Chapter 14: MALAM PERTAMA
Aku tergeragap bangun tidur saat dering handphone-ku menghentak gendang telingaku. Kujawab dengan masih malas sapaan manja Pak Martin. Berkali-kali aku mendengar ocehan kangennya sambil sesekali menguap.
Aku beringsut kaget saat mata malasku tertumpu pada Gadis yang tengah tertidur berselimut di sampingku. Bubar sudah rasa kantukku. Otakku berganti bekerja keras untuk menyadarkan ingatanku.
Tak kuhiraukan rengekan mesra Pak Martin yang menyuruhku untuk bisa cepat kembali ke kota. Aku masih berusaha sekuat otakku untuk mengingat apa yang terjadi semalam sampai Gadis bisa tidur seranjang denganku.
Aku tutup pembicaraanku dengan Pak Martin. Kudengar suara beliau terdengar rada kecewa. Aku benar-benar tidak konsentrasi. Akupun makin terlonjak saat kusadari tubuhku tak berbalut sehelai benangpun.
Klik!
Simpul syaraf otakku langsung tersambung. Buru-buru aku berusaha menenangkan diri dengan rebahan di pinggir tempat tidur. Pagi hari yang sungguh membuatku terperanjat. Pagi hari yang membuat otakku harus bekerja keras meredam letupan keterperanjatanku.
Kulihat tubuh Gadis menggeliat terbangun. Buru-buru dia beringsut mendekap tubuhnya sendiri ke tepi tempat tidur. Raut wajahnya mungkin sama terperanjatnya denganku. Tangannya masih erat memegang selimut.
Wajahnya makin menegang saat disadarinya ada bercak merah di beberapa bagian selimut warna cream ini. Lalu dia menunduk dalam-dalam. Wajahnya drastis berubah pucar pasi.
“Ada apa Dis?”
“Maaf Mas..” Gadis beringsut makin ke tepi tempat tidur. Tubuhnya terliat seperti main menciut. Lalu ditelungkupkan wajanya pada kedua relapak tangan yang berselinut itu. Dia tampak menggeleng beberapa kali.
“Maafkan saya, Mas…”
“Kenapa?” aku makin tidak mengerti.
“Kita mengingkari perjanjian…” Gadis makin tampak kuyu.
“Ya” aku berusaha meredakan kepanikannya.
“Maafkan saya, Mas…”
“Kamu istriku, tidak ada yang salah kan?” kutatap mata Gadis lekat-lekat.
“Ya” Gadis bernafas lega sekarang.
Pagi ini seperti ada nuansa baru dalam kehidupan rumah tanggaku dengan Gadis. Entah apa. Tapi yang jelas ada spirit yang keluar terpancar dari dalam kisi-kisi hati yang selama ini terabaikan.
Inikah rasanya legalitas? Aku melakukan hubungan intim dengan Gadis, dan tanpa ada rasa terkekang ketakutan oleh ketidaklaziman? Inikah yang dimaksud dengan sakral? Pada saat suami istri melakukan hubungan intim,maka kedekatan dan keeratan hati mereka makin tertaut?
Cinta?
Entahlah.
Apakah sebenarnya aku mencintai Gadis?
Tak tahulah! Masih terlalu dini untuk bicara tentang cinta dengan Gadis. Masih terlalu naif untuk sekedar mengatakan “I love You” kepada Gadis. Rumah tanggaku dengan Gadis dibangun atas dasar kesepakan setan. Ah!
Saat ini rasanya tidak perlu untuk memperdebatkan soal cinta. Kejadian semalam bukanlah menjadi tolok ukur mutlak bagiku sebagai awal dari sebuah cinta. Masih banyak pembuktian yang harus aku kumpulkan untuk menandakan bahwa aku mulai jatuh cinta.
Aku menganggap kejadian semalam merupakan kejadian biasa pada saat nafsu tengah melingkupi jiwa. Aku tidak merasakan getaran apapun kecuali terhanyut oleh keadaan semalam. Keadaan yang sebenarnya membingungkan diriku sendiri. Kenapa aku bisa sampai terbawa ritme nafsuku sendiri?
Entahlah.
Atau seharusnya aku bersyukur karena telah memberikan malam pertama kepada Gadis yang selama ini ta tersentuh oleh seujung kuku jariku sekalipun? Aku tidak lagi dapat fokus untuk bersikap kali ini. Semuanya blur jadi satu. Kekuatan logika dan perasaanku belumlah sepenuhnya berani untuk menentukan.
Seusai sarapan, aku ajak Gadis untuk mengunjungi orang tuanya. Setelah seminggu di kampung, baru aku sempat mengajaknya sowan ke orang tuanya. Kali ini Gadis tidak seperti biasanya. Dia antusias menerima ajakanku.
Perjalanan bersepeda motor menuju ke rumah Gadis seperti hal baru bagiku. Hal yang dapat mencuatkan kekikukanku terhadapnya. Gadis seperti menangkap sikapku. Dia berusaha untuk senetral mungkin di depanku. Munkgin biar aku juga bersikap yang sama. Netral.
Bertemu kedua mertuaku, aku harus bersikap yang sesuai dengan suami-suami lainnya lakukan. Sopan. Santun. Tampak harmonis dengan istrinya. Tunjukkan telah bertanggung jawab menikahi anaknya. Aku lakukan semuanya. Aku tidak tahu alasannya f kenapa aku lakukan itu. Yang aku rasa adalah aku tidak merasa terpaksa.
Bapak Ibu mertuaku menanyakan kabar aku dan Gadis di kota. Gadis bercerita tentang hal-hal indah yang dilakukan di pekerjaannya. Gadis menceritakan apartemen kecil di kota yang nyaman untuk tinggal. Gadis menceritakan hal-hal indah lainnya.
Tampak kedua raut wajah mertuaku lega dan bahagia. Mereka turut merasakan kegembiraan kehidupan Gadis dan aku di kota. Gadis memang sosok wanita tangguh. Wanita yang tidak menyerah pada keadaan. Dia jalani apapun konsekuensi dari kehidupannya.
Aku?
Aku bukan apa-apa. Aku hanya bisa terus “berbahagia” di dekapan Pak Martin. Bayang-bayang bosku yang tampan itu teramat lekat di benakku. Sulit untuk lepas dari pengaruh kebaikan dan kesetiaan cintanya kepadaku.
Pertemuan keluarga sudah selesai. Aku dan Gadis pamitan dan minta maaf karena tidak bisa menginap. Kami mampir ke tepi danau, tempat favorit gadis untuk merenung. Di sana aku coba pulihkan kepenatan tubuhku di bale-bale gazebo di tepi danau.
Gadis masih duduk termangu memandangi riak air yang tertimpa cerahnya cahaya matahari jam satu siang. Sudah tidak ada lagi kabut di atas riakan air danau. Sudah jarang cicit burung di antara pohon cemara dan pinus. Yang masih ada dan sama adalah kesunyian tempat ini.
“Mas, boleh saya bertanya?” Gadis ragu-ragu membuka percakapan. Buru-buru dia lanjutkan: “ Tapi jangan marah ya..”
“Ada apa?” aku menunggu pertanyaannya sambil mengubah posisi telentangku menjadi berbaring menghadap Gadis.
“Bener tidak marah?”
“Ayolah Dis, kamu mau tanya apa?”
“Seandainya kita punya anak…” Gadis tampak serius dan tegang.
“Maksudmu?” aku mengernyitkan kedua alis mataku.
“Ya, seandainya saya hamil setelah kejadian semalam, bagaimana?” Gadis tercekat. Bibir bawahnya digigit-gigit pelan oleh gigi seri rahang atasnya.
“Hoh, aku belum terpikirkan..” aku tersudut oleh pertanyaan Gadis. Logikaku bergerak cepat. Bisa jadi hubungan intim semalam akan membuahkan buah hati untuk kamu dan gadis. Aku makin tersudut oleh logikaku sendiri.
“Maaf Mas…”
“Nggak apa-apa”
“Saya akan mempertahankan buah hati kita, Mas setuju?”
“Aku masih bingung, Dis..gimana dengan Pak Martin?”
“Mas masih bisa dengan Pak Martin…saya tidak berhak mengganggu hubungan Mas berdua..” sikap Gadis tegas.
“Pak Martin belum tentu suka…”
“Saya bisa keluar dari apartemen…” Gadis terus bersikukuh.
“Gila aja, bagaimana dengan keluarga kita? Apa kata mereka nanti kalau kita tidak serumah di kota? Apalagi kamu dalam keadaan hamil?” aku terduduk di sisi Gadis.
“Saya tidak tahu, tapi saya akan tetap meghargai hadirnya buah hati, minimal untuk diri saya…” Gadis seperti tidak bisa disangkal lagi. Aku mengalah saja.
“Ok, aku tidak mau kita berjanji nekad dan sesat lagi di tepi danau ini. Sudah cukup perjodohan kita dulu yang didasari niat setan. Aku ingin punya sikap. Entahlah, yang jelas kita jangan lakukan perjanjian setan apapun di sini, oke?”
“Ya, terima kasih Mas..” Gadis tertunduk beku. Air matanya perlahan menitik dari kedua kelopak matanya. Aku biarkan dia beberpa lama untuk menuntaskan perasaan hatinya.
Kebekuan berdua di tepi sanau kembali melanda. Gadis masih merenung. Aku pun hanyut oleh pikiranku sendiri. Masalah yang bisa muncul di depan mataku saat ini adalah apabila Gadis hamil. Malam pertama sudah aku tuntaskan semalam. Berarti tinggal tunggu sebulan lagi untuk mengetahui hasil dari malam pertama itu. Ah!
Pak Martin menelponku lagi. Aku sedang duduk santai di teras depan rumah. Seperti biasanya, suaranya mendayu-dayu di telingaku. Curahan kangen dan sejenisnya meletup-letup dari bibirnya. Hatikui ikut bungah dihujani kalimat-kalimat romantis darinya.
“Pak, cuti saya hanya seminggu, tapi di kampung saya belum bisa tinggalin Bapak…”
“Oke…”
“Bisa saya ijin tiga hari lagi?.”
“No problems”
“Thanks, by the way, bagaimana dengan pekerjaan?”
“So far so good. Do not worry about that, I could handle everything by my self. I worked for you dear…haha…”
“Thanks Pak”
“Your welcome..i miss you Kris..”
“Me too..”
“How was your day?”
“Lonely…ouch..i will be alone for three more days again..haha..”
“Haha…me too..see you..”
“Great, i love you..”
Oh!
Percakapa dengan Pak Martin kali ini tidak begitu menyemangatiku, walaupun aku cukup senang karena aku diberi kesempatan tiga hari lagi di kampung. Tiga hari ini aku akan pergunakan sebaik-baiknya untuk menengok dan menjaga bapak di rumah sakit.
Semalaman di rumah sakit menjaga bapak, bergantian dengan Mbak Novi dan Ibu yang menjaga di siang hari. Jaga malam yang kulakukan membuat tubuhku terasa penat. Sampai di rumah jam sembilan pagi. Aku pulang setelah Ibu dan Mas Adam sampai di sana.
Keletihan merebak tubuhku. Sepertinya di tambah masuk angin. Gadis membuatkanku wedang jahe hangat. Aku meminumnya dengan seruputan yang terdengar nikmat. Aku teguk secangkir wedang jahe, dan minta tambah secangkir lagi. Gadis tetap semangat melakukannya untukku.
Gadis juga sudah menyiapkan air hangat untukku mandi atau hanya untuk sekedar bilasan. Segarnya air hangat banyak mengurangi angin yang sudah terlanjur masuk dalam tubuhku. Mudah-mudahan tidak sampai membuatku sakit.
Aku baringkan tubuhku di tempat tidur di kasurku. Gadis masuk menawarkan wedang jahe lagi. Aku mengiyakan. Kami duduk bersebelahan di tepi tempat tidur. Aku seruput hangatnya wedang jahe senikmat mungkin.
Aku letakkan cangkir kosong di meja kecil di samping tempat tidur. Aku perhatikan Gadis sedikit khawatir dengan kondisi tubuhku. Aku genggam tangannya perlahan. Dia tetegun keheranan tapi tidak berontak.
“Dis..aku sadari bahwa aku banyak melukai hati orang-orang yang aku cintai di rumah ini…terutama bapak dan ibu.. aku bukan anak yang baik…”
“Mas, bukan itu yang seharusnya Mas pikirkan. Saya yakin banyak hal baik yang telah Mas lakukan untuk keluarga…”
“Aku tidak yakin..”
“Mas harus yakin..”
“Aku yakin itu tidaklah seimbang…terlalu banyak hal buruk..”
“Sudahlah, mas perlu menenagkan diri..mungkin terlalu letih di rumah sakit…”
“Bapak banyak bicara tentang aku…”
“Apa kata Bapak?”
“Banyak…betapa bangganya bapak terhadapku..”
“Bapak patut melakukan itu…”
“Bagiku tidak. Aku telah banyak berbohong..sudah banyak cerita kebohongan yang aku bangun di depan keluargaku untuk menutupi kebohongan kehidupanku yang sesungguhnya…”
“Tidka sepenuhnya benar..”
“Aku bohong tentang hidupku..”
“Bisa diperbaiki..”
“Aku bohongi Bapak, Ibu..semuanya…” aku tertunduk. Mataku sudah panas sedari tadi, namun aku tidak lagi bisa menitikkan air mataku.
Kurasakan sikap dan pembicaraan bapak di rumah sakit semalam, telah mampu mencabik pertahanan egoku yang telah aku bangun dengan kokohnya. Perkataan bapak yang sederhana membuatku terperosok dalam kubangan yang paling hina bagiku.
“Bawalah kejujura hati kemanapun kamu pergi ya Kris…” Bapak cuma minta itu. Tapi aku tidak tahu, kenapa itu yang harus bapak harapkan dariku. Hampir lebih dari tiga kali bapak ucapkan di depanku. Seakan-akan bapak tahu apa yang sudah aku lakukan selama ini.
“Gadis, aku ingin jujur seperti kamu..”
“Apa benar aku jujur?”
“Setidaknya kamu berani untuk menerima hadirnya buah hati”
“Ya, mungkin itu naluri seorang ibu, Mas..”
“Aku ingin menjadi ayah yang baik..”
“Terima kasih, Mas..”
Aku raih wajah Gadis. Kucumbui dengan sesadarnya sebagai seorang suami. Akan aku tunjukkan bahwa aku pun punya keberanian untuk melakukan tanggung jawabku sebagai seorang suami bagi Gadis. Akan aku lebur keberanianku untuk membahagiakan batin Gadis, yang bukan sekedar melampiaskan nafsuku seperti malam pertama kemarin.
*****