*********
Chapter 11: BERKELUARGA
Pikiran jahatku mampu membangun nyaliku untuk berbuat curang. Aku leluasa melakukan kecurangan pada diriku, pada keluargaku, pada Gadis dan keluarganya serta pada masyarakat kampungku.
Selain Tuhan, hanya aku, Gadis dan Pak Martin yang mengetahui kecurangan dan bohong besar ini. Kami bertiga punya kepentingan yang sama-sama kuat, maka aku yakin, semua itu tidak akan terbongkar.
Keji!
Ya! Tapi, mau apa lagi?
Aku terus memupuk kebohongan itu sampai benar-benar aku dinyatakan syah menjadi suami Gadis, oleh lembaga perkawinan. Kebohongan yang diam-diam dilakukan dan teramat keji. Aku seperti tidak punya pilihan baik lagi, sehingga hal jahat ini aku lakukan juga.
Entahlah!
Atau masa bodo?
Bisa jadi tepatnya itu!
Acara keluarga yang bisa dibilang besar-besaranpun terjadi di rumah bapak mertuaku. Wajah seluruh anggota keluargaku dan keluarga Gadis memancarkan senyum kelegaan dan kebahagiaan yang sumringah. Wajah-wajah itu menghiasi sepanjang malam resepsi pernikahan – pura-pura – ini.
Aku dan Gadis malam ini menjadi pusat perhatian khalayak tamu undangan. Rumah besar milik bapak mertuaku ternyata tidak henti-hentinya dikunjungi oleh undangan yang datang bergantian.
Peristiwa pernikahan ini dijadikan momen oleh bapakku dan bapak mertuaku untuk mengukuhkan harkat dan martabat sosial keluarga kepada masyarakat kampungku.
Peristiwa pernikahan ini, bagiku tidak berarti apa-apa, kecuali kebohongan dan kepura-puraan. Tidak ada sedikitpun esensi peristiwa ini aku dapatkan, kecuali untuk sekedar menunjukkan bakti kepada orang tua.
Gadis?
Entahlah apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Saat ini aku tidak berani untuk mengungkit perasaannya. Biarlah dia bergelut dengan perasaan dirinya. Biarlah dia menikmati “kemenagannya” atas rencana sesungguhnya kenapa dia mau menikah denganku.
Dunia sudah rusak!
Bukan dunia yang rusak, tapi aku! Moralku!
Persetan saja! Kata hatiku yang lain.
Aku benar-benar sudah diujung ketidakpedulian. Tidak peduli hal itu baik atau salah. Tidak peduli apa yang nanti akan terjadi setelah pernikahan pura-pura ini. Tidak perduli dengan kehendak bapakku lagi. Tidak peduli dengan apa kata hati mertuaku. Bahkan tidak peduli dengan apa yang dirasakan Gadis.
Aku hanya peduli dengan diriku sendiri. Tepatnya hanya peduli dengan egoku saja. Aku tidak lagi berpikir panjang, kecuali hanya ingin mencapai kehendakku sendiri. Menikahi Gadis adalah sesuatu yang hanya untuk memupuk egoku.
Ego yang hanya memikirkan keinginanku saja.
Ya. Keinginan yang aku pikirkan sebenarnya adalah apapun caranya tujuannya adalah agar aku bisa terus hidup bersama Pak Martin. Aku telah mengukuhkan harapan hidup bahagia bersama beliau. Aku sudah berani untuk menapaki jalur yang dianggap menyimpang itu.
Ego yang difasilitasi oleh keadaan.
Benar. Mungkin ini keberuntunganku. Tanpa disangka dan diduga, aku punya peluang untuk picik berpikir sesuai dengan egoku. Aku bertemu Gadis yang ternyata memberiku jalan untuk tetap menutup rapat-rapat kebusukanku, sehingga tidak terbongkar. Aku menikahinya bukan karena niat sakralku, tapi karena sebuah perjanjian kejam.
Ego yang berdasarkan untung rugi.
Aku benar-benar berhitung untung rugi menikahi Gadis. Kedua belah pihak sepakat untuk saling menguntungkan. Aku terselamatkan dari kejaran kehendak keluarga. Gadis terselamatkan dari kungkungan keluarganya.
Ego yang menghambakan keinginan nafsu.
Betapa aku terpuruk pada niatan nafsu yang selama ini menganggap sebuah kelaziman atau kelumrahan sepihak untuk tetap hidup “berkeluarga” dengan Pak Martin.
Edan!
Zaman edan!
Zaman sudah edan! Bukan. Akulah yang saat ini edan.
Aku terus merintih, pongah, cuek, acuh tak acuh, tidak perduli, dan trenyuh dalam hati. Sementara bibirku terus tersenyum sumringah di depan undangan yang menyalamiku.
Sandiwara semalam bagiku merupakan bentuk formalitas bahwa aku sudah berkeluarga. Resepsi itu merupakan acara formalitas pengakuan bahwa aku “normal” di depan keluargaku dan orang-orang. Seabrek formalitas itu berarti bagiku sebagai tiket agar aku dapat leluasa untuk terus melanjutkan hidup bersama dengan Pak Martin.
Malam pertama aku dan Gadis dilalui tanpa darah perawan. Aku tidaklah ada hasrat untuk mencanangkan keperkasaanku terhadap benteng keperawanan Gadis. Aku juga tidak mendapat tuntutan dari Gadis. Dia sudah berkubang dengan “kemerdekaan”nya sendiri: lepas dari keluarga.
Menjijikan! Kata hati kebenaranku menyentil muak. Namun saat ini aku tidak lagi mendengar. Aku sudah tuli akan suara moralitasku sendiri! Mati rasa! Inikah bentuk keluarga setan? Entahlah! Yang aku sadari adalah semuanya berjalan di jalur yang salah!
Perjalanan hidup sebulan berikutnya, aku lalui seperti biasa. Keseharianku dengan Pak Martin berjalan seperti biasa. Keberadaan Gadis di apartemen Pak Martin seperti tidak ada artinya, kecuali bentuk fisiknya. Kepedulian dan kebaikanku terhadap Gadis bukanlah sebagai seorang suami. Hubungan baik di antara kami bertiga boleh dibilang hanya sebatas layaknya kebaikan antar teman atau sahabat.
Tidak terasa sudah satu semester aku menjadi “kepala keluarga”. Sebagai suami aku belumlah lengkap memberikan nafkah kepada Gadis. Setelah menikah, Gadis mendapat pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya, sebagai interior designer. Setelahnya, dia benar-benar sibuk dengan kegiatannya.
Lengkap sudah cerita “keluarga” yang aku punyai. Keluarga yang dibangun dari perjodohan yang menyimpang aturan kelayakan normal yang dianut masyarakat. Keluarga yang tidak berfondasi aturan norma agama.
Aku dan Gadis tersentak sendiri saat kami diingatkan oleh orang tua masing-masing. Saat mereka menyadari bahwa mereka belum juga mendapatkan cucu dari hasil pernikahan kami.
Sesuatu yang sulit untuk dijawab. Sesuatu yang sudah kami sepelekan. Sesuatu yang kami anggap tidaklah penting. Sesuatu yang selama ini terlewat dari pemikiran kami. Sekarang hal itu memojokkan kami.
Apa alasan yang pantas untuk menjawab pertanyaan keluarga itu? Jawaban yang jujur tidaklah mungkin. Akan sangat menggemparkan. Mau tidak mau aku dan Gadis kembali merancang bohong besar lagi.
Tahapan bohong sudah kami lalui dan mungkin akan selalu kami lalui selama perjalanan kami berkeluarga. Keadaan ini akan terus membelit hubunganku dengan Gadis sebagai suami istri. Hubungan ganjil antara seorang kepala keluarga dengan istrinya.
Sampai kapan keadaan ini akan terus berlangsung? Sepertinya jawaban itu belumlah terpikirkan olehku. Ataukah karena aku belum kapok? Tak tahulah. Aku belum berani menyatakan sikapku.
Huh!
*****