*********
Chapter 6. PERTEMUAN KELUARGA
Hari Jumat yang tidak kuharapkan datang juga. Datang setahun setelah aku hidup bersama dengan Pak Martin. Setahun setelah aku semakin kenal baik dengan beliau. Setahun setelah mulai muncul rasa kasih sayang, cinta dan pengertian di antara kami.
“Wake up, honey” Pak Martin mengecup pusarku yang sedikit berbulu. Disibakkannya selimut yang menutupi tubuh polosku. Mendadak gigil menyergapku. Pak Martin bergairah melihatnya. Lalu tanpa kuduga diluapkan gejolaknya dengan semangat. Aku menanggapinya dengan lebih bersemangat.
Setelahnya, kami lunglai, namun Pak Martin belum lupa dengan tujuannya membangunkanku pagi ini.
”Kris…”
”Hmm”
”Mandi”
”Hmm..”
”Come on, mandi, sudah jam tujuh ..”
”Malas”
”Kamu bilang kita harus berangkat pagi ke kampungmu”
”Malas”
”Keburu siang”
Pak Martin tidak kehilangan akal. Dibopongnya aku menuju ke kamar mandi. Aku biarkan Pak Martin mandi dan memandikanku. Aku diperlakukan seperti anak kecil. Selesai mandi aku diberi handuk dan disuruh untuk cepat berpakaian. Pak Martin melakukannya dengan sabar.
Sejam kemudian kami siap. Semua perlengkapan dan bekal juga sudah disiapkan. Aku hanya menyiapkan satu tas ransel agak besar dan beberapa oleh-oleh untuk keluarga di kampung.
Pak Martin pun sudah siap dengan bekalnya. Satu buah tas koper berisi baju. Satu buah tas ransel hitam dan beberapa keranjang kertas berisi berbagai macam makanan dan minuman kaleng.
Semalam aku memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan apapun yang akan terjadi di kampungku. Anggap saja ini jalan-jalan pulang kampung seperti biasanya. Aku sedikit punya persediaan nyali untuk berontak sama bapakku jika ternyata aku harus mendapatkan doktrin.
Perjalanan menentang matahari membuat kami bertambah segar dan bersemangat serta sedikit menenangkan jiwaku. Pak Martin di samping kananku tengah serius menyetir. Jalan tol antar kota memang sedikit padat hari ini. Maklum, masih hari kerja.
”Kita akan sampai empat jam lagi” cetusku setelah mengamati kondisi lingkungan yang kami lewati.
”No problem” Pak Martin masih setia dan tahan menyetir
”Masih oke nich?” aku sedikit meledeknya.
Pak Martin cuma mencibir. Jelek.
“Gak cape kan Pak?”
“No” beliau menggeleng mantap
“Good” aku asal komentar
“Sudah siap ketemu bapakmu?”
“Yup”
“Sudah siap melawan doktrin dan kemauan bapakmu?”
“Yup”
“Kris, kalau seandainya benar bapakmu meminta kamu untuk menikah bagaimana?”
“Entahlah, semoga bukan karena itu”
“Itu artinya kamu belum siap”
Aku mengernyitkan kedua alisku, tanda aku tidak mengerti apa yang dimaksudkan Pak Martin. Aku belum siap. Itu pernyataan beliau barusan. Kembali bagai tombak berujung runcing, galau menyerbuku.
“Menurut Bapak, saya harus berbuat apa?”
”Jelasin aja tentang kita yang sebenarnya”
”Ups” aku tersedak oleh kagetku sendiri.
”Kenapa?”
”Itu bukan solusi”
Wajah bapakku terbayang melintas. Sudah lama aku tidak menatapnya. Tentu raut mukanya sudah banyak berkerut. Usia bapakku sekitar enam puluh empat tahun. Tentulah sudah tidak lagi sekuat dulu. Mungkin tidak lagi segalak dulu. Tidak segarang dulu kalau berbicara. Tentu energi marahnya tidak lagi semenggelegar dulu.
Aku makin hanyut dalam masa lima belas tahun silam. Aku hidup dalam ketidaktahuan. Masa remaja yang mengalir dengan begitu saja mengikuti kemana arus hormon dalam tubuhku. Hormonku terdeteksi laki-laki. Namun psikisku tergolong halus dan perasa. Sedangkan orientasi sexku cenderung labil menyimpang tak terasa.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba semuanya menjadi seperti ini. Apakah karena masa kecilku selalu dalam kungkungan tabiat bapakku yang pemarah? Atau karena pengaruh perbuatan dan tingkah laku kakakku yang semuanya perempuan? Atau karena aku tak sadar mengimitasi mereka? Atau karena aku tidak pernah tahu bagaimana menjadi laki-laki? Atau karena aku bergaul dengan kak Bowo?
Bapakku teramat disiplin dan keras. Sedikit kesalahan yang diperbuat anak-anaknya langsung ditanggapi dengan marah. Jika bapak sedang banyak tugas di kantornya, stressnya dibawa ke rumah seluruhnya. Orang rumah yang ketimpaan apesnya. Apa iya, sikap dan tingkah laku bapak menyebabkan bergesernya hormon laki-lakiku?
Aku tidak tahu.
Ibu dan kedua kakakku sangat memperhatikanku. Mereka seolah berebut untuk mencari perhatianku. Dari kecil aku merasa aku memang menjadi pusat perhatian mereka. Ibu sangat berlebihan menyayangiku meski dengan sembunyi-sembunyi di di belakang bapak. Kedua kakakku senang sekali berbagi mainan denganku. Ada mainan rumah-rumahan, masak-masakan dan mainan perempuan lainnya. Akupun tidak menolak dan lama-lama menjadi suka.
Aku tidak ada contoh untuk menjadi laki-laki?
Entahlah.
Bowo? Oh, kemanakah dia sekarang? Tiba-tiba terbersit kangen akan dirinya. Masih sangat lekat dalam ingatanku apa-apa yang kami lakukan bersama, tanpa orang lain curiga.
Bapakku dan ayahnya Bowo adalah teman dekat waktu mereka mahasiswa. Kebetulan sama-sama pegawai negeri dan ditugaskan di kantor yang sama. Bapakku adalah bawahannya.
Karena Bowo anak satu-satunya, maka dia tidak punya teman di rumahnya. Bowo sendiri anak yang supel dan menyenangkan. Tidak berapa lama aku sudah kenal akrab dengannya.
Kami berdua main bersama, mandi bersama, tidur bersama tidak ada yang mencurigainya. Semua yang kami lakukan menjadi rahasia berdua tanpa ada yang membongkarnya sampai sekarang.
Dari kebersamaan dengan Bowo itulah, aku mendapatkan pengalaman sex. Tak pasti itu termasuk dalam sex education atau tidak. Bowo mentransfer apa yang dia tahu untuk melampiaskan nafsunya kepadaku. Masih terbatas pegang-pegangan dan masturbasi sederhana. Bukan hal yang sampai melakukan hubungan intim. Namun semuanya sudah membekas erat dalam pikiranku, sehingga akupun tanpa sadar sudah terkungkung oleh orientasi sexku sendiri. Imajinasiku telah dibangun tanpa fondasi arah yang benar. Bentangan nafsuku terarah kepada sejenis. Bahkan sampai-sampai aku sempat bertingkah sedikit seperti perempuan. Kalau sudah begitu, semua orang di rumah membentakku untuk menghentikan tingkahku.
Aku dapat mengerti mereka saat itu. Maka buru-buru aku merubahnya. Aku bisa. Dan aku bertingkah seperti laki-laki layaknya. Namun aku tetap dekat dengan Bowo. Namun aku tetap beraktivitas bersamanya. Namun aku masih mendapat ”sex education” nya. Anehnya aku tidak merasa terpaksa.
Di rumah Bowo, awalnya dia mengajariku matematika. Dengan sangat telaten dan semangat dia mengajari pelajaran yang aku paling benci di sekolah. Biasanya kami belajar di meja makan, Biasanya kami duduk bersebelahan. Biasanya orang tua Bowo tidak mencurigai apapun yang kami lakukan. Biasanya mereka tidak tahu apa yang tanganku lakukan di bawah meja makan yang tertutup taplak meja besar.
Belajar bersama yang dilihat orang tua Bowo waktu itu, yang sesungguhnya terjadi yang tidak pernah dilihat mereka adalah pelajaran bagaimana Bowo mengajariku menyelusupkan tangan kiriku ke dalam celana bolanya.
Tangan kananku menulis menyelesaikan latihan matematika, sedangkan tangan kiriku sibuk dan asik melakukan hal lain untuk Bowo. Aku makin berani untuk berbuat lebih. Bowo makin membiarkan aku berkreasi sampai dirinya benar-benar mendapatkan apa yang diharapkannya. Ejakulasi!
”Kamu pernah merasakan ini, Kris?” Bowo bertanya berbisik-bisik, setelah tubuhnya menjadi rileks kembali. Aku menggeleng. Belum sempat aku menjawab, tangannya sudah mendarat di celanaku.
Aku hanya tertegun, tapi tidak berontak. Entahlah, semua mengalir begitu saja. Kubiarkan Bowo memperlakukanku dengan hal yang barusan aku lakukan terhadapnya. Kami terus dengan sembunyi-sembunyi beraktivitas. Momen sore itu ternyata terus berlanjut pada kesempatan berikutnya…
”Ada apa Kris? Dari tadi melamun?” Pak Martin menepuk pundakku. Aku tergeragap dan tidak menyadari kalau mobil sudah berhenti sedari tadi. Aku sembunyikan rasa maluku di depan Pak Martin.
“Kita makan dulu” ajak Pak Martin. ”Rumah makan ini terkenal makanan enaknya, kamu suka Kris?” lanjutnya sambil membuka seat belt nya.
“Ya, aku suka, lets’ eat” aku mencoba mencairkan suasana ketertegunanku.
“Lapar nih?”
“Begitulah”
Kami berdua masuk ke restauran. Lalu disambut oleh penjaga pintu, dan kami pilih duduk di dekat jendela yang berpemandangan pegunungan yang berkabut. Kulitku masih merasakan udara dingin dari pengaruh kabut.
Kami memesan makanan sesuai dengan selera kami. Setelah itu, aku berinisiatif ke restroom. Kantong kemihku sudah cukup penuh untuk dikeluarkan biar perutku tidak terdesak sakit olehnya.
”Kris wait…” Tak berapa lama Pak Martin mengikutiku dari belakang. Beliau juga punya hasrat yang sama, apalagi sudah tiga jam nonstop menyetir. Kami berbarengan menuju ke restroom.
Restauran ini berdisign minimalis. Semua perabotan ditata rapi. Warna ruangan bernuansa tradisional yang didominansi warna cerah dan warna tanah. Aku yakin, pengunjung akan dibuat nyaman untuk makan di sini.
Siang ini restauran sedang sepi pengunjung. Aku jadi sedikit santai menikmati suasananya. Rasa penatku sedikit terkurangi. Ternyata area restroom lebih sepi lagi. Restroom yang indah dan nyaman.
Di luar perkiraanku, dari belakang Pak Martin meremas kedua pantatku dengan kedua telapak tangannya. Aku tergelinjang kaget, namun aku merasa jadi lebih releks, maka aku biarkan saja. Ternyata Pak Martin makin nakal. Kami menuju toilet tertutup dan melanjutkan kebersamaan yang penuh sensasi seperti biasanya.
”Sst.. kita sudah terlalu lama di restroom..ouch, seperempat jam…” aku terlonjak sendiri.
”Kamu duluan keluar Kris..hehee..” Pak Martin tersenyum lucu, menahan malu.
”Oke..” aku cepat-cepat membereskan pakaianku. Lalu kubuka pintu toilet itu. Seperti maling, aku longokkan kepalaku dulu, lalu celingukan mengamati keadaan restroom. Setelah dirasa aman, aku keluar menuju washtafel, cuci tangan dengan sabun, kumur-kumur dan cuci muka. Setelah kurasa bersih dan segar, aku keluar dari restroom menuju ke meja makan.
Aku kagok sebentar, karena sudah ditunggu oleh waiter dengan meja yang sudah penuh dengan makanan pesanan kami. Waiter itu tersenyum, namun aku merasa sedikit malu. Mudah-mudah itu hanya perasaanku saja. Mudah-mudahan waiter itu tersenyum karena untuk tampil ramah, bukan karena curiga karena terlalu lamanya aku di restroom.
Aku duduk dan sedikit berbasa basi: ”Wah, udah siap nech..”
”Silakan Pak…”
”Oke, thanks… mmm, asik juga ya pemandangan di belakang sana…” aku berpura-pura tahu pemandangan sekitar, biar tampak netral.
”Teman Bapak belum datang?”
”Tadi sempet keluar sebentar, mau ngerokok kali.. entar juga datang Mbak, gak usah dipikirin, haha, kebetulan dong, saya bisa duluin dia makan… hai itu dia, sialan sudah datang dia.. hehe..” aku mencoba membangun image waiter di depanku.
”Wah sudah siap nech Kris, kita santap langsung aja…” Pak Martin memang jago berakting. Semua terlihat biasa saja. Seperti tidak terjadi apa-apa barusan.
”Selamat makan Pak…” waiter itu menyilakan kami makan, lalu pergi.
”Terima kasih..” aku membalas.
Kamipun makan dengan lahap. Perut kami makin keroncongan saja apalagi setelah pergulatan di kamar toilet tadi, tentu tubuh kami butuh asupan energi dari makanan.
”Hahaha….” kami tertawa terbahak-bahak berbarengan setelah di mobil.
”Gila…aku benar-benar kalap tadi…” Pak Martin berterus terang.
”Kalap makan apa kalap di toilet?” aku berseloroh menegaskan
”Yang di toilet dong…” Pak Martin seperti masih merasakan kejadian itu.
”Hmm…” aku menggumam
”Kenapa Kris?” Pak Martin mengernyitkan alisnya,lanjutnya: ” Kamu gak suka?”
”Suka, tapi kita butuh mandi…” aku berseloroh
”Okay, we are looking for a shelter..” Pak Martin tahu maksudku.
Jalan tol ke arah kotaku banyak shelter yang menarik dan menyediakan tempat mandi yang bersih. Kami mampir di salah satunya. Hati kami menjadi bungah kembali karena lagi-lagi tempat mandi yang kami tuju dalam kondisi sepi. Tanpa dikomando, kami berinisiatif sama, untuk mandi bersama. Tentunya dengan bumbu tambahan bersensasi bersama.
“Journey yang mengasikkan..” bisik Pak Martin di telingaku.
”Yeah..” aku merasa lebih segar di bawah pancuran air dari shower.
“I love you Kris…” Pak Martin mendesis, lekat di telingaku
Kami terdiam sebentar, setelah tersadar, kami cepat-cepat bilas. Membersihkan diri sebentar, setelah itu bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan.
Kampungku tinggal satu jam lagi dari kota berkabut ini. Aku makin merasa tidak tenang. Pak Martin membiarkanku hanyut oleh pikiranku. Beliau hanya konsentrasi menyetir, sambil sesekali bertanya ke arah mana mobil harus digerakkan. Supirku yang baik, aku bercanda dalam hati untuk diri sendiri.
”Saya cemas..” tak kuat aku pendam perasaanku sendirian
“Kamu harus tetap tenang, Kris..”
”Oke, I’ll try, thanks…” akupun mencoba menenangkan diri.
Satu jam ternyata sangat cepat berlalu bagiku saat ini. Tahu-tahu mobil sudah berhenti di halaman rumah keluargaku. Pak Martin sudah selesai mematikan mesin mobilnya. Namun aku masih tetap lekat duduk di jok depan. Harus apa aku ini? Bukankah ini rumahku juga? Kenapa tiba-tiba aku malah jadi enggan ke sana? Perlahan aku kuatkan diri. Aku harus hadapi, apapun yang nantinya akan terjadi, pikirku menimpali, memberiku semangat.
Sekian tahun aku tinggalkan rumah ini, ternyata sudah banyak berubah. Bangunan yang dulu sederhana, sekarang tampak tertata. Rumah Bapak sudah direnovasi menjadi rumah yang menarik dengan dominan warna krem bernuansa modern.
Sedikit ragu aku menuju teras rumah. Pak Martin mengikutiku dari belakang sambil membawa barang bawaannya. Kuketuk pintu tiga kali. Tidak lama Mbak Novi membukanya. Dengan sumringah dia menyambutku. Dari raut wajahnya, dia menunjukkan kangen yang teramat dalam. Aku jadi ngilu tiba-tiba.
Kupeluk Mbak Novi. Aku menjadi sedikit bersalah telah sekian lama memisahkan diri dari mereka, dari keluargaku, hanya karena ketidaknyamanan hati untuk tinggal di rumah ini. Dulu saya punya keinginan untuk menghindari situasi rumah ini. Terutama dengan tabiat bapakku.
”Gimana kabarmu? Sekarang tambah cakep aja, tambah bersih lho Kris” Mbak Novi seperti tidak pecaya dengan penampilanku yang terawat ini.
”Masa sih? Gak pernah kena sinar matahari sih di kota. Kerja pagi pulang sore. Gak pernah ketemu matahari…” aku menjelaskan
”Gimana kerjaanmu? Sukses ya?”
”Begitulah, berkat doa keluarga” aku berfilosofi sedikit
”Mbak tahu kalau kamu pekerja keras, jadi wajar kamu dapatkan apa yang menjadi impianmu untuk sukses…”
”Mbak kenalkan, ini Pak Martin, managerku. Aku asisten beliau. Karena orang marketing, beliau mau meninjau daerah sini, sapa tahu ada chance untuk mengembangkan jajahannya…haha..” aku perkenalkan Pak Martin ke Mbak Novi sewajar mungkin.
”Martin..” Pak Martin memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Mbak Novi.
”Novi, silakan masuk, ayo, semua ada di dalam, sudah menunggu kamu Kris… ayo Pak Martin, jangan sungkan lho ya…” Mbak Novi seperti biasanya, meriah.
”Terima kasih” Pak Martin menjawab sopan.
Kami menuju ke dalam rumah, tepatnya ruang keluarga. Di sana seluruh anggota keluarga sudah menunggu. Ada Mas Adam, suaminya Mbak Novi yang sedang menggendong anaknya, ada Mas Topan dan Mbak Helga, ada Ibu yang terlihat sudah banyak beruban, ada kakek dan nenek yang duduk berdampingan di dipan kayu asem yang dulu dibuat kakek, dan ada bapak yang sekarang duduk di kursi roda!.
Ah, apa yang terjadi dengan bapak?! Aku terpekik dalam hati, kelu.
”Oh Kris…” seperti paduan suara mereka menyambutku dengan berbarengan menyebut namaku. Lalu aku berpelukan dengan semua yang menyambutku. Kupeluk satu-satu dengan haru. Mereka teramat kangen denganku, bisiklu lirih tercekat dalam hati. Untuk sementara Pak Martin tidak aku hiraukan. Mudah-mudahan beliau mengerti. Kulihat sepintas, dengan tenang beliau duduk di sofa di sudut ruangan ini.
Kupeluk bapakku erat namun pelan. Apa yang terjadi dengan bapakku? Beliau sudah teronggok tak berdaya di atas kursi roda. Beliau tidak bersuara sepatahpun menyambutku, namun aku rasakan dari degup dan air mata yang menetes dari matanya, beliau ingin bercerita banyak tentang rumah ini.
”Maafkan Kris, lama tidak pulang…” aku terisak tanpa sadar.
”Tidak apa” bapak menjawab lancar
”Ini Pak Martin, atasanku, aku asistennya beliau, sorang pakar marketing di kantorku. Beliau ingin meninjau daerah ini, siapa tahu ada peluang, survey kecil-kecilan, dan biar mengirit biaya, aku sarankan menumpang beberapa hari di rumah…” penjelasanku tidak ada yang ganjil. Pak Martin pun bersikap sama.
”Maaf kalau saya merepotkan. Pak Kris terus memaksa saya untuk tinggal bersama di rumah ini, kalau keluarga tidak keberatan…”
”Silakan Pak Martin.., kami sangat senang” serentak orang yang ada menjawab. Aku menambahkan: ” Maaf ya Pak Martin, tempatnya sederhana, dan saya tidak formal berbicara…”
”Tidak apa-apa Pak Kris, saya senang bisa berkenalan dengan keluarga Pak Kris” Pak Martin berbicara dengan wibawa.
”Pak Martin mau istirahat dulu? Silakan ke kamar depan saja Pak, itu dulu kamar Kris, sekarang kosong, sudah saya bereskan tadi pagi…silakan Pak..” Mbak Novi sigap bertindak.
”Terima kasih” Pak Martin mengikuti langkah Mbak Novi sambil menjinjing tas bawaannya.
Aku duduk di sebelah kursi roda bapakku. Kuperhatikan dengan seksama keadaan fisik bapak. Sekian tahun ini ternyata sudah banyak perubahan. Bapak seperti tidak berdaya tanpa kursi rodanya. Bapak sudah teramat susut berat badannya. Bapakku sudah tidak lagi punya energi untuk berjalan. Bapak seperti hanya pasrah di atas kursi rodanya. Aku menjadi trenyuh melihat kondisi ini.
”Bapak terkena strok ringan enam bulan lalu…kakinya lumpuh” Mbak Helga berbisik menjelaskan. Sepertinya kakakku yang satu ini tahu apa yang aku pikirkan.
”Oh..” aku menelan ludah kelu
”Darah tinggi bapak naik drastis, karena masalah yang dihadapi di kantor” Mbak Helga terus menjelaskan.
”Bapak masih aktif kerja? Bukannya harusnya sudah pensiun?”
”Bapak tidak mau pensiun Kris..” Bapak menyela. Suaranya masih lantang, suaranya masih garang dan suaranya masih menunjukkan keras kepalanya.
”Hmm” aku setengah mengeluh. Watak bapak belum berubah, gumamku dalam hati
”Bapak masih kuat bekerja, kenapa harus pensiun?” bapak membela diri
”Usia bapak sudah saatnya pensiun kan?” aku mencoba meluruskan pikiran bapak
”Bapak masih kuat bekerja” bapak tidak mau mengalah
”Kan masih bisa beraktivitas di rumah?” akupun terpancing untuk meladeni. Aku tidak mau lagi seperi dulu, hanya diam dan menuruti apa kata bapakku. Aku merasa sudah saatnya aku punya pendapat sendiri. Terserah bapak mau terima atau tidak.
”Kris, sejak kapan kamu berani menggurui Bapak? Merasa sudah berhasil?” bapakku memojokkan dengan kalimat sinis. Selalu begitu, tak ada yang berubah.
”Saya tidak bermaksud begitu” aku menunduk
”Sudahlah Pak, maksud Kris kan baik, memberikan pendapat” Mbak Novi menimpali. Ternayata dia mendengar percakapan kami sedari tadi.
”Pendapat macam apa itu?!” bapak terlihat keki.
”Saya pikir masuk akal, usia Bapak sudah usia pensiun, sewajarnyalah pihak kantor memberhentikan bapak untuk bekerja, karena hak bapak bekerja sudah selesai, lebih baik bapak beraktivatas atau sebut aja bekerja di rumah, berusaha di rumah, tidak perlu di kantor…” aku akhirnya ngedumel
”Kamu sudah banyak berubah, Kris” bapakku setengah membentak. Ternyata bapak benar-benar belum berubah tabiatnya, aku memastikan dalam hati.
”Saya tidak berubah, saya hanya berpendapat..” aku ternyata bisa keras kepala
”Pendapat apa itu?!” kembali bapakku mengulangi ucapannya.
”Sudahlah Kris, tidak usah dilanjutkan, kita ngobrol yang lain saja…” Mbak Helga menengahi. Bapakku masih cemberut tidak suka, cuma bapak tidak berdaya di kursi rodanya.
”Berapa lama kamu akan di rumah?” tanya Mbak Novi
”Sampai Minggu, hari Senin saya harus balik ke kota, memang kenapa Mbak?” aku tidak tahu maksud pertanyaan Mbak Novi, makanya aku balik bertanya.
”Bapak selalu bertanya tentang kamu..” Mbak Helga menimpali
”Kenapa memang?” aku mengernyitkan alis
”Bapak selalu tanya, kapan kamu berkeluarga..” Mba Novi menegaskan
”Tiap hari bapakmu tanya terus, sampai ibu bosan..” Ibuku turut memberikan komentar. Sedari tadi Ibu cuma diam memperhatikan percakapan kami. Ibuku pendiam, tidak banyak bicara, lebih baik menarik diri dari percakapan jika dirasa akhirnya berujung pertengkaran, dengan bapak ibuku selalu mengalah, ibuku bukan tipe orang yang suka ribut.
”Umurnya sudah tua, sudah punya pekerjaan bagus, sudah kaya, sudah mampu untuk berkeluarga, wajar kalau bapak tanya…” bapakku masih mengikuti pembicaraan kami.
”Saya belum terpikir untuk berkeluarga…” aku menandaskan, namun berujung dengan kemarahan bapak. Bapak meledak-ledak mengagetkanku.
”Kamu kurang ajar Kris! Tidak tahu perasaan orang tua selama ini. Banyak yang bertanya sama bapak soal itu, bapak malu!..” nafas bapak sedikit tersumbat.
”Gimana lagi, saya kan memang belum siap berkeluarga” aku makin tidak suka
”Sudah Kris..” Mbak Helga menahan tanganku, bermaksud untuk mencegahku berkata lebih banyak lagi.
”Kamu benar-benar kurang ajar..” bapak terus menuduhku
”Saya selalu hormat sama Bapak, sama seluruh keluarga, tidak mungkin saya kurang ajar, saya hanya belum siap berkeluarga” aku mencoba menjelaskan kata hatiku
”Kamu sudah tua, sudah saatnya berkeluarga, atau kamu tidak normal?” bapakku sudah keterlaluan.
”Sudahlah pak, biar saja Kris berpendapat” kali ini Mbak Helga yang mencoba menenangkan bapak yang sudah melantur tidak karuan. Buru-buru Mbak Novi menggerakkan kursi roda bapak menuju ke kamar bapak. Ibu mengikutinya dari belakang.
”Bapak tidak sejalan dengan pendapatnya” bapakku seperti anak kecil, keras kepala dan tidak pernah mau mengerti perasaan orang.
Bapak tadi bertanya normalkah aku? Asal tahu saja, aku terlahir sudah tidak normal! Geramku dalam hati. Mau terus terang? Ah, aku belum atau bahkan tidak punya nyali. Aku masih bisa menghargai perasaan keluargaku. Aku tidak mungkin bisa menyakiti perasaan mereka. Aku terdiam.
”Kris, kamu istirahat saja dulu, mungkin Pak Martin perlu teman..” Mbak Helga mengingatkanku.
”Aku mau tidur di sofa saja”
”Pak Martin bagaimana?” Mbak Helga terus mendesakku
”Bisa tidur sendiri kan? Saya jengah Mbak dengan atasanku, harus berbicara formal, apalagi Pak Martin itu orangnya sangat smart, saya minder lah..” aku mencoba beralasan pura-pura.
”Kasihan Pak Martin, kan cuma kamu yang kenal dia.. Temenin dia…” Mbak Helga memaksa. Lagi-lagi aku pura-pura malas.
”Ya udah deh..” aku ngeloyor ke kamarku, masih pura-pura malas.
Kuketuk pintu kamarku sambil berucap: ”Pak Martin, permisi, bisa saya masuk?”
”Silakan Pak Kris, tidak dikunci..” suara Pak Martin seperti di kantor saja.
Kubuka pintu kamarku. Semua sudah berubah. Dinding kamar sudah berganti warna cerah. Tidak seperti dulu, kusam. Pak Martin sedang berbaring santai di ranjang, sambil cekikikan tertahan biar tidak bersuara. Sepertinya beliau kegelian sendiri. Buru-buru kututup kembali pintu kamarku, dan menguncinya perlahan.
Kuhampiri Pak Martin yang berbaring polos. Perselisihan pendapat dengan bapakku tadi seakan lenyap begitu saja setelah melihat pemandangan di depanku. Aku mencoba berpenampilan yang sama dengan Pak Martin.. Lalu mengambil inisiatif. Pak Martin membalasnya. Setelah itu berlanjut dengan kegiatan tradisi kebersamaan kami. Hubungan ganjil dan terlarang ini berlangsung mengalir tanpa ikatan formal dan tidak akan pernah diakui oleh semua lapisan masyarakat.
Tak terasa akhirnya kami tertidur. Aku terperanjat, saat ada ketukan di pintu kamarku. Dengan masih menggeliat malas, aku jawab ketukan itu dengan teriakan ”ya”. Buru-buru aku membangunkan Pak Martin, dan membisikinya untuk cepat berpakaian. Akupun berpakaian dengan gerak cepat. Pak Martin mengikutinya.
”Ada apa Mbak?” aku masih menguap sambil bertanya kepada Mbak Helga yang mengetuk pintu.
”Sudah jam tujuh malam lho…” Mbak Helga mengingatkan
”Ha?” aku pura-pura kaget.
”Mandi dulu saja, sudah ditunggu makan malam tuh..”
”Oke” aku masuk kamar kembali.
Kulihat Pak Martin sudah siap dengan peralatan mandinya. Di lehernya sudah diselempangkan handuk halusnya.
”Kris..mandi bareng yuk..” ajaknya manja.
”Cari penyakit..” aku menatapnya dengan mendelikkan mata.
”Haha..” Pak Martin cekikikan pelan.
”Kamar mandi ada di belakang ya, sangat berbeda dengan apartemen Bapak, jadi gak ada komplain…” aku menjelaskan sambil terus menatapnya.
”Oke, aku mandi dulu ya..” sambil meremas burungku sebentar, Pak Martin izin untuk mandi.
”Ssttt…Saya antar..” bisikku
Kami keluar kamar sudah dengan penampilan ”baru” dan formal. Aku bersikap seperti di kantor layaknya. Pak Martin adalah lawan aktingku yang paling hebat. Semuanya jadi tampak wajar.
Saat makan malam, Pak Martin menjadi pusat perhatian. Mas Topan bertanya paling seru tentang bisnis, terutama marketing. Aku biarkan mereka terlibat dalam pembicaraan serius. Aku bergabung dengan pembicaraan Ibu dan Mbak Helga. Mas Adam dan Mbak Novi sudah pulang. Besok mereka akan datang lagi.
Bapak tidak ikut makan malam. Bapak harus mengikuti diet ketat. Kakek dan nenek sudah di kamar tidur. Mereka sudah sepuh, sehingga tidaklah mungkin akan bergabung dengan kami berlama-lama.
”Kris, Ibu sangat berterima kasih sama kamu..” suara Ibu masih lembut seperti dulu.
”Untuk apa?” aku masih asik dengan sup kacang merahku
”Karena kamu sudah sangat membantu keluarga” Ibu menjelaskan.
”Itu lho Kris, setiap bulan kan kamu kirimi bapak uang, itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup orang di rumah…” Mbak Helga berusaha mempertegas
”Sudah niatan saya kok..” aku jujur
”Iya, tapi Ibu harus berterima kasih dong, Ibu ikut bahagia kalau kamu berhasil di kota..” Ibuku tidak pernah akan pura-pura.
”Mohon doa restunya aja ya bu..”
”Kelebihan uangnya selalu Bapak simpan…” Ibu sepertinya masih antusias membahas seputar kiriman uangku tiap bulan.
”Kris, terima kasih juga lho kiriman uangnya enam bulan yang lalu untuk biaya berobat bapak” Mbak Helga menimpali
”Hmm” aku cuma tersenyum, namun dalam hatiku sebenarnya bertanya-tanya tentang kiriman uang enam bulan yang lalu itu. Bapak menerima transferan uang untuk biaya berobat bapak? Seingatku, aku tidak mentransfer uang dengan jumlah sebesar itu enam bulan lalu. Apakah Pak Martin yang melakukannya? Tak tahulah!
”Waktu itu, Mbak sudah kebayang berapa biaya yang diperlukan Bapak”
”Ibu juga sudah khawatir tentang biaya itu…”
“Sukur kamu mengirimi uang yang cukup, bahkan berlebih, akhirnya sisanya kami buat untuk merenovasi rumah..” Mbak Helga makin bersemangat berpendapat
Lagi-lagi aku hanya terdiam. Aku sendiri masih dalam kebingungan tentang hal itu. Pak Martinkah yang melakukan? Bisa jadi.
”Uang tabungan saya…” aku memandangi mereka dengan sayang
”Oh ya?” Mbak Helga terbelalak
”Biar lebih bermanfaat..” selorohku
”Terima kasih lho Kris” Ibu sungguh terharu
”Kris, kamu sudah punya pacar atau calon istri?” Mbak Helga bertanya sangat to the point. Aku menghentikan diri untuk melahap ayam panggang buatan Ibu.
”Kenapa memang?” aku berusaha untuk santai. Mudah-mudahan Pak Martin yang masih asik berbincang dengan Mas Topan tidak mendengar percakapan kami kali ini.
”Bapak sudah tanyain terus” Ibu menimpali
”O gitu, kan sudah aku katakan, aku belum siap…”
”Tidak bisa begitu toh Kris, usiamu sudah matang untuk berkeluarga” Mbak Helga seperti mengingatkan. Mulutnya masih mengunyah kacang merah.
”Tapi gimana dong Mbak?”
”Gimana apanya? Kamu belum punya pacar ya?”
Aku terdiam tidak bisa mengelak. Kenyataannya memang seperti itu. Tidak ada pacar atau teman dekat wanitaku. Adanya juga Pak Martin. Hmm, ironis dan akan sangat ganjil kedengarannya oleh telinga keluargaku. Tidak mungkin aku akan blak-blakan cerita toh? Itu namanya bunuh diri.
”Kris, bapak sudah punya calon untukmu..” Mbak Helga tidak berbasa basi. Aku hampir tersedak dibuatnya.
”Sampai segitunya…” aku tidak suka mendengar informasi itu
”Tahu sendiri kan Bapak…” Mbak Helga malah memaklumi
”Saya sudah dewasa, sudah berhak menentukan hidup sendiri” aku berdalih
”Tidak semudah itu lho Kris..”
”Tapi..”
”Makanya, kalau kamu sudah punya calon istri, katakan saja kepada Bapak, biar bapak tidak memaksamu nantinya..”
”Memaksa?”
”Tabiat Bapak dari dulu kan? Masa kamu lupa?”
”Sudah sudah..” Ibuku menetralkan kami
”Kamu kenal Gadis, anaknya Pak Gondo?” Mbak Helga masih berkutat seputar permasalahan jombloku.
”Ya, teman es de saya dulu..”
“Itu calonmu… bapak sangat terikat pertemanan dengan Pak Gondo, dan bapak cocok dengan Gadis, dia itu baik, cantik, menurut sama orang tua, pokoknya di mata bapak, Gadis ádalah perempuan yang sempurna untukmu..”
Aku makin tercekat. Aku makin tak bisa menelan. Akhirnya aku tidak melanjutkan menyantap sisa ayam pangganggku. Keresahanku makin membuncah, sampai-sampai terbawa terus semalaman. Aku tidak dapat tidur. Rasanya susah untuk memejamkan kedua kelopak mataku barang sedetikpun.
”Kenapa Kris..” Pak Martin melihat gelagat resahku. Lalu dia mengambil posisi duduk di sebelahku.
”Kamu tidak bisa tidur?” Pak Martin terus memperhatikanku. Aku hanya diam. Tapi hatiku teramat bergemuruh. Berjuta perasaan berkecamuk dalam nuraniku. Kesal, resah, marah, tak berdaya, kecewa, menyalahkan diri, benci pada keadaan dan perasaan tidak menyenangkan lainnya terus merubungi otakku.
”Inikah hidup?” aku terisak lirih. Pak Martin cepat berinisiatif memelukku.
”Kenapa?”
”Saya benci dengan hidup saya”
”Kamu kecapean Kris..”
”Mungkin, itu karena hidup saya yang begini…”
”Kita sudah sama-sama tahu kan Kris?”
”Ya, saya merasa bahagia hidup dengan Pak Martín …”
“Lantas?”
“Saya tidak mungkin hidup seperti laki-laki lain…”
”Kamu bisa memilih sesuai keinginan hidupmu, Kris”
”Tidak, saya tidak berhak memilih, karena yang saya pilih adalah sesuatu yang bertentangan dengan aturan normal keluaraga dan masarakat…”
”Seharusnya mereka juga bisa mengerti hidup kita”
”Mana mungkin? Kita yang dianggap menyimpang, jadi harusnya kita yang memperbaiki diri sesuai aturan mereka..”
”Tidak adil”
”Itulah kenyataannya..”
”Kita bisa memilih untuk tidak mematuhinya..”
”Saya tidak mampu…karena saya tidak mungkin bertentangan dengan keluarga. Itu berarti akan mempertaruhkan nama baik keluarga… saya pusing”
”Ya, kamu sendiri bagaimana keputusannya?”
”Saya pusing..” aku menunduk, sambil menutup wajahku dengan dua telapak tanganku. Sangat sulit bagiku saat ini untuk berkata ya atau tidak, memilih kata hatiku atau tidak, menyatakan hal yang sebenarnya atau tidak, mempertaruhkan diri atau tidak, menuruti kata hatiku atau tidak…
”I really understand…” Pak Martin berkata dengan suara berat tercekat, mengerti kondisi sulit yang sedang menghimpitku.
”Maafin saya ya Pak..” aku tidak menyadari perkataanku
”Mudah-mudahan ada jalan keluar Kris..” Pak Martin sungguh-sungguh berharap
Haruskah aku mengikuti aturan dan kehendak keluargaku? Haruskan aku berkeluarga hanya untuk tujuan tidak mencemarkan nama baik keluarga? Haruskah hanya menikahi Gadis pilihan bapakku? Haruskah aku ikuti konflik batin seperti Siti Nurbaya? Haruskah aku mengesampingkan jati diriku? Haruskah aku membohongi diri sendiri? Haruskah…
Aku benar-benar dalam kepanikan dan keresahan tiada tara.
Masalahnya sepele kan? Sisi hatiku yang lain menimpali. Menikah. Itu kan? Kamu sudah dewasa, kamu sudah mapan penghasilannya, kamu sudah mampu menghidupi anak orang, kamu sudah siap secara biologis, kamu sudah layak berkeluarga, kamu sudah pantas menyandang gelar suami, kamu sudah semestinya berkeluarga…
Aku sudah semestinya berkeluarga? Itukah norma yang ada? Itukah tataran sosial yang harus aku lewati? Jika aku tidak melewatinya, apakah aku termasuk orang yang durhaka pada aturan? Durhaka pada keluarga? Orang tua? Masyarakat? Dunia?
Aku terpuruk dalam-dalam. Karena aku sendiri tidak akan terpikir untuk beristri. Aku beranggapan kuat jika aku tidak mungkin akan hidup bersama wanita. Terpikat pada wanita saja, itu hal yang sulit. Apalagi untuk mencintai? Lalu hidup bersama satu atap? Lalu berlaku untuk bertanggung jawab membahagiakan istri? Katakan mungkin aku bisa memberikan kebahagiaan lahiriah. Lantas kebahagiaan batin istri? Batinku takkan bisa sepenuhnya dapat melakukannya.
Apakah berarti aku harus berbohong? Membohongi diri, membohongi bapak, membohongi Pak Martin, membohongi Ibu? Membohongi istri? Membohongi anak, jika nantinya aku punya anak? Oh, rasanya seperti mau pecah otak dalam tempurung kepalaku.
Tidak ada solusi. Atau aku akan jadi gila?
Pagi-pagi harus bangun. Mataku baru seperempat terbuka. Mulutku tidak usai menguap sedari tadi. Tubuhku benar-benar lemah, namun aku paksakan untuk bangun pagi, dan mengikuti ritme kegiatan orang-orang di rumah. Aku belum menyadari mengapa orang serumah sepagi ini sudah sesibuk ini.
”Ayo Pak Kris…semangat” Pak Martin ikutan sibuk memindahkan kursi ke teras depan. Mas Adam ikut membantunya. Aku masih malas-malasan di sofa ruang keluarga.
”Bangun dong Kris..” Mbak Helga juga sibuk beres-beres curtain.
”Ada apa sih? Pada sibuk bener…”
”Ohoo, ini hari istimewamu, Kris..”
”Saya gak lagi ulang tahun..”
”Bukan itu…” Mbak Helga membuatku jadi penasaran.
”Lantas? Untuk kepulanganku?”
”Mungkin, yang jelas jam sepuluh nanti, Pak Gondo sekeluarga akan datang..” Mbak Helga gamblang menjelaskan. Belum selesai kantukku habis, aku terlonjak seperti tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Secara refleks aku sudah menebak ke arah mana nantinya pertemuan dua keluarga ini. Tepatnya pertemuan bapakku dan Pak Gondo yang secara sepihak melibatkan seluruh anggota keluarga. Rasanya ingin lari!
”Kamu akan diperkenalkan sama Gadis..”
”Oh ya?” aku coba senetral mungkin
“Kamu gak suka?”
“Apa harus serepot ini?”
”Menghormati keluarganya lah…” Mbak Helga masih sibuk memasang curtain ruang tamu.
”Menghormati keinginan bapak kali..” aku nyinyir
”Hush, ambil positifnya dong..”
”Apa?” tantangku
”Kamu jadi gak repot cari calon istri…” Mbak Helga cekikikan.
“Gombal” aku menggerundel dalam hati. Pikiranku makin terpojok pada dinding yang berduri besi yang runcing dan tajam. Sepertinya kepalaku benar-benar mau pecah.
Pertemuan antara dua kepala keluarga. Pertemuan antara dua anggota keluarga. Pertemuan antara dua kebudayaan. Yang berakhir dengan pertemuan dua insan manusia. Aku dan Gadis. Aku lewati acara ramah tamah itu dengan perasaan yang masih kusut.
Bapakku sangat dekat dengan Pak Gondo. Bapakku terlihat semangat bercerita tentang keberhasilanku merantau. Bapakku terlalu bergembiranya mempromosikanku. Tepatnya bapakku tengah menjajakanku ke kepala keluarga yang bernama Pak Gondo!
Setali tiga uang. Ternyata Pak Gondo berlaku hal yang sama. Saat percakapan itu, semua orang yang hadir seperti harus patuh mendengarkan. Mereka layaknya dua orang raja yang sedang bertitah. Forum itu serasa hanya milik mereka berdua. Membosankan! Pekikku dalam hati, keki.
Kuperhatikan Gadis yang duduk di sébelah ibunya. Cantik. Aku yakin semua pria normal yang melihatnya pasti tertarik. Aku mengakui kecantikan dan penampilan lembut Gadis, yang dulu teman es de ku. Kini Gadis sudah sarjana dan bekerja membantu usaha pertanian bapaknya. Dia anak tunggal. Sepertinya dia tidak boleh jauh dari orang tuanya.
Hasil pertemuan pagi itu dibahas bapak sore harinya. Seperti raja, bapak menjelaskan semuanya. Di ruang keluarga, meski bapak tak berdaya di atas kursi rodanya, adalah penguasa keluargaku. Tabiat dan keras kepalanya raja rumah ini belumlah secuilpun berubah. Semua orang harus tunduk dan patuh pada aturan dan kehendaknya.
”Kris, kamu sudah harus siap untuk berkeluarga. Bapak sudah bicarakan kepada Pak Gondo tentang kamu dan Gadis” suara bapak masih datar tapi terdengar di telingaku penuh tekanan intimidasi.
”Harus secepat ini?” aku sudah tidak tahan untuk bicara
”Lantas kapan? Kamu sudah hampir tiga puluh tahun. Sudah layak untuk menikah. Teman-temanmu saja sudah pada punya anak…”
”Mereka memilih untuk itu..” aku mencoba berkilah. Namun hal itu membuat darah tinggi bapakku mendadak naik. Maka tak terkontrollah ucapannya. Suaranya sudah berubah menjadi menggelegar.
”Bapak sudah bicarakan semuanya. Bapak sudah tentukan semuanya. Kamu tidak bisa membantah. Kamu harus menuruti bapak. Jangan bikin malu bapak dan keluarga. Semua orang menggunjingkanmu. Berarti semua orang menggunjingkan keluarga ini. Bapak tidak terima!…” bapak sampai tersengal-sengal menyelesaikan ucapannya. Semua orang yang hadir di ruang keluarga terdiam. Semua membeku.
”Kalau saya merasa belum siap bagaimana? Apa harus memaksakan diri?” aku masih memberanikan diri
”Apanya yang belum siap? Usiamu sudah tua! Kamu sudah berpenghasilan cukup, bahkan menurut bapak berlebih! Tidak ada alasan untuk tidak siap! Bapak tidak mau lagi dengar alasanmu lagi,. Bapak tidak mau dengar lagi gunjingan orang..”
”Kenapa harus peduli gunjingan orang..” aku sudah tidak sabar. Tiba-tiba tangan Mbak Helga yang duduk di sebelahku mencengkeram pundakku.
”Ssstt.. stop dulu..” bisiknya tegas
”Kamu kurang ajar Kris! Kalau kamu menolak, lebih baik kamu pergi saja! Tidak usah lagi kamu hiraukan bapak! Tidak usah lagi kamu pulang ke rumah ini..!” bapakku benar-benar kalap. Sambil marah, bapak memutar kursi rodanya menuju kamar tidur.
”Bapak sudah atur semuanya. Kamu harus menikah dengan Gadis!” suara bapak di depan pintu kamar tidur, terdengar lantang, menyeruak jelas di gendang telingaku.
Orang-orang dibuat terdiam. Kedua kakak iparku sudah larut dalam kebekuan. Mereka tidak mungkin akan memberikan pendapat apapun. Sepertinya mereka sudah teramat paham dengan tabiat bapak.
Inikah arti pentingnya keluarga? Tapi ini keluargaku.
***