Chapter 16: TRAGEDI
Tragedi ini adalah bagian dari kehidupanku yang paling aku tidak sukai. Walaupun tragedi ini tidak langsung menimpaku, namun imbasnya mampu menyeretku kedalam luka hati yang menyayat. Luka hati baru yang membuncah dari koyakan luka sebelumnya.
Aku ingin sekali untuk tidak peduli dengan kejadian saat ini. Aku ingin sekali untuk bisa menganggap kejadian ini tidaklah ada. Tapi kenapa aku tidak bisa? Kenapa aku tidak kuasa untuk menampiknya?
Apakah sebenarnya ini terjadi karena aku masih terhanyut oleh arus kenangan lama yang sekaligus mampu menggores luka dalam kehidupanku? Lantas, apa yang membuatku tidak melakukan masa bodoh dengan tragedi ini?
Burung camar berterbangan pendek di depan mataku. Cericitnya jelas membentur gendang telingaku. Itu sudah cukup membuatku tergeragap untuk tidak larut dalam alur pikiranku yang berlapis kegundahan.
Sengaja aku menikmati udara pantai pagi ini. Sejak aku tidak lagi hidup bersama Pak Martin, tidak lagi menjadi asisten beliau, karena dipecat Pak Martin, kerja di instansi lain, dan memilih hidup dengan Gadis, hampir setiap hari Minggu pagi, aku sempatkan untuk datang ke tepi pantai ini.
“Kring…” bunyi handphone-ku merupakan awal dari merebaknya kegundahanku saat ini.
Seseorang yang mengaku bernama Josep, seorang dokter yang tidak pernah aku kenal sebelumnya membuka percakapan. Suara dokter itu menyeruak masuk saluran telinga dalamku, dan mampu menghujam otakku seketika.
Pak Josep mengabarkan hal yang sangat tidak terduga olehku. Beliau mengabarkan tentang Pak Martin! Menurutnya, Pak Martin sekarang tengah terpuruk di kliniknya. Pak Martin tengah terguncang jiwanya yang bisa dikategorikan sebagai depresi berat,
Pak Josep menjelaskan dengan hati-hati sebab mengapa Pak Martin mengalami depresi. Yang bisa aku simpulkan dari informasi dokter Josep yaitu bahwa Pak Martin sekarang sedang tergoncang cukup berat mentalnya karena dia telah menjadi korban perkosaan oleh temen kencannya!
Ouch! Keterangan selanjutnya dari dokter itu adalah Pak Martin mendapat perlakukan sodomi, yang aku tahu seumur-umur beliau tidak mau lakukan. Setahuku, sekian lama aku kenal sangat dekat dengan mantan bosku itu, beliau tidak pernah sekalipun kepikiran mengajakku untuk melampiaskan gairahnya dengan cara itu!
Bisa jadi sekarang beliau terguncang mendapat perlakuan yang tidak disukainya itu, apalagi secara paksa! Terlintas olehku betapa harga dirinya bisa saja hancur oleh kejadian itu.
Aku tahu persis, bagaimana Pak Martin menempatkan harga dirinya. Beliau selalu melebihi tingginya langit dalam menjunjung harga dirinya. Sekarang beliau mendapat perlakuan itu. Maka tidaklah heran apabila kejadian ini sebagai sebuah goncangan baginya. Tragis!
Sampai di sini aku hentikan asumsiku. Seharusnya aku telusuri dulu kebenarannya. Kata hatiku yang lain mencegahnya. Haruskah begitu? Bukankah aku sudah tidak punya lagi aliran chemistry dengan beliau sejak dia mengetahui kehamilan Gadis, istriku?
Aku kerepotan sendiri mengendalikan kata hatiku yang lainnya lagi. Benarkah aku sudah tidak lagi punya getar chemistry terhadapnya, saat ini? Sudahlah! Bukan lagi saatnya untuk memanjakan perasaan diri dengan asumsi-asumsi yang menjurus kearah kebimbangan, sergah kata hatiku, entah yang mana lagi.
Lalu, sebaiknya apa yang bisa aku lakukan untuk Pak Martin? Waktu menelpon, Pak Josep berani mengemis-ngemis kepadaku demi Pak Martin, agar aku datang menemui beliau. Pak Josep ingin bertemu aku demi kepentingan Pak Martin.
Separah apa Pak Martin saat ini terpuruk? Dari nada bicaranya, Pak Josep sangat serius mengharap aku menemuinya. Dia punya rencana untuk pemulihan jiwa Pak Martin dari keterguncangannya.
Oh! Pak Martin!
Haruskah kita ketemu lagi?
Aku sudah sangat susah berusaha membuang jauh-jauh kenangan-kenangan dengannya. Hampir berhasil sempurna usahaku. Sekarang seperti ambruk kembali benteng pengekang kenangan itu.
Ataukah sebenarnya yang terjadi padaku adalah aku masih menyimpan ikatan chemistry itu dalam kisi-kisi hatiku yang paling dalam? Entahlah, entah dan entahlah! Huh!
Setelah dua hari aku berpikir keras dalam gundah, akhirnya aku putuskan untuk menemui Pak Josep di kliniknya. Aku tidak tahu demi siapa aku lakukan ini. Apakah demi Pak Josep yang dua hari ini terus serius menelponku? Apakah demi Pak Martin yang ternyata makin aku lupakan, makin aku dikejar oleh kenangan-kenangan indah bersamanya?
Aku dan Pak Martin sebelumnya tidak pernah sekalipun terlibat pertengkaran sehebat saat kami tahu kalau Gadis hamil. Kami selalu bisa saling mengerti dan menyayangi.
Di dunia ini bisa dibilang langka orang yang sesetia Pak Martin dalam menjalin cintanya. Beliau benar-benar telah mencurahkan cinta sejatinya kepadaku. Beliau telah buktikan dengan banyak hal. Beliau tunjukkan dengan sikap dan perbuatannya.
Aku merenungi diri. Banyak yang beliau sudah lakukan untukku. Banyak yang dia sudah berikan untukku. Bahkan aku yakin kalau beliau bisa jadi akan rela korbankan nyawanya demi aku. Hah, teramat berlebihankah aku? Atau karena aku juga benar-benar mencintainya?
Rasanya keganjilan yang kami lakukan mengalir wajar, mengubah pola pikirku untuk memaklumi dalam menekuri alur keganjilan hubungan cinta kami. Kami tidak lagi mendengarkan apa kata orang-orang di sekeliling kami. Kami terus saja melanjutkan tali cinta kami meski dari awal kami tahu akan banyak rintangan dan tentangan dari berbagai pihak, terutama oleh keluarga. Gilanya, kami sepakat seperti tidak merasa telah melakukan penyimpangan apapun. Kami bisa membangun egois kami. Kami bisa berdalih tidak mau membohongi perasaan kami.
Entahlah! Kenyataannya, jalinan cintaku dengan Pak Martin selama ini berjalan baik-baik saja. Bahkan semakin kami mengenal satu sama lain, semakin kami dekat dan semakin kami merasa bahagia.
Aku perhatikan koridor klinik, tepatnya klinik eksklusif Pak Josep. Aku tidak tahu pasti jenis apa klinik kesehatan macam ini. Koridor klinik terlihat tidak terlalu besar, namun teratur asri dan rapi.
Kondisi koridor ini membuat perasaanku menjadi nyaman. Aku yakin, siapapun yang melewatinya akan merasakan hal yang sama sepertiku. Di kiri dan kanan koridor terdapat ruangan-ruangan kecil, mungkin luasnya sekitar sembilan meter persegi yang juga berkondisi nyaman, meski hanya bernuansa satu warna, putih.
Dari balik kaca yang terdapat di pintu ruangan, aku bisa melihat isi ruangan yang berkarpet hijau dengan furniture yang berupa satu meja, dua kursi dan satu lemari tertutup, selebihnya dibiarkan kosong.
Ruang ini ternyata ruang terapi. Dari keterangan nama ruangan yang tertulis kecil di pintu, menunjukkan ruang ini untuk terapi. Ada terapi perkembangan anak, terapi pemulihan kejiwaan, terapi konsultasi keluarga dan terapi untuk anak-anak autis atau berkebutuhan khusus lainnya.
Apalah namanya, yang jelas klinik ini berkesan eksklusif. Klinik ini sepertinya untuk tujuan urusan psikologi. Pasiennya rata-rata adalah orang-orang yang perlu penanganan psikis dengan sebab entah dari masalah apa, yang mampu mengguncang kestabilan emosi dan kejiwaan mereka. Atau masalah perkembangan jiwa dan tingkah laku yang dibawa oleh pasien sejak lahir.
Pak Martin sekarang ada di sini! Pak Martin sedang dalam penanganan klinik ini. Aku jadi penasaran untuk bertemu beliau. Aku sudah putuskan untuk tidak berasumsi atau berandai-andai lagi. Apapun yang bakal terjadi, aku telah putuskan untuk yakin bahwa itu yang terbaik dan aku akan terima sepenuhnya, tanpa harus ada rasa sakit.
Aku hampir lupa, aku ke sini juga atas dorongan dan permintaan Gadis. Setelah menerima telepon dari Pak Josep, aku ceritakan kepada Gadis, istriku. Dia dengan semangat meyakinkanku untuk menemui Pak Josep ataupun Pak Martin.
Sambil terus menyusuri koridor klinik, pikiranku masih mengingat binar mata Gadis yang menyemangatiku dan berharap aku bisa memenuhi ajakan Pak Josep.
“Mas temui Pak Josep” seperti biasa, suara datar Gadis keluar dari bibirnya yang jarang dipakai untuk senyum.
“Saya ragu-ragu, Dis…”
“Kenapa mesti ragu-ragu? Saya punya keyakinan, kalau Pak Josep benar-benar butuh bantuan Mas, dan Pak Martin butuh kepercayaan mas…”
“Kepercayaan yang mana lagi? Kamu sudah tahu kan kalau Pak Martin sudah tidak mempercayaiku?”
“Saya yakin bukan itu masalahnya, Pak Martin hanya cemburu karena saya”
“Kalau cuma cemburu, tidak akan separah ini”
“Saya selalu percaya pada perasaan saya. Waktu kita ketemu di danau, saya percaya kalau Mas itu orang baik. Saya percaya Mas adalah orang yang bisa membahagiakan hidup saya. Saya percaya Mas sangat tanggung jawab terhadap saya. Tanpa ragu, saya minta Mas untuk membawa saya lari kemana saja, agar saya tidak lagi di rumah, agar saya tidak lagi mendengar omelan bapak yang malu karena anak gadisnya adalah perawan tua”
“Kamu yakin dalam soal ini?”
“Ya” Gadis mengangguk meyakinkanku.
Aku tidak lagi membantahnya. Enam bulan hidup serumah dengan Gadis, tanpa ada Pak Martin, membuiat aku sangat mengenal Gadis. Keyakinan istriku tidak pernah meleset. Makanya kali inipun aku jadi terbawa untuk ikut yakin. Entah yakin yang seperti apa.
“Temui Pak Josep, Mas. Temui Pak Martin, agar bunga cinta dalam diri Mas terhadapnya tidak sia-sia. Biarkan dia mekar diantara hubungan kita. Saya sudah merasa cukup, bahkan berlebihan mendapat kebahagiaan hidup dari Mas..”
“Aku tidak mau berharap lebih dari Pak Martin” aku bernafas kelu dan berat.
“Minimal Mas ketemu Pak Martin dulu. Kalau akhirnya keadaan semakin saling menyakitkan, kita pasrah saja..”
Begitulah Gadis. Gadis selalu punya keyakinan kuat. Gadis selalu punya harapan. Gadis pun punya kepasrahan yang tinggi apabila harapannya tak kunjung teraih. Nerimo yang dia lakukan selama ini, dimataku membuatnya terlihat sebagai sosok wanita yang tabah dan tegar. Gadis begitu nerimo dengan keadaan hidup berumah tangga denganku.
Kehidupan bersama yang berawal dari kepura-puraan antara aku dan dia. Perjodohan pura-pura di bawah perjanjian kami berdua. Perhelatan lamaran pura-pura antara dua keluarga. Pernikahan pura-pura di kantor catatan sipil. Pesta resepsi pura-pura di depan para tamu undangan.
Kami sudah tidak mempedulikan orang-orang di luar kami yang menganggap atau mempunyai persepsi hubungan kami berdua adalah tidak pura-pura.
Mungkin itu semua yang membuatku mulai menyukai Gadis. Hingga akhirnya dia tidak terlunta=lunta oleh perkawinan pura-pura kami. Hingga suatu malam aku punya kesempatan mengambil keputusan untuk mencoba memberinya nafkah batin, sampai akhirnya suatu pagi dia membisikiku bahwa dia hamil.
Ada bahagia yang tak terhingga dalam hatiku saat itu, mendengar berita darinya. Bahagia yang aku tidak dapat mendeskripsikan dengan jelas, tapi aku bisa merasakannya dengan sangat jelas.
Bentuk kebahagiaan hati yang sampai saat ini masih terasa, bahkan makin terasa seiring dengan membuncitnya rahim Gadis.
Ternyata tanpa diduga olehku sendiri, letupan kebahagiaan saat itu mampu mengalahkan logikaku untuk tatap memilih Gadis dan mencetuskan kata perpisahan dengan Pak Martin. Aku mampu memilih hal yang diluiar jangkauan diriku sendiri.
Aku berhenti sejenak di depan sebuah ruangan yang berlabel sebuah nama: dr. Josep Suhargono, PHd. Aku terdiam beberapa detik, sebelum kuketuk pintu itu beberapa kali.
Aku tetapkan hatiku sekali lagi. Ternyata tidak semudah yang aku kira untuk bertemu dengan dokter yang bernama Josep ini. Bukan karena aku tidak mengenalinya. Bukan karena aku bersalah atau punya masalah dengannya.
Pikiranku tidak setenang biasanya. Apa karena masalah yang akan dibahas ini mau tidak mau akan menyangkut diriku? Entahlah. Atau karena masalah Pak Martin yang sekarang, maka aku juga akan terseret? Entahlah. Atau karena adanya masalah ini maka identitas diri Pak Martin dan diriku akan terkuak? Entahlah, maksudku sebodo! Uh! Ternyata aku makin terbelit oleh hal-hal yang bisa jadi adalah hal yang tidak perlu.
“Pak Kris?” dari balik pintu abu-abu, seseorang muncul mengagetkanku.
Aku terpukau sebentar, masih dengan tergeragap aku menjawab singkat, “Ya, betul”
“Ayo silakan masuk, mari…” dokter yang disebut Pak Josep ini, dengan sangat ramah menyambutku.
Aku masuk ruangannya, lalu duduk di balik meja, berhadapan dengan beliau. Aku masih terus menenangkan diri. Dokter itu masih tersenyum sebelum akhirnya berucap terima kasih atas kesediaanku untuk datang menemuinya.
“Saya akan sangat terbantu dengan kehadiran Pak Kris…”
Aku masih diam, kali ini kucoba untuk tersenyum, “ Apa yang dapat saya bantu?”
“Banyak Pak Kris. Mudah-mudahan Pak Kris bisa sampai tuntas dalam membantu saya, karena ini akan butuh waktu cukup lama”
“Maksud Pak Josep?”
“Seperti yang sudah saya informasikan kepada Pak Kris, masalah ini sangat peka bagi Pak Martin. Saat ini beliau sangat terpuruk dengan apa yang menimpanya. Butuh waktu untuk memulihkan beliau. Mudah-mudahan ada keajaiban” wajah tampan dokter jiwa di depanku terlihat serius.
“Mudah-mudahan saya dapat membantu bapak”
“Gini Pak Kris, saya adalah dokter keluarga Pak Martin. Saya sangat kenal baik dengan beliau. Sudah lama beliau konsultasi tetap dengan saya. Seputar anger management dan jati diri. Tidak banyak lho orang seperti beliau yang mau mengakui jati dirinya”
“Pak Martin cerita semuanya?”
“Ya, tentang dirinya yang seorang gay. Sejak ibunya meninggal, dia terpuruk hebat, tapi dia masih punya semangat, dia coba bangkit, menata kesendiriannya, menata masa depannya. Saya salut beliau bisa menghadapi hidupnya..”
Aku tidak bergeming mendengarkan penuturan dokter Josep. Semua ceritanya tentang Pak Martin, sama seperti yang Pak Martin ceritakan padaku dulu. Pak Martin sungguh-sungguh mempercayaiku.
Oh! Tiba-tiba dadaku sesak oleh sesal. Aku merasa telah menghianati kejujuran beliau. Aku menghela nafas yang berdesakan tertekan di pipa tenggorokanku.
“Pak Martin cerita tentang saya?” ada sedikit was-was menyelinap benakku.
Pak Josep menggeleng sambil menimpali, “Tidak, saya tidak pernah dengar dari beliau tentang Pak Kris..” jelas Pak Josep. Sampai di sini saya bisa merasa lega.
“Beberapa hari ini beliau terus menerus mengigau nama Pak Kris…” Pak Josep menatapku tajam. Oh, makin larut saja penyesalanku mendengar penjelasan Pak Josep.
Pak Martin masih mengingatku? Di depan Pak Josep, aku mencoba untuk tidak menuruti perasaanku.
“Lantas?”
“Cuma nama Pak Kris yang disebutnya…” Pak Josep menegaskan. Aku makin menekukkan kepalaku, kelu, tidak lagi kuat untuk bertatapan dengan Pak Josep.
“Pak Kris teman curhatnya di kantor?”
“Ya, dulu saya bawahan beliau” cepat-cepat aku menanggapi pertanyaannya.
“O gitu, ok, good, nanti akan saya pertemukan Pak Kris dengan Pak Martin.. Ini akan membantu memulihkan emosinya, mudah-mudahan beliau mau cerita banyak untuk meringankan beban pikirannya..”
“Saya takut dok..” aku mendadak ragu-ragu
“”Tidak perlu takut, ada saya yang akan juga menangani beliau, percaya saya, Pak Kris.., oke?” Pak Josep menguatkan nyaliku.
“Baiklah, apa yang harus saya lakukan?”
“Bertemu Pak Martin, tunggu sampai beliau merespon Pak Kris…” aku tercekat, apa maksud perkataan Pak Josep tadi? Apa sudah separah itukah kondisi terpuruknya emosi Pak Martin?
Langkahku memberat menuju ruang terapi khusus. Menurut Pak Josep, Pak Martin masih lemah fisiknya. Sudah tiga hari lamanya beliau ditempatkan di sana. Ruang khusus yang dimaksud oleh Pak Josep adalah semacam ruang rawat inap pasien.
“Pak Kris, Pak Martin ditemukan dalam kondisi mengenaskan…”
“Maksud Pak Josep?” aku khawatir.
“Beberapa bagian tubuhnya lebam-lebam, ada beberapa bagian tulang keringnya retak ringan, yang parah lagi adalah jiwanya berubah menjadi tidak stabil…” sambil mengimbangi langkah Pak Josep, aku terus tercenung.
“Pak Martin dianiyaya…” ucapku pelan
“Ya, beberapa teman dekatnya..”
“Maksud Pak Josep, pacarnya?”
“Well, saya tidak tahu persis, Pak Kris tahu kan dunia abu-abu? Maksud saya dunia gay…”
“Ya” aku menjawab singkat.
“Pak Martin tidak pernah cerita kepada saya tentang teman-teman terdekatnya. Saya maklum dan mengerti, itu privasi beliau..”
“Ya”
“Pak Martin dibawa kemari oleh seorang tukang becak, kata abang itu dia distop paksa di ujung jalan sana oleh dua orang laki-laki dari mobil hitam, lalu tubuh lunglai Pak Martin dipapah keluar mobil, dan diletakkan di becak..” Pak Josep berusaha tenang memaparkan. Dengan cepat aku bisa membayangkan kondisi Pak Martin saat itu.
Pak Josep melanjutkan,” Kondisi penampilan Pak Martin sungguh sangat kacau dan mengenaskan…”
Aku terdiam menyimak keterangan Pak Josep.
“Pak Martin dalam kondisi mabuk, pakaian kacau, hanya berkaos dan celana dalam…” Pak Josep sungguh berhati-hati menuntaskan ceritanya.
Aku makin terdiam. Berjuta perasaan berkecamuk dalam benakku. Sekuat tenaga aku tekan gejolak perasaanku.
“Setahu saya Pak Martin tidak suka minuman beralkohol…” aku tercekat
“Bisa jadi dia dipaksa. Ada juga ditemukan butir-butir halus ekstasi di lubang hidungnya, dan hasil visum analnya adalah positif sodomi..” Pak Josep terdiam setelah menerangkan lanjutan cerita kejadian yang dialami Pak Martin. Tuntas sudah kemirisan hatiku. Aku kian sempurna terpuruk dalam sesal.
“Saya juga sedih, Pak Kris. Pak Martin orang baik, masih ada orang yang tega berbuat sekeji itu kepadanya…”
Aku berusaha mengalihkan aliran panas yang merambati kedua kelopak mataku, sebab jika dibiarkan, air mata pasti sudah bercucuran keluar dari sumbernya.
“Abang becak menyerahkan dompet yang cuma berisi kartu identitas Pak Martin, kartu nama saya yang beralamatkan klinik ini, dan kartu nama Pak Kris. Untung mereka membuang Pak Martin ke sini, kalau tidak, entahlah apa yang terjadi padanya…”
“Jangan-jangan mereka juga memeras Pak Martin…”
“Ya, bisa jadi, well…Pak Kris, ini ruang rawat Pak Martin” Pak Josep berhenti pada sebuah ruang rawat, lalu merengkuh pundakku dan menepuknya beberapa kali, memberiku kekuatan.
“Pak Kris tidak perlu takut, kita harus bantu Pak Kris..” sekali lagi Pak Josep menguatakan nyaliku.
“Baiklah, saya akan berusaha..”
“Pak Kris usahakan untuk selalu tenang ya, kita lihat bagaimana reaksi Pak Martin, mudah-mudahan respon beliau positif..”
“Oke, saya siap”
“Thanks, and wish us luck..”
Pak Josep membuka pintu ruang rawat Pak Martin. Aku membuntuti langkahnya di belakangnya. Aku sudah berubah pikir, aku benar-benar sudah siap membantu Pak Josep untuk memulihkan kondisi psikis Pak Martin. Aku sudah siap dengan apapun resiko yang bakal terjadi.
Tekad kecil di benakku ternyata cukup menggugah keberanianku untuk siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun yang bisa aku terima dari Pak Martin.
Aku terus mengikuti dari belakang langkah Pak Josep menuju tempat tidur Pak Martin. Aku terkesiap tiba-tiba. Perasaan getir langsung menyayat nuraniku. Dari jarak beberapa meter, mataku tertumpu pada pemandangan Pak Martin yang tidur dalam posisi meringkuk.
Aku makin mengamatinya. Wajahnya lebih kuyu dan memancarkan kesepian yang dalam. Ah, aku makin merasa sangat berdosa telah meninggalkannya. Enam bulan ternyata bukanlah waktu yang lama untuk merubah seorang Pak Martin yang kukenal dulu, menjadi sosok yang meringkuk kuyu menahan derita.
Mendapati kondisi Pak Martin seperti itu, emosiku makin anjlok. Aku makin terbawa arus berjuta perasaanku sendiri, yang terus menerus meletup-letup tak terkendali.
Hampir saja aku berlari untuk menubruk lalu memeluk dan menciumi Pak Martin, seandainya aku tidak sadari ada Pak Josep yang berdiri di sampingku. Aku kelu menyadari diri bahwa sebenarnya aku masih memendam chemistry itu terhadap Pak Martin.
Benar apa kata Gadis. Tidak mungkin aku dapat memupus bunga cintaku untuk Pak Martin. Karena semakin lama aku berusaha melupakannya, semakin aku tersiksa.
Sesal atas keputusanku untuk berpisah darinya enam bulan yang lalu, mendadak mencuat tajam di otakku. Aku plin plan. Kali ini aku merasa keputusan yang kubuat dulu sepertinya keputusan terburuk yang aku lakukan.
“Selamat siang Pak Martin..” sapa Pak Josep kepada Pak Martin.
Beliau membuka kedua matanya pelan. Sedetik, pandangannya tertumpu padaku. Aku tersenyum sambil terus menatapnya. Sedikit terlonjak, Pak martin beringsut menjauh dari Pak Josep, merapat ke tepi tempat tidur.
Apakah ini respon dari Pak Martin karena kedatanganku? Aku tidak ambil pusing. Dalam kepalaku hanya terpikirkan bagaimana aku harus bantu Pak Martin untuk pulih. Aku tidak peduli sesakit apa beliau bereaksi atas kedatanganku. Aku sudah ambil keputusan untuk ignore.
“Pak Martin, hari ini ada tamu..” Pak Josep berusaha sepelan mungkin berucap
“Aku tidak mau menemuinya” nada suara Pak Martin masih memendam amarah. Aku hanya bisa memaklumi.
“Ini Pak kris, teman Pak Martin” Pak Josep seperti tidak menghiraukan sikap Pak Martin barusan.
“Selamat siang Pak Martin..” aku mencoba untuk tetap bersikap seperti biasa.
“Saya tidak ada urusan dengan dia!” sanggah Pak Martin tajam menusuk.
Aku tetap diam. Dalam hati aku cuma bisa merintih, mencoba mengerti situasi dan kondisi Pak Martin.
“Pak Kris datang untuk menengok Pak Martin” Pak Josep masih membujuk Pak Martin.
“Untuk apa? Dia itu penghianat, dokter..” Pak Martin berucap setengah teriak.
Aku diam dan hanya bisa menunduk. Aku berusaha untuk lapang dada menerima reaksi Pak Martin. Mungkin ini belum seberapa jika dibandingkan dengan sakit hati yang dipendamnya saat harus mengetahui keputusanku waktu itu.
“Pak Kris mau bicara sama Pak Martin..” Pak Josep masih terus berusaha membujuk.
“ Bicara apa? Tidak perlu lagi!” Pak Martin melengking marah.
Aku sudah tergugu sendiri. Kelopak mataku sudah benar-benar memanas. Untung egoku masih mampu menguatkanku untuk tidak menangis.
“Bisa tinggalkan kami berdua, Pak Josep?” pintaku pada Pak Josep. Aku cepat tanggap untuk menepis keraguan Pak Josep. “Percaya saya Pak Josep, semua akan baik-baik saja, saya yang akan tanggung jawab..” aku menegaskan
Pak Josep akhirnya setuju untuk keluar ruangan. Kini tinggal kami berdua. Perlahan kudekati Pak Martin, sambil terus menatap mata marahnya. Sekarang aku benar-benar berada di sampingnya.
“ Kalau Bapak mau marahi saya, marahilah sesuka hati Bapak” aku langsung pada pokok masalah.
“Untuk apa kamu datang?” serangnya sinis.
“Untuk menemui Bapak”
“Aku sudah tidak ada lagi urusan sama kamu” tatapannya tajam menghujam ulu hatiku. Aku mencoba untuk tetap tenang, tidak terpancing oleh sikapnya.
“ Saya yang masih punya urusan sama Bapak” aku menangkis tatapannya.
“Kau pikir kamu itu siapa? Nggak perlu kamu campuri urusan hidupku!” dengan tubuh bergetar Pak Martin berbicara, tunjukkan ketidakpuasannya terhadapku. Dalam posisi berbaring lunglai, tubuhnya menggigil menahan amarah.
Kuraih tangan kirinya. Dingin dan berkeringat. Aliran dingin tangannya merambati syaraf-syaraf tanganku. Pak Martin berusaha untuk berontak beberapa saat. Namun energinya masih lemah.
Bertambah erat kupegangi tangan kirinya dengan kedua tanganku. Tangan kanan Pak Martin yang berselang infus berusaha untuk memukul-mukul tanganku. Berhasil beberapa kali, selebihnya gerakannya melemah. Sekarang beliau menangis tergugu.
“Menangislah jika itu membuat hati Bapak menjadi lebih ringan…” aku usap air matanya dengan sapu tanganku. Beliau menolak. Aku tidak lagi mempedulikannya.
“Pergi kamu Kris..” dengan tersengal beliau mengusirku.
“Saya tidak mau pergi kalau Bapak masih seperti ini” aku usap dahi dan rambut-rambut halusnya yang basah oleh keringat. Pak Martin menggeleng tidak suka dengan apa yang aku lakukan.
“Aku nggak sudi kamu lagi Kris!” makin tajam saja kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya.
“Saya masih peduli dengan Bapak” aku makin tidak mendengarkan ucapannya. Pak Martin terus berusaha berontak. Tubuhnya makin meronta-ronta.
“Pergi kamu! Pergi!” kali ini suara Pak Martin.berupa teriakan yang melengking. Tubuhnya kian meronta berontak. Buru-buru aku tahan rontaan tubuhnya dengan kedua tanganku memegangi kedua lengannya. Aku coba untuk mendekapnya. Semakin kuat beliau berontak, semakin kuat aku mendekapnya.
“Pergi kamu Kris! Aku benci kamu! Aku nggak sudi!” Pak Martin terus meronta, namun aku sudah tidak peduli. Tubuhnya terguncang-guncang dalam dekapanku. Aku ciumi pipinya, mengisaratkannya bahwa aku masih sangat sayang kepadanya.
“Bapak boleh benci saya, tapi bukan begini caranya” aku terus mendekap dan sesekali mencium pipinya.
“Apa Bapak pikir saya tidak tersiksa selama ini?” aku belum berhenti menciumi pipinya.
“Apa bapak pikir aku tidak lagi peduli sama Bapak?” kurasakan rontaannya melemah. Aku lemahkan dekapan kedua tanganku pada kedua lengannya. Aku usap kembali keringat di jidat dan lehernya.
Tiba-tiba kedua tangan Pak Martin terangkat meraih pundakku. Sedetik kemudian pundakku sudah dalam rengkuhannya. Aku biarkan saja apa maunya. Posisi tubuhku makin aku bungkukkan. Kali ini kepalaku benar-benar berada di bawah dagunya. Aku pegangi pundaknya yang masih terguncang-guncang karena beliau belum juga berhenti menangis.
“Saya tersiksa karena jauh dari Bapak” bisikku. “Jangan benci saya..” kalimat itu berulang-ulang aku ucapkan.
“Kris..” tangis Pak Martin mulai mereda. Sekarang tinggal isakan kecil.
“Ya Pak..”
“Kenapa kamu tega kepadaku?”
“Saya tetap peduli sama Bapak”
“Kenapa kamu tinggalkan aku?”
“Saya tidak berniat untuk pergi. Selama ini diam-diam saya selalu memperhatikan Bapak…”
“Kenapa kamu pilih Gadis?”
“Saat itu sangat sulit untuk saya jelaskan. Saya tidak tahu harus jelaskan apa kepada Bapak. Saya tidak berniat untuk tinggalkan Bapak. Keadaan kita waktu itu sudah terlanjur sama-sama egois dan marah…”
“Aku terlantar, Kris..”
“Saya juga tersiksa jauh dari Bapak.” Kuganti posisiku, melepas dekapan Pak Martin. Lalu perlahan aku lumat bibirnya yang sedikit pecah karena bekas pukulan. Pak Martin lemah membalas. Aku sedikit menjadi lega.
“Bapak perlu banyak istirahat” sikap dan perhatianku terhadapnya tidak berubah.
“Aku ingin mati saja, Kris” ucap Pak martin pelan. Suaranya terdengar putus asa. Aku terhenyak sebentar.
“Apa harus begitu?”
“Untuk apa aku hidup?”
“Untuk apa Bapak mati? Untuk selesaikan masalah? Untuk biarkan saya makin tersiksa?”
“Hidupku sudah hancur..”
“Tergantung dari sudut pandang mana Bapak melihatnya..”
“Aku sudah menjadi sampah..”
“Jangan terlalu jauh menilai diri sendiri..”
“Pak Josep sudah cerita apa yang terjadi?”
“Belum seluruhnya”
“Hhhh, aku benci hidup”
“Saya pikir akan lebih tidak mengenakkan jika kita mati hanya karena ingin lari dari sikon yang sekarang Bapak alami..”
“Aku malu!”
“Pada siapa? Tidak perlu berlebihan bersikap”
“Enam bulan aku merasa tidak bahagia” rintih Pak Martin mendera ulu hatiku.
Pak Martin selalu bekata jujur kepadaku. Keluh kesahnya cepat merobek nuraniku. Aku terpuruk lunglai karena yakin Pak Martin benar-benar menderita.
“Maafkan saya” aku menunduk. “Saya tidak ada niatan untuk tidak membahagiakan Bapak…”
“Bukan salahmu sepenuhnya. Aku yang tidak bisa kontrol diri. Aku jerumuskan diriku sendiri. Aku bodoh, Kris..”
“Bapak lakukan itu karena keegoisan saya”
“Aku nggak bisa terima keputusanmu”
“Waktu itu saya kalap, tidak berpikir panjang, saya menyesal”
“Hidupku sudah hancur..” kembali Pak Martin merintih pilu.
“Tidak ada yang hancur..”
“Ini tragedi bagiku”
“Tragedi bisa datang pada siapapun”
“Aku berat menerimanya”
“Saya yakin Bapak mampu”
“Aku tidak tahu”
“Bapak cuma butuh waktu”
“Sangat berat, Kris”
“Saya tahu, Bapak juga butuh percaya diri”
“Entahlah”
“Saya yakin Bapak bisa”
“Kris, aku butuh kamu..” sampai di situ Pak Martin terdiam.
Aku ikut terdiam. Rasanya aku sudah terkubur oleh sesalku sendiri. Bertubi-tubi menusuki ulu hatiku.
“Kenapa Kris?”
“Tidak apa-apa”
“Kamu nggak mau ya?”
“Bukan, bukan itu…”
“Karena Gadis?”
“Entahlah”
“Beruntungnya yah Gadis..”
“Bukan itu maksud saya..” aku coba untuk menetralkan situasi.
Inikah yang Gadis yakini sebagai bentuk cemburu Pak Martin padanya? Bisa jadi. Keyakinan Gadis selalu tepat.
“Aku sudah tidak pantas untuk butuh kamu ya Kris..”
“Bapak tidak perlu punya pikiran itu” aku kebingungan terjebak oleh situasi.
Satu sisi aku dibukakan pikiran bahwa hidup dengan Gadis enam bulan belakangan, membuat aku mulai berpikir untuk jalani hidup seperti yang keluargaku harapkan. Satu sisi yang lainnya, aku disudutkan pada kenyataan bahwa aku tidak dapat melupakan Pak Martin.
Waktu enam bulan ternyata tidak cukup untuk melunturkan kenangan indah bersama beliau. Satu semester tidak berarti apapun untuk menyisihkan diri dari kehidupan Pak Martin. Kuakui, aku bisa merasa sempurna bahagia selama hidup bersamanya.
“Aku tahu diri kok, Kris..”
“Pak, jangan begitu” aku dipojokkan pada hal-hal yang tidak bisa aku logikakan. Selalu saja melibatkan perasaan. Dan aku biasanya terlalu lemah untuk menyingkirkan perasaanku.
“Aku sadar Kris, aku tidak pantas berharap banyak darimu..”
“Saya dalam persimpangan, Pak. Saya tidak bisa berpikir sekarang. Saya perlu waktu..” aku lunglai dalam ketidakberdayaan.
“Aku tetap mencintaimu, Kris..” pengakuan Pak Martin semakin membenamkanku ke dalam kubangan kebimbangan jiwaku.
“Kris..”
“Ya”
“Sebaiknya memang aku tidak ada dalam kehidupanmu”
“Bapak, tolong beri saya waktu untuk berpikir, saya bingung, saya buntu..” aku menutup wajahku dengan kedua tepalak tanganku.
Rasanya ingin meledak isi kepalaku saat ini. Aku tidak dapat membuat pilihan-pilihan jawaban lagi. Keputusan memilih yang aku tentukan enam bulan lalu, ternyata sangat menyiksaku. Membuat Pak Martin menderita. Membuat Gadis selalu dirubung rasa bersalah. Gadis selalu menuding dirinya sebagai penyebab semua ini.
“Kris”
“Ya”
“Maafkan aku ya..”
“Bapak tidak bersalah apapun”
“Aku rapuh. Tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Semua sudah berakhir..” Pak Martin menceritakan kegundahannya.
“Bapak harus kuat” aku tidak rela Pak Martin tidak punya semangat hidup.
“Bagaimana aku bisa kuat, Kris..”
“Stop. Saya yakin Bapak mampu untuk berbuat yang terbaik untuk hidup Bapak”
“Aku tidak butuh hidup”
“Minimal untuk saya Bapak hidup…” aku diam, lalu tanpa disadari, aku telah berkubang air mata dalam diam. Pak Martin mengamatiku. Raut wajahnya merasa bersalah kepadaku.
“Kamu mau aku terus hidup Kris?”
“Ya”
“Apa mungkin Kris?”
“Ya, saya akan bantu..”
“Aku sudah hancur…”
“Tidak usah lagi Bapak berpikir itu”
“Hah..”
“Bapak mau tidak?” aku merajuk sambil mengguncang pundaknya.
“Aku…” Pak Martin menatapku lekat-lekat. Entah apa yang dicarinya.
“Bapak tidak lagi peduli saya?”
“i really love you, Kris” Pak Martin berusaha meyakinkanku.
“Tunjukkan cinta Bapak kepadaku dengan hal terbaik, bukan putus asa seperti ini..” aku balik menatapnya.
“Ya”
Pak Martin menunduk, lalu dengan sesekali terisak, beliau menumpahkan kegetiran hatinya. Pak Martin jujur menceritakan kepadaku apa yang telah terjadi enam bulan yang lalu saat kami berpisah.
Tragedi yang menimpanya saat ini, berawal dari kekecewaannya atas keputusanku. Beliau tidak dapat menerimanya. Beliau lari dari kenyataan, lalu mulai mengenal dunia malam.
Sampai pada titik jenuh, beliau mulai mengenal alkohol. Tidak berhenti sampai di situ, beliau mengenal sorang laki-laki yang bernama Irfan. Tidak berapa lama mereka berlanjut menjalin hubungan teman dekat. Bahkan sampai pacaran. Cerita berlanjut pada Pak Martin terjebak pemerasan oleh Irfan.
Beliau terperangkap dunia abu-abu yang jauh berbeda dengan apa yang selama ini terjalin denganku. Lebih membahayakan dirinya, beliau mulai mengenal drugs. Hidup beliau memang berubah drastis.
Suatu saat kesadaran beliau muncul dalam benaknya. Beliau mulai berpikir untuk menata ulang hidupnya. Saat beliau mulai berontak, beliau mendapatkan perlakuan mafia dari dunia abu-abu.
Enam bulan lamanya bergelut dengan dunia abu-abu dibelahan budaya lain, membuat Pak Martin menuai petaka. Kejadian yang menimpanya kali ini, dianggapnya sebagai sebuah tragedi.
Aku hanya mampu diam mematung mendengar seluruh pengakuan Pak Martin, sampai-sampai aku tidak menyadari kehadiran Pak Josep di tengah-tengah kami.
Pak Josep tersenyum bungah ke arahku, sebelum beliau mengucapkan terima kasih kepadaku.
*****