Chapter 18: PENGERTIAN
Setelah sekitar sepuluh hari Pak Martin mengikuti program terapi untuk menyeimbangkan emosi dan kejiwaannya, akhirnya Pak Josep puas dengan progres yang berarti.
Pak Martin menunjukkan itikad dan semangat untuk pulih. Berbagai program yang meliputi program memori, stress, anger management, kesabaran, sampai dengan program fisik dijalani Pak Martin dengan tujuan kuat untuk pulih.
Aku dan Gadis tak henti untuk memberikan support kepada beliau. Hampir setiap hari aku atau Gadis bergantian menjenguk beliau. Menurut Pak Josep, sejak permasalahan beliau yang menyangkut diriku dan Gadis terselesaikan, dan Pak Martin sudah bisa mengerti dan menerima kenyataan hidupnya, perkembangan kejiwaan Pak Martin ke arah membaik semakin pesat.
Aku dan Gadis sangat bahagia mendapatkan report dari Pak Josep. Kami semakin semangat untuk berusaha semaksimal mungkin membantu mengembalikan kestabilan emosi dan kejiwaan Pak Martin.
“Kris, thank a lot honey…” Pak Martin membuka percakapan suatu saat aku menjenguknya. Beliau menatapku nanar dan seperti menyimpan banyak hal yang ingin beliau ungkapkan.
“Your welcome, Pak..” aku balik menatapnya. Yang ditatap malah perlahan mengalihkan pandangan ke arah dinding putih.
“Kris…” Pak Martin menunduk
“Ya..” aku sabar menunggu kelanjutan ucapan Pak Martin.
“Aku kok bodoh banget ya…” masih dengan posisi tertunduk Pak Martin mencoba memulai mengunggap perasaannya.
“Kenapa?” aku berusaha mengimbangi situasi hatinya.
“Aku telah berbuat sesuatu yang sangat bodoh, merusak diri sendiri…”
“Siapapun yang frustasi berkemungkinan besar melakukan hal itu…”
“Ya, kenapa aku memilih untuk itu…”
“Saya menyesal, kenapa saya juga lakukan hal bodoh, keputusan saya sangat menyakiti kita berdua…” dengan hati-hati aku mengungkapkan penyesalanku.
“Kamu berhak memilih, Kris. Aku yang berlebihan…”
“Saya terbawa emosi…”
“Itu wajar. Maafkan aku waktu itu aku bersikap lebih tidak dewasa…”
“Ya, kita emosi…”
“Aku sangat takut kehilangan kamu…” aku mendengar lenguhan Pak Martin. Aku merasakan rasa takut yang dirasakan beliu menjalar jelas.
“Saya bingung saat itu, saya bahagia karena saya akan menjadi ayah. Tapi saya sedih karena perpecahan kita harus terjadi…”
“Ya, aku mengerti sekarang. Menjadi ayah bagimu adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidupmu. Aku yang tidak bisa mengerti kamu saat itu. Aku sangat emosional, kecewa, ketakutan dan kesepian. Aku terlalu mencintaimu Kris. Aku tidak siap ditinggalkam. Aku terlalu memaksakan diri menguasai hidupmu…”
“Saya bahagia hidup bersama Bapak..”
“Aku sadari kalau kamu pun punya hidup sendiri. Aku…” helaan nafas berat Pak Martin terdengar berat.
“Sudahlah Pak, itu sudah berlalu kan?” aku tenangkan Pak Martin dengan menepuk punggung telapak tangan beliau beberapa kali. Semoga beliau bisa lebih tenang.
“Ya. Aku bisa mengerti…”
“Bapak pasti akan mengerti…” aku menyemangatinya, “bahwa hidup itu pasti ada hikmahnya, bahwa hidup itu sebenarnya sangat indah apabila kita tahu harus bagaimana kita bersikap…”
“Ya, aku akan hargai hidupku, Kris..”
“Great, reach the sky…grab your dream..mimpi kita belum habis…”
“Yah, mudah-mudahan aku mampu , Kris…”
“Saya yakin..”
Seseorang mengetuk pintu. Pak Josep datang dengan seseorang berpakaian formal. Jas hitam, celana dan sepatu sewarna dengan jas, kemeja biru muda dan dasi coklat muda kombinasi dengan merah.
“Pak Kris, ini Pak Burhan, beliau kuasa hukum Pak Martin..” Pak Josep memperkenalkan kali-laki setengah baya tersbeut kepadaku. Ow, kuasa hukum Pak Martin? Aku belum pernah tahu tentang hal itu. Biarlah.
“Saya Kris..”
“Saya Burhan, silakan Pak..” aku mempersilakan Pak Burhan untuk langsung bertemu Pak Martin.
“Mungkin lebih baik saya di luar, Pak Martin. Saya permisi jalan-jalan seputar klinik dulu…” aku merasa tidak ada kepentingannya, kadi pikirku, lebih baik aku tidak perlu menguping. Siapa tahu juga mereka akan membicarakan hal yang sangat penting yang tidak bisa diketahui oleh lain.
“Ok, take care, Kris…”
“Ya” aku dan Pak Josep keluar bersamaan. Aku menuju taman di samping klinik. Ada kolam ikan koi cukup luas yang dirawat dengan baik. Beningnya air, indahnya warna sisik ikan koi yang kadang berkilap ditimpa cahaya, gerakan ikan yang tidak membosankan, membuat pikiranku semakin tenang.
Dalam diam aku bersyukur, karena Pak Martin telah mengerti keputusanku enam bulan yang lalu. Pak Martin mengerti posisiku dalam “cinta segitiga” yang ganjil ini. Pak Martin mengerti bahwa aku berhak untuk memilih dan punya hidup sendiri.
Memasuki gedung yang dulu aku pernah bekerja di sini, mengalihkan pikiranku tentang pertemuanku dengan Pak Martin di ruang rawatnya. Bergegas aku arahkan diriku menuju ruang Pak Sulaiman, bosnya Pak Martin.
Setelah enam bulan aku tidak bekerja di sini, aku merasa tidak banyak yang berubah di kantor tempatku dulu berkarir. Dibandingkan dengan kantorku yang sekarang, sangatlah tidak berimbang. Kantorku yang sekarang kecil dan baru merintis. Jumlah pegawainyapun masih bisa dihitung dengan jari. Aku masih bekerja dibidang marketing, dan aku sekarang menjabat sebagai manajer di kantor kecilku itu.
Koridor menuju ruang Pak Sulaiman masih tampak lengang. Biasanya kalau pagi hari, saat jam makan atau jam [ulang kantor, koridor ini bisa penuh oleh karyawan yang lalu lalang. Perusahaan ini tergolong besar.
Sampai di depan ruang Direktur, aku sempat merapikan pakaianku. Kuketuk beberapa kali, lalu aku buka. Dari balik meja kerja antiknya, beliau sudah tersenyum lebar menyambutku.
“Silakan Pak Kris…” seperti biasanya keakraban Pak Sulaiman bisa menarik perhatian siapapun yang berbicara dengan beliau.
“Terima kasih..” kujabat tangan Pak Sulaiman sebentar lalu aku duduk di kursi berhadapan dengan beliau.
“Mau minum apa Pak Kris?”
“Tidak usah repot Pak, saya juga mungkin tidak lama…”
“Wah, sibuk ya? Tapi gak ada salahnya kan kita ngobrol dulu…”
“Saya hanya menyampaikan surat dari Pak Martin…”
“O ya.. bagaimana bisa? Apakah Pak Kris masih berkomunikasi dengan Pak Martin?” sepertinya Pak Sulaiman tidak mengetahui tentang kejadian yang menimpa Pak Martin.
“Kebetulan kemarin saya bertemu beliau..”
“Bosmu itu memang unik. Dulu pernah terjadi, hampir sebulan dia tidak masuk kantor, waktu ibunya meninggal dunia. Hebatnya, pekerjaannya tetap diselesaikan dengan sangat sempurna.. Nah..sekarang pun begitu. Sudah hampir setengah bukan tidak ke kantor. Tidak ada kabar. Tapi ya itu Pak Kris, pekerjaan tetap beres…” Pak Sulaiman panjang lebar bercerita tentang keunikan Pak Martin di matanya.
“Bos saya memang hebat Pak…”
“Ya, yang saya masih tidak habis pikir, dia berani-beraninya memecat Pak Kris ya. Heran saya. Ya begitulah bosmu itu, Pak Kris. Anehnya lagi sekarang, Pak Kris menemui saya untuk memberikan surat dari Pak Martin…”
“Saya juga tidak tahu kenapa dan apa isi surat itu..”
“Ya, Pak Kris tunggu saya baca dulu ya…Tidak usah terburu-burulah…”
“Baik Pak”
Aku perhatikan Pak Sulaiman membuka surat di amplop putih besar. Sebentar dia mengernyitkan kedua akis tebalnya. Sekilas keduanya hampir menyatu. Apa surat itu berisikan hal sangat penting? Aku hanya bisa menunggu. Aku pun merasa itu isi surat itu bukan urusanku.
“Kapan Pak Kris bertemu Pak Martin?” Pak Sulaiman
“Dua hari yang lalu..”
“Di mana?”
“Di rumah sakit” aku menjawab setengah gamang.
“Oke…Pak Martin bilang dia kecelakaan…”
“Ya.. apa surat itu surat ijin Pak Martin?”
“Ya, sebagian . sebagian lagi tentang Pak Kris..”
“Saya? Maksud Bapak?”
“Please welcome back to you, if you want to join with us again…”
“Wow.. saya berkesempatan bekerja di sini lagi?”
“Ya, bosmu yang akan bertanggung jawab atas segala kekeliruan keputusan pemecatan Pak Kris..”
“Hmm…”
“Unik kan orang yang satu itu? Persis sama kelakuannya waktu bosmu minta kamu jadi asistennya. Dia gencar mempromosikan Pak Kris agar menjadi asistennya dan tidak setuju Pak Kris menjadi manager cabang….”
“Oh…”
“Tapi saya selalu mengalah, karena saya tahu persis dia. Dia jenius dan sangat loyal bekerja. Saya salut atas prestasinya selama ini. Saya tidak akan bisa bayangkan jika tidak ada bosmu itu…”
“Saya mengerti…”
“Kalau bosmu mau, dia itu bisa dengan sangat mudah untuk menggeser posisi saya sebagai direktur. Tapi bosmu bukan orang yang ambisius..”
“Ya, Pak Martin itu a smart worker..”
“Oke Pak Kris, kapan saja Pak Kris mau join, please inform me..”
“Akan saya pikirkan secepatnya Pak…”
“Kalau Pak Kris join, pemecatan itu dianggap tidak ada…”
“Maksudnya?”
“That is your boss…Pak Martin tidak pernah menganggap Pak Kris tidak ada..”
“Wow..” aku terkesiap sendiri.
“Sampai sekarang Pak Kris dilaporkan Pak Martin masih sebagai asistennya. Gila ya kedengarannya? Itulah bosmu.. . Anehnya, semua target pekerjaan dicapainya. Wuih..itulah keunikan sekaligus kesablengan Pak Martin.. hahaa…”
“Ya..” aku senyum-senyum bingung.
“Saya hanya bisa mengiyakan…hahaha..biarpun begitu orangnya, tapi dia pemasok keuntungan terajaib di perusahaan ini, makanya pengaruhnys sangat besar. Kita perlakukan seperti dewa…haha.. Saya banyak belajar, banyak mengeruk keuntungan dan sangat bangga punya anak buah seperti dia…”
“Wow..menakjubkan…”
“Ya, itulah dia. Saya cerita begini, agar Pak Martin secepatnya bergabung lagi bersama kami..oke?”
“Saya pikirkan secepatnya Pak, mudah-mudahan tidak lama..”
“Pak Kris tunggu sebentar ya, saya akan buat surat balasan untuk Pak Martin. Bisa kan Pak Kris menemuinya lagi?”
“Ya Pak, saya usahakan…” jawabku terbata.
Perjalanan pulang sangat melegakan perasaanku. Satu sisi aku tidak habis pikir akan tindakan Pak Martin. Saya akui, beliau adalah dewa di perusahaan besar itu. Beliau tidak punya jabatan top management, tapi jangan ditanya soal pengaruh. Beliau pencengkeram pengaruh utama di perusahan bergedung abu-abu itu. Beliau adalah asset di perusahaan itu.
“Saya serahkan keputusannya sama Mas..” Gadis memberikan peluang untukku memutuskan, setelah aku ceritakan tentang pertemuanku dengan Pak Sulaiman tadi siang.
“Ya, aku akan pikirkan masak-masak…”
“Bagi saya itu kesempatan emas, namun yang akan menjalani kan Mas sendiri, jadi apabila menurut Mas itu terbaik, Mas bisa pilih…” Gadis memberiku advice.
“Ya, aku akan pikirkan secepatnya…”
Sebenarnya aku sudah punya jawaban yang cenderung untuk kembali bekerja di sana. Alasanku sesuai logikaku saja, aku bisa punya banyak peluang berkarya, berkarir dan bertemu lagi dengan Pak Martin sebagai atasan dan teamwork –ku. Bukankah sebelumnya tidak ada masalah dalam pekerjaan di antara aku dan Pak Martin?
Namun aku perlu pertimbangan Gadis. Karena selama ini Gadis bisa lebih matang dalam menentukan. Pun dia punya feeling yang sering lebih tepat dari pada aku. Lagi pula dia istriku sekarang, jadi aku harus minimal sharing dengannya untuk memutuskan sesuatu yang terkait dengan keluarga.
“Ini surat sari Pak Sulaiman…” aku menyodorkan surat balasan itu kepada Pak Martin, sehari setelah menerimanya dari Pak Sulaiman.
“Wow..” senyum-senyum Pak Martin memperhatikanmu. “I am waiting the reply letter from you, Kris…”
“Ups, really?” aku pura-pura tidak tahu.
“Seriuously…please, think about that as soon as possible…” Pak Martin sangat berharap.
“Saya mau bicara dengan bosku dulu…”
“I am your boss…” Pak Martin makin mendesak.
“At least to say good bye to her…” aku senyum-senyum
“Hahaha…funny..I like that…” Pak Martin memelukku erat, terkesan bahagia.
“Why did you do that for me?”
“Menebus penyesalanku dan menunjukkan pengertianku, paham?
“Not really..”
“Aku menyesal telah memecatmu. It was not fair for you. Well, forget it. The important thing is to open my mind to more understand to you and Gadis. I am really happy because i know that you still love me…”
“Wow.. romantic enough..haha..”
“I am serious, Kris..”
“Okay… I am sorry for that…”
“Aku minta Pak Sulaiman bayar akumulasi gaji kamu selama enam bulan.. cukup kan?
“Apa harus bergitu keputusannya?”
“Ya, harus, karena aku memecatmu sepihak… anggap saja ini sebagai tanda permintaan maafku secara formal kepadamu Kris…”
“Oke, deal..”
“Lihat surat ini, Pak Sulaiman sudah mengiyakan…haha…”
“Wow…” aku mengapresiasi dengan sikap antusias.
“Good, I am now happy…”
“Ya..”
“Kris, mudah-mudahan semua itu bisa untuk persiapan biaya Gadis melahirkan. Oke? Aku ingin anakmu sehat. Gadis sehat dan kamu bahagia…” aku yakin Pak Martin tulus. Aku sudah sangat mengenal sidat beliau. Aku pun merasakan kebahagiaan yang dulu pernah aku dapatkan karena diperhatikan beliau.
“Ya..thank you so much..” aku tak kuasa menahan haru dan bahagia. Kupeluk dan kucium pipi beliau bergantian, kiri lalu kanan.
“I am happy for you, Kris…” Pak Martin membalas erat memelukku.
Hari ini hari penuh pengertian. Hari bertautnya lagi hati kami untuk saling memperhatikan. Hari yang membawaku ke arah kedamaian hati yang selama enam bulan ini hilang dari benakku. Hari yang mudah-mudahan menjadi awal yang baik. Hari yang membangkitkan kembali perasaan saling support.
Yang jelas, aku merasakan hari ini teramat baik kepadaki, karena telah melimpahkan kebahagiaan hati. Aku benar-benar merasakan indahnya pengertian dan saling mengerti kembali.
*****