Chapter: 13. BONGKAHAN KATA HATI
Berjuta kata kata maaf sepertinya belum cukup untuk menguatkan penyesalanku. Aku harus mau bertanggung jawab atas semua akibat yang yang timbul dari keputusanku menikah pura-pura dengan Gadis.
Entah dari mana pastinya aku menemukan setitik kebenaran terbersit dalam hati. Celah kecil di sanubariku membuat cahaya yang menembus ke ruang kesadaranku.
Aku sudah mulai bisa merenungi perlakuanku terhadap Gadis. Sekian lama aku berkubang dengan hidupku sendiri dan mengabaikan hakekat keberadaan Gadis sebagao istri syah di mata hukum, adat dan agama.
Selama ini aku tak melakukan peran apapun sebagai kepala keluarga. Ikrar menikahi Gadis hanya sebatas ucapan di bibir saja, tidak mengusung ketulusan dan niat suci sari lubuk hati.
Rasanya aku tidak akan kehabisan waktu untuk mengutuki diri atas perlakuan kejam pada Gadis. Perasaan Gadis terus menerus aku abaikan dan bahkan aku tindas. Aku tidak pernah mau tahu akan apa yang dia pikirkan, tasakan, inginkan, apalagi untuk menyelami harapannya.
Aku hanya mensejajarkan Gadis pada sebatas teman curhat. Lebih parah lagi hanya sebagai tempatku membuang amarah atau bentuk perasaan senewenku yang lain jika aku punya masalah. Akupun tidak pernah sekalipun untuk sekedar bertanya apakah dirinya bahagia atau tidak dengan cara hidup berkeluarga denganku.
Sejak aku terpojok oleh cecaran pertanyaan dari orang terdekatku tentang kehadiran anak sebagai jalur penerus keturunanku, aku baru seperti tersadar dari pola pikirku selama ini.
Awalnya aku hanya berpikir praktis yang dibungkus keculasan, di mana saat menikahi Gadis hanya atas dasar kepentingan egoku saja. Pikiran picikku saat itu, perjanjianku dengan Gadis sangat menguntungkanku. Bahkan kalau bisa dibilang menyelamatkan angkara nafsuku.
Singat saja, aku menikahi Gadis, berarti telah memenuhi harapan keluargaku, tanpa harus susah payah menyembunyikan siapa sebenarnya identitasku.
Orang-orang tidak akan tahu tabiatku, pilihan abu-abuku, atau jati diri sexku. Sekejap semuanya dapat dikelabuhi dengan cara pernikahan pura-pura ku itu.
Aku benar-benar telah luput dari lubang jarum kegundahan yang teramat sarat menyiksaku sebelumnya. Akupun lupa dengan Gadis. Akupun lupa dengan status Gadis sebagai istri.
Aku hanya mengejar kehidupanku yang ilegal dengan Pak Martin, dengan mengesampingkan status syah Gadis sebagai istri.
Ironis!
Nyinyir!
Layaknya binatang barang kali!
Aku bergelayut dalam gelap nengejar hasrat yang tidak lazim diperjuangkan untuk diraih. Saat ini aku seperti terpuruk dalam lembah kehinaan.
Tak mampu aku bercermin pada hati nuraniku yang tidak diasah dengan itikad kebaikan. Tak mampu aku temukan bayangan wajahku sendiri. Tak mampu aku mengambil hikmah pada apa yang telah terjadi dalam hidupku.
Aku buta mengejar hidup bersama Pak Martin. Aku tidak mampu berontak pada kekuatan cintaku yang keluar jalur kelaziman yang terarah pada Pak Martin. Aku makin terikat pada semua kebahagiaan dan cinta kasih yang Pak martin berikan.
Kesetiaan cinta dan kasih sayang yang ditunjukkan Pak Martin relah menguatkan jati diriku dan nerubah ketidaklaziman menjadi hal yang layak untuk dijalani.
Pilihan hidup dengan Pak Martin yang kau usung atas nama cinta telah melupakan statusku sebagai suami seorang wanita yang bernama Gadis.
Lambat laun dilemaku meluap bergelombang menghempasku pada karang kebimbangan yang tajam. Pecahan batu karang merobek menyayatu kulit dan daging kekuatanku.
Aku seperti semakin lumpuh digerogoti dilemaku sendiri. Hidup macam apa ini?! Apakah cinta sejatiku memang untuk Pak Martin? Apakah keterlibatan diriku pada bongkahan hidup dan tapakan pasir arah hidup Pak Martin adalah benar-benar sebagai pernyataan cinta sejatiku?
Sampai-sampai akhirnya aku dengan suka cita bersedia hidup di sisi Pak martin. Sampai-sampai aku yakini bahwa hidup merunuti kesetian cinta Pak Martin terhadapku kuanggap sebagai bagian dari impian yang harus kuwujudkan.
Lantas apa yang menjadi sebab kegundahanku? Apakah hanya karena semua orang yang kutemui di kampungku saat aku menjenguk bapak di rumah sakit, yang sangatlah antusias menyerbuku dengan pertanyaan seputas momongan, mampu membuat otak dan batinku terbelit dilema?
Rasanya kau sungguh-sungguh terjebak oleh pertanyaan basa basi mereka. Aku akui, jika apa yang aku jalani dengan Gadis adalah yang benar, tentu aku tidak akan sekelimpungan ini untuk berbasa basi menjawab.
Hah. Aku dan Gadis terikat perjanjian setan. Kami tak sekalipun bersentuhan, bermesraan, apalagi untuk sampai berhubungan untim. Bagaimana aku akan menjawab tentang momongan , wong aku sendiri belum pernah menyetubuhi Gadis?
Aku belum lengkap bertanggung jawab untuk memberikan kebutuhan batin Gadis. Bahkan bisa dibilang aku telah menelantarkannya. Penyesalan menyepakku ke sudut tersunyi.aku benar-benar baru menyadariuntuk apa aku harus lakukan semua ini terhadap Gadis.
Aku bukan suami yang baik. Bahkan aku bukan manusia yang baik. Aku merasa menjadi orang yang paling biadab saat ini. Bermula dari kuatnya ego dan nafsuku, sekarang berakhir dengan melecehkan banyak hal.
Aku telah melecehkan Gadis. Aku telah melecehkan hidupku sendiri. Aku telah melecehkan keluarga dan sanak famili di kampung. Alu telah melecehkan tetangga dan orang-orang di kampungku. Aku telah melecehkan lembaga pekawinan. Aku telah melecehkan tujuan suci pernikahan. Aku telah melecehkan moral bahkan agama.
Aku merutuki diri, kenapa baru sekarang aku sadari? Terlambatkah? Atau lebih baikkah? Aku sungguh-sungguh tidak tahu.
“Mas, ini secangkir capucino, lumayan buat menghangatkan tubuh” Gadis menyodorkan secangkir capucino hangat dan harum.
Aku langsung tertarik untuk menerima minuman favoritku. Sekejap renungan panjangku terputus begitu saja.
“Thanks” aku tersenyum
Gadis membalasnya “Your welcome..”
Kami duduk bersebelahan tanpa kata-kata. Masing-masing mengembangkan payung kata hatinya sendiri, tanpa mau diusik dan mengusik satu sama lainnya.
Hari yang panjang dan melelahkan sudah aku lalui hari ini. Bapak masih di rumah sakit. Kakekku meninggal dunia. Dari tadi pagi, aku sibuk dalam pengurusan jenazah dan pemakaman kakekku.
Sore ini aku mencoba membuang letihku di tepi danau tempat dulu aku lakukan perjodohan dengan Gadis. Sore ini pun Gadis menemaniku di sini. Sedari tadi dia membiarkanku dibawa oleh anganku untuk mengembara, menjelajah ke ruang batin suciku.
Aku mendapat teguran dari cahaya batin untuk sadar diri dengan apa yang telah aku perbuat sekian tahun kemarin. Sekarang niatanku adalah untuk bisa memperbaiki langkah hidupku dan bisa menghargai Gadis sebagai istriku. Semoga keinginanku ini bukan sebuah dilema baru.
Seminggu cuti pulang kampung, menjenguk bapak di rumah sakit, dan tiba-tiba kakekku meninggal dunia, membuatku seperti lebih dekat mengenal kembali lingkunganku.
Gotong royong yang dianut orang-orang di kampung dari dulu, masih dijalankan. Komunitas di kampungku belum berubah melakukan kebiasaan baik itu sampai sekarang.
Tetangga dan masyarakat sekitar benar-benar membantu keluargaku. Mereka peduli dengan apa yang tengah menimpa keluargaku. Mereka sangat membantu pengurusan jenazah kakek, saat anggota keluargaku tengah disibukkan oleh kondisi sakitnya bapak di rumah sakit.
Aku merasa malu pada diri sendiri. Selama ini tidak pernah terpikirkan olehku jika sebenarnya akulah yang telah banyak berubah semenjak kutinggalkan kampungku beberapa tahun silam.
Gaya hidupku di kota telah banyak memaklumi hal-hal ganjil yang kumiliki, yang dulu oleh lingkunganku dianggap tabu dan hina. Malah mereka juga ikut peduli untuk membetulkan keganjilan sikap dan tingkah lakuku.
Semua orang seperti tidak membiarkan munculnya dunia abu-abu dalam tubuhku. Dulu aku sering tidak suka dengan teguran mereka, karena aku anggap mereka terlalu mau ikut campur dengan urusanku. Tak jarang akudipermalukan mereka di depan orang banyak.
Seminggu di kampung membuat perubahan pikiran dan paradigmaku. Alu seperti baru mengenal kembali Gadis. Selama ini aku tidak pernah dekat untuk berbincang dengannya. Bahkan untuk bertegus sapapun seperti bukan hal yang penting untuk dilakukan.
Seminggu Gadis menemaniku, mendampingiku melewati masa penting di keluargaku. Gadis mendukungku penuh dengan memberikan perhatian kepadaku dan keluargaku. Gadis gesit untuk melayani dan menyiapkan semua kebutuhanku selama tinggal di kampung. Sampai hal terkecil seperti sandal jepitpun tidak luput dari perhatiannya.
Seminggu bersamanya membuat aku semakin tahu bagaimana Gadis menempatkan diri sebagai istriku dengan sebaik-baiknya.
“Yang sabar ya Mas…” suara pelan Gadis menyusup ke dalam saluran telingaku.
Aku mengangguk mengiyakan. Suara pelan tadi benar-benar bisa meluruhkan kegundahanku. Aku seperti mendapat kekuatan untuk semakin melawan dilemaku.
“Maafkan aku Dis…” aku terpuruk.
“Untuk hal apa?” Gadis malah balik bertanya kepadaku.
“Untuk semuanya…”
“Tidak apa-apa. Mas tidak seharusnya minta maaf…” ucapan Gadis malah makin menyesakkan nuraniku. Ruang jiwaku terasa makin sempit saja.
“Aku bukan orang baik…” Aku tertunduk dalam-dalam.
“Tidak perlu Mas berpikiran sejauh itu…”
“Aku telah jahat sama kamu…”
“Mas telah menolong hidup saya…”
“Aku menelantarkanmu…”
“Saya masih bisa bahagia..”
Pernyataan Gadis barusan, telah meluluhlantakkan jiwaku. Aku makin terseok di ruang gelap tanpa batas. Nuraniku melayang tak menentu, berusaha melarikan diri dari kejaran rasa bersalahku. Berkali-kali aku usaha, sebanyak itulah aku gagal.
Dilemaku masih ada, namun kali ini aku punya referensi lain untuk berpikir lebih baik. Seminggu aku dapat pencerahan, entah apa pastinya. Jiwaku telah mendapatkan desakan pemikiran lain setelah aku menemukan kembali kehidupanku di kampung.
Aku Cuma bisa minta maaf sama Gadis, dan gal itu nyatanya mampu melegakan ruang nuraniku. Apakah itu pertanda jawaban atas dilemaku selama ini? Entahlah!
Aku sendiri tidak berani untuk berharap banyak, meskipun jujur aku mengharap dilemaku cepat terjawab. Bongkahan doa hati ini selalu aku bawa untuk dipanjatkan. Semoga keadaan hidupku lebih membaik, dan jiwaku menjadi lebih tenang.
*****