*********
Chapter 10: KOMITMEN
Untuk kedua kalinya aku dibenturkan pada kata yang sama. Komitmen. Dulu aku berusaha untuk tidak langsung memegang arti kata itu pada saat Pak Martin mengajakku untuk hidup bersamanya. Sekarang untuk kedua kalinya aku tidak mau untuk begitu saja memegang kata itu pada saat aku harus konsekuen untuk menikahi Gadis.
Sepengecut apakah aku ini? Sebegitu parahkah sikap pengecutku untuk bertanggung jawab terhadap sebuah komitmen? Mengapa aku malah memilih menjadi seorang pengecut dari pada harus menunjukkan komitmenku terhadap orang lain dalam menjalin sebuah hubungan?
Aku hanya bisa menggeleng. Aku sendiri tidak tahu apa kata hatiku yang sebenarnya mengapa aku tidak berani memulai untuk mempunyai komitmen tinggi terhadap sebuah ikatan hubungan.
Aku bukan orang yang gampang untuk menyanggupi menjalani ikatan dari sebuah hubungan personal yang melibatkan perasaan hati. Aku sudah mencoba punya komitmen kepada Pak Martin untuk hidup bersama. Tapi sampai detik inipun aku masih gamang dan tidak berani mengatakan cintaku pada beliau.
Bagaimanakah soal hubunganku saat ini dengan Gadis? Apakah nantinya aku harus bisa mengerti dan menyanggupinya sebagai bentuk komitmen antara suami istri? Sanggupkan aku bertanggung jawab atas nafkah lahir dan batin Gadis jika kelak dia sudah menjadi istriku?
Aku tidak kuasa memaksa diriku untuk komitmen pada keputusan yang aku sendiri yang memilih. Keputusan keluarga sudah jelas. Pernikahan antara aku dan gadis sudah dibilang pasti. Hari pernikahanku dengan Gadis sudah ditentukan dan disetujui oleh kedua belah pihak keluarga.
Memang, aku ini pengecut…aku merutuki diri sendiri. Kenapa aku tidak berani bertanggung jawab atas keputusanku sendiri? Kenapa aku malah punya pikiran untuk lari menghindari? Kenapa nyaliku malah makin menciut saat mengetahui pernikahan itu makin dekat harinya?
Stress?
Bisa jadi.
Aku datangi kembali psikolog nyentrik itu. setelah setahun aku tidak berkunjung padanya. Beliau cuma menggeleng-geleng makin tidak mengerti dengan pola pikiranku. Jangan-jangan aku memang tidak waras. Uh.
“Komitmen” psikolog itu manggut-manggut, berkesan tahu apa yang dipikirkanku saat ini.
“Ya, saya takut untuk berkomitmen” aku menjelaskan
“Kenapa?”
“Saya tidak tahu, makanya saya ke sini lagi”
“Selama ini bagaimana hidup anda? Apakah anda mendapatkan hidup anda seperti apa yang anda harapkan?”
“Ya”
“Lantas, apa yang harus anda khawatirkan? Anda sudah melakukan apa yang dimaksud dengan komitmen tadi..”
“Ini masalah komitmen lainnya”
“Oh, dalam hal yang sama dengan kemarin, atau berbeda?”
“Sama” aku tidak melanjutkan.
“ Anda sudah tahu harus berbuat apa dong kalau begitu, Bukannya anda sudah punya pengalaman yang sama? Harusnya anda bisa selesaikan masalah ini tanpa harus ke sini kan?” psikolog nyentrik menandaskan.
“Tapi berbeda orang” aku belum sepenuhnya bercerita. Kali ini sangatlah sulit aku untuk berterus terang.
“Berbeda bagaimana? Orang lain? Laki-laki lain?” psikolog itu sudah mengerti pertanyaan apa yang harus dia tanyakan kepadaku saat ini.
“Bukan” aku cepat menyela.
“Perempuan?”
“Ya”
“Hehehee….” Psikolog nyentrik malah terkekeh-kekeh. Makin aneh saja.
“Kenapa tertawa?”
“Anda mau memulai sebuah hubungan khusus dengan perempuan?” sergahnya.
“Ya”
“Baguslah kalau begitu. Saya setuju aja. Orientasi anda sudah mengarah kepada arah yang seharusnya” paparnya
“Tapi ini berat bagi saya” aku mengeluh di depannya.
“Kenapa anda merasa berat? Ini pilihan anda bukan?”
“Bukan”
“Oh..”
“Pilihan keluarga”
“Anda menyanggupi pilihannya?”
“Ya”
“Lalu, apa yang harus anda khawatirkan?”
“Tapi…”
“Anda sudah menentukan. Anda sudah memutuskan lho. Anda tidak bisa lari dari keputusan itu..”
“Saya tidak akan menghindar..”
“Lantas?”
“Saya berat untuk melakukannya” aku mengakuinya.
“Anda harus mencoba konsekuen dengan pilihan anda. Keluarga sudah memupuk harapan terhadap anda lho” psikolog nyentrik ini setengah mengingatkanku.
“Ya. Itu yang membuat saya semakin pusing” keluhku
“Menurut saya, bukan itu yang membuat anda pusing” psikolog itu langsung membantah.
“Lalu, apa?” aku sedikit terhenyak dari relaksasiku berbaring di sofa panjang, empuk dan nyaman di ruang terapi.
“Anda tersiksa oleh hal yang sama seperti anda rasakan setahun yang lalu” tandas psikolog nyentrik itu dengan tenang.
“Jadi saya harus membuat solusi yang sama juga?” aku tertegun. Masalah dengan perasaanku lagikah yang membelitku saat ini? Aku sudah menentukan mengiyakan semua urusan pernikahanku dengan Gadis sesuai dengan kehendak orang tua. Kenapa aku sekarang menjadi bimbang lagi? Kenapa aku malah menyangsikan kesanggupanku sendiri?
“Pikirkan hal positif untuk melanjutkan apa yang akan anda jalani, sesuai dengan keputusan anda di depan orang tua anda, oke?” psikolog itu menggiringku untuk tidak terjebak oleh kekhawatiranku. Aku merasa seperti mendapat energi baru yang menyemangatiku saat ini.
“Ya, saya akan coba” aku mendapat keyakinan baru. Saat ini aku hanya sedang diujung ketakutan hidupku mendatang, tepatnya pernikahanku dengan Gadis. Pertaruhan keputusan yang aku buat yang bagi orang lain bisa jadi sangat melecehkan hal sakral itu.
Entahlah!
Entahlah!
Entahlah, tepatnya aku tidak peduli!
Egoisku membawaku ke arah yang membuatku tidak perduli akan apa yang terjadi beberapa bulan lagi. Hatiku telah menetapkan bahwa pernikahan itu akan aku lakukan sebagai bentuk baktiku kepada orang tua, atau entah sebagai pembuktianku pada keluarga bahwa aku menyembunyikan identitasku.
Entahlah!
Entahlah!
Entahlah, tepatnya aku semakin tidak perduli!
Pikiran nekadku adalah membiarkan perkawinanku dengan Gadis terjadi atas dasar perjodohan ganjilku dengan dia waktu kami berbincang pagi-pagi di tepi danau itu. Biarlah pilihan itu yang kami tetapkan. Kami mendapatkan keuntungan masing-masing atas keputusan itu.
Aku menghindari komitmen? Bisa jadi!
Aku tidak menepati komitmen? Bukan aku yang meminta!
Aku melecehkan komitmen? Biarlah! Biarkan saja orang-orang berkata begitu. Biarkan saja orang-orang berpendapat begitu. Biarkan saja orang-orang menganggapku begitu. Egoku kembali meletup. Egoku begitu kuat menepis semua asumsiku. Egoku tak terbendung dan mampu merubah kepribadian dan memupus perasaan. Egoku telah menampik moral valuesku sendiri saat ini. Egoku telah mengarahkanku untuk menjadi sosok yang berpikiran lain. Egoku menguatkan pikiranku untuk tetap dengan Pak Martin, tanpa harus memikirkan perasaan Gadis.
Komitmen!
Biarlah kata itu ada, tapi bukan untukku saat ini.
“Kamu kelihatan cape, Kris” sapa Pak Martin di kantornya, saat aku menyodorkan hasil evaluasi bulanan di departemen marketing.
“Kelihatan ya Pak?” aku balik bertanya
“Yup. Wajahmu nggak seperti biasanya” Pak Martin menatapku tajam.
“Oh” aku terdiam.
“Apa kamu perlu cuti?” Pak Martin menawarkan cuti padaku.
“Saya belum perlu, Pak…” aku berusaha untuk menolak.
“Beberapa harilah, untuk menghilangkan stressmu..” Pak Martin terus memancingku.
“Saya tidak stress” aku mengelak
“Bener?” Pak Martin menggodaku.
“Ya” aku menggangguk.
“Beberapa hari ini tidurmu mengigau terus..” Pak Martin ternyata punya bukti yang memojokkanku. Aku tidak lagi bisa mengelak.
“Masa?” aku mencoba mengalihkan perhatian Pak Martin.
“Apa perlu aku temenin cuti?” Pak Martin senyum-senyum ke arahku penuh arti.
“Nggak tahulah” aku jadi ragu.
“Oke, kita cuti bersama minggu depan” Pak Martin sepihak memutuskan. Aku hanya bisa diam. Seperti biasanya, aku tidak bisa menyangkal apa yang telah ditetapkan Pak Martin. Selama ini aku selalu percaya apa yang beliau lakukan untukku.
“Up to you, thank you so much” aku tersenyum bungah, lalu keluar ruangan.
Duduk bersebelahan dengan Pak Martin di waiting area bandara internasional, membuatku sedikit melupakan penatnya pikiranku saat ini. Pak Martin bercerita banyak tentang kota metropolitan di negara bekas jajahan negara Inggris yang akan kami kunjungi untuk beberapa hari mendatang.
Sesuai dengan jadwal, tidak berapa lama lagi kami akan dipersilahkan untuk menuju ke pesawat. Minggu ini, akhirnya aku mengambil cuti empat hari. Ternyata Pak Martin diam-diam memberiku surprise.
Sebenarnya beliau punya tugas ke luar negeri. Aku disuruh beliau untuk mengambil cuti sesuai dengan hari tugasnya. Beliau mengurus semua dokumen perjalanan. Aku tinggal menyiapkan paspor saja.
“Lumayan kan Kris, biaya akomodasi sudah ditanggung oleh kantor. Aku tinggal beliin kamu tiket. Lagian, daripada aku lonely di sana, aku ajak kamu aja…” bisik Pak Martin kepadaku. Aku hanya memandangnya sesaat, lalu melanjutkan pandanganku melihat-lihat sekitar ruang tunggu boarding pass ini.
“Kita akan honeymoon Kris…” Pak Martin cekikikan, masih berbisik-bisik.
“What?” aku terlonjak sejenak. Pak Martin makin terkekeh.
“Apa perlu aku teriak?” Pak Martin makin kegelian dengan tingkahku yang terkaget-kaget dengan ucapannya.
“Nggak” jawabku singkat, sangat tidak setuju.
“Aku akan ketemu client selama sehari, mudah-mudahan urusannya kelar dan sukses, selebihnya kita akan jalan-jalan di sana…” Pak Martin menjelaskan rencananya, tepatnya harapannya.
“Mudah-mudahan saja” aku tidak punya kata-kata lagi untuk menimpali ucapannya.
Suara perempuan lewat load speaker mengumumkan kepada penumpang yang bertujuan ke negara yang seperti kami tuju, untuk segera memasuki pesawat. Aku siapkan ransel dan boarding pass. Semua penumpang berbaris menuju pintu masuk pesawat.
Duduk di pesawat boing sungguh menyenangkan perasaanku. Entah mengapa. Sengaja aku memilih duduk di tepi jendela pesawat. Pak Martin duduk di sebelahku. Aku perhatikan sekeliling. Situasi dalam pesawat tampak sedikit lengang. Penumpang pesawat ini tidak penuh.
Perjalanan selama kurang lebih lima jam, ternyata tidak membuatku merasa bosan. Pak Martin banyak bercerita tentang hal-hal kantor dibandingkan dengan hal-hal pribadi. Aku lebih banyak mendengarkan saja.
Sekeluar dari bandara internasional Kai Tak, kami langsung menuju ke hotel yang terletak di luar kota. Seperempat jam kendaraan hotel melalui jalan tol yang melintasi rumah susun yang berderet, tepian laut, bukit-bukit hijau di kejauhan, perkantoran yang berlabel huruf yang aku tidak tahu dan tunnel yang berjarak cukup panjang, akhirnya sampai di tujuan.
Lega rasanya bisa berbaring di tempat tidur hotel, setelah sekian lama duduk di perjalanan. Hari belumlah sore. Tubuhku butuh istirahat. Kulihat Pak Martin sibuk menelpon client-nya. Sepertinya sedang melakukan appointment. Tak berapa lama setelah selesai, beliau membereskan dokumen yang dibutuhkan.
Sambil berbaring telentang, aku perhatikan kesibukan Pak Martin. Marketing Manager handal ini terlihat serius dengan rencananya. Segala sesuatunya dipersiapkannya dengan matang. Aku tidak berani mengganggunya saat ini. Lebih baik aku putuskan untuk tidur saja.
Sepertinya aku belum lama terlelap. Tiba-tiba tubuhku menggigil. Tubuhku juga merasakan seperti menopang berat. Perlahan aku buka kedua mataku. Ternyata Pak Martin sudah menindihku. Aku baru menyadari jika Pak Martin sudah melucutiku.
Aku biarkan beliau meneruskan inspirasinya. Aku biarkan saja beberapa lama, sebelum akhirnya aku bereaksi karena aksinya.
Empat hari di Hongkong, banyak pengalaman yang aku rasakan. Melihat-lihat pasar tradisional Mekong, wisata ke Ocean Park, lari pagi di sekeliling Victorian Bay, makan malam di perahu apung, jalan-jalan di kota, berhujan-hujanan di perahu tongkang, ke diskotik hotel, belanja di pertokoan dan segudang acara weekend lainnya, ternyata sungguh dapat meringankan beban pikiranku. Belum lagi acara yang Pak Martin sebut honey moon membuatku makin mabuk oleh kehidupan dunia abu-abu.
Kalau bisa dibilang, empat hari di Hongkong dapat membuatku makin memupuk keegoisan dan ketamakanku. Aku punya solusi yang aku anggap paling benar untukku. Aku tidak perlu pusing dengan komitmen. Aku akan jalani saja apa yang akan terjadi.
Lebih curang lagi, aku berpikir bahwa saat ini sumber kebahagiaanku adalah Pak Martin. Pilihanku sekarang adalah aku akan tetap bersamanya. Pikiran jahatku terhadap Gadis sebatas menolongnya untuk kabur dari rumahnya. Bukannya aku harus komitmen karena adanya proses pernikahan itu.
Bukankah dengan keputusan yang diambil Gadis justru aku malah mendapatkan banyak keuntungan? Ya. Karena dengan begitu aku masih bisa melanjutkan hubunganku dengan Pak martin dan aku juga bisa memenuhi harapan dan keinginan keluargaku agar aku menikah. Bukankah Gadis juga punya tujuan sendiri? Bukankah Gadis juga diuntungkan karena keinginannya untuk kabur dari rumah dapat dicapainya?
Komitmen.
Apa benar Gadis juga punya komitmen pada pernikahan itu? Apa benar Gadis akan mengusung arti kata itu jika dia sudah menjadi istriku, maksudku, istri pura-puraku? Apa Gadis akan memegang erat komitmen yang disodorkan oleh lembaga sakral yang bernama pernikahan itu?
Belum tentu. Aku malah yakin jika Gadis tidaklah sepusing seperti diriku.
Komitmen.
Atau berjuta-juta komitmen.
Ah! Sekarang, aku tidak lagi takut pada kata atau berjuta-juta kata itu, karena aku bisa menganggapnya tidak ada dalam kehidupanku.
*****