Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2008

*********
Chapter 12: DILEMA
Nada handponeku berdering. Dari layarnya tertulis nama Mbak Novi. Buru-buru aku menjawabnya. Masih dengan melangkah cepat di trotoar, aku membuka percakapan dengan kakakku.
“Hallo Mbak…”
“Hai Kris, apa kabarnya?”
“Baik, keluarga bagaimana?”
“Kris, sudah dapat informasi belum?”
“Tentang apa?”
“Bapak, Kris..”
“Bapak kenapa?”
“Sakit lagi, mungkin ini lebih parah..”
“Kenapa?” aku tercekat.
“Nggak tahulah, bapak masih ngantor sih..”
“Dengan kursi roda?”
“Itulah, [...]

Read Full Post »

*********
Chapter 11: BERKELUARGA
Pikiran jahatku mampu membangun nyaliku untuk berbuat curang. Aku leluasa melakukan kecurangan pada diriku, pada keluargaku, pada Gadis dan keluarganya serta pada masyarakat kampungku.
Selain Tuhan, hanya aku, Gadis dan Pak Martin yang mengetahui kecurangan dan bohong besar ini. Kami bertiga punya kepentingan yang sama-sama kuat, maka aku yakin, semua itu tidak [...]

Read Full Post »

*********
Chapter 10: KOMITMEN
Untuk kedua kalinya aku dibenturkan pada kata yang sama.  Komitmen.  Dulu aku berusaha untuk tidak langsung memegang arti kata itu pada saat Pak Martin mengajakku untuk hidup bersamanya.  Sekarang untuk kedua kalinya aku tidak mau untuk begitu saja memegang kata itu pada saat aku harus konsekuen untuk menikahi Gadis.
Sepengecut apakah aku ini?  Sebegitu [...]

Read Full Post »

*********
Chapter 9: KEMBALI KE KOTA
Perlengkapan sudah masuk bagasi mobil  Beberapa kardus berisi oleh-oleh dan souvenir sudah diletakkan di jok belakang.  Pagi ini aku dan Pak Martin sudah siap kembali ke kota.  Keluargaku berkumpul di teras depan untuk mengantar keberangkatan kami.
“Terima kasih Bapak dan Ibu, saya mohon pamit..” Pak Martin memulai untuk pamitan kepada bapak dan [...]

Read Full Post »

*********
Chapter 8: PERJODOHAN
Suasana makan malam di rumah kali ini seperti dalam freezer.  Membeku.  Tidak ada suara manusia.  Hanya kadang-kadang terdengar suara gemeretuk kerupuk yang digigit,  atau suara klontang lirih garpu atau sendok yang berdenting bertsentuhan dengan piring, sampai-sampai suara kunyahan mulut terdengar samar.
“Suasana yang menjijikan!” pekikku dalam hati.
Suasana seperti ini sangatlah tidak mengenakanku.  Suasana seperti [...]

Read Full Post »

*********
Chapter 7: GALAU

Aku butuh Pak Martin untuk berkeluh kesah. Tadi pagi, setelah beres-beres rumah, sengaja Pak Martin pura-pura jalan keluar sesuai dengan tujuan palsunya ke kota dekat kampungku.
Aku terpaku sendiri di teras depan. Tadi Bapakku benar-benar sudah mendidih menghadapiku. Padahal aku hanya sekedar mencoba berargumentasi dengannya. Padahal aku hanya butuh [...]

Read Full Post »

*********
Chapter 6. PERTEMUAN KELUARGA
Hari Jumat yang tidak kuharapkan datang juga. Datang setahun setelah aku hidup bersama dengan Pak Martin. Setahun setelah aku semakin kenal baik dengan beliau. Setahun setelah mulai muncul rasa kasih sayang, cinta dan pengertian di antara kami.
“Wake up, honey” Pak Martin mengecup pusarku yang sedikit berbulu. Disibakkannya selimut yang menutupi tubuh [...]

Read Full Post »

*********
Chapter 5. PULANG
Aku masih asik duduk-duduk di antara pepohonan besar di taman kota. Rumput yang aku jadikan sebagai alas sepertinya tidak berontak untuk mengusirku. Malah kurasa semakin nyaman saja.
Sengaja sore ini aku berlama-lama menghirup oksigen di sini. Sepertinya otakku memang butuh supply zat gas itu lebih banyak untuk meringankan kelelahan sel-selnya setelah [...]

Read Full Post »

*********
Chapter 4. HIDUP BERSAMA
Aku tergagap bangun tidur setelah mendengar jeritan jam beker di kamar Pak Martin. Aku masih terkulai lemas. Rasanya tubuhku masih butuh istirahat beberapa lama lagi. Aku sangat malas pagi ini. Aktivitas dengan Pak Martin semalam cukup banyak menguras energiku.
Aku miringkan tubuhku. Sejenak aku baru [...]

Read Full Post »