*********
Chapter 9: KEMBALI KE KOTA
Perlengkapan sudah masuk bagasi mobil Beberapa kardus berisi oleh-oleh dan souvenir sudah diletakkan di jok belakang. Pagi ini aku dan Pak Martin sudah siap kembali ke kota. Keluargaku berkumpul di teras depan untuk mengantar keberangkatan kami.
“Terima kasih Bapak dan Ibu, saya mohon pamit..” Pak Martin memulai untuk pamitan kepada bapak dan ibu.
“Terima kasih Nak Martin, tolong Kris dibimbing, biar sukses seperti Nak Martin…” Bapak serius berharap.
“Pak Kris pekerja hebat lho, jadi Bapak tidak perlu khawatir, tinggal doa restu Bapak dan Ibu saja…” Pak Martin berdiplomasi, terdengar oleh telingaku cenderung basa basi.
Aku menyalami semua anggota keluargaku satu persatu sambil berlanjut dengan pelukan. Saatnya untuk berpisah. Saatnya aku untuk kembali ke kota. Saatnya harus kutinggalkan kampungku. Saatnya kutinggalkan Gadis untuk sementara sebelum aku jemput untuk kunikahi. Saatnya aku berpikir di kota untuk kehidupanku selanjutnya.
Wajah bapak masih terbayang. Wajah Ibu masih terngiang. Wajah-wajah bahagia keluargakupun menyusul memburu bergantian dibenakku. Setelah sejam perjalananku ternyata belum juga pudar.
“Kamu masih kangen sama keluarga, Kris?” Pak Martin memecah lamunanku.
”Ya” aku menjawab jujur
”Kamu masih ingat Gadis?” pertanyaannya kali ini bernada menyelidik.
”Cemburu?” aku meledeknya
”Ya” Pak Martin jujur
”Sorry… kan sudah saya ceritakan semuanya tentang aku dan dia?” aku coba untuk meyakinkan beliau untuk tidak ragu.
”Yup, thanks Kris..”
“Your welcome..” aku hanya tersenyum
”Kris, kira-kira Gadis akan memaklumi kita tidak ya?”
”Saya yakin, saya percaya sama dia. Dia tidak main-main dengan ucapannya. Tujuan hidupnya bukan saya, tapi bebas dari kungkungan keluarganya” aku menjelaskan sambil terus menguatkan Pak Martin agar tidak ragu akan keputusanku.
”Kasihan Gadis…” Pak Martin kali ini simpati.
”Kita bantu dia…” aku berinisiatif
”Menguntungkan kita juga kan?” Pak Martin melirik culas.
”Ya, lihat saja nanti…” aku sedang tidak ingin melanjutkan membicarakan Gadis. Biarlah dia dengan dunianya dan keinginannya sendiri. Biarlah dia mewujudkan impian hidupnya sendiri. Biarlah dia memilih tapak hidup ke depannya sendiri. Aku tidak berhak untuk menghentikannya.
”Stt..kita sarapan di mana? Sudah jam tujuh nih, aku lapar” Pak Martin mengingatkanku. Aku pun baru meyadarinya, lalu aku mengamati keadaan sekeliling di daerah yang kami lewati. Mudah-mudahan ada restoran yang sudah buka sepagi ini. Kalau tidak warung kecil yang menyediakan dagangan untuk sarapan pagi.
“Di depan ada gerobak bubur ayam, mau mampir? Ada parkirnya juga, jadi kita bisa pesan dan makan di mobil…” Pak Martin menawarkan pilihannya.
“Okay, no problem…”
Kami hampiri gerobak bubur ayam dan tendanya yang cukup ramai oleh pengunjung. Bisa jadi ini tempat favorit dan digemari untuk makan. Menunya cukup spesial lezatnya. Aku ajak Pak Martin untuk makan di tenda. Kami tidak jadi makan di mobil.
Suasana pagi yang dihiasi oleh sinar matahari yang menyehatkan, membuat pengunjung asik dengan santapan buburnya. Pemandangan di sekitar tenda penuh dengan nuansa hijau daun jati. Tidak jauh dari belakang tenda, terhampar hutan jati yang masih diselimuti kabut.
”Aku lapar banget…” Pak Martin menyela di saat makan buburnya
”Jelas saja, kita belum sarapan…” aku menimpalinya sambil meredakan panas di mulutku.
”Bukan hanya itu, Kris…” bisiknya
”Kenapa?” aku mengernyitkan alisku tajam
”Karena habis bertempur sampai subuh…” masih dengan berbisik Pak Martin sedikit menggodaku.
”Ya, kedudukan seri, dua – dua…” aku balik menjawab asal
”Hush…yang lebih penting adalah catatan rekor waktunya dong…” Pak Martin berlanjut berkelakar.
”Dalam hal apa?” aku memancingnya
”Kamu hebat…” Pak Martin menatapku senang
”Kenapa?” aku mencoba mengelak dari tatapannya, takut pengunjung lain mengetahui aliran keganjilan dari sikap kami.
”Kamu selalu lebih lama… hahaa..” bisiknya. Sambil menelan buburnya Pak Martin tertawa kecil. Aku makin sigap mengamati sekelilingku, takut ada yang mendengar pembicaraan kami.
”Ya dong..” aku mendelikkan mataku ke arahnya, memberikan isyarat untuk menghentikan pecakapan kami.
Perjalanan kembali kami lakukan. Setelah kenyang dengan sarapan bubur ayam spesial, kami siap menempuh kira-kira lima jam lagi perjalanan. Aku yakin waktu perjalanan kami akan lebih menyenangkan.
Jam demi jam berlalu, sampai hitungan angka lima. Perkiraanku ternyata tidak terlalu jauh meleset. Lima jam perjalanan, tanpa harus ada acara ekstra dengan Pak Martin di tengah perjalanan, membuat perjalanan kembali ke kota menjadi lebih cepat.
Apartemen Pak Martin yang indah sudah di depan mata. Tidak lama, sambil masih membawa sekian barang bawaan, kami tergontai menuju pintu kamar. Petugas front desk membantu kami membawa tas ransel dan koper.
Setelah di dalam ruang tamu, tubuhku terasa leluasa. Ingin cepat-cepat aku ganti baju lalu meluruskan badan, istirahat sepuasnya. Aku menuju ke kamar tidur. Kulucuti t-shirt dan celana jeansku. Lalu kuletakkan di tempat pakaian kotor di rak dekat pintu kamar.
Tak berapa lama, tubuhku lunglai di atas tempat tidur. Tanpa disadari olehku, aku sudah terlelap. Aku baru terbangun saat suara Pak Martin menyentak cukup keras di lapisan gendang telingaku.
“Kris bangun..sudah setengah tujuh…” ada suara menyusupi telingaku
“Hm…” aku cuma merespon dengan mendehem malas.
“Kris bangun..” Pak Martin makin penasaran.
“Hmm..” aku membuka mata dengan malas. Aku masih butuh istirahat untuk mengembalikan energiku yang terbuang hari ini.
“Kris..” suara itu masih belum berhenti juga.
”Hmmm…masih ngantuk..” aku menguap malas
”Ayo honey..bangun, kita makan malam…” tepukan tangan Pak Martin di pipi kananku makin terasa. Aku mencoba membuka mataku lebar-lebar.
”Kamu mandi dulu sana..” Pak Martin beringsut dari duduknya, lalu melangkah menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Tubuhku bergerak malas, lalu tetap terlentang di atas tempat tidur.
Harum aroma makanan dari dapur cukup membuatku bergerak untuk cepat bangun lalu menyeret tubuhku ke kamar mandi. Setelah terasa segar aku menyiapkan diri untuk makan malam.
Makan malam sudah disiapkan oleh Pak Martin. Menu eropa dicampur dengan menu daerah. Kurang cocok, tapi menarik untuk dimakan, apalagi dalam kondisi perut yang lapar dan tubuh butuh asupan makanan pengganti energi yang kugunakan untuk menyalurkan imajinasiku dengan Pak Martin.
“Kris, kapan hari pertunaganmu?” di tengah kami menyantap hidangan campuran itu, Pak Martin melontarkan satu pertanyaan yang menyentak batinku.
Pertanyaan Pak Martin yang tiba-tiba kali ini ternyata dapat menghilangkan selera makan malamku. Aku benar-benar seperti baru tersadar, bahwa aku saat ini sedang memegang janji kepada keluargaku untuk cepat menikahi Gadis.
Keenggananpun menyergapku tiba-tiba. Entahlah. Aku menjadi tidak berselera lagi untuk meneruskan makan malamku. Namun aku cepat merubah pikiranku, agar tidak menyinggung perasaan Pak Martin. Pelan-pelan aku menghabiskan hidangan yang Pak Martin buat untuk dinner.
Aku terbelit kericuhan hatiku sendiri. Entah apa namanya, namun itu sudah mampu membuatku bimbang dengan janji yang aku sudah ikrarkan pada keluargaku. Apakah aku pengecut? Kepalaku mendadak berat.
*****