Chapter 15: PERPECAHAN
Hari Minggu pagi aku dan Pak Martin berencana untuk lari pagi di tepi pantai. Karena jarak tempuhnya cukup jauh untuk ke sana, maka sepagi buta ini aku dan beliau sudah bersiap diri.
Gadis masih tidur di kamarnya. Dia tidak bergabung jogging kali ini karena ada urusan dengan teman kantornya. Pak Martin menyiapkan sekeranjang makanan untuk breakfast. Setelah itu kami ke parking area.
Perjalanan menuju pantai sangat lancar. Antrian hanya terjadi pada pintu gerbang utama area pantai. Seperti biasanya, banyak pengunjung yang akan jogging di tepi pantai. Tempat asri ini memang menjadi salah satu tempat favorit untuk olah raga pagi.
Udara pantai segera memenuhi saluran pernafasanku saat aku keluar dari mobil. Dingin pun menembus jaket trainingku. Dengan handuk kecil di tangan, aku mulai melakukan pemanasan. Pak Martin melakukan hal yang sama.
Kami berlari beriringan menyusuri pantai. Terkadang sambil berbicara membahas urusan kantor. Terkadang saling diam. Terkadang bercanda berdua. Aku mulai merasakan cahaya matahari yang perlahan menerangi area jogging.
Sudah satu jam lebih kami jogging. Keringat sudah sangat membasahi tubuh. Pakaian yang kukenakan menjadi terasa lengket dan dingin. Aku putuskan untuk menghentikan joggingku.
Sambil berlarian kecil, aku menuju mobil dan mengambil tas kecil yang berisi baju ganti dan peralatan mandi. Banyak tempat pembilasan yang bersih dan nyaman di sepanjang pantai. Aku berniat untuk sesegera mungkin membersihkan diri.
Pak Martin tidak mau ketinggalan, lalu menyusulku. Seperti biasa, keadaan sepi dan nyaman di tempat bilas, membuat Pak Martin berinisiatif untuk melampiaskan imajinasinya. Di bawah shower kami saling mentransfer nafsu.
“Saya masih kepikir bapak…” aku biarkan Pak Martin berkreasi.
“Bagaimana kabarnya?” Pak Martin menaggapi sambil terus mengendus.
“Masih di rumah sakit..saya tidak tahu kapan pulang..”
“Berdoa saja Kris..”
“Ya…saya juga kepikir Gadis…” akhirnya aku beranikan diri untuk bicara jujur. Sepulang dari kampung, sebenarnya aku sudah ingin sharing dengan Pak Martin tentang apa yang sudah aku lakukan dengan Gadis di sana.
“Maksudmu?” Pak Martin menghentikan cumbuannya. Dia menatapku cukup serius. Aku hanya bisa menunduk.
“Aku kepikir selama ini aku telah menelantarkannya…” aku tercekat.
“Oh, come on honey..dia yang menginginkan itu…” Pak Martin seperti tidak mau tahu.
“Saya suaminya..” aku makin kelu. Tanggapan Pak Martin menumpulkan nafsuku. Aku masih tidak bereaksi.
“Suami? Bagaimana dengan agreement mu dulu Kris?” Pak Martin seperti terperangah sendiri. Aku menebak pasti beliau sudah ignore terhadap perkawinanku dengan Gadis. Ah!
“Saya menikahinya kan?” aku masih tenang, sementara Pak Martin berusaha untuk menuntaskan imajinasinya. Lalu membantuku menuju puncak imajinasiku.
“So what, Kris?” Pak Martin lunglai berdiri di sampingku.
“Saya belum bertanggung jawab penuh kepada istri saya…” aku terus terdiam di bawah shower. Air dingin yang membasahi kepala dan tubuhku tidak lagi menarik perhatianku.
“Kamu sudah tanggung jawab sesuai perjanjian…apa lagi?” Pak Martin tampak tidak suka.
“Saya mengabaikannya…” aku membilas sabun yang melekat tubuhku.
“Wait Kris.. you mean sex?” terlalu detail dan to the point Pak Martin menyergapku.
“Lengkapnya kebutuhan batin…” aku terus membilas tubuhku dari sabun sampai bersih. Aku lebih banyak menunduk. Rasanya aku tidak berani bertatap muka dengan Pak Martin.
“Oh no…I don’t understand, Kris.. why?” Pak Martin meraih handuknya dan pindah ke ruang mandi sebelah yang masih kering.
“I’ll talk to you later…” aku mematikan kran shower, lalu kuraih handuk dan tasku. Aku cari ruangan yang masih kering dan kosong. Aku terpuruk sendiri. Aku sudah terlanjur bicara. Aku tidak mugkin menyimpan terus apa yang telah aku lakukan dengan Gadis.
Sudah sebulan ini aku pendam karena aku belum punya waktu yang tepat untuk bicara dengan Pak Martin. Kalau terus ditunda, bisa menjadi bom waktu bagiku dan Gadis.
Sarapan di tepi pantai tidak membuat pikiranku fokus. Imajinasi di bawah shower tidak masuk dalam ruang damai otakku, tidak meninggalkan kesan yang bisa menjadi addicted. Aku lebih banyak diam duduk di sebelah Pak Martin.. Beliau seperti kurang suka terhadap sikapku.
“You said you want to talk..” Pak Martin menagih ucapanku.
“Hope you will not be angry to me…” aku mencoba untuk tetap tenang.
“Yup..I’ll try…” Pak Martin tajam memperhatikan keterdiamanku.
“Saya harus bertanggung jawab terhadap istriku…” akhirnya aku menuntaskan maksudku tanpa basi-basi.
“Again?” Pak Martin seperti tambah tidak suka.
“Yup..saya sudah berjanji kepada bapak…” aku memandangi ombak kecil yang berakhir di pantai. Mungkin hanya sekedar menghindar tatapan Pak Martin yang makin mencengkeram.
“What is your promise?” Pak Martin terus mendesak
“Saya harus tanggung jawab terhadap Gadis, karena dia istriku. Saya mohon pengertian Bapak..”
“For what?”
“Untuk berbakti kepada bapak saya…” aku makin tercekat. Saluran hidung dalamku terasa memanas menahan emosiku.
“Apa yang akan kamu lakukan kepada Gadis?” cecar Pak Martin, membuatku tidak nyaman.
“Saya akan sepenuhnya menganggap dia istriku. Saya berhak dan berkewajiban sepenuhnya memberinya nafkah lahir dan juga batin. Saya harus menebus semua kesalahan yang sudah saya lakukan terhadapnya, karena selama ini saya sudah teramat sangat mengabaikannya. Saya tidak mau mengulangi kebodohan ini. Saya…terlalu banyak dosa kepadanya…” aku tertunduk sesenggukan. Panas di saluran dalam hidung sudah merambat cepat ke arah saluran air mata. Tanpa bisa ditahan aku sudah tersedak – sedak kecil menahan tangis.
“Ow..God! Kris, jadi ini yang membuatmu berubah sikap belakangan ini terhadapku?” Pak Martin sudah menudingku.
“Saya tidak tahu..” aku masih menunduk.
“Come on Kris…aku tidak akan bisa menerima kalau kamu membagi cintamu sama Gadis!” Pak Martin tandas mengungkap.
Seterbuka itukah Pak Martin? Semarah itukah beliau? Aku tambah terpuruk. Aku bukan membagi cinta sama Gadis. Aku justru harus mencintai dia, karena dia adalah istri syahku. Dunia sudah terbalik! Edan!
“Kris, what did you do with her in kampung?” Pak Martin tampak geram. Aku tidak tahu kenapa beliau menjadi sejengkel itu.
“Saya sudah melakukan kewajiban saya sebagai suami terhadapnya..” aku usahakan untuk menghentikan segukanku.
“You did with her?” Pak Martin seperti sudah diujung ledakan.
“Yup, she is my wife, nothing’s wrong, right?” aku berusaha menjelaskan.
“Ow..God!, kamu sudah mengingkari hubungan kita” Pak Martin benar-benar makin tidak suka.
“Saya tidak bermaksud untuk itu”
“Lantas?”
“Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai suaminya”
“Itu lagi alasanmu”
“Memang hanya itu alasan saya.., mohon bapak mengerti saya saat ini…” aku mencari wajah Pak Martin. Perubahannya sangat menyolok. Tampak asam dan menahan marah.
“Saya tidak bisa terima. Lets’ go home!”
Di perjalanan pulang, aku hanya diam. Pak Martin pun membatu, Amarahnya belum reda. Raut wajahnya tak lagi seceria ketika mengawali pagi tadi. Sudah tiga ratus enam puluh derajat berubah. Suasana perjalanan pulang menjadi sangat menyiksa diriku. Aku mencoba untuk tetap tenang.
Aku sudah terlanjur bicarakan hal ini. Jadi tidak ada lagi yang harus aku sesalkan apa akibat yang bisa terjadi selanjutnya. Aku sudah berpikir untuk jujur seperti yang bapakku inginkan.
Selama ini aku berkubang dalam kebohongan. Selama ini aku sengaja menutupi kejujuran hati. Selama ini aku bukanlah anak harapan bapakku. Selama ini nafsu dan egoku yang dominan menyingkirkan kejujuean hati nuraniku.
Aku siapkan diri apapun reaksi dari Pak Martin setelah semuanya aku bongkar pagi ini. Aku hanya ingin jujur kepada orang yang selama ini aku cintai dan memberikan kesetiaan cintanya terhadapku.
Ataukah justru kejujuran ini akan sangat menyakitinya? Atau malah telah menghancurkan harapan, cinta dan kesetiaannya? Jawabannya jelas-jelas aku tidak tahu. Aku sudah tidak lagi peduli. Aku hanya ingin jujur!
Hari-hari selanjutnya tidak lebih menyenangkan dibandingkan dengan perjalanan pulang dari pantai Minggu lalu. Kulewati hari-hari bersama Pak Martin hambar-hambar saja. Pak Martin benar-benar kecewa dan marah atas pengakuan dan keinginanku.
Sudahlah.
Itu kata penghiburku yang terakhir saat ini. Akupun tidak lagi semangat untuk terus mengungkap keinginanku di depan Pak Martin, apalagi sampai mengharapkan pengertian dari beliau. Bisa jadi akan menambah tajam kesalahpahaman.
Sudahlah.
Kembali kata pasrah itu yang sering muncul dari desahan bibirku. Aku sudah putuskan untuk jujur. Itu hal yang sekarang membuat hatiku sedikit lega. Aku tetap harus konsisten dengan apa yang aku lakukan.
Jujur.
Apa sebenarnya makna kata itu? Aku sudah tidak jujur seumur hidupku. Aku sudah tidak lagi akrab dengan kata itu sejak aku mulai melazimkan penyimpanganku. Masihkah aku pantas mengenali kata itu lagi saat ini? Masihkah kata itu akan melekat pada nuraniku?
Jujur.
Sebenarnya apa yang seharusnya aku jujur kan kepada semua orang? Aku limbung dalam pencarian makna kata jujur. Aku gamang untuk meraih makna kata itu saat ini. Namun setidaknya aku telah mengingat kata itu lagi sekarang.
Sampai hari ini, sudah seminggu aku hambar mengawali hari. Pak Martin belum menunjukkan perhatian ekstra mesra yang selama ini sering ditujukan kepadaku. Aku jengah diperlakukan begitu oleh beliau. Tapi aku harus bisa memaklumi akan perubahan beliau.
“Mas, saya mau bicara…” pagi-pagi Gadis sudah menarikku di ruang dapur. Suara pelannya mengisyaratkan hal serius dan rahasia. Aku ikuti langkahnya menuju tempat yang dimaksud Gadis.
“Ada apa?” aku melihat kerut was – was di raut wajah cantik Gadis. Aku jadi ikut berbisik berbicara.
“Ini…” Gadis menunjukkan satu batang alat tes kehamilan. Aku langsung terbelalak.
“Kamu…”
“Ya, saya hamil..” Gadis tampak setengah bahagia setengah cemas.
“Oh ya?” aku justru bahagia. Entah dari mana kekuatan bahagia itu munculnya. Aku rasakah bahagia. Aku bahagia. Bahagia. Sungguh, aku merasakan kebahagiaan yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Inikah sebuah kebahagiaan murni?
Kupeluk Gadis erat-erat, kuciumi pipi dan keningnya. Aku tunjukkan bahwa aku bahagia. Kutunjukkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau ditakutkan. Kulihat Gadis merespon pelukanku. Kami bahagia
Seharian aku simpan kabar bahagia ini serapat mungkin. Aku sudah memastikan bahwa kabar bahagia untukku hari ini adalah sudah tentu kabar yang sangat mengecewakan dan dibenci Pak Martin.
Sesuai dengan kesepakatanku dengan Gadis, aku siap untuk memberitahukan hal ini kepada Pak Martin sore ini. Aku tidak lagi peduli dengan sikap apa yang akan beliau tunjukkan kepadaku dan Gadis. Aku berhak untuk bahagia atas kehamilan istriku. Aku berhak bahagia untuk menjadi calon ayah.
Suasana sore di ruang keluarga di apartemen Pak Martin tampak senyap. Aku, Pak Martin dan Gadis masih saling mengunci diri. Tak ada suara. Desah nafas memburu dari gelagat marah Pak Martin mendominasi suara yang ada. Mungkin urutan yang kedua adalah degup jantungku yang makin tidak beraturan.
Suasana yang ada lebih tidak mengenakkan dari hambarnya hari-hari seminggu ini. Gadis tidak beringsut duduk di sampingku. Dia menunduk tidak bergeming. Aku ikut larut oleh beban pikiran dan perasaan yang serasa jungkir balik bercampur baur tidak karuan. Sampai-sampai aku tidak tahu harus dari mana memulai berbicara.
“Pak Martin, maafkan saya…” aku mencoba mengatur nafasku
“Aku sudah tahu..” Pak Martin melempar udara dari paru-paru dengan hentakan.
“Saya hanya ingin mengabarkan bahwa saya akan menjadi ayah…”
“Jadi?!” Pak Martin amat sangat terlonjak.
“Ya, Gadis mengandung dari benih saya…” aku tuntaskan apa-apa yang ingin aku kabarkan ke Pak Martin sesingkat mungkin.
“What!! Kris!! “ lengkingan Pak Martin menghentakkan kebekuanku dan Gadis. Aku tidak menyangka sama sekali jika Pak Martin akan sangat marah mendengar berita itu.
“Saya…”
“Enough!! Kris, you really hurt me!! Aku tidak terima…”
“Pak Martin..” aku mencoba menjelaskan.
“Cukup! Kris, ini sesuatu yang menyakitkanku! Kamu dengar ya, kamu pilih Gadis atau aku!” Pak Martin meledak-ledak.
“Itu sangat sulit” aku terpojok.
“Kamu tega lakukan ini semua kepadaku. Kamu tidak pernah bisa berterima kasih kepadaku. Kamu tidak pernah mengerti untuk bersyukur karena selama ini aku perhatikan…” Pak Martin melantur. Aku tidak terima diungkit seperti itu.
“Cukup Pak Martin! Saya jadi tahu kalau selama ini cinta Bapak hanya mengharapkan sesuatu dari saya. Saya sudah berikan segalanya untuk Bapak. Bapak sudah mendapatkan tubuh saya. Anggap saja saya sudah melacur untuk Bapak. Saya sudah mencoba mencintai Bapak. Saya hanya ingin Bapak mengerti bahwa saya adalah suami Gadis! Saya hanya ingin berterus terang, bahwa saya harus bertanggung jawab atas Gadis…”
“Jangan bicara soal cinta. Aku tahu kamu tidak punya cinta untukku. Pengecut! Labih baik kamu tidak di sini, Kris!”
“Kalau itu yang Bapak mau, fine!”
“Pergi kamu! Bawa perempuan sial itu!” Pak Martin sudah kalap.
“Baik! Saya akan pilih Gadis. Ini keputusan saya..Thanks for everythings…mudah-mudahan saya bisa membalas budi atas kebaikan Bapak…” aku tetap tenangkan diri untuk menyelesaikan pertengkaran ini. Aku menyeret Gadis untuk enyah dari ruangan, lalu membereskan semua barang-barang yang penting.
Tak berapa lama, aku dan Gadis sudah siap untuk meninggalkan apartemen Pak Martin. Aku sabarkan diri sekuat mungkin mendengarkan semua ocehan, teriakan, bentakan dan usiran Pak Martin yang semakin membabi buta.
Aku tidak perlu mendengarkannya lagi. Yang aku pikir, aku harus membawa Gadis ke tempat tinggal baru. Mungkin sementara aku akan ke tempat kostku yang dulu. Atau mungkin Gadis punya ide lain.
Aku tidak tahu lagi perasaanku saat ini, semakin dijungkirbalikkan keadaan. Perih. Pahit. Bahagia. Tidak tahu. Kecewa. Marah. Entah apa lagi. Akupun tidak sempat lagi untuk memperhatikan perasaan Gadis. Tapi aku sangat tahu dengan jelas perasaan kecewa dan marah Pak Martin.
Ah! Benarkah ini harus terjadi? Bagaimana dengan hari-hari setelah ini?
Entahlah. Itu bisa dipikir nanti.
Entahlah. Perpecahan ini ternyata harus terjadi. Mungkin ada hikmah di balik kejadian ini. Semoga!
*****