*********
Chapter 12: DILEMA
Nada handponeku berdering. Dari layarnya tertulis nama Mbak Novi. Buru-buru aku menjawabnya. Masih dengan melangkah cepat di trotoar, aku membuka percakapan dengan kakakku.
“Hallo Mbak…”
“Hai Kris, apa kabarnya?”
“Baik, keluarga bagaimana?”
“Kris, sudah dapat informasi belum?”
“Tentang apa?”
“Bapak, Kris..”
“Bapak kenapa?”
“Sakit lagi, mungkin ini lebih parah..”
“Kenapa?” aku tercekat.
“Nggak tahulah, bapak masih ngantor sih..”
“Dengan kursi roda?”
“Itulah, kaya nggak tahu bapak kamu saja, Kris..”
“Hmm..cari penyakit saja sih..”
“Oke, sudahlah, sabar”
“Hmm..” aku kembali tercekat.
“Kris, kamu bisa pulang cepat tidak? Temui bapak…”
“Aku usahakan ya Mbak, kalau Gadis yang pulang bagaimana?”
“Wah, nggak enaklah Kris, mestinya berdua sama kamu, Kris..”
“Oke deh, nanti aku bicarakan sama Gadis..”
“Cepet lho ya..”
“Iya, iya…”
“Oke dech.. baik-baik di kota ya..daaa…”
“Oke, daa…” sampai di situ aku membisu.
Masih dengan membisu aku lanjutkan sisa langkahku menuju gedung bercat abu-abu, kantorku. Masih dengan membisu aku runuti tangga ke lantai dua, menuju ruangku.
Hari ini aku putuskan untuk berangkat ke kantor tidak bersamaan dengan Pak Martin. Beliau berangkat siang. Aku belum punya mobil. Karena masih banyak pekerjaan yang harus aku bereskan pagi ini, maka aku putuskan untuk berangkat duluan naik taxi.
Tadi aku berhenti di gerobak lontong sayur yang mangkal di ujung blok gedung ini. Aku sempatkan sarapan di sana. Setelahnya, aku sedikit memutar menapaki trotoar menuju pintu utama gedung abu-abu tempatku bekerja.
Pagi ini rasanya sangat malas untuk tersenyum. Setengah porsi semangat dalam jiwakku menguap setelah mendapat kabar tentang bapak. Imbasnya, pagi ini aku malah tidak mengerjakan beberapa tugas yang belum selesai. Beberapa map kuning yang berisi assignment yang harus aku selesaikan, belum aku sentuh sekalipun, masih menumpuk di sudut meja kerjaku.
Aku hanya duduk membisu di balik meja kerjaku. Entah mengapa, otakku pagi ini mudah dipengaruhi oleh berita dari Mbak Novi tentang kesehatan bapak. Otakku malah hanyut dalam perdebatan kata hatiku sendiri.
Bapak sakit lagi. Malah kali ini lebih parah. Bapak jatuh sakit karena masih bekerja. Kursi roda bukanlah halangan baginya. Stroke kecil bukanlah hal besar baginya. Watak keras kepala bapak lebih dominan dari kurang berfungsinya syaraf di separuh tubuhnya. Bapak tidak berhitung dengan resiko. Bapak hanya menuruti egonya.
Terbersit olehku untuk memberi kabar ke Gadis tentang hal ini. Secepat kilat aku raih telpon kantor dan menghubungi nomor handpone Gadis. Mudah-mudahan Gadis cepat menjawab.
“Hallo?” ternyata Gadis tidak mengenali nomor telpon kantor ini.
“Gadis, ini aku, Kris..”
“Hai, mas, ada apa?”
“Kamu lagi sibuk?”
“Nggak, ada apa? Something important?”
“Ya. Tadi Mbak Novi telpon, mengabarkan kalau bapak masuk rumah sakit lagi. Kambuh stroknya…”
“Gimana kondisi bapak?”
“Aku belum tahu pasti…sepertinya mungkin lebih parah dari sebelumnya..”
“Apa kita harus pulang?” Gadis berinisiatif.
“Menurutmu gimana?”
“Pulang..”
“Oh..” aku tergagap.
“Kenapa? Mas sibuk ya?”
“Sepertinya tidak bisa secepatnya pulang..”
“Apa saya yang harus pulang? Saya senggang nih..” aku mendengar ketulusan Gadis. Namun aku menjadi jengah mendengar inisiatifnya.
“Aku usahakan kita berdua pulang”
“Oke, saya setuju”
“Aku lihat scheduleku dulu, mudah-mudahan Pak Martin bisa replace agenda kerjaanku…”
“Oke”
“Thanks, bye…”
“Bye..”
Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan konsentrasiku. Kubuka satu-persatu map kuning yang ada di meja kerjaku. Untunglah, isinya bukanlah assignment yang besar dan sulit. Prediksiku, jika aku kerjakan sampai sore, aku akan bisa menyelesaikannya.
Seharian aku berkutat dengan map kuning. Satu-persatu aku selesaikan assignment kantor. Mulai dari menjawab surat client, e-mail pelanggan di daerah, planning program target market bulan depan, laporan mingguan dan pekerjaan administrasi lainnya yang tidak perlu keluar kantor.
Seharian aku bisa melupakan sejenak kabar tentang bapak. Seharian aku paksakan pikiran dan tubuhku untuk bisa menyelesaikan sekian tumpuk amplop kuning untuk minggu ini. Seharian aku lewatkan lambungku terisi oleh makan siang dan capucino minuman favotirku.
Setengah enam lebih dua menit, lambungku menjerit perih, mengingatkanku. Serentak tubuhku protes untuk diberikan asupan energi. Keringat dingin merembes di pelipisku dan leherku. Lapar menyerang dan lemas menyerbu. Maka aku mendadak seperti orang kalap mencari sesuatu yang bisa dimakan atau diminum.
Aku terburu-buru melangkah ke pantry di lantai dua. Aku berharap menemukan sesuatu yang kuinginkan di sana, minimal untuk mengganjal lambungku. Di koridor menuju pantry, aku berpapasan dengan Pak Surya, salah satu OB di lantai dua.
“Sore Pak Kris…”
“Sore, Pak Surya belum pulang?”
“Saya baru mau pulang”
“Pantry dikunci?”
“Ya, Pak Kris..kuncinya ada di saya”
“Saya kelaparan nih Pak Surya, haha…saya ingin minum kopi..”
“Baiklah, saya antar Pak Kris ke Pantry..”
“Wah, jadi negerepotin nih..”
“Tidak Pak, mari Pak Kris..”
Pak Surya melangkah di depanku menuju pantry. Tidak tahunya Pak Surya cepat inisiatif membuatkan minuman favoritku. Beliaupun masih mau menungguiku minum kopi.
“Lembur Pak Kris?” Tanya Pak Surya, disela-sela aku menyeruput kopi hangat.
“Ya, banyak yang harus saya kerjakan Pak..”
“Wah, sibuk ya Pak..”
“Iya, biasalah Pak, bagian marketing nggak pernah santai.., haha..”
“Iya Pak Kris..”
Minum kopi ditemani Pak Surya menjadikan tubuhku rileks. Kepenatanku setelah seharian berkutat dengan map kuning, berkurang jauh. Pembicaraan informal dengan Pak Surya, sedikit mengalihkan perhatian pikiranku pada kabar tentang bapak di kampung.
Berjalan menyusuri trotoar di avenue depan gedung kantorku petang ini tidak senyaman biasanya. Berdetaknya jantungku melebihi hari biasanya. Aku kembali harus memilih. Pulang menjenguk bapak atau tidak.
Terngiang olehku inisiatif Gadis untuk pulang mewakiliku jika aku tidak bisa pulang menjenguk bapak. Aku makin salut saja dengan Gadis. Selama ini dia konsekuen menunjukkan komitmennya untuk menikah denganku.
Tak pernah sekalipun aku lihat dia kecewa, cemburu atau kesal dengan perlakukanku dan Pak Martin yang sering kelewat batas apabila kami sedang mencurahkan hasrat imajinasi.
Sepertinya Gadis sudah sangat cukup puas diberikan kemerdekaan lepas dari kungkungan keluarganya. Sekarang Gadis tengah mengembara bahagia mengaktualisasikan dirinya di pekerjaannya sebagai interior designer.
Tidak sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan di bidangnya itu. Cantik, smart dan luwes, itulah karakter yang gadis punya. Modal dasar yang komplit untuk mencari pekerjaan. Sekarang, Gadis seperti tengah ber-honey moon dengan pekerjaannya.
Apakah karena aku juga yang tidak sensitif terhadap perasaannya? Selama ini aku tidak pernah sekalipun berusaha untuk mencintainya. Aku memang tidak punya cinta untuknya! Aku menikahinya karena perjodohan diantara kami. Pernikahan ini merupakan realisasi dari bentuk perjanjian kami berdua di tepi danau.
Ah!
Setan!
Aku yang setan!
Sudah satu semester lebih aku belum pernah menyentuh Gadis, yang secara hukum adalah istri syahku. Aku malah membiakannya dalam kesendirian hidupnya. Yang kugapai malah cinta Pak Martin! Bukan cinta saja, tapi juga nafsunya.
Sudah satu semester lebih bapak mengungkapkan kangennya untuk menimang cucu. Lebih ngeri lagi bapak sangat berlebihan mengungkapkan harapan dan perasaannya kepadaku agar aku bisa memberikan cucu kepadanya sebelum bapak meninggal!
Ada-ada saja! Pikirku.
Sentimentil! Pekikku.
Namun tiba-tiba kata hatiku yang lain menimbang-nimbang. Satu semester lebih bukan waktu yang singkat untuk pasangan pengantin baru dalam meluapkan cintanya untuk membuahkan hasil seorang keturunan.
Bagaimana kata orang nanti?
Persetan!
Kok jadi ruwet begini?!
Persetan apa kata orang!
Bagaimana dengan apa kata bapak? Apa kata Ibu? Apa kata keluarga? Aku menghela nafas berat. Udara sore tidak sedikitpun membantu melegakan rongga tenggorokanku. Aku terus berjalan membisu.
Hidupku penuh dilema!
Heh, terlalu aku dramatisir. Mungkin tidak sedilematis itu. Mungkin hanya perasaanku saja yang berlebihan.
Mungkin.
Tapi kenapa masih saja aku dijerat dilema? Satu sisi aku sudah mendapatkan hidup dan cinta Pak Martin. Satu sisi lagi aku menikahi dan menelantarkan Gadis sebagai istri syahku.
Perasaan bahagia sekaligus menyesal makin bercampur aduk belakangan ini. Semain hari semakin aku dikucilkan dan didera oleh ruhku sendiri. Aku yakini sepenuhnya bahwa deraan ruhku adalah kebenaran mutlak.
Sungguh dilematis!
Mudah-mudahan dilema itu tidak berkepanjangan.
Lima menit lagi aku akan sampai di tempat janjianku dengan Gadis. Hanya tinggal dua blok lagi. Malam ini aku ajak dia untuk makan malam sambil membicarakan rencana pulang menjenguk bapak.
Sebagai menantu, ternyata Gadis mampu menempatkan diri, menjunjung tinggi kepentingan bapak mertuanya, mengutamakan perhatian kepada keluargaku. Ketulusannya terpancar jelas pada saat dia menatapku. Sesuatu yang baru aku sadari selama ini. Gadis benar-benar istimewa.
Makan malam yang indah. Makan malam yang menghasilkan kesepakatan kami berdua akan pulang kampung menjenguk bapak. Kamipun punya kesepakatan untuk menjawab bohong seputar pertanyaan orang tentang momongan. Paling tidak jawaban diplomatis yang tidak menyinggung perasaan orang lain.
*****
penacerita, ayo dunks lanjutin ceritanya…gue penasaran nech bagaimana endingnya…gue nunggu lho..seru ceritanya, gue jadi bisa ngerti dunia abu-abu lebih bijak..hehe.. makanya cepet post lagi lanjutan ceritanya ya… thanks
penacerita…membaca cerita ini saya ikut terhanyut lho… saya jadi bisa coba untuk lebih netral, minimal mengerti orang-orang di dunia abu-abu, saya yakin mereka juga dak mau seperti itu..oke dech… saya tunggu lanjutan ceritanya.. jangan kelamaan ya..
well…kayaknya masih panjang nech ceritanya.. semoga penacerita bisa lebih cepat lagi untuk post lanjutan ceritanya. gue udah baca ulang dari chapter 1…hehe.. and gue juga suka dengan covernya…bravo!
wah, asyik ceritanya nech…apakah cerita ini dari true story ya? penacerita, dilanjut dong..apa ada ya orang seperti Gadis? hebat euy…but aq gak mo bernasib seperti dia…hehe..
well…penacerita, aq tunggu cerita selanjutnya. dunia abu2 ternyata unik dan rumit. cape bener orang2 yg seperti Kris, Pak Martin dan Gadis… seru!
tadinya aq g tertarik cerita ini. pas aq baca, lama-lama seperti ikut arus pikiran aq mengikuti cerita ini. hmm..seru jg, bagus jg tuch klo diterbitin jd novel..gmn cerita slanjutnya? bikin penasaran aja nech penacerita
wah, keren..problem dunia abu2, problem psikis Kris, Pak Martin dan Gadis…wuih..apa ada ya mereka? penacerita bis aja bikin crita..bravo!
penacrita…salut dech critanya. enak dan bikin pengen baca terus nech…ditunggu klanjutn critanya…btw, dibikin novel aja, n terbitin..
ini dinda…seru dech critanya..penacerita bisa aja mengolah emosi tokoh2 critanya. penacerota, mana dunks profilmu? fotonya geto..
wow…asik nech critanya…gmn lanjutannya?
boleh tau idenya dari mana crita ini? emang bener dari penuturan kris dll? wah, seperti nyata terjd soalnya.. asik bcnya
waduh, asik bener bc nech crita…ayo dunk penacrita lanjutin cepet critanya, udah nunggu nech…
aq gak nyangka klo dunia abu2 itu penuh dg pertentangn batin..kok bisa sech penacerita crita pergulatn batin mrk? hmm…mnjiwai bgt dech..kpn post lanjutn critanya? maap ya, tdnya aq gak minat..hehe..pas bc chapter 2, eh aq kterusan, pas tau blum ada lanjutnnya, aq ulang bc lg lho..hehee..
penacerita…wonderful crita lho..gw bs blajar dr tulisanmu n kreasi critamu..ok banget dech
te o pe dach nech crita…lanjutannya mana? ayo dunks..apa udah slesai ya? gak lah yaow..pengenku happy ending…
holla…gw nunggu lanjutan critanya nech…kapan ya? apa sengaja ya penacrita gak lanjutin critanya? tau2 udah di buat noveknya kale..biar kita2 beli..hehehe…gw bakal beli klo diterbitin..
oks bgt..top bgt..kok gw jd pengn bc lanjutannya ye? nyandu kale…penacerita, ayooooo
gw jg nunggu…kok lm g muncul2 lanjutn crita ini..hmm kpn?
waduh, critanya gw banget dach..hmm, penacerita bikin happy ending ya Kris dan Gadis…
jalan2 ke pasar minggu, pake baju abu2, jangan bikin gw bosan nunggu, lanjutan crita si abu2…sip kan?
nasib kris gmn ya? aku salut ama kesabaran gadis, apa ada ya wanita spt dia? hmm…Pak Martin? makin seru aja.. klo ada orangnya mrk cakep2 kale ya?…
hmm..penacerita bikin settingnya ky bukn di indo nech..tp ada puncak..negeri antah branth..mau sembunyiin lokasi crita nyatanya kale ya.. coba bc intro dll..spertinya ini kisah nyata, cuma disembunyiin fakta2..penasaran gak sech?