Chapter 17: GADIS, ISTRIKU
Gadis istriku. Unik dan punya kepribadian kuat. Dia sedang hamil kurang lebih enam bulan usianya, namun masih bisa bergerak gesit. Hebatnya, dia tidak pernah mengeluh sekecil apapun selama kehamilannya.
Ngidam? Sepertinya dia tidak pernah mengenal kata yang satu itu. Aku pun tidak pernah direpotkan dengan kata itu.
Yang paling aku segani dari dia adalah sikap yakin dan nrimonya. Penderitaan batin selama masih hidup dengan bapak ibunya, dijadikannya sebagai bekal menghadapi apapun yang dilaluinya pada tahapan hidup selanjutnya.
Aku sungguh-sungguh terilhami oleh sikap dan buah pikirannya. Tak ada sepatahpun kata cengeng dalam benaknya. Aku benar-benar punya semangat hidup bersamanya.
Aku banyak belajar darinya tentang bagaimana memegang keyakinan dalam menentukan apapun, setelahnya usaha dan terakhir tinggal pasrah. Saat hidup berdua dengannya, aku mulai punya keyakinan untuk bisa hidup sewajarnya. Aku terus berusaha untuk bisa mencapainya. Bahkan aku sudah berada di titik puncak usaha.
Niatanku berbenah diri untuk menjadi individu yang seperti diharapkan orang tuaku, diawali dengan keberanianku membuat keputusan dengan memilih hidup bersama Gadis. Dengan sangat terpaksa akhirnya aku harus meninggalkan Pak Martin. Aku menyesali perpisahan itu dilakukan dengan saling bersikap yang tidak mengenakkan.
Satu hal yang selama enam bulan ini dipendam Gadis adalah rasa bersalahnya atas kejadian perpisahanku dengan Pak Martin. Gadis tahu jika kami sudah saling menyakiti.
Perasaan bersalahnya ternyata sungguh membuatnya tidak tenang. Aku dapat memakluminya. Aku bisa memahami posisinya yang sulit.
Pada hari ke empat aku menjenguk Pak Martin, Gadis memintaku untuk ikut. Mulanya aku merasa keberatan, mengingat kondisinya yang sedang hamil. Ditambah lagi masalah yang sekarang Pak Martin hadapi pasti akan sangat terkait dengan kami bertiga. Pak Martin juga masih bersikap nyinyir terhadap Gadis.
Namun Gadis terus memaksa untuk ikut. Gadis malah punya tekad untuk meluruskan persepsi kami yang dianggapnya sudah tidak benar. Gadis akan bertemu dan berbicara dengan Pak Martin, agar dia tidak terus terganggu oleh rasa bersalah yang selama enam bulan ini terus menghantui. Akupun tidak punya alasan kuat lain yang bisa mencegahnya untuk ikut.
“Mas tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja” Gadis berusaha meyakinkanku.
Sedari tadi aku terdiam dalam gamang. Sambil menyetir, pikiranku masih menduga-duga apa yang bakal terjadi pada pertemuan Gadis dan Pak Martin. Sekuat tenaga aku harus tetap konsentrasi melajukan mobilku.
“Jangan terlalu yakin dulu..”
“Saya akan mencoba yang terbaik, semaksimal kemampuan saya..”
“Pak Martin masih berubah-rubah pikiran. Kadang-kadang seperti orang yang aku kenal, kadang-kadang sangat cengeng di depanku, kadang-kadang merasa kesepian, frustasi, atau putus asa. Tapi yang jelas, beliau masih sangat cemburu sama kamu..”
“Saya sudah menduganya. Saya mau bicarakan masalah ini dengan beliau sampai tuntas”
“Kita lihat saja nanti”
“Saya tidak mau kehilangan momen hari ini”
“Ok” Kami terdiam kembali sampai aku mengarahkan mobil ke area parker klinik.
Situasi koridor klinik masih sunyi, seperti pertama kali aku datang tiga hari yang lalu. Dua hari kemarin klinik ini banyak dikunjungi pasien. Aku dan Gadis berjalan santai menuju ruang Pak Josep.
Pak josep menyambut gembira kedatangan kami. Beliau benar-benar merasa terbantu dengan seringnya aku menjenguk Pak Martin. Meskipun emosi Pak Martin masih belum sepenuhnya, namun menurut Pak Josep sudah mulai menunjukkan banyak kemajuan.
Setelah beberapa saat kami berbasa-basi, kami menuju ke ruang rawat Pak Martin. Ada gamang dan khawatir terus menyelinap di kisi-kisi hatiku. Gamang dan khawatir atas apa yang bakal terjadi dengan adanya pertemuan Gadis dan Pak Martin, mengingat Pak Martin masih memendam cemburu atau bahkan bisa lebih dari itu terhadap Gadis. Aku sangat khawatir apabila terjadi apa-apa dengan kehamilannya.
Kami sudah berada di ruangan tempat Pak Martin mendapatkan terapi. Melihat kedatangan kami, Pak Martin menutup bukunya, menghentikam kegiatan membacanya.
Tatapannya seperti langsung tertuju kearah Gadis. Raut wajahnya berubah menjadi tidak suka. Cepat-cepat aku menetralkan sikapnya, dengan mengalihkan perhatiannya. Aku salami Pak Martin, lalu memberi Pak Josep isyarat yang sudah dikenalnya, untuk meninggalkan kami.
Sekarang tinggal kami bertiga. Gadis berinisiatif untuk duduk di kursi, persis di samping kiri Pak Martin. Posisinya berseberangan denganku.
Kuperhatikan tampang Pak Martin makin terlihat tidak suka. Kulihat Gadis tidak perduli dengan sikap Pak Martin yang semakin ketara tidak welcome. Suasana saling diam seperti ini mengingatkanku pada pertemuan terakhir di apartemen Pak Martin.
Aku tidak mau itu terjadi lagi, karena sangat tidak menyenangkan kami semua. Aku mencoba melebur keheningan dengan berbasa-basi.
“Sedang baca buku apa Pak?” aku memulai pembicaraan.
“Iseng-iseng saja” Pak Martin datar-datar saja, malah cenderung tidak ramah.
“Bagaimana kabar Pak Martin?” Gadis memberanikan diri berucap.
“Yang seperti kami lihat, paling Kris sudah cerita sama kamu kan?” sergah Pak Martin. Aku menghela nafas pelan. Nada jutek Pak Martin jelas terdengar, meski beliau berkata pelan.
“Ya, saya turut prihatin, Pak..” Gadis mencoba berempati.
“Aku memang tidak pantas untuk bahagia, tidak seperti kamu..” Pak Martin nyinyir menanggapi.
“Maafkan saya Pak”
“Untuk apa kamu minta maaf?” serang Pak Martin kesal.
“Pak, bagaimanapun saya yang salah, Gadis tidak tahu menahu akan keputusan saya..” aku mencoba menengahi.
“Kamu tidak perlu membelanya kan Kris?” Pak Martin langsung memotong ucapanku, masih dengan suasana hatinya yang tidak menyenangkan.
“Pak Martin, Bapak berhak untuk tidak suka saya. Bapak berhak untuk tidak pedulikan saya. Bapak berhak untuk marah kepada saya. Saya terima, karena saya bisa mengerti. Saya bisa untuk tahu diri. Saya menyadari siapa diri saya di tengah-tengah hubungan Bapak dengan Mas Kris..” Gadis mengungkap pelan, namun bersahaja. Pak Martin terdiam menyimak.
“Gadis, sudahlah..” aku tidak mau Gadis meneruskan mengungkap perasaannya.
“Pak Martin, saya tidak pernah berharap banyak dengan yang namanya bahagia. Sepahit apapun hidup saya, saya terima. Bagi saya, pahitnya hidup juga salah satu bentuk bahagia. Jika memang Pak Martin selama ini merasa kebahagiaan Bapak telah saya rampas, sekarangpun akan saya kembalikan..” Gadis menunduk. Pak Martin terdiam membatu. Aku berdiri tidak bergeming. Suasana kembali hening.
“Pak Martin perlu tahu, saya tidak pernah berharap banyak menjadi istri pura-pura Mas Kris. Saya tidak bermimpi jauh menikah pura-pura dengan Mas Kris. Dari awal saya sudah sadar dan tahu diri. Tujuan saya hanya ingin lari dari tekanan batin saya karena situasi di rumah. Sudah saatnya saya harus keluar dari rumah, karena saya ingin punya hidup sendiri. Saya mengemis sama Mas Kris agar saya bisa lari dari rumah, bukan agar saya menjadi istrinya… Saya sangat memahami Pak Martin dan Mas Kris yang saling mencintai…” Gadis benar-benar ingin menuntaskan isi hatinya.
“Gadis, sudahlah..” aku hanya bisa mengulang ucapan itu.
“Pak Martin, saya tahu, percayalah, sampai saat ini Mas Kris sangat mencintai Bapak. Percayalah Pak, tidak ada secuilpun cintanya untuk saya. Pak Martin tidak perlu cemburu sama saya. Saya yakin, cinta Bapak tidak pernah saya rampas. Cinta Pak Martin masih tersimpan rapi di hati Mas Kris…”
“Tapi Kris lebih memilihmu..” suara Pak Martin mulai melemah.
“Saya yakin, Mas Kris memutuskan untuk hidup bersama saya bukan karena Mas Kris memilih saya, itu lebih karena bayi yang saya kandung. Mas Kris teramat bahagia akan menjadi seorang ayah…” Gadis tertunduk kelu.
“Mas Kris orang terbaik yang saya punya. Malaikat dalam hidup saya. Sudah teramat berlebih kebaikannya untuk saya. Saya sudah cukup bahagia karenanya. Saya tidak akan pernah punya niatan merampas kebahagiaannya. Sesungguhnya, yang paling membahagiakan hidupnya adalah perasaan cintanya kepada Pak Martin..” sampai di situ, Gadis terdiam lagi. Raut wajahnya terlihat mendung.
Aku terduduk kuyu. Batinku terus bergolak. Apa yang aku dengar dari Gadis barusan ini memang benar adanya. Kenapa harus dia, bukan aku yang mengungkapkan semua itu kepada Pak Martin? Seharusnya aku berani bersikap seperti yang barusan ditunjukkan oleh Gadis.
Pak Martin menutup mukanya dengan selimut putih. Suasana makin senyap. Beku dalam perasaan masing-masing. Namun kebenaran hati masing-masing menjadi terungkap. Masing-masing seperti menekuri batinnya dalam diam.
“Pak Martin, maafkan saya, selama ini membuat Bapak tersiksa..” Gadis mengusap pundak Pak Martin. Pak Martin membuka selimutnya, lalu menatap Gadis lekat-lekat.
“Aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Kamu harus sehat, biar anakmu sehat, biar ayahnya bahagia..” Pak Martin melirik ke arahku. Aku tersenyum.
“Pak Martin, kembalilah ke Mas Kris, Bapak tidak perlu khawatirkan saya..” Gadis berucap sangat pelan, nyaris tidak jelas aku mendengarnya.
“Gadis, kamu pantas mendampingi Kris. Aku cukup bahagia karena Kris masih mencintaiku..” Pak Martin tersenyum bahagia.
“Mas Kris, sebaiknya Mas tidak perlu menutupi diri lagi..” Gadis menatapku tajam. Aku tergeragap ditatap seperti itu. Aku cuma pelan mengangguk.
“Aku merindukan kehidupan kita bertiga…” Pak Martin menggumam. Aku dan Gadis saling bertatapan, lalu hampr berbarengan kami saling menghela nafas.
“Apa itu mungkin Kris? Bagaimana denganmu Gadis? Aku tidak mau lagi hidup seperti kemarin. Aku tidak punya siapa-siapa yang membahagiakan. Enam bulan sudah sangat berat bagiku untuk menderita…” nada ucapan Pak Martin sangat berharap.
Aku dan Gadis masih tertegun bertatapan. Dalam diam hati kami berbincang sendiri. Entah apa yang tengah Gadis pikirkan, namun dari binar matanya, aku menangkap isyarat kegembiraan dan kelegaan perasaannya.
Aku hanya ingin menjaga perasaan Gadis, sehingga aku tidak berani mendahuluinya untuk memutuskan. Aku lihat Pak Martin masih cemas berharap. Kecemasannya lenyap saat Gadis tersenyum lebar dan mengangguk mengiyakan.
Aku lega. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba beban hatiku sangat jauh berkurang. Beban yang selama ini menggangguku. Beban yang terus aku pikul dan menghantuiku. Enam bulan terasa begitu lama diselimuti kegundahan hati.
Sekarang betapa aku seperti langsung tercerabut dari rendaman lumpur pasir yang menyesakkanku. Aku mendadak lepas dari himpitan penderitaan batin. Kelegaan hati yang selama enam bulan ini aku tidak rasakan
Kesepakatan kami bertiga akhirnya akan kembali hidup bersama lagi, namun belum ditentukan di mana kami akan tinggal. Aku dan Gadis fokus dulu pada kesembuhan Pak Martin. Beliau masih terguncang atas kejadian itu. Sepertinya belum stabil benar kondisi emosi beliau. Namun aku berharap mudah-mudahan kondisi itu tidak akan terlalu lama.
Di perjalanan pulang, Gadis tampak berseri. Berulang kali dia mengucapkan terima kasih kepadaku. Sepertinya apa yang selama ini mengganjal pikirannya, lepaslah sudah. Kelegaan batin yang diinginkannya sepertinya telah digapainya hari ini.
“Saya akan berbuat banyak untuk Pak Martin. Beliau sangat butuh bantuan” ucapnya bersemangat.
Aku tidak menanggapinya terlalu jauh. Hal itu sudah sewajarnya kami lakukan. Bukankah Pak Martin belum sepenuhnya stabil perubahan jiwanya? Yang pasti butuh waktu.
Perkataan Gadis sepulang dari klinik, yang aku interpretasikan sederhana, rupanya dua hari ini oleh Gadis berarti besar. Aku tidak punya prediksi apapun tentang langkah Gadis selanjutnya untuk “membantu” Pak Martin.
Langkahnya jauh dari apa yang aku pikirkan. Gadis berbuat sesuatu yang baginya diyakini harus dilakukan, walaupun bagiku itu hal besar. Gadis berani mengambil resiko dengan apa yang diperbuatnya.
Tanpa ada rasa takut dia mencoba untuk berbuat sesuatu. Awalnya dia tidak ceritakan kepadaku. Belakangan, setelah makan malam dia katakan idenya padaku, karena Gadis merasa perlu dukunganku.
“Kamu tidak usah terlalu nekad” cegahku.
“Sepulang dari klinik, seharian saya pikirkan hal ini, Mas. Saya yakin mereka perlu diamankan, untuk kebaikan Pak Martin. Saya pikir mereka akan terus mengganggu Pak Martin, jika mereka masih keliaran…” papar Gadis beralasan.
“Apa nantinya tidak malah menyeret Pak Martin?”
“Semoga tidak”
“Semoga tidak?” aku tercengang mendengar ucapan Gadis seenteng itu.
“Ini beresiko, tapi inti permasalahan kejadian ini adalah ulah pacar Pak Martin” Gadis tampak sangat yakin.
“Pacarnya masih berbuat jahat pada Pak Martin?” aku tidak bisa menyembunyikan galauku.
“Saya mengerti perasaanmu Mas, tapi ini kenyataan, Pak Martin masih terkait masalah dengan pacarnya…” Gadis berusaha mengembalikan logikaku.
“Ya” aku masih bertampang kuyu.
“Dua hari ini saya sudah berdiskusi dengan Pak Josep. Beliau siap membantu saya..”
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Tidak banyak, saya hanya lapor ke kepolisian, dengan indikasi-indikasi yang saya dapatkan di lapangan..” Gadis mantap menjelaskan.
“Apa yang sudah kamu dapatkan?”
“Pak Josep sudah membuat laporan kesehatan Pak Martin, bukti-bukti visum atas penganiayaan dan pengakuan Pak Martin atas kasus sodomi..”
“Apa nantinya tidak membahayakan Pak Martin?”
“Saya malah berpikir sebaliknya..”
“Kenapa?”
“Pak Martin perlu didukung dengan sikon lingkungan eksternalnya yang nyaman dan aman. Menurut saya, perlu diamankan dulu mereka-mereka yang berpotensi akan terus mengganggunya…”
“Resikonya nggak kecil”
“Ya, tapi kalau dibiarkan, saya yakin Pak Martin tidak pernah akan merasa aman dari gangguan mereka. Percuma Pak Martin terus terapi, apabila beliau sembuh nanti kondisi eksternalnya masih seperti itu” Gadis terus menguatkan alasannya.
Gadis melanjukan pembicaraan. “ Kemarin saya telpon ke apartemen Pak Martin, pura-pura menawarkan asuransi, dan di sana sedang ada banyak orang, saya dengar juga musik yang hangar bingar, sepertinya sedang ada pesta”
“Apa itu mereka?”
“Saya yakin, yang menerima telpon kemarin itu pacar Pak Martin”
“Kita harus hati-hati”
“Pak Josep punya kenalan polisi intel yang siap membantu..”
“Apa lagi yang sudah kamu lakukan?” aku terus menyelidik Gadis. Aku tidak mau dia terseret dengan hal-hal yang membahayakannya.
“Polisi intel itu bernama Pak Prayogi. Beliau cepat mengatur strategi. Paginya aku telpon ke apartemen lagi. Tidak ada yang mengangkat. Saat itu juga Pak Prayogi melacak ke sana untuk mencari bukti-bukti. Kita tinggal menunggu”
“Pak Martin sudah tahu?”
“Belum, Pak Prayogi dan Pak Josep yang akan memberitahu setelah pelacakan mereka selesai, jadi tidak berkesan melibatkan Pak Martin…” Gadis dengan rinci membeberkan apa yang dilakukannya untuk “membantu” Pak Martin. Aku hanya pasrah menunggu hasil.
“Pak Prayogi sudah banyak pengalaman Mas, saya yakin beliau dapat bertugas dengan baik”
“Ya, menunggu gerak dan hasil beliau. Nggak ada cara lain toh?” aku cuma bisa pasrah.
“Berdoa untuk kebaikan Pak Martin…” Gadis menyahut.
“Ya” aku menghela nafas berat.
“Maafkan saya Mas, saya tidak menceritakan kepada Mas Kris dari awal. Saya sudah janji untuk membantu Pak Martin” Gadis meminta maaf, ada sesal mengalir pada nada ucapannya.
Aku menghela nafas, “ No problem, thanks”
Gadis tersenyum. Kali ini senyumnya memberi tanda akan kelegaan dan kebungahan hatinya. Melihatnya saat ini, aku ikut bungah. Aku berharap, semoga ini menjadi isyarat sebagai langkah awal dari kebaikan kita bertiga.
Bergegas aku menuju klinik sore ini. Gadis menelponku, mengharapkanku untuk segera datang ke sana sepulang dari kantor. Aku secpatnya melesat ke sana. Sebenarnya aku sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan di sana.
Menurut informasi Gadis, Pak Josep dan Pak Prayogi akan ikut pertemuan itu. Dengan perut sedikit lapar aku arahkan mobilku ke klinik eksklusif milik Pak Josep yang terletak di pinggiran kota.
Di perjalanan, aku mampir dulu ke minimart untuk membeli makanan kecil, minuman kemasan dan air putih. Sampai di klinik aku langsung menuju ke ruang Pak Josep. Ternyata di sana Pak Josep, Gadis dan Pak Prayogi sudah menungguku. Mereka menyambutku dengan antusias.
“Maaf, saya datang agak terlambat” aku berbasa basi
“Ayo Pak Kris, silakan langsung bergabung…” Pak Josep mengajakku untuk langsung ikut berdiskusi.
“Selamat sore Pak Prayogi, bagaimana perkembangan kasus ini?” aku menyerbu dengan pertanyaan. Sebentar saja aku sduah terlibat pembicaraan, tepatnya diskusi tentang seputar kasus yang dialami Pak Martin.
“Kita masih mengumpulkan data dan bukti-buktinya. Gadis dan Pak Josep sudah memberikan banyak keterangan kunci. Informasi yang saya dapat dari pihak pengelola apartemen juga sangat membantu “ Pak Prayogi menjelaskan kepadaku.
“Apa bukti yang sekarang menguatkan proses penyelidikan?’ aku terus bertanya.
“Saat kita lacak di apartemen, banyak bukti sidik jari, serbuk narkotik, botol minuman alkohol di sana. Pegawai front desk sering melihat pacar Pak Martin datang ke sana bersama teman-temannya..”
“Irfan” aku menjelaskan, “Pak Martin menceritakan semuanya kepada saya…”
“Oke, good, kita makin punya data yang menguatkan. Kemungkinan besar Irfan tersangkanya…tapi kita selidiki lagi, siapa tahu ada “big boss” di belakang layar, bisa saja Irfan hanya bonekanya…”
Kulihat Gadis dan Pak Josep menggangguk bersamaan, tanda memahami kemungkinan kasus ini bisa jadi pelik. Aku cuma bisa menelan ludah, pasrah.
“Ada informasi kunci lainnya tidak dari front desk apartemen itu?” rasa ingin tahuku terus menggelitik pikiranku.
“Yap, mereka banyak tahu tentang Irfan. Mereka tahu hari-hari apa yang Irfan dan teman-temannya datang ke sana. Sepertinya malam ini kita akan bergerak..” Pak Prayogi menuntaskan penjelasannya.
“O begitu. Apa yang bisa kami bantu?” aku bersemangat
“Lebih baik kita tetap di sini, Mas. Kita jaga Pak Martin…” Gadis berpendapat.
“ Ok, kami tunggu hasilnya ya Pak Prayogi…”
“Ok, saya pamit dulu..” Pak Prayogi bergegas keluar ruangan.
“Silakan Pak, terima kasih banyak…” hampir berbarengan kami menjawab. Kami mengantar beliau sampai di teras klinik.
Udara sejuk di koridor tidak membuat sedikitpun kedua kelopak mataku terpejam. Malam ini benar-benar menyita perhatianku. Aku sangat menunggu berita dari Pak Prayogi tentang penggerebekan di apartemen Pak Martin.
Pukul 01.30 dini hari, handpone-ku berdering. Suara Pak Prayogi cepat aku kenali. Beliau memberikan laporan yang intinya beliau dan timnya telah meringkus komplotan Irfan dengan sukses.
Pagi harinya, aku mendapatkan informasi dari televisi tentang “gerakan” yang dilakukan oleh Pak Prayogi dan tim. Dari pembacaan berita di televisi itu, tidak terbersit sedikitpun menyangkut nama baik Pak Martin. Berita itu fokus murni pada masalah narkoba dan peredarannya.
Aku sangat berterima kasih kepada Pak Prayogi. Beliau sudah mengatur semuanya. Aku juga berterima kasih kepada Gadis yang sudah berinisiatif untuk “membantu” Pak Martin dengan caranya.
*****