Chapter 19: PILIHAN HIDUP
Dear, Kris
First of all, I would like to say many thanks for every good thing happen in between our sweet relationship. We have rebuilt our broken heart. We get many more understanding and the real love each other. I am happy to have you in my whole life, Kris.
I have to make a hard decision. You may not agree with that, but I think this is the best choices for us. I believe that it is the way which I could grab my future happiness. I really learned a lot from Gadis about how to make my life full of happiness. You are very lucky to marry her. Hope you could make her heart blooming always.
Do you remember Pak Burhan? He is my lawyer. He helped me to manage everything. Please meet him anytime.
With love,
Martin.
Surat singkat Pak Martin membuatku merenung panjang. Aku tidak tahu pasrti apa yang telah Pak Martin putuskan. Semua jawaban ada pada Pak Burhan, lelaki setengah baya dengan penampilan elegan, yang kutemui di ruang rawat di klinik Pak Josep.
Aku masih merenung. Aku tidak tahu harus bagaimana saat ini. Maka aku habiskan hari pertamaku kembali bekerja di kantorku yang dulu dengan tanpa pekerjaan, kecuali merenung yang tiada ujung jawaban.
Di hari pertama aku bekerja, Pak Martin tidak datang. Aku hubungi handponenya, selalu tidak aktif. Tidak ada kabar berita apapun dari beliau atau dari Pak Sulaiman.
Pak Burhan telah mengatur semuanya. Apa maksud semua itu? Tiba-tiba muncul kekhawatiranku. Akupun jadi teringat pertemuan terakhirku dengan Pak Martin di apartemennya dua hari yang lalu.
“Sorry ya Kris, aku belum bisa tinggal bersamamu dan Gadis..aku masih mengurus apartemenku…” waktu itu Pak Martin beralasan seperti itu. Aku memang terus mendesak beliau tentang keinginan beliau untuk kembali hidup bertiga. Tapi sampai Pak Martin keluar dari klinik, beliau memutuskan untuk tidak langsung bergabung.
Saat itu, aku hanya bisa berpikir maklum. Aku tidak punya pikiran lain selain aku harus menunggu sampai Pak Martin siap. Yang Pak Martin inginkan saat itu adalah beliau akan gabung di rumahku. Gadis menyambut antusias dan sudah menyiapkan semua yang terbaik untuk Pak Martin.
“Kris…kita memang harus punya pilihan hidup ya…” gumam Pak Martin. Percakapan sore hari di hari terakhir perawatan Pak Martin, masih aku ingat dengan jelas. Lagi-lagi aku anggap sebagai percakapan biasa.
“Ya, kita perlu memilih hidup kita, tepatnya kebahagiaan kita…” aku membenarkan kalimat Pak Martin.
“Kamu sudah memilih..kamu sudah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya kamu cari…” Pak Martin menatapku lekat-lekat. Riakan kabut tipis menggelayut di bening bola matanya.
“Aku hanya ingin semuanya bahagia…” aku merasa kalimat ini adalah untuk kebahagiaan aku, Pak Martin, Gadis dan calon anakku.
“Suatu saat aku juga harus berani memilih hidupku. Aku ingin berani menentukan kebahagiaanku yang sesungguhnya…” Pak Martin terrsenyum optimis. Sepertinya beliau telah menemukan alternative pilihan untuk kebahagiaan hidupnya.
Huff… aku menahan nafas dalam-dalam. Inikah a hard decision yang Pak Martin bilang? Pilihan hidup untuk kebehagiaan? Apa lagi ini? Aku seperti baru sadar dari pengaruh hipnotis. Kenapa aku tidak berpikir sejauh yang Pak Martin maksudkan? Kenapa aku tidak mengerti maksud perkataan beliau saat itu>
Surat ini? Oh! Pastilah sebuah penegasan dari pilihan hidupnya untuk menggapai kebahagiaannya yang sejati! Betapa bodohnya aku! Kenapa aku tidak menangkap tanda-tanda dibalik pernyataan beliau?
Ah! Jangan sampai terjadi!
Aku melesat ke kantor Gadis. Kujemput dia dan kami segera menuju ke kantor Pak Burhan. Sebelumnya aku sudah membuat appointment bertemu dengan beliau di sana.
“Pak Kris…ini beberapa berkas dari Pak Martin yang perlu Pak Kris baca..” Pak Burhan langsung pada pokok permasalahan teknis. Sementara aku dan gadis belumlah tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan Pak Martin.
“Saya belum mengerti Pak Burhan..maaf, bisa dijelaskan hal ini?”
“Oh, maaf..Pak Kris belum tahu?” Pak Burhan terheran-heran.
“Ya”
“Maaf..saya pikir Pak Martin sudah cerita sama Pak Kris..”
Aku menggeleng. Oh! Ada apa lagi?
“Begini Pak Kris. Pak Martin meminta bantuan saya untuk mengurus segala sesuatunya sehubungan dengan kepindahan beliau ke Negeri salju…”
“Apa?”
“Perusahaannya di kota ini membuka peluang pengembangannya di Negeri Salju. Pak Martin dianggap orang yang paling cocok untuk mengelolanya di sana…Pak Martin bilang, dia bisa tinggal di rumah neneknya di sana, sekalian mengurusnya..”
“Oh..” aku tercekat.
“Saya yang bertugas untuk mengurus semuanya. Dari mulai dokumen perjalanan, dokumen pekerjaan, penjualan apartemennya, penjualan aset yang dimilikinya, asuransi, dan banyak lagi..”
“Pak Martin mau menetap di sana?” aku terbata. Ada bagian dari bongkahan hatiku yang tiba-tiba nyeri dan sangat sunyi.
“Ya..Ini Pak Kris, Pak Martin memberikan sebagian asetnya kepada Pak Kris…”
“Hmm…” aku sudah tidak lagi niat mendengarkan kelanjutan keterangan dari Pak Burhan. Aku sudah dirubung rasa kehilangan yang teramat sangat. Aku sudah terpuruk lemas. Ternyata pilihan hidup Pak Martin adalah meninggalkanku.
“Pak, saya baca berkas-berkas ini dulu ya, nanti saya hubungi Bapak lagi…”
“Oke, tidak masalah..” Pak Burhan menyetujuinya.
“Kami permisi dulu Pak..”
“Silakan..”
Berkas dari Pak Martin berisikan banyak pemberian. Rumah di real estate mewah di kota ini, tabungan untuk biaya melahirkan Gadis, asuransi pendidikan untuk calon anakku, surat promosi untukku menjadi marketing manager yang sudah disetujui oleh Pak Sulaiman, tabungan untuk biaya liburan ke Negeri Salju, dengan alamat rumah neneknya…tak terhitung nilainya bagiku dan Gadis.
Aku tidak tahu, harus bersyukur, bahagia atau sedih saat ini. Semua sudah di depan mata, jadi tidak ada salahnya untuk diterima. Aku pun percaya, Pak Martin melakukan semuanya dengan tulus. Menurut Pak Burhan, semuanya akan diatur dengan baik sesuai dengan kesepakatan perjanjian beliau dengan Pak Martin. Aku tinggal hubungi Pak Burhan dan tanda tangan berkas apabila diperlukan.
“Excusme sir…” pramugari berseragam khas dari air lines berkelas membangunkanku. Dia menawarkan minuman kepadaku. Aku cuma membalas “No thanks..” sambil menggeleng pelan dan tersenyum. Sepotong perjalanan hidupku telah terurai dalam mimpi tidurku tadi.
Aku menggeliat di tempat duduk. Kuperhatikan Gadis masuh terlelap di balik selimut. Clara, si buah hatiku dan Gadis juga masih terlelap. Dia baru bisa belajar berjalan. Aku tersenyum bahagia. Perjalanan menuju Negeri Salju tidak berapa lagi. Tak berapa lama kami akan bertemu Pak Martin di bandara.
Ah, bagaimana kabar Pak Martin?
_____
Di suatu masa di negeri sering ada badai, 1997
*****