak terlihat dari luar gedung.

Kebetulan apartemen Pak Marin berada di lokasi yang strategis, di lingkar dalam kota. Sepertinya aku bisa menikmati pemandangan kota ini dengan leluasa dari sini. Sinar lampu yang memancar dari berbagai sumber menjadi pemandangan yang indah, walau terasa senyap.

Suasana sepi seperti ini sangat jauh berbeda jika sudah ada matahari sebagai ganti sinar lampu itu. Semua berubah total. Hingar bingar ada di mana-mana, deru beratus-ratus knalpot mobil, kereta listrik, suara bising dari sekian juta orang-orang, bahkan sampai penambahan kebisingan oleh suara dentuman mesin perbaikan jalan atau pembangunan jalan tol baru, macet, aktivitas orang-orang, sampai asap mengepul di manapun, menambah sumpeknya siang hari di sini.

Aku suka menyendiri di malam hari, rasanya aku bisa merenung dengan hidmat dalam suasana yang mendukung seperti kali ini. Aku pun suka mengevaluasi perjalanan karir dan ambisiku untuk bisa eksis di kota megametropolitan ini.

Pertama ali aku menginjakkan kaki di kota ini, aku hanya berbekal tekad untuk kuliah di universitas terbaik di kota ini. Aku termasuk calon mahasiswa yang tidak perlu dites lagi untuk masuk ke sana. Aku sudah punya tiket untuk belajar ke sana.

Kehidupan garang di kota ini membuatku kreatif untuk bekerja paruh waktu sambil kuliah. Tahun ke tiga, pada saat aku juga tengah menyusun skripsi, aku mencoba melamar di beberapa perusahaan.

Di perusahaan pertama, aku bekerja sebagai salesman. Pada saat itu aku jalani dengan semangat agar bisa survive di kota ini dan mencari pengalaman. Aku sempat enam bulan di sana.

Sedangkan di perusahaan kedua aku menjabat sales supervisor, karena aku punya pengalaman sebelumnya, sehingga tidaklah terlalu sukar untuk mendapatkan posisi itu. Sambil bekerja di sana, aku sembunyi-sembunyi mencoba melamar di tempat lain, terutama ke perusahaan yang lebih bonafid. Aku sempat bertahan setahun di perusahaan kedua itu.

Aku lulus dari universitas terbaik di kota ini sekaligus sebagai lulusan terbaik. Berbekal ijasah sarjana akuntansiku aku melamar dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya yang kurasa lebih bonafid dari sebelumnya.

Masih ingat sekali di benakku betapa susahnya mencari pekerjaan waktu itu. Dari sekian ratus surat lamaran yang aku sebarkan, hanya kurang dari dua puluh yang menjawab. Itupun setengahnya menjawab reject.

Dari sepuluh surat jawaban, sembilan diinterview dan tidak diterima, sedangkan satu yang langsung menerima, itupun dengan konsekuensi harus berperan sebagai salesman dulu, dengan target penjualan tertentu, baru nantinya diperhitungkan status kontrak kepegawaiannya jika target penjualan terpenuhi.

Berat sekali masa itu aku lalui. Aku butuh hidup di kota ini. Semangat itu yang dulu dominan muncul di benakku. Sehingga aku terus mencoba menyabung hidup di kota ini. Sejak kecil aku sudah kenal kota ini dari pamanku. Beliau juga kerja wiraswasta di sini. Makanya aku tertarik untuk cari nafkah dan terobsesi sukses di kota ini.

Wajah bapakku membayang tiba-tiba. Ah, ada haru mengalir di lubuk hatiku saat ini. Baru aku menyadari sekarang betapa Bapak telah menggemblengku untuk menjadi manusia yang kuat. Betapa Bapak – walaupun kadang dengan kekerasannya membentukku – membentukku menjadi manusia yang tahan banting, tidak pernah mudah menyerah untuk mencapai apa yang aku inginkan.

Sedang apa Bapak di rumah? Ibu? Mbak Novi? Mbak Helga? Nenek? Kakek? Tetangga? Teman-teman? Ah, merekalah yang menggemblengku untuk menjadi laki-laki secara fisik. Aku benar-benar belajar hidup dari mereka.

Sekarang aku baru mengerti apa artinya mencari kehidupan. Perkataan bapak benar, dalam hidup harus ada semangat, tahan banting, ambisi, kerja, uang, dan keluarga. Hanya satu yang bapak lupa, aku punya perasaan yang berbeda dengan bapak.

Ah, buru-buru aku menepis pemikiran itu. Aku sudah memilih hidupku, sesuai pengakuanku di depan psikolog nyentrik itu. Aku harus konsekuen dengan pilihanku, tidak lagi harus menyesali masa lalu, mencari siapa yang salah, merasa aku ini berbeda, pikiran bahwa aku bukan laki-laki, dan lain-lainnya yang cenderung bisa menjerumuskanku ke hal yang tidaklah ada gunanya.

Wajah bapakku muncul lagi. Sebersit kerinduan pun muncul tiba-tiba. Aku ingin pulang, menemui bapakku, ibuku, dan kelurgaku. Ah, baru aku sadari, sudah terlalu lama aku tidak menjenguk mereka. Hampir setahun ini aku tidak pernah berkirim kabar meski lewat telepon. Hanya transfer tabungan saja yang aku lakukan sebagai alat komunikasi dengan mereka. Artinya, jika bulan ini aku mengirim uang, itu pertanda aku baik-baik saja di sini. Sepertinya tidak ada lagi jalinan emosi dengan mereka. Sekarang malah terbalik, jalinan emosiku sangatlah erat dengan Pak Martin. Ah, dunia telah dijungkirbalikkan oleh perasaanku.

“Belum tidur Kris?” Pak Martin membuyarkan lamunanku tadi. Beliau berdiri di belakang kursi yang aku duduki. Kedua tangannya sudah menyusup di kedua dadaku. Diendusnya rambut kepalaku, lalu dikecupinya beberapa kali.

“Besok tidak ke kantor toh?”

“Ya” semakin erat tangan Pak Martin memelukku dari belakang. Tanganku bergerak untuk meraihnya. Aku membalikkan kepalaku, dan aku terbelalak sebentar melihat Pak Martin dalam keadaan tak berpakaian.

Keadaan teras memang tidak bercahaya, sehingga aku yakin orang tidak akan melihat kami berdua duduk di sini. Sekarang mungkin sudah dini hari. Keadaan seperti ini sangat gampang memancing imajinasi bersamanya.

“Thanks honey…” Pak Martin terduduk lunglai di kursinya setelah meluapkan imajinasinya. Aku beranjak berdiri, lalu niatanku akan melangkah masuk kamar tidur. Pak Martin berdiri cepat, lalu berjalan berjingkat menyusup di dalam piyamaku. Kami masuk ruang tidur setelah menutup dan mengunci pintu teras.

Aku belum bisa tidur juga. Pak Martin sudah terlelap sedari tadi di sampingku. Ingatanku kembali ke Bapakku. Kenapa wajah Bapak lagi? Ada apa dengan Bapak di kampung? Rindukah? Sakitkah? Marahkah? Entah!

Hari Minggu pagi yang mendung. Aku mencium harum kopi menyeruak lubang hidungku. Aku terbangun malas. Apalagi ketika melihat suasana di luar yang hampir gerimis. Aku tidak punya rencana apapun hari ini. Aku hanya ingin menghabiskan hari ini dengan bermalas-malasan di tempat tidur.

”Pagi Kris…” suara Pak Martin sudah di telingaku.

”Pagi…” aku masih malas-malasan.

”Tadi hp-mu bunyi, some one called you…” info dari Pak Martin membuatku penasaran dan punya energi untuk bangun. Dengan terseok dibalut selimut, aku meraih hp-ku di atas meja sudut yang sedang dicharge.

Aku sedikit tergugu, ketika di layar hp-ku tertulis misscall dan setelah dibuka ternyata dari Mbak Novi. Ada apa sepagi ini dia telpon? Tidak berapa lama, belum juga hp-ku diletakkan kembali di atas meja sudut, hp-ku berdering lagi. Cepat-cepat aku menjawabnya.

”Hallo”

”Hallo, de… ini Mbak Novi…”

“Hai, Mbak apa kabar?”

“Baik”

“Ada kabar apa nih sepagi ini telpon?”

“Ini udah siang de..hehe, baru bangun ya?”

“Oh, iya baru bangun…” aku tergeragap sendiri setelah melihat jam dinding di ruangan menunjukkan pukul sepuluh pagi.

“Gini de, kamu ada waktu senggang gak minggu depan?”

”Aku lihat dulu sechedulku ya, memangnya ada apa?”

“Bapak pengen kamu pulang” suara Mbak Novi serius

“Ada apa?”

“Gak tahu, tapi Bapak serius banget minta tolong Mbak kabari kamu”

“Kira-kira apa ya?”

“Gak tahu persis, bisa jadi tanyain kamu kapan nikahnya…” Mbak Novi asal ceplos saja. Namun sempat membuat jantungku berhenti berdetak. Ceplosan Mbak Novi sudah masuk menghujam otakku dan membuat aku serius meresponnya.

”O gitu ya, oke dech, salam buat semua ya?” aku mencoba untuk tetap bersikap biasa.

”Baik-baik di rantau ya..”

”Thanks…”

Aku cepat-cepat membereskan selimut dan tempat tidur. Rasa kantuk dan malasku yang tadi menumpuk lenyap seketika. Energiku dengan kuatnya memunculkan kegelisahan diri. Aku tidak tahu apa selanjutnya yang harus kulakukan. Tergontai aku ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.

Melihat keseriusan di wajahku, Pak Martin bersimpati: “Ada apa Kris?”

“Sulit untuk cerita saat ini…” aku menunduk

”Well..tenangkan diri ya” Pak Martin selalu memberikan perhatian.

”Saya mau ke taman…” aku berucap datar, setelah menghabiskan sarapan pagiku.

”Oke, take care…”

”Bye..”

Suasana langit yang masih mendung dan cenderung gerimis halus, lalu lalang orang bersepeda di jalan di samping taman, bebek leher belang coklat yang berenang sekeluarga di danau, teratai di tengah danau yang tengah berbunga, teriakan seorang ibu yang memanggil anaknya, beberapa remaja yang makan snack di tepi danau, dan banyak keindahan lain di sekitar danau, ternyata tidak dapat mengusir kegelisahanku.

Pikiranku terpaku erat pada Bapakku. Bapak menyuruhku pulang. Pasti ada hal penting. Pasti bukan tentang masalah uang. Pasti bukan hal sepele yang akan dibicarakan. Pasti bukan tentang Mbak Novi. Pasti berkaitan langsung dengan diriku. Pastikah?

Hari yang mendung. Hari yang galau. Hatiku yang sudah berganti cemas. Apa yang akan aku lakukan? Haruskah aku pulang? Haruskah aku ketemu bapakku? Haruskah aku mendapatkan doktrin darinya lagi? Haruskah aku mengikuti keinginannya?

Tiba-tiba aku terpuruk. Aku kelu saat menyadari bahwa aku sudah dua puluh sembilan tahun. Di kampungku, usia setua ini sudah dianggap sangat matang untuk berkeluarga. Masalah inikah yang akan dibicarakan bapakku, sehingga beliau memintaku untuk pulang segera?

Inikah inti masalahnya? Walaupun tidak yakin betul, aku harus mempersiapkan diri dari segala kemungkinan yang bisa terjadi.

”Saya harus pulang kampung minggu depan…” akhirnya aku sharing ke Pak Martin saat kami makan malam di apartemen.

”Well, kapan tepatnya?” Pak Martin masih bersikap hati-hati bertanya

”Weekend…, saya pikir dua hari cukup…”

”Nggak dari hari Jumat?” tanya Pak Martin

”Saya harus bolos kerja”

”Cuma sehari kan?”

”Ya..” aku cenderung kaku

”Kamu seperti gak suka pulang kampung…” selidik Pak Martin

”Ya” aku berucap datar

”Kenapa honey?”

”Bapakku menyuruh saya pulang…” aku tertunduk

”Bapakmu kangen Kris…”

”Mungkin”

”Lantas, apa yang kamu ragukan?”

”Saya takut”

”Kenapa?”

”Bapak pasti punya rencana…” aku menggantung ucapanku

”Rencana apa?”

”Saya takut mengatakannya…”

”Kenapa Kris?” Pak Martin sedikit terbawa cemas

”Jangan-jangan Bapak mau menanyakan tentang kapan saya berkeluarga”

”O, itu… mungkin” Pak Martin mulai penasaran.

”Usia saya sudah sangat layak untuk berkeluarga…” aku tatap mata Pak Martin lekat-lekat. Dari mata coklatnya berbinar keredupan. Tidak bisa beliau membohongi kata hatinya. Aku yakin beliau ikutan galau.

”Gak bisa menolak?”

Aku menggeleng cepat dan tegas.

”Oh…” Pak Martin menghela nafasnya berat.

”Oh..” aku melakukan hal yang sama. Makin galau saja hatiku saat ini.

”Aku ikut, boleh?” Pak Martin punya ide yang tak terduga

”Excusme me?” aku rada terpana

”Aku ikut jalan-jalan ke kampungmu”

Aku hanya diam, sebelum bertanya: ”What will you do there?”

“Jalan-jalan, temani kamu” tandas Pak Martin

”Please, lebih baik tidak…” aku tak punya pilihan jawaban

”Aku ikut, Jumat pagi kita berangkat, aku yang setir, don’t worry!” Pak Martin memutuskan sepihak. Namun aku tidak ada cara untuk protes.

”Oke” aku hanya menurut. Dalam benakku, aku butuh juga seseorang untuk berbagi perasaan dan berdiskusi di kampung jika ada masalah serius yang harus aku hadapi. Mudah-mudahan Pak Martin bisa membantuku di sana.

Akhirnya kuputuskan untuk pulang. Pak Martin ikut menemaniku.

***

*********

Chapter 4. HIDUP BERSAMA

Aku tergagap bangun tidur setelah mendengar jeritan jam beker di kamar Pak Martin. Aku masih terkulai lemas. Rasanya tubuhku masih butuh istirahat beberapa lama lagi. Aku sangat malas pagi ini. Aktivitas dengan Pak Martin semalam cukup banyak menguras energiku.

Aku miringkan tubuhku. Sejenak aku baru menyadari bahwa sekarang aku masih dalam keadaan tak berpakaian tergeletak sendirian di tempat tidur. Pak Martin tidak ada di sampingku, aku tidak tahu berada di mana beliau sekarang.

Ah, kantuk masih memberati mataku. Aku coba membelalakkan mataku dengan senam mata sebentar. Ternyata cukup membantu, walaupun hanya lima puluh persen. Aku duduk di samping tempat tidur, lalu kugerakkan kedua tanganku melebar, ke atas, dan ke depan berbarengan. Aku berharap, stretching yang kulakukan bisa lebih membantu.

Kulihat jarum jam weker yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidur. Tidak salah nih?! Celetukku dalam hati kaget. Sembilan lima belas menit? Hah? Sesiang ini aku baru bangun? Aku melompat seketika. Aku panik, karena aku pasti akan terlambat masuk kantor. Padahal hari ini adalah hari sibukku menjadi asisten Pak Martin.

Secepat kilat aku menuju kamar mandi dan showering di sana. Kubersihkan wajah dan tubuhku. Ototku terasa segar diguyur air hangat. Aku sangat menikmati mandi pagi cepatku kali ini.

Masih berbalut piyama putih milik Pak Martin, aku berlarian menuju kamar tengah. Kudengar dering handphoneku yang ada dalam tasku. Kuraih alat komunikasi itu, dan di layarnya muncul nama Pak Martin. Ah, dari beliau, di mana sekarang bosku itu?

“Hallo, ya Pak…sorry saya kesiangan…” aku terbata-bata menerima calling dari bosku.

“Hey, sudah bangun? Aku tidak tega untuk membangunkanmu Kris, kamu tidur sangat pulas dan kelihatan cape, kamu istirahat saja di apartemenku ya..”

“Sorry Pak, masih banyak yang harus saya kerjakan di kantor..”

“I know, tapi tidak usah kamu paksakan…”

“Tidak kok Pak”

“Sudahlah, tidak usah panik begitu. Aku di kantor, aku juga mau pulang cepat saja haha..”

“Kenapa?”

“I miss you, Kris..”

“Ah Bapak..”

“It is true, wait me there, okay?”

“Masih pagi kan Pak? Belem jam sepuluh…” aku sempat berdalih

“Tidak apa-apa Kris, sudahlah, do not worry. Jadi hari ini kamu tidak perlu ke kantor. Eh Kris, kamu bisa pake bajuku yang ada di lemari, pilih yang cocok buatmu, asal muat ya..”

“Saya tidak usah berangkat?”

“Ya, see you there.. aku mau cabut sekarang Kris, aku mau belanja makanan sebentar, lalu langsung pulang, ok? Bye..”

“Klik”

“Klik” Aku tertegun sebentar. Setengil inikah bosku? Gumamku dalam hati heran. Ternyata Pak Martin punya hidup yang unik. Menyenangkan, pikirku. Hari ini aku disuruh oleh beliau untuk tidak ke kantor. Aku bisa istirahat sebentar. Tubuhku memang masih perlu waktu untuk istirahat.

Kubuat kopi untuk sarapan pagiku. Aku makan sandwich yang ada di meja makan. Pasti sandwich itu buatan Pak Martin. Betapa mandirinya beliau. Betapa tegarnya beliau. Betapa sunyinya beliau… Ah, aku semakin bisa mengerti keadaan bosku. Aku mencoba untuk bersantai-santai di meja makan sambil membaca koran hari ini.

Tidak berapa lama, Pak Martin datang dengan beberapa keranjang bahan-bahan makanan dan buah-buahan. Aku buru-buru membantunya untuk mengangkat sebagian barang bawaannya. Aku dikecup olehnya dengan mesra. Ah, rasanya aneh diperlakukan olehnya seperti itu, walaupun aku juga merasa nyaman-nyaman saja.

“Gimana Kris? Sudah breakfast?”

“Yap, a cup of coffee and a slice of sandwich…great, thanks Pak”

“Aku buat sendiri lho..waktu aku masih belajar di Washington, aku suka membuat makanan simple seperti itu. Kamu suka? Nanti aku buatkan lagi, gampang kok Kris…” Pak Martin terlihat lebih rileks dan bahagia.

Aku yakin, kebaikan dan perhatian Pak Martin kepadaku sangat tulus. Mungkinkah beliau benar-benar mencari teman dekat? Atau mungkin hanya perasaan sesaatnya saja? Aku pun belum pasti betul. Aku tidak mau salah terka dan memberikan harapan banyak kepadanya yang mungkin akhirnya dapat mengecewakannya. Aku hanya menunggu dan mengamati saja

Seminggu.

Ternyata prasangka-prasangkaku semakin luntur dengan sendirinya. Perlahan hatiku mulai mengerti jika Pak Martin butuh teman dekat dan beliau memilihku. Tujuh hari bergaul dengannya, baik di kantor dan di luar kantor, membuatku banyak belajar hidup darinya. Banyak yang bisa aku serap dari beliau. Kebaikan, kedewasaan, profesionalisme, sosialisasi, dan lainnya, semuanya membuatku semakin simpati terhadapnya.

Dua Minggu.

Aku semakin tahu isi hati Pak Martin yang sesungguhnya. Aku jadi tahu kebiasaan-kebiasaan dalam kesehariannya. Aku juga semakin tahu persoalan apa yang selalu membuatnya cemas. Aku semakin terhanyut mengikuti arus hidup Pak Martin.

Tiga Minggu.

Pak Martin tetap pada pendiriannya untuk memilih diriku sebagai teman untuk berbagi hidup. Kali ini beliau memang tidak hanya menyukaiku, namun lebih dari itu. Betapa beliau sangat mengharapkan kedatanganku di apartemennya untuk menemaninya berbincang, beraktivitas di laesure time ataupun meluapkan kangennya padaku. Akankah aku mewujudkan harapannya? Namun sampai saat ini aku masih berpikir untuk tetap ada jarak dengannya.

Sebulan.

Pak Martin mengajakku untuk tinggal di apartemennya. Walau sisi hatiku tidak keberatan dengan ajakannya, namun aku sendiri masih sedikit ragu. Entah kenapa. Apakah karena aku sudah terbiasa hidup sendiri? Apakah karena ini pengalaman yang pertama bagi hidupku untuk hidup bersama? Bukankah itu sebuah komitmen yang tak tertulis dari hubunganku dengan Pak Martin? Aku masih dalam dilema, karena pada dasarnya aku berada pada kebimbangan hati.

Satu sisi hatiku senang akan tawaran Pak Martin karena aku menemukan seseorang dan sesuatu yang mengisi kekosongan hidupku di kota perantauanku. Seolah-olah aku mendapatkan apa yang aku sering angan-angankan selama ini.

Kedekatanku dengan Pak Martin sebulan ini memang menggiringku pada kenyataan bahwa hatiku tidak sepenuhnya memegang prinsip dan harapan keluargaku yang mereka tanamkan dalam benak dan otakkku. Aku semakin terombang-ambing oleh perasaanku sendiri.

Haruskah aku memilih? Salahkah jika aku memilih tinggal bersama Pak Martin di apartemennya? Tepatkah aku jika aku menolaknya? Rasanya aku masih ragu untuk memastikan diri mengambil sebuah keputusan.

Komitmen.

Kata satu ini memang simple diucapkan. Namun, maknanya menjadi lain bagiku saat ini. Aku tidak ingin main-main dengan keputusanku nantinya, karena aku yakin akan ada untung dan ruginya. Akan ada resikonya. Seuntung apakah jika aku menerima tawaran Pak Martin? Serugi apakah jika aku menolaknya?

Ah, aku pusing sendiri. Ternyata tidak segampang yang aku bayangkan untuk memutuskan tinggal bersama Pak Martin. Padahal secara kasat mata banyak keuntungannya. Aku yakin kalau nantinya Pak Martin akan mensupport semua kebutuhanku, tempat tinggal, makanan, mungkin pakaian, dan segala fasilitas hidupku. Aku yakin itu. Sepertinya hidupku akan terjamin karenanya.

Namun semudah itukah jalan pikiranku? Toh aku sudah bekerja dan punya gaji yang memadai saat ini? Mengapa harus tergantung secara financial kepadanya? Serendah itukah keinginanku?

Komitmen.

Kembali ke kata itu. Sungguh berat penjabarannya saat ini untukku. Jika aku hidup bersama Pak Martin, itu sudah setengah hidupku aku curahkan untuknya. Pak Martin mungkin juga akan mempertaruhkan cintanya untukku. Aku tahu persis mengapa beliau mengajakku tinggal di apartemennya. Aku yakin hal itu karena beliau sudah merasa cocok denganku.

Sedangkan aku? Ah, rasanya aku belum bisa secepat ini untuk hidup bersamanya. Aku masih menimbang-nimbang bimbang. Praduga-pradugaku membuatku ragu untuk memutuskan. Asumsiku mengatakan bahwa dengan tinggal bersama dengannya, dengan dinaungi cintanya, bukankah tidak lebih dari tautan kasih sayang berkeluarga? Sejauh inikah penafsiranku atas tawaran Pak Martin?

Sementara sekarang aku dalam posisi tak tentu. Separuh dari pemikiran otakku adalah aku tidak boleh menghilangkan prinsipku untuk lewati hidup ini sesuai dengan keinginan keluarga, seperti doktrin semua anggota keluarga dan tetanggaku.

Bukankah kamu sudah dewasa Kris? Selayaknya kamu harus bisa menentukan hidupmu sendiri kan? Mungkin itu sangat beresiko untukmu, tapi bukankah itu akan lebih baik untuk kebahagiaan hatimu? Sudut hatiku yang lain mulai memberontak.

Bapak? Ah, tak bisa kubayangkan aku akan berhadapan dengan laki-laki yang kusebut bapak di dunia ini. Aku bisa memastikan beliaulah orang yang pertama yang akan menentangku mentah-mentah jika aku berontak dari doktrinnya. Aku sungguh sangat kecut dan pengecut di hadapannya.

Mungkinkah aku akan tetap memegang semua doktrin keluarga untuk hidup seperti laki-laki hetero lainnya? Bisakah nantinya jika hatiku akan terus bergejolak menolak nurani gayku? Tuhan, salah siapa? Ternyata seberat inikah berpribadi seperti ini? Seberat inikah hidup dalam kepura-puraan? Pura-pura menjadi laki-laki dihadapan keluargaku, sementara aku bukanlah laki-laki yang sesungguhnya jika berhadapan dengan laki-laki lainnya?

Pak Martin? Benarkah laki-laki sejenisku itu bisa diharapkan untuk selamanya menjadi yang terbaik untukku? Benarkah dia bisa menjamin untuk hidupku menjadi bahagia bersamanya? Kenapa tidak mencobanya? Apa sih bahagia yang aku cari? Ah!

Bapak?

Pak Martin?

Hatiku?

Dilema.

Otakku sarat akan kebimbangan. Aku sangat tersiksa hanya untuk memutuskan hidup bersama dengan Pak Martin. Otakku sangat kusut untuk menjawab ya atau tidak akan tawaran beliau. Sebab hatikupun masih mendua. Satu sisi sebagai individu aku ingin menerima tawaran Pak Martin. Sedang sisi lainnya sebagai bagian dari keluargaku, hal itu sangat bertentangan dengan “budaya” bapak dan seluruh keluargaku. Sangat beresiko kalau mereka mengetahui pemberontakan hatiku kali ini.

Tuhan? Ah, aku sempat tersedak ketika terpikir tentang Tuhan. Aku yakin Tuhan sudah marah denganku. Sempat aku berpikir, jika Tuhan tidak adil memberiku hidup dengan perasaan seperti ini, dengan keadaan selalu tersiksa seperti ini. Aku tidak tahu awalnya, karena aku baru tahu ada penyimpangan nurani dan hasrat sexku ketika hormon perkembangan dalam tubuhku bekerja.

Salah siapa?

Sudahlah, tak penting hal itu untuk dipikirkan sekarang. Tidak akan ada jawaban pasti jika harus mencari siapa yang salah sehingga aku terbentuk seperti sekarang ini. Tak ada jawaban yang dapat mendamaikan dan merubah perasaanku senormal laki-laki.

Aku tidak mau terjerumus oleh pemikiran dualisme yang selama ini memancingku untuk stress karena teramat menghimpit perasaanku. Satu sisi aku ingin seperti mereka yang berlabel laki-laki hetero. Satu sisi lain, aku terpuruk mendapati kenyataan gejolak hatiku adalah seorang laki-laki homo.

Jadi harus bagaimana? Aku terseok-seok begini hanya untuk menjawab tawaran Pak Martin yang harus segera disampaikan kepadanya. Aku diuji untuk menentukan pilihan. Tekadku dalam hati masih dikabuti oleh kebimbangan.

“Bagaimana Kris?” akhirnya Pak Martin menanyakan kembali hasil pemikiranku setelah seminggu dia menunggu. Aku tergeragap mendengar desakan pertanyaannya. Wajar saja jika beliau gelisah menunggu jawaban dariku.

Aku menghentikan pekerjaanku sejenak. Pak Martin sudah duduk berhadapan denganku di seberang meja kerjaku. Raut wajahnya sedikit berbeda dengan biasanya. Memang sejak dia menawarkanku untuk hidup bersama dengannya, beliau menjadi sedikit pendiam dan agak canggung untuk berkomunikasi pribadi denganku.

“Kamu marah Kris?” tanyanya hati-hati.

“Tidak Pak” aku menggeleng cepat

“Gimana Kris?” kembali Pak Martin mendesakku untuk menentukan sekarang. Lihat, bola matanya memancarkan pengharapan yang tulus. Ah, aku betul-betul terkesiap memandang pancaran mata coklat gelapnya. Sama halnya dengan mata anak kecil yang berharap dibelikan permen atau coklat oleh mamanya. Aku menarik nafas dalam-dalam.

“Oke Kris, aku ngerti kok…”

“Pak…”

“Aku bisa lebih sabar Kris…”

“Nanti sore saya ke apartemen Bapak…”

“Oke aku tunggu…aku senang kamu punya inisiatif untuk datang ke apartemenku, selama ini aku yang selalu mengajakmu, kan?”

“Jam tujuh malam ya…”

“Mau dijemput?”

“Tidak usah Pak, saya bisa naik taxi dari tempat kost saya”

“Aku sudah tidak sabar lagi mau dikunjungi oleh kamu..” Pak Martin menggodaku. Hal yang aneh mungkin untuk orang-orang di sekitar kami. Tapi itu hal yang sangat biasa bagi kami dalam berkomunikasi. Aku pikir ini juga terjadi kepada laki-laki hetero dengan kekasihnya.

Inikah cinta Pak Martin untukku? Sedang jatuh cintakah beliau kepadaku? Setelah mengenalku, Pak Martin selalu memberiku banyak perhatian dan bahkan terkadang menurutku berlebihan. Ah, dunia satu warna, antara hitam dan puith dan penuh perasaan ganjil.

“Ngelamun lagi Kris?” tahu-tahu Pak Martin sudah berdiri di sampingku.

“Tidak…” aku pucat pasi.

“Ok, lanjutkan kerjamu ya..” bibir Pak Martin mendarat di pipi kiriku. Aku merasakan deburan kebahagiaannya mengalir melalui pori-pori wajahku. Anehnya, akupun ikut merasakan bahagia karenanya.

Pak Martin meninggalkan ruanganku. Senyumku mengikuti langkahnya. Ah, aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang, karena konsentrasiku buyar mendadak. Dengan susah payah aku berusaha mengumpulkannya kembali.

Minggu depan rapat pleno tentang budgeting untuk product baru yang akan diluncurkan semester depan. Baru sebagian laporan yang aku selesikan. Harusnya aku bisa lebih konsentrasi merampungkan semua laporan itu siang ini. Nyatanya, sepeninggal Pak Martin dari ruanganku, moodku berserakan bagai dedaunan kering dihempas angin. Betapa sulitnya untuk kembali ke angka-angka biaya prediksi yang ada pada lajur pembukuan dihadapanku.

Perlahan aku bangkit dari tempat dudukku. Baru terasa sekarang betapa penatnya pinggangku. Rupanya aku sudah berjam-jam duduk semedi menyelesaikan pekerjaanku. Kuseret kakiku ke arah sofa di ruanganku. Aku punya inisiatif untuk istrirahat sebentar di sana.

Jam tiga sore tepat. Jarum jam pendek di angka tiga dan jarum jam panjang di angka dua belas. Aku iseng memperhatikan jam dinding di ruanganku. Sejenak kuamati detak jarum jam bergerak ke kanan. Tak. Tak. Tak. Sementara tubuhku terasa nikmat berselonjor di atas sofa.

Satu jam lagi, pulang kantor. Biasanya aku lebih suka pulang rada larut agar tidak terjebak macet di jalan. Biasanya jam-jam segini teman kantorku menyeruak masuk, atau cuma melongok untuk mengingatkanku agar siap-siap pulang kantor.

Berbeda lagi dengan Pak Martin. Beliau pasti akan sms atau calling handphoneku jika beliau inginkan aku menemaninya makan malam, atau nonton bioskop, renang di sport center, belanja di mall, makan ice cream, jalan-jalan di taman kota, mengundangku ke apartemennya, dan segudang kegiatan lainnya, yang aku akui membuatku selalu nyaman dan senang bersamanya.

Aku melihat betapa gembiranya Pak Martin demi mendengar bahwa aku akan ke apartemennya jam tujuh nanti. Ini memang baru pertama kalinya aku berinisiatif. Aku berharap hari ini aku akan memberikan jawaban kepada Pak Martin.

Dua hari yang lalu aku berbincang dengan psikolog. Mungkin bulan depan aku akan berbincang dengan psikiater jika jiwaku makin tergoncang. Sedihnya.
Aku sempat terpikir untuk mendatangi psikolog itu agar aku punya second opinion tentang alur hidupku ini. Betapa beratnya hatiku untuk memikul dan menjalani kehidupan macam ini.

“Anda stress berat” vonis dari psikolog itu

“Saya tahu persis” aku mengeluh

“Anda tertekan karena belum punya keputusan…” seperti mendesak telingaku semua kata-kata yang keluar dari bibir psikiokog itu.

“Sulit rasanya….”

“Tapi setidaknya ada keberanian untuk mencoba…”

“Saya mungkin gay, saya sangat bingung…”

“Semua gay bingung untuk mengerti dirinya, tapi ada beberapa yang sudah menentukan hidupnya…”

“Saya tidak berani..” aku tercenung

“Dicoba..”

Aku menggeleng berat.

“Well, anda tinggal memilih, hidup seperti ini dengan resiko ganda, atau pilih satu dengan mungkin juga resiko ganda…”

“Maksudnya?” aku belum mengerti penjelasan psikolog itu.

“Anda mempunyai perasaan gay…”

“Ya”

“Anda pura-pura menjadi laki-laki..”

“Ya, tapi saya laki-laki..”

“Betul, berapa persen?”

“Seratus persen, kecuali untuk orientasi sex saya…”

“Hm, good, seratus persen sebelum hormon kelamin anda bekerja, anda laki-laki..”

Aku terdiam menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut psikolog itu sebagai hasil dari penalaran otaknya atau teori yang sudah sekian tahun dipelajarinya yang digabung dengan pengalamannya selama ini menangani pasien..

“Lima puluh persen anda laki-laki setelah anda punya sense of sexuality…”

“Saya tidak tahu mengapa…”

“Anda punya tubuh laki-laki, hormon laki-laki berkembang dan bekerja dengan baik pada tubuh anda, lihat, kumis, jambang, suara anda, dan harum tubuh anda laki-laki…”

“Hmm…” aku makin terjebak

“Berapa ukuran penis anda?”

Aku terlonjak mendengar pertanyaan psikolog itu. Baru kali ini aku ditanya terang-terangan seperti ini.

“Enam belasan..”

“Great, see, hormon laki-laki anda bekerja normal”

“Lalu apa?”

“Mental anda terganggu…”

“Makanya saya kemari..”

“Psikis anda sangat terbebani oleh kenyataan…” tandasnya.

“Saya tahu…”

“Permasalahan anda bukan hanya sekedar tahu sikon anda. Mungkin lebih kepada betapa tersiksanya perasaan anda selama ini…”

“Kenapa?”

“Karena anda berusaha untuk menerobos dan menentang fakta hidup anda…”

“Saya memang cenderung untuk memupus perasaan saya…”

“Tidak berhasil kan? Karena semakin lama perasaan anda dikekang, semakin besar pemberontakan yang muncul…”

“Lalu saya harus apa?

“Memilih di antara dua pilihan… Hidup sejalan dengan perasaan anda, atau hidup tanpa perasaan anda, tapi anda harus mengganti dengan perasaan anda yang baru…”

Lama-lama makin sableng saja jalan pikiran untuk menyelesaikan masalahku. Apakah betul pendapat psikolog yang satu ini? Apakah menjamin semua masalahku dapat diselesaikan?

“Sebenarnya, masalah anda ada pada keyakinan akan keberadaan anda, identitas anda, dan cara menerima kenyataan yang ada…”

“Saya mencoba untuk jadi laki-laki…”

“Anda sudah mencoba seperti apa?”

“Saya berusaha dekat dengan wanita..”

“Berhasil?”

Aku hanya bisa diam. Aku yakin psikolog itu pasti tahu apa yang aku pikirkan.

“Tidak kan? Karena perasaan anda yang dikekang…”

“Sedikit berhasil, Saya sempat suka teman sekerja. Lantas saya harus bagaimana?”

“Berani memilih..”

“Jika anda jadi saya, apa pilihan anda?” aku beranalogi bertanya yang sedikit mendesak psikolog itu

“Tentu saya harus tahu akar permasalahan pada diri saya dulu…” jawabnya enteng

“Saya pikir saya mengetahuinya..”

“Ada berapa pilihan?”

“Mungkin tiga…”

“Oke, gali semua pilihan itu, lalu kita analisa bersama, setuju?” psikolog ini handal untuk mengorek permasalahan jiwaku. Biarlah, akupun ingin ditolong, agar tidak lagi tersiksa dengan kenyataan ini, setidaknya menyadari dan menerimanya dengan lapang dada dan apa adanya.

“Pertama, saya tidak ingin mengecewakan Bapak saya…”

“Tidak ingin atau takut?” selidik psikolog itu.

“Maybe, both…” aku mengakuinya

“Oke, berarti pilihan anda yang pertama adalah anda ingin hetero, berkeluarga seperti laki-laki hetero, hidup seperti tuntutan biologi anda…”

“Yap…”

“Sudahkah anda memikirkan planning apa untuk pilhan ini?”

Aku menggeleng lebih karena terpojok dengan pertanyaan psikolog itu.

“At least membayangkan apa yang akan anda lakukan jika alternatif ini yang akan anda pilih…” psikolog ini makin mencecarku.

Aku membali menggeleng.

“Well. Anda seorang yang selalu bimbang atau tidak berani..”

“Ya”

“Anda mau mencobanya?”

“Untuk apa?”

“Memikirkan baik buruknya menurut sisi anda, jika anda menuruti kemauan bapak, keluarga, dan lingkungan anda…”

“Setelah ini saya akan mencobanya..”

“Good..” psikolog itu manggut-manggut lalu melanjutkan: “Pilihan kedua?”

“Saya tidak bisa mengekang perasaan saya sekarang…”

“Oke, anda punya seseorang yang anda sukai saat ini?”

“Ya…”

“Bagaimana dengan seseorang itu?”

“Dia perhatian sama saya, mengajak saya hidup bersama…” sampai di situ aku tercekat. Aku pun tidak mau menceritakan seluruhnya.

“Well, sesuka apa anda terhadapnya?”

“Saya merasa nyaman dan hati saya bahagia jika bersamanya…”

“Dia sudah menyatakan cinta sama anda?”

“Sering dan dia serius mengatakannya, tapi saya belum yakin”

“Great, mudah-mudahan dia tulus..”

“Saya yakin dia sungguh-sungguh…” aku melenguh dalam hati, rasanya sedikit meringankan beban batinku ketika aku mengakui perasaanku terhadap Pak Martin di depan psikolog itu.

“Orangnya tentu baik ya…”

“Ya, sangat baik, sepertinya dia seseorang yang lengkap untuk saya..”

“Anda mencintainya, sorry maksud saya, pernah terbersit perasaan cinta terhadapnya?”

“Tidak tahu pasti… tapi, bagaimana ya? Saya merasa bahagia dengannya. Inikah yang dinamakan cinta?” aku terpuruk sendiri

“Mungkin ya…, well, anda mendapatkan kebahagiaan dengan kedekatan anda dengan seseorang itu. Problem anda adalah, siapkah anda bahagia dengannya?”

Aku tercekat. Ludahku seakan kering di mulut. Lidahku semakin kelu. Pertanyaan yang begitu ringan di telinga, tapi butuh kedalaman hati untuk jujur menjawabnya. Psikiolog itu telah menggiringku untuk dapat menjawab pertanyaan dari permasalahan hidupku selama ini.

“Bagaimana dengan pilihan yang ketiga?” buru-buru aku mengalihkan pertanyaannya.

“Apa?”

“Saya ingin keduanya…”

“Well…itu pilihan sulit yang mungkin terbaik untuk anda, sepanjang tidak muncul masalah baru karenanya… oke?”

Jam empat sore. Dentang jam dinding di ruanganku menyadarkan lamunanku. Ternyata sudah satu jam penuh aku melamun. Aku tersenyum kecil, mencibir atas kebodohanku sendiri. Aku juga mencibir dalam hati apa yang dianjurkan psikolog itu.

Hari ini tidak ada teman yang menengokku sekalipun. Atau aku sendiri yang tidak tersadarkan oleh kehadiran mereka tadi? Aku tidak ambil pusing. Aku akan pulang cepat hari ini, karena aku punya rencana untuk datang ke apartemen Pak Martin jam tujuh nanti Biarlah pekerjaan yang belum kelar hari ini di meja kerjaku akan aku selesaikan besok saja.

Aku berdiri di depan pintu apartemen Pak Martin sekitar jam tujuh kurang lima menit. Kupencet bel yang ada di samping pintu. Sebentar saja aku mendengar kunci gerendel pintu dibuka oleh pemilik apartemen.

Pintu terkuak dan wajah Pak Martin tersenyum lebar menatapku. Beliau semakin terlihat bungah ketika kedua matanya menatap barang bawaanku. Dua buah koper pakaian, satu ransel, dan satu tas jinjing.

“Kris….” cuma itu yang diucapkannya ketika mendapatkan surprise dariku malam ini. Buru-buru tangan kekarnya membantuku mengangkat semua tas yang teronggok di depan pintu.

Diseretnya aku yang juga masih berdiri di ambang pintu menuju foyer. Sambil mericau beliau memelukku.

“Kris, you give me surprise… thanks…” ditariknya lenganku, dan dipeluknya aku rapat-rapat. Seperti biasa bibirnya mendarat ke bibirku. Memberiku ciuman.

“Welcome Kris… I am so happy…” Pak Martin seperti masih tidak percaya dengan kedatanganku.

“Okay Kris, kita rayakan..…”

Pak Martin berusaha membuka kancing baju lengan pendekku. Selanjutnya otak kami telah dirasuki oleh permainan imajinasi. Kami saling melampiaskan diri. Menceburkan diri pada tahap-tahap arus birahi.

Beberapa saat kemudian, permainan penyambutan tamu telah selesai. Berdua sibuk membersihkan diri, sebelum bersantai di ruang tengah sambil menonton acara teve. Pak Martin menyediakan beberapa macam kue kesukaanku dan kopi campur cream dengan sedikit gula.

Kami duduk bersebelahan. Sementara waktu kami saling terdiam sambil mengunyah hidangan tadi. Aku sibuk memperhatikan acara berita dari salah satu channel teve.

“Kris…” Pak Martin seperti tampak lebih serius dibandingkan dengan biasanya.

“Yes..” aku menghormatinya dengan sikap yang lebih formal

“Thanks kamu mau tinggal di sini”

“Sama-sama”

“Mudah-mudahan kamu suka di sini…”

“Mudah-mudahan saya tidak merepotkan Bapak..”

“Haha.. kocak..”

“Kenapa?”

“Kamu formal amat..”

“Bapak juga serius amat…”

“Hahaa.. am I?”

“Ya, saya hanya ikutan saja…”

“Oke, aku sendiri tidak tahu kenapa, mungkin terlalu surprise kali..”

“Saya juga deg-degan, apakah saya bisa cepat adjusment di sini”

“Banyak waktu Kris”

“Barangku banyak juga..”

“Aku sudah beli lemari satu lagi kok, aku letakkan di sebelah lemariku..”

“Di kamar Bapak?”

“Ya dong..”

“Saya tidur di sana juga?”

“Iya lah Kris.. kenapa kamu?”

“Tidak apa-apa”

“Aku senang ada yang menemaniku tidur, diskusi, curhat, berbincang-bincang dan itu tuh…. haha just kidding Kris…aku yakin kita akan selalu happy bersama..”

“Apa komitmen kita?” ah, bodohnya aku. Mengapa aku langsung bertanya hal ini? Apalagi dengan situasi agak kaku begini? Salahkah aku?

“Menurutmu sebaiknya bagaimana?”

“Kita jalanin saja dulu”

“Good idea… aku butuh teman Kris…” Pak Martin setengah meratap. Aku jadi tidak tega melihatnya.

“Seandainya orang kantor tahu?”

“Kenapa harus pusing?” aku lihat Pak Martin belum siap dengan jawabannya. Sebentar dia seperti berpikir lalu melanjutkan.

“Lalu, menurutmu gimana Kris?”

“Saya sih bilang saja kos di apartemen Bapak..hahaa..”

“Kosnya sekamar pula…hahaha.., toh apartemen ini ada dua kamar Kris..” mendadak ada cemas di raut wajahnya.

“Bapak cemas?”

“Yap, a little bit..”

“Siapin saja kamar satu lagi…”

“Terus kita pisah tidur?”

“Tergantung Bapak”

“Jangan dong..”

“Oke, kecuali jika ada teman yang main ke sini”

“Great…”

Desas-desus tentang aku kos di apartemen Pak Martin pun merebak cepat di kantor. Sengaja aku ceritakan hal itu, agar terkesan alamiah, maksudku tanpa ada bumbu hubungan khusus diantara aku dan Pak Martin.

Alasan yang paling tepat adalah, aku diajak Pak Martin untuk sharing bayar apartemen, sehingga dapat mengirit biaya. Pak Martin harus membayar apartemennya, sementara ada tiga kamar dan aku sharing bayar satu kamar.

Teman-teman di kantor merasa hal itu wajar saja. Untuk hal macam ini di lingkungan kantor cukup lumrah. Bahkan ada temanku yang cowok cewek sharing rumah. Yang menjadi pemikiran mereka adalah kok bisa ya Pak Martin berbuat itu?

Aku maklum dengan ketidakmengertian mereka. Betapa tidak? Siapa yang tidak kenal kejutekan Pak Martin? Keformalan sikap beliau di kantor? Kecuekannya di kantor? Beliau juga tergolong tertutup dalam bergaul. Nah sekarang beliau mau menerimaku di apartemennya. Tentunya menjadi sebuah pertanyaan besar bagi pegawai di lingkungan marketing departemen yang kecil ini.

“Kamu apain dia sih Kris?” tanya Puri centil tapi tetap menyelidik. Aku harus hati-hati menjawabnya, karena dia itu biang gossip di kantor ini. Selain sebagai sekretaris bos lain, dia juga seorang pengedar gossip antar bos.

“Jampi-jampi ya?” Bronto, si tua yang pernah sakit hati sama Pak Martin menyeruak

“He-eh gue jampi-jampi…” aku berseloroh tengil

“Eh, serius nich..” Retno, yang juga bekas asisten Pak Martin yang sedari tadi diam ikutan jadi penasaran.

“Gue cuma terbuka saja ama bos” gue mencoba menenagkan masa di dekatku. Kantin pagi ini jadi heboh oleh karyawan marketing departemen.

“Maksud elo ?” Puri nyinyir

“Betul” aku coba jujur, tapi gayaku membuat mereka tidak percaya. Dalam hati aku bersukur mereka tidak berprasangka jauh ke sana, padahal sudah berapa kali saja aku bermain-main dengan penis Pak Martin. Kecele mereka.

“Serius dong ah Kris..” Retno makin penasaran.

“Gue serius, gini, elo pada tahu kan betapa juteknya beliau? Gue juga ogah kalo tiap hari ketemu tampang beliau yang cool, tapi cenderung serem itu. Gue pelajari dia, dan gue tahu kuncinya…”

“Apa?” hampir berbarengan suara Retno, Puri dan Broto

“Serius kerja dan smart work…”

“Oh, itu sih kita tahu, emang beliau itu biangnya kerja…” Retno berubah wajah jadi sedikit sebel. Aku tahu, pasti dia masih merasakan tidak enaknya bekerja dengan Pak Martin. Mana mau Pak Martin tertarik sama dia?

“Tunggu dulu, selama sebulan gue buktiin, dan gue berhasil. Baru tuh, mulai saat itu gue lulus dari target beliau… sejak itu beliau tidak jutek sama gue…”

“Oh…” Puri melongo

“Elo hebat Kris…” Retno salut, pasti dia pernah merasakan jungkir baliknya sebagai asistennya Pak Martin.

“Gue…” aku bercanda menyombongkan diri

“Setan!” Puri mencubit lenganku gemas

“Terus, kenapa beliau sampai baik hati gitu sama elo, mau sharing apartemen segala?’ Wah, Bronto menyerangku dengan pertanyaaan tajam.

“Good question…” aku pun tidak mau terlihat dungu di depan mereka, lalu aku mencoba memberi penjelasan

“Gini, elo tahu dong gimana mahalnya apartemen? Elo pada juga tahu dong gimana posisi Pak Martin di kantor? Selevel beliau, apartemen adalah tempat yang prestise juga untuk perusahaan ini. Elo juga tahu dong kalau beliau orang marketing tangguh? Tahu kan prinsipnya? Gak mau rugi. Ada kamar nganggur di apartemennya…”

“Emang nggak ada tempat lain sampe elo harus pindah ke sana?” seruduk Puri sudah ke arah personal.

“ Gue juga ingin tinggal di tempat enak non, ada kesempatan, gue mampu, mau apa lagi?”

“Tengil” Puri cembetut

“Bener juga sih, tapi gimana caranya elo bisa ngomomg ama bos?” Retno kembali penasaran.

“Elo belum tahu sih betapa baiknya Pak Martin kalo udah kenal” pancingku

“Masaa?” Retno mendelik, Puri mencibir, Bronto adem ayem

“Yes, aku curhat sama beliau, dan beliau juga meresponnya dengan positif. Beliau itu punya kepribadian baik, social, baik hati, elo belum tahu saja sih…”

“Gimana mau tahu, jutek gitu..” Retno masih sakit hati rupanya.

“Elo kerja bener gak dulu?” gue tidak terima dia masih sakit hati sama Pak Martin

“Hehehe.. nggak sih, gue nggak kuat sama ritme kerja beliau…” Retno cemberut malu

“Makanya…gimana beliau nggak snewen punya asisten kaya elo..” aku memojokkan Retno. Yang dipojokkan membalas dengan cubitan di lenganku. Lengkap sudah sakitku oleh cubitan Puri dan Retno.

“Kris, pengaruhi Pak Martin dong biar nggak jutek lagi…” pinta Puri kemayu

“Tar kalo beliau berubah ramah elo nglunjak lagi, bisa-bisa jadi nafsu nyamber dia…” aku berdalih

“Tahu aja lo Kris…” Puri ngakak

“Gue sudah bilang sama Pak Martin kalau suatu saat pasti ada teman yang mau main ke apartemen, ternyata beliau welcome-welcome aja kok, elo-elo pada boleh main ke sana..” aku mencoba untuk open, agar tidak berkesan janggal.

“Emang ada apaan di sana?” cibir Puri

“Swimming pool, fitness center, shopping center ne.. mo gak?” aku terus melancarkan aksiku agar semua kecurigaan tidak lagi mengganjal pikiran mereka, sehingga apa yang Pak Martin sangsikan tidak terjadi.

“Oke bo…kapan-kapan bisa dong…” Retno dan Bronto berbarengan.

“Gue tunggu ye…” aku semakin menguatkan pola pikir mereka untuk tidak berprasangka yang sesungguhnya terjadi antara aku dan Pak Martin. Selamat.

Sikapku dan sikap pak Martin pun tampak biasa di kantor. Kami sangat menjaga itu jika di kantor. Tak pernah ada kejanggalan dengan kami. Sampai saat ini pun tak ada bau kecurigaan yang tercium oleh orang-orang di kantor.

Akhirnya tidak berapa lama, tak ada lagi hal-hal ganjil yang muncul dengan tinggal bersamanya aku dan Pak Martin. Apalagi setelah aku kemukakan kepada Pak Martin semua opini teman-teman kantor, beliau bisa terima. Beliau juga welcome kepada teman-teman kantor yang selevelku untuk main dan kadang menginap di apartemen Pak Martin. Beliau pun sudah mulai lebih ramah dalam bersosialisasi dengan mereka. Semua sepertinya bisa diatur oleh kami dan berjalan lancar.

Ah, lagi-lagi harus bersembunyi dari kenyataan.

 

Sampai kapan harus sembunyikan kenyataan seperti ini? Aku memang bisa merasa lebih plong dan bahagia menuruti kehendak hatiku. Sampai aku sempat terbersit berpikir bahwa inikah bahagia yang hatiku angankan dan inginkan? Yang seperti digambarkan oleh psikolog itu? Yang akhirnya aku tidak jadi ke psikiater karena aku tidaklah bertambah stress dengan keputusanku? Aku sendiri tidak tahu dan mungkin akhirnya egoku pun tidak mau tahu.

                                               ***

 

*********

Chapter 3. CURHAT

Pak Martin merangkulku setelah aku berada persis di depan pintu apartemennya. Malam ini aku penuhi ajakannya untuk menginap di apatemennya yang cukup luas, dilengkapi dengan perabotan serba minimalis dan tertata asri.

Baru saja kami sampai di foyer, wajahku sudah diciumi olehnya. Aku tergeragap tak sempat mengelak. Beliau seperti sedang mencurahkan kegirangannya atas kedatanganku.

Aku tidak habis mengerti dengan tingkah bosku ini. Seperti baru berpisah lama saja. Padahal seharian kami berada di kantor bersama-sama mengerjakan projek bulan ini, saling berdekatan dan bercanda bersama.

Akupun tak lagi dapat mengontrol kuatnya aliran aneh yang bergulir deras dalam darahku. Begitu mudahnya aku mengikuti ritme gairah yang tertransfer dari Pak Martin. Aku memang pengecut! Aku tidak bisa sedikitpun berontak menolak. Atau memang aku sebenarnya juga menginginkannya? Gila!

Pak Martin semakin diburu nafsunya. Aku tidak lagi bisa lepas dari cengkeramannya. Tidak berapa lama kamipun sudah larut dalam pergumulan dua penjuru nafsu. Kami meregang bersama. Kami menikmati kebersamaan yang ganjil ini…

Aku biarkan bosku mencurahkan bentuk sukanya terhadapku seperti ini. Aku turuti saja apa yang diinginkan Pak Martin malam ini. Kenapa aku lakukan itu? Apakah karena dia bosku? Ataukah karena aku juga suka kepadanya?

Batinku kalap tak tentu.

“Sorry I have to take a bath…” aku tersenyum kepadanya sambil membenahi celana kerjaku.

“Sure…” Pak Martin menggoda.

Kalau aku bandingkan sikap Pak Martin kali ini, akan sangat jauh berbedanya dengan geral-gerik dan ucapan-ucapannya di kantor. Beliau sungguh seorang aktor besar.

Kuseret kakiku menuju kamar mandi. Ingin rasanya aku segera menyegarkan diri dengan air hangat. Biar otak di kepalaku kembali rileks.

Aku masih tergugu. Aku bukan lagi orang yang kuat menolak. Aku bahkan tidak kuasa menghindar. Aku malah terlarut pada jalinan hubungan ganjil dengan Pak Martin.

Kamar mandi yang indah dan nyaman. Pak Martin ikut masuk ke dalam, lalu membuka kran air hangat. Kami mandi bersama. Pak Martin meminjamkan piyama handuk putihnya kepadaku setelah kami selesai mandi.

Tubuhku kembali segar bercampur lapar. Segar karena percikan air hangat membuat rileks seluruh otot tubuhku, dan lapar karena sejak pulang kantor tadi belum sempat ada makanan yang masuk ke perutku.

Aku duduk di kursi meja makan sambil mengeringkan rambut cepakku. Pak Martin keluar dari kamarnya dengan mengenakan celana pendek putih dan kaos oblong yang juga sewarna.

Penampilan Pak Martin termasuk macho. Gaya dan cara bicaranya tidak menunjukkan hal-hal yang feminim. Gerakan dan postur tubuhnya maskulin, bukan yang lemah lembut. Dari tampilan luar, dia laki-laki.

Aku tahu jika perasaannya ternyata sangat halus. Akupun salut kepadanya, karena selama ini beliau dengan cerdiknya bisa menyembunyikan perasaannya di pergaulan kantor, sangat profesional, sehingga orang menjadi salah menginterpretasikan sikap juteknya selama ini.

Aku sadari sekarang, kalau asisten beliau selalu tidak bisa bertahan lama. Tiga tahun belakangan ini dia sudah mengganti empat kali asisten. Aku asisten kelimanya. Keempat asistennya dulu tiga adalah perempuan dan satu laki-laki.

Aku tersenyum sendiri. Asisten laki-lakinya yang terakhir sungguh sangat tidak menarik. Pak Bronto. Ketiga assisten yang wanita, sudah barang tentu, Pak Martin sama sekali tidak berminat. Makanya muncul juteknya kepada mereka.

“Kris, wedang jahe hangat, untuk netralin suhu tubuhmu…” tahu-tahu suara Pak Martin menghentikan pikiranku. Aku menjadi sedikit terkesiap.

“Nglamun jorok lagi ya?” sergahnya cepat melihatku tak segera merespon.

“Nggak” aku menggelengkan kepala, lalu aku terima secangkir wedang jahe darinya.

Pak Martin duduk bersebelahan denganku.

“You look sexy, Kris…”

“Saya sudah lapar” buru-buru aku menepis godaannya.

“I am hungry too”

“Menu apa nih malam ini?”

“Kamu mau apa?”

“Up to you, sir”

“Ada roast chicken, tinggal dipanggang di microwave, nasi, salad, dan water”

“Oke, not bad”

“Sebentar ya Kris, aku siapkan…”

Hanya sepuluh menit aku menunggu. Pak Martin sudah kembali dengan hidangan makan malam. Aku lahap semua hidangan yang ada. Lapar memang sudah teramat melilit perutku. Pak Martin sempat geleng-geleng melihat tingkahku. Aku cuek saja, aku butuh energi, aku pasti tidak bisa tidur nyenyak nanti kalau perutku masih lapar.

Sambil menghabiskan makan malam, kami sempat berbagi perasaan, kami menjadi lebih dekat untuk saling mengenali diri masing-masing

“Saya terlahir dalam dilema…” aku bicara pelan namun tegas. Bukannya aku protes dengan keadaan, namun lebih kepada karena akupun tidak tahu alasan apa sehingga seperti sekarang ini.

“Saya tidak tahu kenapa” aku menunduk. Tak berani manatap Pak Martin. Perlahan mataku memanas. Aku mencoba untuk tidak menangis. Aku bukan sedang meratapi nasibku. Bukan sedang mencari pembelaan hidupku. Bukan pula sedang meminta simpati dari siapapun. Aku hanya tidak tahu akan diriku.

“Saya tidak bisa protes pada keadaan”

“I understand” bisik Pak Martin sambil mengusap punggungku

“Anyway, I have to be myself…” namun aku tetap tidak berani untuk putuskan pilihan jalan hidupku menjadi laki-laki sejati. Aku orang yang bingung.

“Good, you have to choose..” Pak Martin seperti memberi dukungan

“Ketika saya kecil, saya tidak tahu apa-apa, kemudian baru saya sadari setelah saya remaja, saya punya impian untuk hidup berkeluarga, berisitri dan punya anak-anak yang lucu dan sehat…. tapi kenapa saya juga tertarik sama temen laki-laki saya?“ aku menuntaskan sesaknya udara panas pada paru-paruku.

“O I see… then?”

“Waktu kelas lima es de, saya pernah mandi dengan laki-laki dewasa di kamar mandi swimming pool. Saya tertarik untuk memperhatikan mereka yang tengah telanjang. Saya sungguh tidak tahu waktu itu, setelahnya pun saya tidak berpikir lagi… Hal yang tidak pernah saya duga datangnya, ternyata pikiran aneh itu muncul lagi ketika saya kelas satu es em pe…” aku masih ingin bercerita tentang masa kecilku.

“O I see..” Pak Martin mengangguk mencoba mengerti perasaanku.

“Waktu masih kecil, saya lebih sering bermain dengan anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki..”

“Kamu tidak seperti perempuan…”

“Ya, karena waktu itu ayah saya sangat marah melihat tingkah laku saya, dan saya selalu berusaha untuk merubahnya. Semua keluarga saya memaki saya jika saya bermain dengan anak perempuan. Saya akhirnya bisa seperti laki-laki dalam bersikap, berbicara, bertingkah laku, tapi….”

“But what?”

“Tapi saya tidak bisa menyembunyikan ketertarikan perasaan hati saya terhadap laki-laki…”

“It is ok, Kris…”

“Saya tersiksa setelah saya sadari perasaan saya…”

“Kamu sudah berhasil mengatasinya…”

“Saya berhasil membohongi semua orang…”

“Aku tidak merasa dibohongi” Pak Martin santai menanggapi.

“Hmm…” aku terdiam sebentar.

“Sepertinya ini takdir” gumam Pak Martin melanjutkan

“Kenapa?”

“Aku punya feeling yang sama denganmu…, kenapa aku begitu yakin bisa dekat denganmu, dan aku tidak bisa melupakanmu sampai sekarang…”

“Mungkin”

“Tentu. Aku ingat betapa aku ingin dekat sama kamu. Melihat kamu di kantor adalah bagian dari agenda kerjaku. Makin lama aku memperhatikanmu, makin yakin jika kamu adalah takdirku…”

“Hmm..” aku menjadi tertegun. Layaknya dialog pada tontonan sinetron saja. Tapi aku lihat tampang Pak Martin sungguh-sungguh.

“Kenapa Bapak tertarik kepada saya?” aku mencoba menebak perasaan Pak Martin

“Well, I am not sure that, but I always miss to meet you… I could not forget you..” Pak Martin seperti pasrah menjawab. Aku punya keyakinan bahwa yang diucapkan olehnya adalah kejujuran.

“Karena fisik saya?” aku sedikit mendesak

“Salah satunya. Maybe I am falling in love with you”

“Maybe” aku mencari-cari isi hatinya yang lainnya

“Do you have a boyfriend?”

“No, Bapak?”

“Aku tidak pernah terpikir untuk itu”

“Sekarang?”

“Tidak tahu, aku belum bisa menentukannya”

“Fine”

“Saya letih, Kris..” tiba-tiba Pak Martin tercenung. Beliau terdiam sejenak, lalu menghela nafas dalam-dalam.

“Why?”

“Mungkin saya seperti kamu, tersiksa”

“Oleh perasaan?”

“Ya. Aku mencoba untuk membuang perasaan sampah ini. Aku mencoba terus, namun aku tak pernah berhasil. Aku tersudut tapi aku tidak bisa berontak…” suara Pak Martin melemah, namun masih jelas terlihat kegundahan hatinya.

“Masa lalu?”

“Ya”

“Bapak tidak bisa lari dari kenyataan”

“Ya. Aku terseok oleh masa lalu, saat aku masih belum bisa menentukan…” kali ini suara Pak Martin cenderung seperti merintih.

“Apa yang terjadi?” aku memijit halus pundak dan belakang lehernya, berusaha untuk menenangkan hatinya

“I am so sorry…” lalu Pak Martin terdiam

“It is ok, I am so sorry for that question”

“No problem…” kali ini Pak Martin menatapku lekat-lekat, mencari kepercayaaku. Aku berusaha untuk meyakinkan bahwa aku bisa untuk dipercaya.

“Just tell me, apabila ini bisa meringankan beban batin Bapak”

“I hate my life!”

“Bapak sudah melaluinya dengan baik”

“I hate my family”

“Kenapa? Karena Bapak seorang gay?”

“Karena aku membenci keadaan”

“You could not blame it”

“Aku tidak punya siapa-siapa dalam hidupku”

“Bapak punya orang tua”

“Tidak, aku hidup dengan sampah, Kris!”

Deg!

Aku langsung tercenung lama. Aku tidak dapat berkata apapun untuk melanjutkan percakapan ini. Aku sengaja diam, karena aku tahu Pak Martin sedang terguncang. Beliau benar-benar merasa tak berarti untuk hidupnya. Aku rengkuh kepalanya dan aku elus rambutnya pelan untuk menenangkan hatinya.

“You can share it to me if you want to” aku berharap Pak Martin mau bercerita. Aku mengerti perasaan ketidakpuasannya akan hidup yang dijalaninya. Selama ini beliau tengah menanggung derita batin yang lebih hebat dariku.

“Aku…” Pak Martin masih terbata.

Aku semakin dalam mendekap kepalanya, mencoba menyalurkan rasa aman untuknya. Tak berapa lama Pak Martin menengadahkan kepalanya, lalu pelan melepaskan rengkuhanku.

“Sorry ya Kris” matanya nanar melihatku. Aku mencoba tersenyum maklum.

“Minum?” aku tawarkan air putih untuknya.

“Thanks” jawabnya pendek. Dalam hati aku berharap, mudah-mudahan ketenangannya cepat pulih.

“I am not stronger than you”

“Bapak belum tahu sepenuhnya tentang saya”

“Aku yakin itu”

“Bapak punya masa lalu yang lebih berat dari saya, itu sebabnya..”

“Mungkin, tapi seharusnya aku tidak secengeng ini”

“Bapak begitu tangguh di kantor”

“Itu kompensasi!”

“Atau Bapak belum bisa memaafkan masa lalu?”

“Ya!”

“Wanna share it to me? Hope it will help you, at least you let me know what you feel….”

“I never share my life to someone..”

“Maaf”

“Aku salut, kamu bisa dengan mudahnya perpendapat tentang kehidupanmu kepadaku”

“Saya hanya cerita kepada orang yang saya percaya, itupun lebih kepada agar saya dapat dibantu untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik”

“Ya, betul”

“Saya sudah tahu Bapak seorang gay, jadi saya sudah percaya sama Bapak, dan saya bisa dengan leluasa bercerita tentang hidup saya…”

“You are right..”

“It all depends on you, sir”

“I believe in you, Kris”

“Saya selalu berusaha untuk bisa dipercaya. Biar perasaan Bapak lebih ringan, Bapak bisa cerita sedikit-sedikit…, ok?”

“Aku tidak seberuntung kamu, Kris”

“Dalam hal apa?”

“Semuanya mungkin”

“Bapak pintar, cerdas, punya feeling kuat di bisnis, tampan, punya pekerjaan bagus..”

“Aku tidak punya masa lalu yang baik. Aku tidak puas dengan masa laluku yang membawaku kepada dunia abu-abu. Aku laki-laki tapi bukan laki-laki. Aku menyesali semua masa laluku yang terjadi menimpaku tanpa aku ketahui datangnya…, saat aku tidak tahu kalau akhirnya akan begini…”

“Sorry Pak, bukankah tak ada gunanya mengingat terus masa lalu yang buruk?”

“Semua datang sendiri di otakku, Kris… aku letih…”

“Yang diinginkan Bapak apa?”

“Aku tidak seperti ini”

“Sebagai gay?”

“Ya, karena aku yakin, jika ini tidak terjadi, aku bukan gay…”

“Saya mengerti, Bapak belum sepenuhnya menerima…”

“Ya, aku membenci dunia ini…”

“Seluruhnya?”

“Ya”

“You are not fair enough..” aku berucap pelan namun tegas.

Pak Martin menatapku tegang. Air matanya sudah mengembang di kedua kelopak matanya. Aku mendadak terdiam tercekat, menyadari kelancanganku menilai beliau tidak adil. Aku sangat berharap beliau tidak marah terhadap apa yang aku ucapkan barusan.

“Maaf Pak…” aku lirih menenangkan

“You are right, I am not fair enough to myself…”

Aku menjadi melongo oleh ucapan bosku.

“Makusd saya, Bapak juga punya hidup yang indah seperti sekarang….”

“Ya setelah bertahun-tahun aku berjuang…”

“Great”

“Aku terseok-seok memendam nuraniku sendiri, satu sisi aku ingin hidup seperti layaknya laki-laki lainnya, tertarik kepada perempuan, atau mencintai perempuan, namun kenyataannya aku tidak mampu untuk berbuat itu, karena aku punya nurani dan perasaan yang berbeda….”

“Saya mengerti”

“Selama ini aku bisa bertahan, aku seperti berperan menjadi orang lain. Aku hanya seorang manager, yang aku tampilkan adalah bukan diriku sendiri, aku berlindung pada ketidakmampuanku. Aku tidak bisa menyatakan kepada orang lain bahwa aku adalah gay, aku letih…”

“Bapak akan tetap bersikap seperti ini?”

“I do not know..Kris..”

“Ya”

“Since I met you, I believe that I will meet my soulmate…”

“Jika Bapak tak keberatan…”

“Aku terlalu berharap untuk memilikimu, Kris..”

“I”ll try..…” aku utarakan kesungguhan ucapanku. Pak Martin tersenyum tenang. Aku makin tahu bahwa bosku tengah membutuhkan seseorang untuk berbagi perasaaannya.

“Thanks Kris…” Mudah-mudahan keresahan hatinya sudah berkurang.

“Kapan Bapak menyadari keadaan gay ini?”

“Mungkin ketika aku es em pe kelas satu, saat aku mimpi basah, dan aku bermimpi bercinta dengan laki-laki, bukan dengan perempuan…setelah itu tanpa disadari aku lebih tertarik kepada teman laki-lakiku…” Pak Martin menghela nafasnya cukup dalam.

“Oh.. saya malah tidak pernah mengalami mimpi basah… “ aku tersenyum geli sendiri.

“Why?”

“Keburu onani…hahaa.. ” aku tergelak sendiri.

“Hahaa.. sialan…” Pak Martin ikut tergelak.

“Dulu saya sering memperhatikan foto-foto model cowok di majalah, saya menikmati ketampanan mereka… Tiba=tiba saya sudah punya hasrat untuk onani… ” aku kian ringan bercerita.

“When was for the first?”

“Bersama teman mainku dulu… hahaa..”

“O My God…” Pak Martin menggelengkan kepalanya.

“Namanya Bowo, dia anak tetangga. Saya akrab dengannya. Dia lebih tua dua tahun dari saya. Orang tua kami berteman baik. Dia sering bermalam di rumah atau sebaliknya. Dia sangat memperhatikan saya, seperti adiknya sendiri.”

“Are you a youngest kid?”

“Ya”

“O I see.. masih berkomunikasi dengannya sekarang?”

“Tidak” aku menggeleng, lalu melanjutkan, “Setelah lulus es em pe keluarganya pindah ke provinsi lain. Sejak itu saya tidak lagi punya teman dekat. Saya sempat kangen sama dia… lucu juga..” aku tersenyum malu.

“Sekarang masih kangen?”

“Tidak.. saya sudah tidak tahu lagi kabarnya…”

“Kalau kamu ketemu dia bagaimana?”

“Saya tidak tahu. Mungkin dia juga sudah berubah. Bisa jadi saya sudah tidak mengenalinya lagi… Just a past, saya sudah tidak memikirkan lagi…”

“Minum?” Pak Martin menawarkan kembali wedang jahe buatannya.

“What about you?”

“It was not a special… I dreamed with my cute friend and with my handsome teachers”

“Wow..”

“Kalau lagi bosen dengerin ceramah guru, saya suka pegang burung teman sebangku…”

“Apa tidak ketahuan orang-orang?”

“Aku duduk di baris pojok belakang, dia duduk pas di sudut ruangan, jadi kalau tanganku meremas punyanya, tentu tidak ada yang tahu..”

“Dia tidak berontak?”

“Sepertinya dia juga gay…”

“No wonder…hahaha” aku membalas dengan tertawa maklum

“Namanya Angga, dia anak diplomat, orang tuanya bertugas di Jerman, dia ikut pindah ke sana..”

“Bagaimana kabar Angga sekarang?”

“I really lost contact with him… He is not an important person anymore… But now, I find you…I am really happy Kris…”

“Thanks…” Ucapan Pak Martin benar-benar menyudutkanku. Ah, dunia abu-abu, dunia gay. Aku tergugu dalam hati. Serius kah Bapak yang satu ini? Kembali hatiku yang lain bercanda.

Selama ini aku berusaha untuk tidak terseret pada gaya hidup gay. Aku mencoba untuk tetap eksis pada dunia nyata dengan komunitas yang beragam. Di dunia kerja aku coba bergaul dengan beragam jenis orang. Sangat heterogen. Aku pun sempat ingin menjalani hidup hetero, bukan homo.

Aku hidup dengan ritmeku sendiri. Aku berusaha untuk tidak sekalipun punya niat untuk bercinta dengan sesama gay. Aku hanya bergaul sebatas teman, tanpa harus saling komitmen.

Namun aku tak tahu kenapa dengan Pak Martin aku bisa mencurahkan gelora terpendamku? Aku yakin, semuanya berjalan tanpa kendaliku. Mungkin aku sudah teramat letih untuk terus membendung keinginanku? Atau aku sendiri merasa percaya dengan Pak Martin? Atau pada dasarnya aku mengharapkan itu? Atau aku pada posisi di ujung putus asa akan keadaan diriku? Atau aku memang tak tahu apa yang mengalir dalam darahku adalah bentuk cinta? Atau aku teramat murah untuk Pak Martin? Atau aku memang ingin dicumbu oleh bosku itu? Yang jelas aku memang sudah tidak lagi bisa memegang prinsipku. Atau harga diriku yang memang telah luntur? Atau aku….. ah, aku letih!

Tidak! Aku tak tahu jawabannya.

Sudah separah inikah aku? Sudah tak berharganyakah aku? Sudah sedemikian terpuruknyakah aku? Sudah tak punya lagi harga dirikah aku? Sudah begitu hinakah aku? Ah, kepalaku pusing menyadari betapa setelah mengenal Pak Martin, tekadku untuk menjalani hidup hetero berantakan oleh keinginan tersembunyiku yang meledak tak terkendali.

“Kenapa Kris?”

“Saya takut” aku merintih lirih

“Kenapa?”

“Tak tahu” aku tercekat.

Baru aku sadari kini betapa aku telah melewatkan waktu selama ini dengan hal yang sangat bertentangan dengan prinsipku. Aku telah menjungkirbalikkan nuraniku sendiri. Aku terseret oleh arus ke lain arah.

“Oke, tenagkan diri dulu…”

“Ya”

“Aku juga bosan dengan hidupku Kris…Aku selalu mengekang apa yang sering muncul dalam hatiku. Pertama kali melihatmu, aku tidak kuat membendung keinginanku untuk lebih jauh mengenalmu. Selama tiga tahun ini aku berusaha untuk tahu dirimu lebih dekat. Aku tanya kepada temanku, kepada sekretarisku, kepada bosmu, teman sejawatmu, tapi aku tidak berani bertanya langsung kepadamu…”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu”

“Karena posisiku?”

“Bukan itu Kris, karena aku tidak punya alasan untuk bisa berkomunikasi langsung denganmu”

“Waktu saya membantu project Bapak setahun lalu, bukannya Bapak punya kesempatan?” aku mencoba mengingatkan Pak Martin.

“Yah, tapi aku tidak bisa leluasa lakukan itu, karena waktu itu kamu akan dimutasi ke tempat lain..”

“Oh ya?” aku terperanjat.

“Akhirnya aku punya akal, dan meminta bosku agar aku bisa observasi kamu, minimal setahun, siapa tahu cocok menjadi asistenku… Kamu tahu waktu itu? Betapa aku menggemblengmu dengan pekerjaan berat untuk projek produk baru itu?”

“Ya”

“Lewat atasanmu langsung, aku berikan target-target marketing yang cukup irrasional. Nyatanya kamu berhasil, Kris.. aku senang, karena bosku pun sangat antusisas untuk tidak lagi memutasimu ke tempat lain….”

“Kenapa Bapak berbuat itu untuk saya?”

“Aku tidak tahu pasti, mungkin karena aku tidak bisa melupakanmu…” Pak Martin tertunduk di sampingku.

“Bapak sungguh-sungguh?”

“Ya”

“Bapak percaya saya?”

“Ya”

“Serius?”

”Ya…” Pak Martin masih tertunduk lunglai. Aku topang pundaknya dengan kedua tanganku. Aku sendiri tertegun tidak mengerti. Apakah ini yang dinamakan dengan aliran kasih sayang? Sulit dimengerti, aku menghela nafas bimbang.

“Bukan karena Bapak hanya menginginkan sex dengan saya kan?”

“Kris…” Pak Martin sempat terperangah. Intonasi suaranya berubah menjadi lebih keras, lalu beliau menunduk, kali ini beliau menangis lirih.

“Maafkan saya ..” aku menyadari ketololanku. Aku menyesal telah mengoreknya dengan pertanyaan bodoh. Tapi aku pun tidak mau percaya begitu saja dengan ucapan-ucapan beliau.

“Aku tidak pernah bercumbu seperti yang kita lakukan dengan laki-laki lain. Aku tidak tahu kenapa aku seceroboh ini menyalurkan keinginan dan kerinduanku sama kamu…Seandainya hubungan kita tanpa sexpun, aku mau Kris”

“Saya mengerti” aku tertegun berulang mendengar keseriusan ucapannya.

“Do you believe in me?”

“Ya” aku mencoba untuk percaya

“Kamu belum sepenuhnya percaya” Pak Martin tahu gelagatku

“Saya akan mencoba untuk percaya”

“You don’t like me, do you?” pertanyaan Pak Martin kali ini sangat menyudutkanku. Suka? Well, sepertinya ini sudah terlalu jauh pembicaraan ini. Apa lagi ini? Terus terang aku merasa takut untuk komitmen.

Aku terdiam. Aku tidak bisa menjawabnya. Aku tergugu sendiri. Kenapa kalau tidak suka dengan beliau aku mau diajaknya bercumbu? Kenapa aku bisa break my principles? Kenapa aku mudah sekali tergoda oleh ajakannya di mobil, di foyer dan di kamar mandinya? Kenapa aku bisa terseret arus keinginannya? Kenapa?

“Sulit untuk dijawab Pak…”

“Itu pilihanmu Kris…”

“Saya butuh waktu”

“Tidak apa…aku akan tetap menunggu jawabanmu…” dengan sedikit gontai Pak Martin bangkit dari tempat duduknya, menuju kamar tidurnya.

Aku tertegun. Ada rasa bersalah menyelinap di ulu hatiku. Mengapa aku berbuat begini pada Pak Martin? Terlukakah hatinya? Kenapa aku bisa setega ini terhadapnya? Aku tidak bermaksud mematahkan harapannya. Apakah aku belum cukup mampu untuk bersikap seperti dia? Aku bukan munafik, tapi aku tidak berani untuk menyatakan komitmen. Aku tidak mampu untuk itu, karena aku sadari aku tak mungkin akan bisa lari dari tradisi, hidup dan keluargaku.

Aku biarkan Pak Martin memasuki ruang tidurnya. Aku tidak berani untuk berbuat hal lain kecuali duduk terpaku di kursi ruang makan. Kutumpukan kedua sikuku di atas meja makan, dan kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku.

Aku merasa telah melukai hati Pak Martin. Aku telah memupuskan harapannya terhadapku. Tidak sukakah aku padanya? Aku sulit untuk memutuskan. Tapi kenapa tidak aku ucapkan tadi? Tidak tahu. Aku tergugu beberapa lama. Bayangkan, betapa Pak Martin telah berjuang untukku selama ini di kantor. Aku betul-betul orang yang diharapkan beliau, dalam kerja dan sebagai individu. Apa yang terjadi denganku? Terlalu bodohkah aku bersikap seperti tadi? Aku ingin teriak memaki kesalahanku.

“Kris..” tangan kekar Pak Martin mengusap halus kepalaku. Aku tergeragap. Buru-buru aku mengusap kedua mataku yang tanpa kusadari telah digenangi oleh air mataku.

“Sorry ya Kris…”

“Saya yang salah Pak”

“Aku yang salah, keinginanku yang salah. Aku hargai pendapatmu, Kris..”

“Mungkin saya hanya butuh waktu…”

“Yap, aku mengerti, ayo kita tidur..”

“Saya tidur di sofa saja..”

“Ayo dong, ini malam istimewa untukku…”

“O ya?”

“Ya, baru kali ini ada laki-laki yang menemani tidurku, itupun kalau kamu mau… hahaa” Pak Martin sudah mulai ceria kembali. Dengan mudahnya beliau mengganti suasana hatinya. Seperti tidak terjadi apa-apa saja barusan. Memang beliau seorang aktor tangguh. Atau beliau punya kepribadian ganda? Entahlah.

“Oke..” aku menurut saja. Beliau masih memperlakukan aku dengan mesra, tak ada perubahan.

Aku duduk sebentar di tempat tidur sebelum perlahan kurebahkan tubuhku di samping Pak Martin. Kutarik selimut di kakiku, lalu perlahan membuka piyama handuk putih yang sedari tadi aku kenakan.

“Bapak marah sama saya?”

Beliau menjawab dengan tersenyum: “Tidak, kenapa Kris?”

“Benar?” aku mencoba tersenyum

“Ya” Pak Martin mengangguk.

“Bapak seperti habis menangis…” aku perhatikan raut wajahnya, terutama kedua kelopak matanya.

“Ya, aku berpikir tentang hal yang aku tak tahu Kris…”

“Persisnya apa?”

“Hidupku ini…”

“Kenapa lagi?”

“Aku berharap ada orang yang mau mengerti aku…aku tidak tahu mengapa aku bisa seterbuka sekarang denganmu, aku sangat terbawa rasa sukaku kepadamu, aku bisa melupakan hubungan kerja denganmu, aku bisa mengekspresikan diriku, aku atasanmu, tapi aku tidak pernah malu untuk menyatakan diriku seperti ini…”

“Saya bisa mengerti…”

“Lebih dari itu…aku dengan leluasanya berbuat begini denganmu, gampang saja kan kalau suatu saat orang lain tahu tentang aku dari kamu? Padahal selama ini aku sangat rapi menyimpan hidupku, namun kenapa dengan kamu aku bisa membongkar diriku sendiri? Jujur saja Kris, aku butuh teman dekat untuk berbagi perasaan….”

“Mungkin saya bisa..”

“Kamu masih punya banyak pilihan..”

“Saya tidak tahu”

“Rasanya sekian lama aku terkubur oleh halusinasiku sendiri, oleh angan-anganku sendiri, oleh iramaku sendiri, oleh harapan-harapanku sendiri, oleh segala hal yang dapat kujadikan tamengku, oleh banyak orang yang aku bohongi…”

“Bapak menyesal menjadi gay?”

“Rasanya aku masih merasa dunia ini tidak adil untukku…”

“Maybe..”

“Aku dibentuk menjadi gay oleh lingkungan terdekatku…aku kacau, aku tidak punya identitas, aku tidak punya nyali untuk mengakuinya, aku…” Pak Martin menghela nafas berat. Tatapannya menerawang ke langit-langit kamar. Aku ikutan untuk berfikir dan merasakan kegalauan apa yang dialami oleh Pak Martin.

“Kita tidak bisa memutar waktu lagi ke belakang”

“Ya, tapi aku tidak tahu harus apa dengan waktu ke depanku..”

“Berusaha seperti biasa..”

“Bersembunyi?”

“Tidak, berkreasi”

“Manipulasi?”

“Bukan, imajinasi..”

“Hah, letih Kris, kalau hidupku harus berimajinasi terus, sekian lama aku berbuat begitu, berimajinasi memilikimu, sekarang aku harus berhadapan dengan kenyataan bahwa aku harus menelan dunia nyata, bukan imajinasi…”

“Saya bisa dipercaya…” aku mencoba meyakinkan Pak Martin, kalau aku juga dapat dipercaya.

“Kris..”

“Ya”

“Kamu sudah punya pacar ya?”

“Tidak”

“Kamu tidak percaya aku ya?”

“Sulit untuk menjawab”

“Kenapa?”

“Tidak tahu..”

“Aku sudah kenal kamu tiga tahun, Kris..”

“Bapak merasa pasti dengan saya?”

“Ya”

”Bapak tidak takut saya berdusta?”

“Tidak”

”Berkhianat?”

“Tidak”

“Sulit dimengerti..”

“Aku yakin, Kris..” Pak Martin menatapku lagi.

“Terima kasih, mudah-mudahan Bapak percaya saya”

“Aku percaya kamu seperti aku percaya sama ibuku…”

“Hm?”

“Ibuku adalah satu-satunya wanita yang bisa kupercaya. Ibuku yang membuat aku bisa bertahan hidup dan meniti karir dengan gigih. Ibuku yang selalu memotivasiku jika aku terjatuh. Ibuku satu-satunya wanita yang menerima kalau aku ini gay. Ibuku termasuk orang-orang yang mengerti akan hidupku…kasihan ibuku…” Pak Martin berhenti sejenak, lalu terdengar isak lirih tangisnya.

“Maaf, kenapa Pak?”

“Tidak apa-apa..” namun pak Martin masih saja tersedu

“Apa yang terjadi dengan ibu?”

“Ibuku wanita malang…, wanita yang tak beruntung..”

“Kenapa?”

“Karena ayahku..”

“Oh..”

“Ayahku telah menyia-nyiakan kesetiaan dan kehidupan ibuku. Perkawinan yang indah bagi ibuku cuma seumur jagung. Sepertiga hidupnya adalah penderitaan yang disebabkan oleh ulah ayahku..”

“Oh”

“Ayahku selingkuh, dan ibuku hanya bisa menangis waktu itu. Aku masih teramat kecil untuk mengerti keadaan ibuku. Yang aku sering lihat adalah ibuku menangis semalaman. Ibuku seperti menderita sekali…”

Aku menggenggam tangan Pak Martin. Telapak tangannya berkeringat menahan amarah dan ketidakpuasan.

“Aku memergoki ayah sedang bercinta dengan wanita lain di kamarnya!”

“Oh” aku terkejut.

“Aku benci ayah!”

“Sssstt..” aku menenangkan

“Aku benci ayahku, Kris…Semakin lama bangsat itu semakin biadab, sampai akhirnya dia berani terang-terangan berselingkuh di depan ibuku… Keji! Ibukuku hanya tertunduk menahan kepiluan dan derita hati, sementara bajingan itu bersenang-senang dengan wanita jalanan di dalam kamar… Kamar pengantin ibuku dinodai oleh perbuatan biadabnya… Saat itu aku tidak bisa memilih. Aku tidak bisa berontak. Kejadian itu yang selalu menghantui tidurku sampai sekarang… Setelah itu, aku mulai benci ayahku, benci perempuan=perempuan di sekitarku, dan aku mulai dekat dengan ibuku, aku mulai merasakan betapa terlukanya hati ibuku… Kehalusan perasaan ibuku mungkin mulai tertransfer ke dalam perasaanku… dan selanjutnya aku… aahh” Pak Martin menahan isakan berat.

“Saya sangat mengerti..”

“Ibuku tak berdaya…….Ayahku semakin keterlaluan, kelewat batas. Bangsat itu mengusir ibuku..”

“Tak punya perasaan sekali…”

“Dia memang bejat…binatang!”

“Ssstt… sudahlah Pak, tenangkan diri dulu ya…” aku mencoba memeluknya, lalu menepuk punggungnya pelan, bermaksud menenangkannya.

“Thanks Kris, saya ada teman malam ini…”

“Ya”

”Saya bisa cerita tentang persaan hati dan hidup saya…”

“Ya”

“Aku pendam semua ini tanpa seorangpun tahu, termasuk ibuku…”

“Sekarang di mana ibu?”

“Ibuku meninggal dua tahun yang lalu…”

“Oh, I am so sorry..”

“It`s ok. Aku sangat terpukul… Aku pikir hidup bersama ibu akan cukup bagiku dalam menempuh kehidupan ini. Aku curahkan semua atensiku untuk ibuku. Aku selalu bahagia hidup dengannya. Aku merasa tidak ada orang yang dapat menggantikannya. Sekarang, ketika tidak ada ibu… rasanya semua mati… hidupku pun juga mati….”

“Saya mengerti..” entah sudah berapa kali kalimat itu meluncur dari mulutku.

“Dua tahun ini aku gamang. Akhirnya aku menjadi manusia batu. Manusia yang kamu lihat selama ini. Hidupku hanya untuk kerja. Tidak ada warna lain. Tak ada kegiatan lain yang bisa menyenangkanku. Aku menghindar diri, menyesali diri, menyembunyikan diri dan perasaanku….”

“Maaf Pak, tapi Bapak kelihatan biasa saja jika di kantor…”

“Ya, aku manipulator perasaan yang baik Kris. Aku tidak punya teman selain rekan kerja dan client..”

“Cukup sukses”

“Aku tersiksa”

“Sama” aku mentertawakan diriku sendiri dalam hati.

“Aku masih ingat ketika aku melihat kamu di acara launching produk baru di loby hotel. Kamu sangat menarik perhatianku saat itu. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku suka memperhatikanmu. Sepertinya kamu belum kenal aku.”

Aku mengingat-ingat kejadian yang dimaksud Pak Martin.

“Kamu tampil memukau tamu. Kamu punya cara unik untuk negosiasi dengan client. Bosku pun berpendapat begitu, sehingga akhirnya beliau ingin menempatkanmu di perusahaan cabang… Aku pikir bosku main-main, ternyata bos bilang untuk kedua kalinya, dan aku tidak mau kehilangan kamu Kris…”

“Kenapa begitu?”

“Aku tidak tahu, semakin mengenal kamu, semakin banyak imajinasiku yang aku bangun. Selama kamu seruangan denganku, aku merasakan energi yang positif. Dengan ini saja aku bahagia Kris, apalagi bila kamu mau lebih dekat berteman…”

“I’ll try…”

Pak Martin beranjak memelukku. Akupun sudah bisa menebak apa yang akan terjadi sebelum kami benar-benar tidur. Luapan terpendam yang selalu membuncah seiring dengan hasrat yang mengalir begitu saja.

Sebelum benar-benar tidur, beberapa saat kami terdiam dengan perasaan masing-masing. Aku merasakan degupan jantung Pak Martin sedikit kencang. Aku tidak tahu apa yang sedang beliau pikirkan. Aku sendiri tengah berpikir akan kesungguhan ucapan pak Martin kepadaku.

Beliau ingin punya teman dekat. Sedekat apa? Ah, dunia abu-abu, semakin rumit rasanya jika harus menentukan komitmen. Di lain pihak akupun punya keinginan yang sama dengan Pak Martin. Tapi sering aku dibuat bingung sendiri dengan komitmen batinku pada keluarga dan lingkunganku.

Aku ingin mewujudkan harapan orang tuaku, hidup berumah tangga, yaitu dengan merubah pola orientasi sex dan perasaanku, agar seperti laki-laki seutuhnya. Aku masih sangat diharapkan oleh orang tuaku untuk dapat berkeluarga yang layak, sesuai dengan tradisi masyarakat pada umumnya.

Sebenarnya aku sudah berusaha untuk merealisasikan keinginan kedua orang tuaku, nenekku, saudara-saudaraku, tetanggaku, atau tuntutan masyarakatku. Aku bukan lari dari tanggung jawabku itu. Namun siapa sangka aku tidak punya daya untuk mengikuti aliran darah, birahi dan keinginanku sendiri?

Aku bukan hanya diam! Aku sudah sekuat tenaga berjuang! Aku sudah berusaha! Tapi, ah, aku masih saja terpuruk di sini, di duniaku sendiri, yang akupun masih sering mempertanyakan dunia macam apa ini? Apakah akan selamanya aku di sini? Kalau mengikuti kata hatiku, aku pasti akan terus bergulat dan tak mungkin menghianati perasaan anehku.

Tapi untuk mengaktualisasikan perasaanku aku butuh keberanian yang kuat untuk membongkar semua kenormalan adat istiadat lingkunganku. Aku harus kuat mengeksiskan diri sebagai orang yang berbeda. Mampukah aku? Ah, meski aku setua ini, rasanya jauh dari jangkauanku kalau aku harus berontak kepada bapakku, ibuku, saudara-saudaraku, teman-temanku, Aku belum sanggup untuk dibuang dan dikucilkan oleh lingkunganku.

Aku harus bagaimana? Kali ini pikiranku tambah terpuruk. Stress yang berkepanjangan yang aku emban terus selama ini tak ada solusinya. Aku tidak pernah share hal ini kepada siapapun. Aku pendam itu rapat-rapat dalam hatiku, agar Tuhan tahu bahwa aku telah sekuat tenaga berusaha.

Marahkah Tuhan? Ah, aku menjadi sangat takut akan kemarahan Tuhan yang mungkin akan aku terima nanti.

***

 

*********

Sampul

cover-skda-asli.jpg

*********
.
Salut
.
Salam sejahtera untuk semua manusia yang mempunyai banyak keleluasaan hati nurani.
.
Langkah-langkah kaki seorang manusia meninggalkan tapaknya. Namun tidak semua manusia berani menceritakan tapakannya pada orang lain.
.
Tidak seperti Chris, seorang teman. Begitu banyak hal yang ingin diungkapkannya pada dunia, agar hatinya lega, agar perasaan entah itu sesalnya semakin berkurang membebaninya.
.
Bukan untuk mencari excuse dari orang lain. Bukan untuk mencari dukungan orang lain. Bukan pula baginya agar orang lain mecibir dan mencacinya.Chris hanya ingin dia lepaskan semua bebannya dalam bentuk cerita.
.
Entah nantinya bisa atau tidak dimengerti orang lain, namun dari lubuk hatinya yang paling dia sembunyikan, dia mendambakan damai setelah mencurahkan beban batinnya.
.
Sepertinya Chris tidak berharap banyak pada orang lain untuk mengerti tapak hidupnya. Dia hanya ingin orang lain sekedar tahu, bahwa dalam dunia ini ada dunia abu-abu yang menjeratnya dan menyiksanya sepanjang darah mengalir dalam urat nadinya.
.
Senyum adalah hal kecil yang mempunyai banyak arti. Silakan tersenyum dengan maksud atau makna masing-masing, sesuai dengan diri kita, setelah merunuti kisah hidupnya.
.
Chris, langkahmu berani dalam menapaki ketidaklaziman. Bukan kata salah benar untuk keberanianmu, namun masih ada jalan lain yang lebih berarti, semoga bisa dipahami olehmu dalam menapaki sisa perjalanan hidup ini.
.
Musim salju, 2008
*********
 .
Intro
 .
Setiap manusia memiliki ceritanya masing-masing dalam kehidupannya. Setiap cerita dapat menjadi kesan yang mendalam atau sebaliknya bagi yang mengalaminya.
 .
Terkadang manusia ada yang tidak kuat untuk memendam ceritanya sendiri. Maka dibutuhkanlah olehnya orang lain untuk mendengarkan luapan cerita hidupnya.
 .
Ternyata tidak jarang diantara manusia, ada yang justru mencari berita untuk ditulis dari cerita hidup manusia lain. Ada pula manusia yang harus menuliskan cerita hidupnya agar menjadi pelajaran bagi manusia lainnya.
 .
Dalam hidup, sering dijumpai bukan hanya hitam atau putih. Laki-laki atau perempuan. Tapi ada dunia hidup tersendiri yang berdiri di antara hitam dan putih. Dunia yang sedang mencoba menyuarakan pengukuhan jati diri diantara laki-laki dan perempuan. Mari kita sebut saja, dunia abu-abu.
.
Sepenggal cerita tentang kehidupan manusia abu-abu, tertuang dalam Sepotong Kisah Dunia Abu-Abu. Kisah ini bukan untuk menilai benar salah, tabu tidaknya atau nista tidaknya manusia, namun untuk dapat dijadikan referensi manusia lain agar lebih paham dan bijak dalam menelaah cerita manusia abu-abu untuk menentukan sikap.

Sepotong Kisah Dunia Abu-Abu merupakan salah satu fenomena atau fakta kehidupan yang ada di muka bumi ini, yang sekecil apapun dapat dipetik pelajaran positifnya.

« Newer Posts - Older Posts »