Feeds:
Posts
Comments

Chapter 19: PILIHAN HIDUP

Dear, Kris

First of all, I would like to say many thanks for every good thing happen in between our sweet relationship.  We have rebuilt our broken heart.  We get many more understanding and the real love each other. I am happy to have you in my whole life, Kris.

I have to make a hard decision. You may not agree with that, but I think this is the best choices for us. I  believe that it is the way which I could grab my future happiness. I really learned a lot from Gadis about how to make my life full of happiness.  You are very lucky to marry her.  Hope you could make her heart blooming always.

Do you remember Pak Burhan?  He is my lawyer.  He helped me to manage everything.  Please meet him anytime.

With love,

Martin.

Surat singkat Pak Martin membuatku merenung panjang. Aku tidak tahu pasrti apa yang telah Pak Martin putuskan.  Semua jawaban ada pada Pak Burhan, lelaki setengah baya dengan penampilan elegan, yang kutemui di ruang rawat di klinik Pak Josep.

Aku masih merenung.  Aku tidak tahu harus bagaimana saat ini.  Maka aku habiskan hari pertamaku kembali bekerja di kantorku yang dulu dengan tanpa pekerjaan, kecuali merenung yang tiada ujung jawaban.

Di hari pertama aku bekerja, Pak Martin tidak datang.   Aku hubungi handponenya, selalu tidak aktif.  Tidak ada kabar berita apapun dari beliau atau dari Pak Sulaiman.

Pak Burhan telah mengatur semuanya.  Apa maksud semua itu?  Tiba-tiba muncul kekhawatiranku.  Akupun jadi teringat pertemuan terakhirku dengan Pak Martin di apartemennya dua hari yang lalu.

“Sorry ya Kris, aku belum bisa tinggal bersamamu dan Gadis..aku masih mengurus apartemenku…” waktu itu Pak Martin beralasan seperti itu.  Aku memang terus mendesak beliau tentang keinginan beliau untuk kembali hidup bertiga.  Tapi sampai Pak Martin keluar dari klinik, beliau memutuskan untuk tidak langsung bergabung.

Saat itu, aku hanya bisa berpikir maklum.  Aku tidak punya pikiran lain selain aku harus menunggu sampai Pak Martin siap.  Yang Pak Martin inginkan saat itu adalah beliau akan gabung di rumahku.  Gadis menyambut antusias dan sudah menyiapkan semua yang terbaik untuk Pak Martin.

“Kris…kita memang harus punya pilihan hidup ya…”  gumam Pak Martin.  Percakapan sore hari di hari terakhir perawatan Pak Martin, masih aku ingat dengan jelas.  Lagi-lagi aku anggap sebagai percakapan biasa.

“Ya, kita perlu memilih hidup kita, tepatnya kebahagiaan kita…” aku membenarkan kalimat Pak Martin.

“Kamu sudah memilih..kamu sudah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya kamu cari…”  Pak Martin menatapku lekat-lekat.  Riakan kabut tipis menggelayut di bening bola matanya.

“Aku hanya ingin semuanya bahagia…”  aku merasa kalimat ini adalah untuk kebahagiaan aku, Pak Martin, Gadis dan calon anakku.

“Suatu saat aku juga harus berani memilih hidupku.  Aku ingin berani menentukan kebahagiaanku yang sesungguhnya…”  Pak Martin terrsenyum optimis.  Sepertinya beliau telah menemukan alternative pilihan untuk kebahagiaan hidupnya.

Huff… aku menahan nafas dalam-dalam.  Inikah a hard decision yang Pak Martin bilang?  Pilihan hidup untuk kebehagiaan? Apa lagi ini?  Aku seperti baru sadar dari pengaruh hipnotis.  Kenapa aku tidak berpikir sejauh yang Pak Martin maksudkan?  Kenapa aku tidak mengerti maksud perkataan beliau saat itu>

Surat ini?  Oh!  Pastilah sebuah penegasan dari pilihan hidupnya untuk menggapai kebahagiaannya yang sejati!  Betapa bodohnya aku!  Kenapa aku tidak menangkap tanda-tanda dibalik pernyataan beliau?

Ah!  Jangan sampai terjadi!

Aku melesat ke kantor Gadis.  Kujemput dia dan kami segera menuju ke kantor Pak Burhan.  Sebelumnya aku sudah membuat appointment bertemu dengan beliau di sana.

“Pak Kris…ini beberapa berkas dari Pak Martin yang perlu Pak Kris baca..”  Pak Burhan langsung pada pokok permasalahan teknis.  Sementara aku dan gadis belumlah tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan Pak Martin.

“Saya belum mengerti Pak Burhan..maaf, bisa dijelaskan hal ini?”

“Oh, maaf..Pak Kris belum tahu?”  Pak Burhan terheran-heran.

“Ya”

“Maaf..saya pikir Pak Martin sudah cerita sama Pak Kris..”

Aku menggeleng.  Oh!  Ada apa lagi?

“Begini Pak Kris.  Pak Martin meminta bantuan saya untuk mengurus segala sesuatunya sehubungan dengan kepindahan beliau ke Negeri salju…”

“Apa?”

“Perusahaannya di kota ini membuka peluang pengembangannya di Negeri Salju.  Pak Martin dianggap orang yang paling cocok untuk mengelolanya di sana…Pak Martin bilang, dia bisa tinggal di rumah neneknya di sana, sekalian mengurusnya..”

“Oh..”  aku tercekat.

“Saya yang bertugas untuk mengurus semuanya. Dari mulai dokumen perjalanan, dokumen pekerjaan, penjualan apartemennya, penjualan aset yang dimilikinya, asuransi, dan banyak lagi..”

“Pak Martin mau menetap di sana?”  aku terbata.  Ada bagian dari bongkahan hatiku yang tiba-tiba nyeri dan sangat sunyi.

“Ya..Ini Pak Kris, Pak Martin memberikan sebagian asetnya kepada Pak Kris…”

“Hmm…” aku sudah tidak lagi niat mendengarkan kelanjutan keterangan dari Pak Burhan.  Aku sudah dirubung rasa kehilangan yang teramat sangat.  Aku sudah terpuruk lemas.  Ternyata pilihan hidup Pak Martin adalah meninggalkanku.

“Pak, saya baca berkas-berkas ini dulu ya, nanti saya hubungi Bapak lagi…”

“Oke, tidak masalah..” Pak Burhan menyetujuinya.

“Kami permisi dulu Pak..”

“Silakan..”

Berkas dari Pak Martin berisikan banyak pemberian.  Rumah di real estate mewah di kota ini, tabungan untuk biaya melahirkan Gadis, asuransi pendidikan untuk calon anakku, surat promosi untukku menjadi marketing manager yang sudah disetujui oleh Pak Sulaiman, tabungan untuk biaya liburan ke Negeri Salju, dengan alamat rumah neneknya…tak terhitung nilainya bagiku dan Gadis.

Aku tidak tahu, harus bersyukur, bahagia atau sedih saat ini.  Semua sudah di depan mata, jadi tidak ada salahnya untuk diterima.  Aku pun percaya, Pak Martin melakukan semuanya dengan tulus.  Menurut Pak Burhan, semuanya akan diatur dengan baik sesuai dengan kesepakatan perjanjian beliau dengan Pak Martin.  Aku tinggal hubungi Pak Burhan dan tanda tangan berkas apabila diperlukan.

“Excusme sir…”  pramugari berseragam khas dari air lines berkelas membangunkanku.  Dia menawarkan minuman kepadaku. Aku cuma membalas “No thanks..” sambil menggeleng pelan dan tersenyum.  Sepotong perjalanan hidupku telah terurai dalam mimpi tidurku tadi.

Aku menggeliat di tempat duduk.  Kuperhatikan Gadis masuh terlelap di balik selimut.  Clara, si buah hatiku dan Gadis juga masih terlelap.  Dia baru bisa belajar berjalan.  Aku tersenyum bahagia. Perjalanan menuju Negeri Salju tidak berapa lagi.  Tak berapa lama kami akan bertemu Pak Martin di bandara.

Ah, bagaimana kabar Pak Martin?

_____

Di suatu masa di negeri sering ada badai, 1997

*****

Chapter 18: PENGERTIAN

Setelah sekitar sepuluh hari Pak Martin mengikuti program  terapi untuk menyeimbangkan emosi dan kejiwaannya, akhirnya Pak Josep puas dengan progres yang berarti.

Pak Martin menunjukkan itikad dan semangat untuk pulih.  Berbagai program yang meliputi program memori, stress, anger management, kesabaran, sampai dengan program fisik dijalani Pak Martin dengan tujuan kuat untuk pulih.

Aku dan Gadis tak henti untuk memberikan support kepada beliau.  Hampir setiap hari aku atau Gadis bergantian menjenguk beliau.  Menurut Pak Josep, sejak permasalahan beliau yang menyangkut diriku dan Gadis terselesaikan, dan Pak Martin sudah bisa mengerti dan menerima kenyataan hidupnya, perkembangan kejiwaan Pak Martin ke arah membaik semakin pesat.

Aku dan Gadis sangat bahagia mendapatkan report dari Pak Josep.  Kami semakin semangat untuk berusaha semaksimal mungkin membantu mengembalikan kestabilan emosi dan kejiwaan Pak Martin.

“Kris, thank a lot honey…” Pak Martin membuka percakapan suatu saat aku menjenguknya.  Beliau menatapku nanar dan  seperti menyimpan banyak hal yang ingin beliau ungkapkan.

“Your welcome, Pak..” aku balik menatapnya.  Yang ditatap malah perlahan mengalihkan pandangan ke arah dinding putih.

“Kris…” Pak Martin menunduk

“Ya..” aku sabar menunggu kelanjutan ucapan Pak Martin.

“Aku kok bodoh banget ya…” masih dengan posisi tertunduk Pak Martin mencoba memulai mengunggap perasaannya.

“Kenapa?”  aku berusaha mengimbangi situasi hatinya.

“Aku telah berbuat sesuatu yang sangat bodoh, merusak diri sendiri…”

“Siapapun yang frustasi berkemungkinan besar melakukan hal itu…”

“Ya, kenapa aku memilih untuk itu…”

“Saya menyesal, kenapa saya juga lakukan hal bodoh, keputusan saya sangat menyakiti kita berdua…”  dengan hati-hati aku mengungkapkan penyesalanku.

“Kamu berhak memilih, Kris.  Aku yang berlebihan…”

“Saya terbawa emosi…”

“Itu wajar.  Maafkan aku waktu itu aku bersikap lebih tidak dewasa…”

“Ya, kita emosi…”

“Aku sangat takut kehilangan kamu…”  aku mendengar lenguhan Pak Martin.  Aku merasakan rasa takut yang dirasakan beliu menjalar jelas.

“Saya bingung saat itu, saya bahagia karena saya akan menjadi ayah.  Tapi saya sedih karena perpecahan kita harus terjadi…”

“Ya, aku mengerti sekarang.  Menjadi ayah bagimu adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidupmu.  Aku yang tidak bisa mengerti kamu saat itu. Aku sangat emosional, kecewa, ketakutan dan kesepian.  Aku terlalu mencintaimu Kris.  Aku tidak siap ditinggalkam.  Aku terlalu memaksakan diri menguasai hidupmu…”

“Saya bahagia hidup bersama Bapak..”

“Aku sadari kalau kamu pun punya hidup sendiri.  Aku…”  helaan nafas berat Pak Martin terdengar berat.

“Sudahlah Pak, itu sudah berlalu kan?” aku tenangkan  Pak Martin dengan menepuk punggung telapak tangan beliau beberapa kali.  Semoga beliau bisa lebih tenang.

“Ya.  Aku bisa mengerti…”

“Bapak pasti akan mengerti…” aku menyemangatinya, “bahwa hidup itu pasti ada hikmahnya, bahwa hidup itu sebenarnya sangat indah apabila kita tahu harus bagaimana kita bersikap…”

“Ya, aku akan hargai hidupku, Kris..”

“Great, reach the sky…grab your dream..mimpi kita belum habis…”

“Yah, mudah-mudahan aku mampu , Kris…”

“Saya yakin..”

Seseorang mengetuk pintu.  Pak Josep datang dengan seseorang berpakaian formal.  Jas hitam, celana dan sepatu sewarna dengan jas, kemeja biru muda dan  dasi coklat muda kombinasi dengan merah.

“Pak Kris, ini Pak Burhan, beliau kuasa hukum Pak Martin..”  Pak Josep memperkenalkan kali-laki setengah baya tersbeut kepadaku.  Ow, kuasa hukum Pak Martin?  Aku belum pernah tahu tentang hal itu.  Biarlah.

“Saya Kris..”

“Saya Burhan, silakan Pak..” aku mempersilakan Pak Burhan untuk langsung bertemu Pak Martin.

“Mungkin lebih baik saya di luar, Pak Martin. Saya permisi jalan-jalan seputar klinik dulu…” aku merasa tidak ada kepentingannya, kadi pikirku, lebih baik aku tidak perlu menguping.  Siapa tahu juga mereka akan membicarakan hal yang sangat penting yang tidak bisa diketahui oleh lain.

“Ok, take care, Kris…”

“Ya”  aku dan Pak Josep keluar bersamaan. Aku menuju taman di samping klinik.  Ada kolam ikan koi cukup luas yang dirawat dengan baik.  Beningnya air, indahnya warna sisik ikan koi yang kadang berkilap ditimpa cahaya, gerakan ikan yang tidak membosankan, membuat pikiranku semakin tenang.

Dalam diam aku bersyukur, karena Pak Martin telah mengerti keputusanku enam bulan yang lalu.  Pak Martin mengerti posisiku dalam “cinta segitiga” yang ganjil ini.  Pak Martin mengerti bahwa aku berhak untuk memilih dan punya hidup sendiri.

Memasuki gedung yang dulu aku pernah bekerja di sini, mengalihkan pikiranku tentang pertemuanku dengan Pak Martin di ruang rawatnya.   Bergegas aku arahkan diriku menuju ruang Pak Sulaiman, bosnya Pak Martin.

Setelah enam bulan aku tidak bekerja di sini, aku merasa tidak banyak yang berubah di kantor tempatku dulu berkarir.  Dibandingkan dengan kantorku yang sekarang, sangatlah tidak berimbang.  Kantorku yang sekarang kecil dan baru merintis.  Jumlah pegawainyapun  masih bisa dihitung dengan jari. Aku masih bekerja dibidang marketing, dan aku sekarang menjabat sebagai manajer di kantor kecilku itu.

Koridor menuju ruang Pak Sulaiman masih tampak lengang.  Biasanya kalau pagi hari, saat jam makan atau jam [ulang kantor, koridor ini bisa penuh oleh karyawan yang lalu lalang.  Perusahaan ini tergolong besar.

Sampai di depan ruang Direktur, aku sempat merapikan pakaianku.  Kuketuk beberapa kali, lalu aku buka.  Dari balik meja kerja antiknya, beliau sudah tersenyum lebar menyambutku.

“Silakan Pak Kris…” seperti biasanya keakraban Pak Sulaiman bisa menarik perhatian siapapun yang berbicara dengan beliau.

“Terima kasih..”  kujabat tangan Pak Sulaiman sebentar lalu aku duduk di kursi berhadapan dengan beliau.

“Mau minum apa Pak Kris?”

“Tidak usah repot Pak, saya juga mungkin tidak lama…”

“Wah, sibuk ya? Tapi gak ada salahnya kan kita ngobrol dulu…”

“Saya hanya menyampaikan surat dari Pak Martin…”

“O ya.. bagaimana bisa? Apakah Pak Kris masih berkomunikasi dengan Pak Martin?”  sepertinya Pak Sulaiman tidak mengetahui tentang kejadian yang menimpa Pak Martin.

“Kebetulan kemarin saya bertemu beliau..”

“Bosmu itu memang unik. Dulu pernah terjadi, hampir sebulan dia tidak  masuk kantor, waktu ibunya meninggal dunia.  Hebatnya, pekerjaannya tetap diselesaikan dengan sangat sempurna.. Nah..sekarang pun begitu. Sudah hampir setengah bukan tidak ke kantor. Tidak ada kabar.  Tapi ya itu Pak Kris, pekerjaan tetap beres…”  Pak Sulaiman panjang lebar bercerita tentang keunikan Pak Martin di matanya.

“Bos saya memang hebat Pak…”

“Ya, yang saya masih tidak  habis pikir, dia berani-beraninya memecat Pak Kris ya.  Heran saya.  Ya begitulah bosmu itu, Pak Kris.  Anehnya lagi sekarang, Pak Kris menemui saya untuk memberikan surat dari Pak Martin…”

“Saya juga tidak tahu kenapa dan apa isi surat itu..”

“Ya, Pak Kris tunggu saya baca dulu ya…Tidak usah terburu-burulah…”

“Baik Pak”

Aku perhatikan Pak Sulaiman membuka surat di amplop putih besar.  Sebentar dia mengernyitkan kedua akis tebalnya.  Sekilas keduanya hampir menyatu.  Apa surat itu berisikan hal sangat penting? Aku hanya bisa menunggu.  Aku pun merasa itu isi surat itu bukan urusanku.

“Kapan Pak Kris bertemu Pak Martin?”  Pak Sulaiman

“Dua hari yang lalu..”

“Di mana?”

“Di rumah sakit”  aku menjawab setengah gamang.

“Oke…Pak Martin bilang dia kecelakaan…”

“Ya.. apa surat itu surat ijin Pak Martin?”

“Ya, sebagian .  sebagian lagi tentang Pak Kris..”

“Saya?  Maksud Bapak?”

“Please welcome back to you, if you want to join with us again…”

“Wow.. saya berkesempatan bekerja di sini lagi?”

“Ya, bosmu yang akan bertanggung jawab atas segala kekeliruan keputusan pemecatan Pak Kris..”

“Hmm…”

“Unik kan orang yang satu itu?  Persis sama kelakuannya waktu bosmu minta kamu jadi asistennya.  Dia gencar mempromosikan Pak Kris agar menjadi asistennya dan tidak setuju Pak Kris menjadi manager cabang….”

“Oh…”

“Tapi saya selalu mengalah, karena saya tahu persis dia.  Dia jenius dan sangat loyal bekerja.  Saya salut atas prestasinya selama ini.  Saya tidak akan bisa bayangkan jika tidak ada bosmu itu…”

“Saya mengerti…”

“Kalau bosmu mau, dia  itu bisa dengan sangat mudah untuk menggeser posisi saya sebagai direktur.  Tapi bosmu bukan orang yang ambisius..”

“Ya, Pak Martin itu a smart worker..”

“Oke Pak Kris, kapan saja Pak Kris mau join, please inform me..”

“Akan saya pikirkan secepatnya Pak…”

“Kalau Pak Kris join, pemecatan itu dianggap tidak ada…”

“Maksudnya?”

“That is your boss…Pak Martin tidak pernah menganggap Pak Kris tidak ada..”

“Wow..” aku terkesiap sendiri.

“Sampai sekarang Pak Kris dilaporkan Pak Martin masih sebagai asistennya.  Gila ya kedengarannya?  Itulah bosmu.. . Anehnya, semua target pekerjaan dicapainya.  Wuih..itulah keunikan sekaligus kesablengan Pak Martin.. hahaa…”

“Ya..” aku senyum-senyum bingung.

“Saya hanya bisa mengiyakan…hahaha..biarpun begitu orangnya, tapi dia pemasok keuntungan terajaib di perusahaan ini, makanya pengaruhnys sangat besar.  Kita perlakukan seperti dewa…haha.. Saya banyak belajar, banyak mengeruk keuntungan dan sangat bangga punya anak buah seperti dia…”

“Wow..menakjubkan…”

“Ya, itulah dia.  Saya cerita begini, agar Pak Martin secepatnya bergabung lagi bersama kami..oke?”

“Saya pikirkan secepatnya Pak, mudah-mudahan tidak lama..”

“Pak Kris tunggu sebentar ya, saya akan buat surat balasan untuk Pak Martin.  Bisa kan Pak Kris menemuinya lagi?”

“Ya Pak, saya usahakan…” jawabku terbata.

Perjalanan pulang sangat melegakan perasaanku.  Satu sisi aku tidak habis pikir akan tindakan Pak Martin.  Saya akui, beliau adalah dewa di perusahaan besar itu.  Beliau tidak punya jabatan top management, tapi jangan ditanya soal pengaruh.  Beliau pencengkeram pengaruh utama di perusahan bergedung abu-abu itu.  Beliau adalah asset di perusahaan itu.

“Saya serahkan keputusannya sama Mas..” Gadis memberikan peluang untukku memutuskan, setelah aku ceritakan tentang pertemuanku dengan Pak Sulaiman tadi siang.

“Ya, aku akan pikirkan masak-masak…”

“Bagi saya itu kesempatan emas, namun yang akan menjalani kan Mas sendiri, jadi apabila menurut Mas itu terbaik, Mas bisa pilih…”  Gadis memberiku advice.

“Ya, aku akan pikirkan secepatnya…”

Sebenarnya aku sudah punya jawaban yang cenderung untuk kembali bekerja di sana. Alasanku sesuai logikaku saja,  aku bisa punya banyak peluang berkarya, berkarir dan bertemu lagi dengan Pak Martin sebagai atasan dan teamwork –ku.  Bukankah sebelumnya tidak ada masalah dalam pekerjaan di antara aku dan Pak Martin?

Namun aku perlu pertimbangan Gadis.  Karena selama ini Gadis bisa lebih matang dalam menentukan.  Pun dia punya feeling yang sering lebih tepat dari pada aku.  Lagi pula dia istriku sekarang, jadi aku harus  minimal sharing dengannya untuk memutuskan sesuatu yang terkait dengan keluarga.

“Ini surat sari Pak Sulaiman…” aku menyodorkan surat balasan itu kepada Pak Martin, sehari setelah menerimanya dari Pak Sulaiman.

“Wow..” senyum-senyum Pak Martin memperhatikanmu. “I am waiting the reply letter from you, Kris…”

“Ups, really?” aku pura-pura tidak tahu.

“Seriuously…please, think about that as soon as possible…” Pak Martin sangat berharap.

“Saya mau bicara dengan bosku dulu…”

“I am your boss…” Pak Martin makin mendesak.

“At least to say good bye to her…”  aku senyum-senyum

“Hahaha…funny..I like that…” Pak Martin memelukku erat, terkesan bahagia.

“Why did you do that for me?”

“Menebus penyesalanku dan menunjukkan pengertianku, paham?

“Not really..”

“Aku menyesal telah memecatmu.  It was not fair for you.  Well, forget it.  The important thing is to open my mind  to more understand to you and Gadis.  I am really happy because i know that you still love me…”

“Wow.. romantic enough..haha..”

“I am serious, Kris..”

“Okay… I am sorry for that…”

“Aku minta Pak Sulaiman bayar akumulasi gaji kamu selama enam bulan.. cukup kan?

“Apa harus bergitu keputusannya?”

“Ya, harus, karena aku memecatmu sepihak… anggap saja ini sebagai tanda permintaan maafku secara formal kepadamu Kris…”

“Oke, deal..”

“Lihat surat ini, Pak Sulaiman sudah mengiyakan…haha…”

“Wow…” aku mengapresiasi dengan sikap antusias.

“Good, I am now happy…”

“Ya..”

“Kris, mudah-mudahan semua itu bisa untuk persiapan biaya Gadis melahirkan. Oke? Aku ingin anakmu sehat.  Gadis sehat dan kamu bahagia…”  aku yakin Pak Martin tulus.  Aku sudah sangat mengenal sidat beliau.  Aku pun merasakan kebahagiaan yang dulu pernah aku dapatkan karena diperhatikan beliau.

“Ya..thank you so much..” aku tak kuasa menahan haru dan bahagia. Kupeluk dan kucium pipi beliau bergantian, kiri lalu kanan.

“I am happy for you, Kris…” Pak Martin membalas erat memelukku.

Hari ini hari penuh pengertian.  Hari bertautnya lagi hati kami untuk saling memperhatikan. Hari yang membawaku ke arah kedamaian hati yang selama enam bulan ini hilang dari benakku.  Hari yang mudah-mudahan menjadi awal yang baik.  Hari yang membangkitkan kembali perasaan saling support.

Yang jelas, aku merasakan hari ini teramat baik kepadaki, karena telah melimpahkan kebahagiaan hati.  Aku benar-benar merasakan indahnya pengertian dan saling mengerti kembali.

*****

Chapter 17: GADIS, ISTRIKU

Gadis istriku. Unik dan punya kepribadian kuat. Dia sedang hamil kurang lebih enam bulan usianya, namun masih bisa bergerak gesit. Hebatnya, dia tidak pernah mengeluh sekecil apapun selama kehamilannya.

Ngidam? Sepertinya dia tidak pernah mengenal kata yang satu itu. Aku pun tidak pernah direpotkan dengan kata itu.

Yang paling aku segani dari dia adalah sikap yakin dan nrimonya. Penderitaan batin selama masih hidup dengan bapak ibunya, dijadikannya sebagai bekal menghadapi apapun yang dilaluinya pada tahapan hidup selanjutnya.

Aku sungguh-sungguh terilhami oleh sikap dan buah pikirannya. Tak ada sepatahpun kata cengeng dalam benaknya. Aku benar-benar punya semangat hidup bersamanya.

Aku banyak belajar darinya tentang bagaimana memegang keyakinan dalam menentukan apapun, setelahnya usaha dan terakhir tinggal pasrah. Saat hidup berdua dengannya, aku mulai punya keyakinan untuk bisa hidup sewajarnya. Aku terus berusaha untuk bisa mencapainya. Bahkan aku sudah berada di titik puncak usaha.

Niatanku berbenah diri untuk menjadi individu yang seperti diharapkan orang tuaku, diawali dengan keberanianku membuat keputusan dengan memilih hidup bersama Gadis. Dengan sangat terpaksa akhirnya aku harus meninggalkan Pak Martin. Aku menyesali perpisahan itu dilakukan dengan saling bersikap yang tidak mengenakkan.

Satu hal yang selama enam bulan ini dipendam Gadis adalah rasa bersalahnya atas kejadian perpisahanku dengan Pak Martin. Gadis tahu jika kami sudah saling menyakiti.

Perasaan bersalahnya ternyata sungguh membuatnya tidak tenang. Aku dapat memakluminya. Aku bisa memahami posisinya yang sulit.

Pada hari ke empat aku menjenguk Pak Martin, Gadis memintaku untuk ikut. Mulanya aku merasa keberatan, mengingat kondisinya yang sedang hamil. Ditambah lagi masalah yang sekarang Pak Martin hadapi pasti akan sangat terkait dengan kami bertiga. Pak Martin juga masih bersikap nyinyir terhadap Gadis.

Namun Gadis terus memaksa untuk ikut. Gadis malah punya tekad untuk meluruskan persepsi kami yang dianggapnya sudah tidak benar. Gadis akan bertemu dan berbicara dengan Pak Martin, agar dia tidak terus terganggu oleh rasa bersalah yang selama enam bulan ini terus menghantui. Akupun tidak punya alasan kuat lain yang bisa mencegahnya untuk ikut.

“Mas tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja” Gadis berusaha meyakinkanku.

Sedari tadi aku terdiam dalam gamang. Sambil menyetir, pikiranku masih menduga-duga apa yang bakal terjadi pada pertemuan Gadis dan Pak Martin. Sekuat tenaga aku harus tetap konsentrasi melajukan mobilku.

“Jangan terlalu yakin dulu..”

“Saya akan mencoba yang terbaik, semaksimal kemampuan saya..”

“Pak Martin masih berubah-rubah pikiran. Kadang-kadang seperti orang yang aku kenal, kadang-kadang sangat cengeng di depanku, kadang-kadang merasa kesepian, frustasi, atau putus asa. Tapi yang jelas, beliau masih sangat cemburu sama kamu..”

“Saya sudah menduganya. Saya mau bicarakan masalah ini dengan beliau sampai tuntas”

“Kita lihat saja nanti”

“Saya tidak mau kehilangan momen hari ini”

“Ok” Kami terdiam kembali sampai aku mengarahkan mobil ke area parker klinik.

Situasi koridor klinik masih sunyi, seperti pertama kali aku datang tiga hari yang lalu. Dua hari kemarin klinik ini banyak dikunjungi pasien. Aku dan Gadis berjalan santai menuju ruang Pak Josep.

Pak josep menyambut gembira kedatangan kami. Beliau benar-benar merasa terbantu dengan seringnya aku menjenguk Pak Martin. Meskipun emosi Pak Martin masih belum sepenuhnya, namun menurut Pak Josep sudah mulai menunjukkan banyak kemajuan.

Setelah beberapa saat kami berbasa-basi, kami menuju ke ruang rawat Pak Martin. Ada gamang dan khawatir terus menyelinap di kisi-kisi hatiku. Gamang dan khawatir atas apa yang bakal terjadi dengan adanya pertemuan Gadis dan Pak Martin, mengingat Pak Martin masih memendam cemburu atau bahkan bisa lebih dari itu terhadap Gadis. Aku sangat khawatir apabila terjadi apa-apa dengan kehamilannya.

Kami sudah berada di ruangan tempat Pak Martin mendapatkan terapi. Melihat kedatangan kami, Pak Martin menutup bukunya, menghentikam kegiatan membacanya.

Tatapannya seperti langsung tertuju kearah Gadis. Raut wajahnya berubah menjadi tidak suka. Cepat-cepat aku menetralkan sikapnya, dengan mengalihkan perhatiannya. Aku salami Pak Martin, lalu memberi Pak Josep isyarat yang sudah dikenalnya, untuk meninggalkan kami.

Sekarang tinggal kami bertiga. Gadis berinisiatif untuk duduk di kursi, persis di samping kiri Pak Martin. Posisinya berseberangan denganku.

Kuperhatikan tampang Pak Martin makin terlihat tidak suka. Kulihat Gadis tidak perduli dengan sikap Pak Martin yang semakin ketara tidak welcome. Suasana saling diam seperti ini mengingatkanku pada pertemuan terakhir di apartemen Pak Martin.

Aku tidak mau itu terjadi lagi, karena sangat tidak menyenangkan kami semua. Aku mencoba melebur keheningan dengan berbasa-basi.

“Sedang baca buku apa Pak?” aku memulai pembicaraan.

“Iseng-iseng saja” Pak Martin datar-datar saja, malah cenderung tidak ramah.

“Bagaimana kabar Pak Martin?” Gadis memberanikan diri berucap.

“Yang seperti kami lihat, paling Kris sudah cerita sama kamu kan?” sergah Pak Martin. Aku menghela nafas pelan. Nada jutek Pak Martin jelas terdengar, meski beliau berkata pelan.

“Ya, saya turut prihatin, Pak..” Gadis mencoba berempati.

“Aku memang tidak pantas untuk bahagia, tidak seperti kamu..” Pak Martin nyinyir menanggapi.

“Maafkan saya Pak”

“Untuk apa kamu minta maaf?” serang Pak Martin kesal.

“Pak, bagaimanapun saya yang salah, Gadis tidak tahu menahu akan keputusan saya..” aku mencoba menengahi.

“Kamu tidak perlu membelanya kan Kris?” Pak Martin langsung memotong ucapanku, masih dengan suasana hatinya yang tidak menyenangkan.

“Pak Martin, Bapak berhak untuk tidak suka saya. Bapak berhak untuk tidak pedulikan saya. Bapak berhak untuk marah kepada saya. Saya terima, karena saya bisa mengerti. Saya bisa untuk tahu diri. Saya menyadari siapa diri saya di tengah-tengah hubungan Bapak dengan Mas Kris..” Gadis mengungkap pelan, namun bersahaja. Pak Martin terdiam menyimak.

“Gadis, sudahlah..” aku tidak mau Gadis meneruskan mengungkap perasaannya.

“Pak Martin, saya tidak pernah berharap banyak dengan yang namanya bahagia. Sepahit apapun hidup saya, saya terima. Bagi saya, pahitnya hidup juga salah satu bentuk bahagia. Jika memang Pak Martin selama ini merasa kebahagiaan Bapak telah saya rampas, sekarangpun akan saya kembalikan..” Gadis menunduk. Pak Martin terdiam membatu. Aku berdiri tidak bergeming. Suasana kembali hening.

“Pak Martin perlu tahu, saya tidak pernah berharap banyak menjadi istri pura-pura Mas Kris. Saya tidak bermimpi jauh menikah pura-pura dengan Mas Kris. Dari awal saya sudah sadar dan tahu diri. Tujuan saya hanya ingin lari dari tekanan batin saya karena situasi di rumah. Sudah saatnya saya harus keluar dari rumah, karena saya ingin punya hidup sendiri. Saya mengemis sama Mas Kris agar saya bisa lari dari rumah, bukan agar saya menjadi istrinya… Saya sangat memahami Pak Martin dan Mas Kris yang saling mencintai…” Gadis benar-benar ingin menuntaskan isi hatinya.

“Gadis, sudahlah..” aku hanya bisa mengulang ucapan itu.

“Pak Martin, saya tahu, percayalah, sampai saat ini Mas Kris sangat mencintai Bapak. Percayalah Pak, tidak ada secuilpun cintanya untuk saya. Pak Martin tidak perlu cemburu sama saya. Saya yakin, cinta Bapak tidak pernah saya rampas. Cinta Pak Martin masih tersimpan rapi di hati Mas Kris…”

“Tapi Kris lebih memilihmu..” suara Pak Martin mulai melemah.

“Saya yakin, Mas Kris memutuskan untuk hidup bersama saya bukan karena Mas Kris memilih saya, itu lebih karena bayi yang saya kandung. Mas Kris teramat bahagia akan menjadi seorang ayah…” Gadis tertunduk kelu.

“Mas Kris orang terbaik yang saya punya. Malaikat dalam hidup saya. Sudah teramat berlebih kebaikannya untuk saya. Saya sudah cukup bahagia karenanya. Saya tidak akan pernah punya niatan merampas kebahagiaannya. Sesungguhnya, yang paling membahagiakan hidupnya adalah perasaan cintanya kepada Pak Martin..” sampai di situ, Gadis terdiam lagi. Raut wajahnya terlihat mendung.

Aku terduduk kuyu. Batinku terus bergolak. Apa yang aku dengar dari Gadis barusan ini memang benar adanya. Kenapa harus dia, bukan aku yang mengungkapkan semua itu kepada Pak Martin? Seharusnya aku berani bersikap seperti yang barusan ditunjukkan oleh Gadis.

Pak Martin menutup mukanya dengan selimut putih. Suasana makin senyap. Beku dalam perasaan masing-masing. Namun kebenaran hati masing-masing menjadi terungkap. Masing-masing seperti menekuri batinnya dalam diam.

“Pak Martin, maafkan saya, selama ini membuat Bapak tersiksa..” Gadis mengusap pundak Pak Martin. Pak Martin membuka selimutnya, lalu menatap Gadis lekat-lekat.

“Aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Kamu harus sehat, biar anakmu sehat, biar ayahnya bahagia..” Pak Martin melirik ke arahku. Aku tersenyum.

“Pak Martin, kembalilah ke Mas Kris, Bapak tidak perlu khawatirkan saya..” Gadis berucap sangat pelan, nyaris tidak jelas aku mendengarnya.

“Gadis, kamu pantas mendampingi Kris. Aku cukup bahagia karena Kris masih mencintaiku..” Pak Martin tersenyum bahagia.

“Mas Kris, sebaiknya Mas tidak perlu menutupi diri lagi..” Gadis menatapku tajam. Aku tergeragap ditatap seperti itu. Aku cuma pelan mengangguk.

“Aku merindukan kehidupan kita bertiga…” Pak Martin menggumam. Aku dan Gadis saling bertatapan, lalu hampr berbarengan kami saling menghela nafas.

“Apa itu mungkin Kris? Bagaimana denganmu Gadis? Aku tidak mau lagi hidup seperti kemarin. Aku tidak punya siapa-siapa yang membahagiakan. Enam bulan sudah sangat berat bagiku untuk menderita…” nada ucapan Pak Martin sangat berharap.

Aku dan Gadis masih tertegun bertatapan. Dalam diam hati kami berbincang sendiri. Entah apa yang tengah Gadis pikirkan, namun dari binar matanya, aku menangkap isyarat kegembiraan dan kelegaan perasaannya.

Aku hanya ingin menjaga perasaan Gadis, sehingga aku tidak berani mendahuluinya untuk memutuskan. Aku lihat Pak Martin masih cemas berharap. Kecemasannya lenyap saat Gadis tersenyum lebar dan mengangguk mengiyakan.

Aku lega. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba beban hatiku sangat jauh berkurang. Beban yang selama ini menggangguku. Beban yang terus aku pikul dan menghantuiku. Enam bulan terasa begitu lama diselimuti kegundahan hati.

Sekarang betapa aku seperti langsung tercerabut dari rendaman lumpur pasir yang menyesakkanku. Aku mendadak lepas dari himpitan penderitaan batin. Kelegaan hati yang selama enam bulan ini aku tidak rasakan

Kesepakatan kami bertiga akhirnya akan kembali hidup bersama lagi, namun belum ditentukan di mana kami akan tinggal. Aku dan Gadis fokus dulu pada kesembuhan Pak Martin. Beliau masih terguncang atas kejadian itu. Sepertinya belum stabil benar kondisi emosi beliau. Namun aku berharap mudah-mudahan kondisi itu tidak akan terlalu lama.

Di perjalanan pulang, Gadis tampak berseri. Berulang kali dia mengucapkan terima kasih kepadaku. Sepertinya apa yang selama ini mengganjal pikirannya, lepaslah sudah. Kelegaan batin yang diinginkannya sepertinya telah digapainya hari ini.

“Saya akan berbuat banyak untuk Pak Martin. Beliau sangat butuh bantuan” ucapnya bersemangat.

Aku tidak menanggapinya terlalu jauh. Hal itu sudah sewajarnya kami lakukan. Bukankah Pak Martin belum sepenuhnya stabil perubahan jiwanya? Yang pasti butuh waktu.

Perkataan Gadis sepulang dari klinik, yang aku interpretasikan sederhana, rupanya dua hari ini oleh Gadis berarti besar. Aku tidak punya prediksi apapun tentang langkah Gadis selanjutnya untuk “membantu” Pak Martin.

Langkahnya jauh dari apa yang aku pikirkan. Gadis berbuat sesuatu yang baginya diyakini harus dilakukan, walaupun bagiku itu hal besar. Gadis berani mengambil resiko dengan apa yang diperbuatnya.

Tanpa ada rasa takut dia mencoba untuk berbuat sesuatu. Awalnya dia tidak ceritakan kepadaku. Belakangan, setelah makan malam dia katakan idenya padaku, karena Gadis merasa perlu dukunganku.

“Kamu tidak usah terlalu nekad” cegahku.

“Sepulang dari klinik, seharian saya pikirkan hal ini, Mas. Saya yakin mereka perlu diamankan, untuk kebaikan Pak Martin. Saya pikir mereka akan terus mengganggu Pak Martin, jika mereka masih keliaran…” papar Gadis beralasan.

“Apa nantinya tidak malah menyeret Pak Martin?”

“Semoga tidak”

“Semoga tidak?” aku tercengang mendengar ucapan Gadis seenteng itu.

“Ini beresiko, tapi inti permasalahan kejadian ini adalah ulah pacar Pak Martin” Gadis tampak sangat yakin.

“Pacarnya masih berbuat jahat pada Pak Martin?” aku tidak bisa menyembunyikan galauku.

“Saya mengerti perasaanmu Mas, tapi ini kenyataan, Pak Martin masih terkait masalah dengan pacarnya…” Gadis berusaha mengembalikan logikaku.

“Ya” aku masih bertampang kuyu.

“Dua hari ini saya sudah berdiskusi dengan Pak Josep. Beliau siap membantu saya..”

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Tidak banyak, saya hanya lapor ke kepolisian, dengan indikasi-indikasi yang saya dapatkan di lapangan..” Gadis mantap menjelaskan.

“Apa yang sudah kamu dapatkan?”

“Pak Josep sudah membuat laporan kesehatan Pak Martin, bukti-bukti visum atas penganiayaan dan pengakuan Pak Martin atas kasus sodomi..”

“Apa nantinya tidak membahayakan Pak Martin?”

“Saya malah berpikir sebaliknya..”

“Kenapa?”

“Pak Martin perlu didukung dengan sikon lingkungan eksternalnya yang nyaman dan aman. Menurut saya, perlu diamankan dulu mereka-mereka yang berpotensi akan terus mengganggunya…”

“Resikonya nggak kecil”

“Ya, tapi kalau dibiarkan, saya yakin Pak Martin tidak pernah akan merasa aman dari gangguan mereka. Percuma Pak Martin terus terapi, apabila beliau sembuh nanti kondisi eksternalnya masih seperti itu” Gadis terus menguatkan alasannya.

Gadis melanjukan pembicaraan. “ Kemarin saya telpon ke apartemen Pak Martin, pura-pura menawarkan asuransi, dan di sana sedang ada banyak orang, saya dengar juga musik yang hangar bingar, sepertinya sedang ada pesta”

“Apa itu mereka?”

“Saya yakin, yang menerima telpon kemarin itu pacar Pak Martin”

“Kita harus hati-hati”

“Pak Josep punya kenalan polisi intel yang siap membantu..”

“Apa lagi yang sudah kamu lakukan?” aku terus menyelidik Gadis. Aku tidak mau dia terseret dengan hal-hal yang membahayakannya.

“Polisi intel itu bernama Pak Prayogi. Beliau cepat mengatur strategi. Paginya aku telpon ke apartemen lagi. Tidak ada yang mengangkat. Saat itu juga Pak Prayogi melacak ke sana untuk mencari bukti-bukti. Kita tinggal menunggu”

“Pak Martin sudah tahu?”

“Belum, Pak Prayogi dan Pak Josep yang akan memberitahu setelah pelacakan mereka selesai, jadi tidak berkesan melibatkan Pak Martin…” Gadis dengan rinci membeberkan apa yang dilakukannya untuk “membantu” Pak Martin. Aku hanya pasrah menunggu hasil.

“Pak Prayogi sudah banyak pengalaman Mas, saya yakin beliau dapat bertugas dengan baik”

“Ya, menunggu gerak dan hasil beliau. Nggak ada cara lain toh?” aku cuma bisa pasrah.

“Berdoa untuk kebaikan Pak Martin…” Gadis menyahut.

“Ya” aku menghela nafas berat.

“Maafkan saya Mas, saya tidak menceritakan kepada Mas Kris dari awal. Saya sudah janji untuk membantu Pak Martin” Gadis meminta maaf, ada sesal mengalir pada nada ucapannya.

Aku menghela nafas, “ No problem, thanks”

Gadis tersenyum. Kali ini senyumnya memberi tanda akan kelegaan dan kebungahan hatinya. Melihatnya saat ini, aku ikut bungah. Aku berharap, semoga ini menjadi isyarat sebagai langkah awal dari kebaikan kita bertiga.

Bergegas aku menuju klinik sore ini. Gadis menelponku, mengharapkanku untuk segera datang ke sana sepulang dari kantor. Aku secpatnya melesat ke sana. Sebenarnya aku sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan di sana.

Menurut informasi Gadis, Pak Josep dan Pak Prayogi akan ikut pertemuan itu. Dengan perut sedikit lapar aku arahkan mobilku ke klinik eksklusif milik Pak Josep yang terletak di pinggiran kota.

Di perjalanan, aku mampir dulu ke minimart untuk membeli makanan kecil, minuman kemasan dan air putih. Sampai di klinik aku langsung menuju ke ruang Pak Josep. Ternyata di sana Pak Josep, Gadis dan Pak Prayogi sudah menungguku. Mereka menyambutku dengan antusias.

“Maaf, saya datang agak terlambat” aku berbasa basi

“Ayo Pak Kris, silakan langsung bergabung…” Pak Josep mengajakku untuk langsung ikut berdiskusi.

“Selamat sore Pak Prayogi, bagaimana perkembangan kasus ini?” aku menyerbu dengan pertanyaan. Sebentar saja aku sduah terlibat pembicaraan, tepatnya diskusi tentang seputar kasus yang dialami Pak Martin.

“Kita masih mengumpulkan data dan bukti-buktinya. Gadis dan Pak Josep sudah memberikan banyak keterangan kunci. Informasi yang saya dapat dari pihak pengelola apartemen juga sangat membantu “ Pak Prayogi menjelaskan kepadaku.

“Apa bukti yang sekarang menguatkan proses penyelidikan?’ aku terus bertanya.

“Saat kita lacak di apartemen, banyak bukti sidik jari, serbuk narkotik, botol minuman alkohol di sana. Pegawai front desk sering melihat pacar Pak Martin datang ke sana bersama teman-temannya..”

“Irfan” aku menjelaskan, “Pak Martin menceritakan semuanya kepada saya…”

“Oke, good, kita makin punya data yang menguatkan. Kemungkinan besar Irfan tersangkanya…tapi kita selidiki lagi, siapa tahu ada “big boss” di belakang layar, bisa saja Irfan hanya bonekanya…”

Kulihat Gadis dan Pak Josep menggangguk bersamaan, tanda memahami kemungkinan kasus ini bisa jadi pelik. Aku cuma bisa menelan ludah, pasrah.

“Ada informasi kunci lainnya tidak dari front desk apartemen itu?” rasa ingin tahuku terus menggelitik pikiranku.

“Yap, mereka banyak tahu tentang Irfan. Mereka tahu hari-hari apa yang Irfan dan teman-temannya datang ke sana. Sepertinya malam ini kita akan bergerak..” Pak Prayogi menuntaskan penjelasannya.

“O begitu. Apa yang bisa kami bantu?” aku bersemangat

“Lebih baik kita tetap di sini, Mas. Kita jaga Pak Martin…” Gadis berpendapat.

“ Ok, kami tunggu hasilnya ya Pak Prayogi…”

“Ok, saya pamit dulu..” Pak Prayogi bergegas keluar ruangan.

“Silakan Pak, terima kasih banyak…” hampir berbarengan kami menjawab. Kami mengantar beliau sampai di teras klinik.

Udara sejuk di koridor tidak membuat sedikitpun kedua kelopak mataku terpejam. Malam ini benar-benar menyita perhatianku. Aku sangat menunggu berita dari Pak Prayogi tentang penggerebekan di apartemen Pak Martin.

Pukul 01.30 dini hari, handpone-ku berdering. Suara Pak Prayogi cepat aku kenali. Beliau memberikan laporan yang intinya beliau dan timnya telah meringkus komplotan Irfan dengan sukses.

Pagi harinya, aku mendapatkan informasi dari televisi tentang “gerakan” yang dilakukan oleh Pak Prayogi dan tim. Dari pembacaan berita di televisi itu, tidak terbersit sedikitpun menyangkut nama baik Pak Martin. Berita itu fokus murni pada masalah narkoba dan peredarannya.

Aku sangat berterima kasih kepada Pak Prayogi. Beliau sudah mengatur semuanya. Aku juga berterima kasih kepada Gadis yang sudah berinisiatif untuk “membantu” Pak Martin dengan caranya.

*****

Chapter 16: TRAGEDI

Tragedi ini adalah bagian dari kehidupanku yang paling aku tidak sukai. Walaupun tragedi ini tidak langsung menimpaku, namun imbasnya mampu menyeretku kedalam luka hati yang menyayat. Luka hati baru yang membuncah dari koyakan luka sebelumnya.

Aku ingin sekali untuk tidak peduli dengan kejadian saat ini. Aku ingin sekali untuk bisa menganggap kejadian ini tidaklah ada. Tapi kenapa aku tidak bisa? Kenapa aku tidak kuasa untuk menampiknya?

Apakah sebenarnya ini terjadi karena aku masih terhanyut oleh arus kenangan lama yang sekaligus mampu menggores luka dalam kehidupanku? Lantas, apa yang membuatku tidak melakukan masa bodoh dengan tragedi ini?

Burung camar berterbangan pendek di depan mataku. Cericitnya jelas membentur gendang telingaku. Itu sudah cukup membuatku tergeragap untuk tidak larut dalam alur pikiranku yang berlapis kegundahan.

Sengaja aku menikmati udara pantai pagi ini. Sejak aku tidak lagi hidup bersama Pak Martin, tidak lagi menjadi asisten beliau, karena dipecat Pak Martin, kerja di instansi lain, dan memilih hidup dengan Gadis, hampir setiap hari Minggu pagi, aku sempatkan untuk datang ke tepi pantai ini.

“Kring…” bunyi handphone-ku merupakan awal dari merebaknya kegundahanku saat ini.

Seseorang yang mengaku bernama Josep, seorang dokter yang tidak pernah aku kenal sebelumnya membuka percakapan. Suara dokter itu menyeruak masuk saluran telinga dalamku, dan mampu menghujam otakku seketika.

Pak Josep mengabarkan hal yang sangat tidak terduga olehku. Beliau mengabarkan tentang Pak Martin! Menurutnya, Pak Martin sekarang tengah terpuruk di kliniknya. Pak Martin tengah terguncang jiwanya yang bisa dikategorikan sebagai depresi berat,

Pak Josep menjelaskan dengan hati-hati sebab mengapa Pak Martin mengalami depresi. Yang bisa aku simpulkan dari informasi dokter Josep yaitu bahwa Pak Martin sekarang sedang tergoncang cukup berat mentalnya karena dia telah menjadi korban perkosaan oleh temen kencannya!

Ouch! Keterangan selanjutnya dari dokter itu adalah Pak Martin mendapat perlakukan sodomi, yang aku tahu seumur-umur beliau tidak mau lakukan. Setahuku, sekian lama aku kenal sangat dekat dengan mantan bosku itu, beliau tidak pernah sekalipun kepikiran mengajakku untuk melampiaskan gairahnya dengan cara itu!

Bisa jadi sekarang beliau terguncang mendapat perlakuan yang tidak disukainya itu, apalagi secara paksa! Terlintas olehku betapa harga dirinya bisa saja hancur oleh kejadian itu.

Aku tahu persis, bagaimana Pak Martin menempatkan harga dirinya. Beliau selalu melebihi tingginya langit dalam menjunjung harga dirinya. Sekarang beliau mendapat perlakuan itu. Maka tidaklah heran apabila kejadian ini sebagai sebuah goncangan baginya. Tragis!

Sampai di sini aku hentikan asumsiku. Seharusnya aku telusuri dulu kebenarannya. Kata hatiku yang lain mencegahnya. Haruskah begitu? Bukankah aku sudah tidak punya lagi aliran chemistry dengan beliau sejak dia mengetahui kehamilan Gadis, istriku?

Aku kerepotan sendiri mengendalikan kata hatiku yang lainnya lagi. Benarkah aku sudah tidak lagi punya getar chemistry terhadapnya, saat ini? Sudahlah! Bukan lagi saatnya untuk memanjakan perasaan diri dengan asumsi-asumsi yang menjurus kearah kebimbangan, sergah kata hatiku, entah yang mana lagi.

Lalu, sebaiknya apa yang bisa aku lakukan untuk Pak Martin? Waktu menelpon, Pak Josep berani mengemis-ngemis kepadaku demi Pak Martin, agar aku datang menemui beliau. Pak Josep ingin bertemu aku demi kepentingan Pak Martin.

Separah apa Pak Martin saat ini terpuruk? Dari nada bicaranya, Pak Josep sangat serius mengharap aku menemuinya. Dia punya rencana untuk pemulihan jiwa Pak Martin dari keterguncangannya.

Oh! Pak Martin!

Haruskah kita ketemu lagi?

Aku sudah sangat susah berusaha membuang jauh-jauh kenangan-kenangan dengannya. Hampir berhasil sempurna usahaku. Sekarang seperti ambruk kembali benteng pengekang kenangan itu.

Ataukah sebenarnya yang terjadi padaku adalah aku masih menyimpan ikatan chemistry itu dalam kisi-kisi hatiku yang paling dalam? Entahlah, entah dan entahlah! Huh!

Setelah dua hari aku berpikir keras dalam gundah, akhirnya aku putuskan untuk menemui Pak Josep di kliniknya. Aku tidak tahu demi siapa aku lakukan ini. Apakah demi Pak Josep yang dua hari ini terus serius menelponku? Apakah demi Pak Martin yang ternyata makin aku lupakan, makin aku dikejar oleh kenangan-kenangan indah bersamanya?

Aku dan Pak Martin sebelumnya tidak pernah sekalipun terlibat pertengkaran sehebat saat kami tahu kalau Gadis hamil. Kami selalu bisa saling mengerti dan menyayangi.

Di dunia ini bisa dibilang langka orang yang sesetia Pak Martin dalam menjalin cintanya. Beliau benar-benar telah mencurahkan cinta sejatinya kepadaku. Beliau telah buktikan dengan banyak hal. Beliau tunjukkan dengan sikap dan perbuatannya.

Aku merenungi diri. Banyak yang beliau sudah lakukan untukku. Banyak yang dia sudah berikan untukku. Bahkan aku yakin kalau beliau bisa jadi akan rela korbankan nyawanya demi aku. Hah, teramat berlebihankah aku? Atau karena aku juga benar-benar mencintainya?

Rasanya keganjilan yang kami lakukan mengalir wajar, mengubah pola pikirku untuk memaklumi dalam menekuri alur keganjilan hubungan cinta kami. Kami tidak lagi mendengarkan apa kata orang-orang di sekeliling kami. Kami terus saja melanjutkan tali cinta kami meski dari awal kami tahu akan banyak rintangan dan tentangan dari berbagai pihak, terutama oleh keluarga. Gilanya, kami sepakat seperti tidak merasa telah melakukan penyimpangan apapun. Kami bisa membangun egois kami. Kami bisa berdalih tidak mau membohongi perasaan kami.

Entahlah! Kenyataannya, jalinan cintaku dengan Pak Martin selama ini berjalan baik-baik saja. Bahkan semakin kami mengenal satu sama lain, semakin kami dekat dan semakin kami merasa bahagia.

Aku perhatikan koridor klinik, tepatnya klinik eksklusif Pak Josep. Aku tidak tahu pasti jenis apa klinik kesehatan macam ini. Koridor klinik terlihat tidak terlalu besar, namun teratur asri dan rapi.

Kondisi koridor ini membuat perasaanku menjadi nyaman. Aku yakin, siapapun yang melewatinya akan merasakan hal yang sama sepertiku. Di kiri dan kanan koridor terdapat ruangan-ruangan kecil, mungkin luasnya sekitar sembilan meter persegi yang juga berkondisi nyaman, meski hanya bernuansa satu warna, putih.

Dari balik kaca yang terdapat di pintu ruangan, aku bisa melihat isi ruangan yang berkarpet hijau dengan furniture yang berupa satu meja, dua kursi dan satu lemari tertutup, selebihnya dibiarkan kosong.

Ruang ini ternyata ruang terapi. Dari keterangan nama ruangan yang tertulis kecil di pintu, menunjukkan ruang ini untuk terapi. Ada terapi perkembangan anak, terapi pemulihan kejiwaan, terapi konsultasi keluarga dan terapi untuk anak-anak autis atau berkebutuhan khusus lainnya.

Apalah namanya, yang jelas klinik ini berkesan eksklusif. Klinik ini sepertinya untuk tujuan urusan psikologi. Pasiennya rata-rata adalah orang-orang yang perlu penanganan psikis dengan sebab entah dari masalah apa, yang mampu mengguncang kestabilan emosi dan kejiwaan mereka. Atau masalah perkembangan jiwa dan tingkah laku yang dibawa oleh pasien sejak lahir.

Pak Martin sekarang ada di sini! Pak Martin sedang dalam penanganan klinik ini. Aku jadi penasaran untuk bertemu beliau. Aku sudah putuskan untuk tidak berasumsi atau berandai-andai lagi. Apapun yang bakal terjadi, aku telah putuskan untuk yakin bahwa itu yang terbaik dan aku akan terima sepenuhnya, tanpa harus ada rasa sakit.

Aku hampir lupa, aku ke sini juga atas dorongan dan permintaan Gadis. Setelah menerima telepon dari Pak Josep, aku ceritakan kepada Gadis, istriku. Dia dengan semangat meyakinkanku untuk menemui Pak Josep ataupun Pak Martin.

Sambil terus menyusuri koridor klinik, pikiranku masih mengingat binar mata Gadis yang menyemangatiku dan berharap aku bisa memenuhi ajakan Pak Josep.

“Mas temui Pak Josep” seperti biasa, suara datar Gadis keluar dari bibirnya yang jarang dipakai untuk senyum.

“Saya ragu-ragu, Dis…”

“Kenapa mesti ragu-ragu? Saya punya keyakinan, kalau Pak Josep benar-benar butuh bantuan Mas, dan Pak Martin butuh kepercayaan mas…”

“Kepercayaan yang mana lagi? Kamu sudah tahu kan kalau Pak Martin sudah tidak mempercayaiku?”

“Saya yakin bukan itu masalahnya, Pak Martin hanya cemburu karena saya”

“Kalau cuma cemburu, tidak akan separah ini”

“Saya selalu percaya pada perasaan saya. Waktu kita ketemu di danau, saya percaya kalau Mas itu orang baik. Saya percaya Mas adalah orang yang bisa membahagiakan hidup saya. Saya percaya Mas sangat tanggung jawab terhadap saya. Tanpa ragu, saya minta Mas untuk membawa saya lari kemana saja, agar saya tidak lagi di rumah, agar saya tidak lagi mendengar omelan bapak yang malu karena anak gadisnya adalah perawan tua”

“Kamu yakin dalam soal ini?”

“Ya” Gadis mengangguk meyakinkanku.

Aku tidak lagi membantahnya. Enam bulan hidup serumah dengan Gadis, tanpa ada Pak Martin, membuiat aku sangat mengenal Gadis. Keyakinan istriku tidak pernah meleset. Makanya kali inipun aku jadi terbawa untuk ikut yakin. Entah yakin yang seperti apa.

“Temui Pak Josep, Mas. Temui Pak Martin, agar bunga cinta dalam diri Mas terhadapnya tidak sia-sia. Biarkan dia mekar diantara hubungan kita. Saya sudah merasa cukup, bahkan berlebihan mendapat kebahagiaan hidup dari Mas..”

“Aku tidak mau berharap lebih dari Pak Martin” aku bernafas kelu dan berat.

“Minimal Mas ketemu Pak Martin dulu. Kalau akhirnya keadaan semakin saling menyakitkan, kita pasrah saja..”

Begitulah Gadis. Gadis selalu punya keyakinan kuat. Gadis selalu punya harapan. Gadis pun punya kepasrahan yang tinggi apabila harapannya tak kunjung teraih. Nerimo yang dia lakukan selama ini, dimataku membuatnya terlihat sebagai sosok wanita yang tabah dan tegar. Gadis begitu nerimo dengan keadaan hidup berumah tangga denganku.

Kehidupan bersama yang berawal dari kepura-puraan antara aku dan dia. Perjodohan pura-pura di bawah perjanjian kami berdua. Perhelatan lamaran pura-pura antara dua keluarga. Pernikahan pura-pura di kantor catatan sipil. Pesta resepsi pura-pura di depan para tamu undangan.

Kami sudah tidak mempedulikan orang-orang di luar kami yang menganggap atau mempunyai persepsi hubungan kami berdua adalah tidak pura-pura.

Mungkin itu semua yang membuatku mulai menyukai Gadis. Hingga akhirnya dia tidak terlunta=lunta oleh perkawinan pura-pura kami. Hingga suatu malam aku punya kesempatan mengambil keputusan untuk mencoba memberinya nafkah batin, sampai akhirnya suatu pagi dia membisikiku bahwa dia hamil.

Ada bahagia yang tak terhingga dalam hatiku saat itu, mendengar berita darinya. Bahagia yang aku tidak dapat mendeskripsikan dengan jelas, tapi aku bisa merasakannya dengan sangat jelas.

Bentuk kebahagiaan hati yang sampai saat ini masih terasa, bahkan makin terasa seiring dengan membuncitnya rahim Gadis.

Ternyata tanpa diduga olehku sendiri, letupan kebahagiaan saat itu mampu mengalahkan logikaku untuk tatap memilih Gadis dan mencetuskan kata perpisahan dengan Pak Martin. Aku mampu memilih hal yang diluiar jangkauan diriku sendiri.

Aku berhenti sejenak di depan sebuah ruangan yang berlabel sebuah nama: dr. Josep Suhargono, PHd. Aku terdiam beberapa detik, sebelum kuketuk pintu itu beberapa kali.

Aku tetapkan hatiku sekali lagi. Ternyata tidak semudah yang aku kira untuk bertemu dengan dokter yang bernama Josep ini. Bukan karena aku tidak mengenalinya. Bukan karena aku bersalah atau punya masalah dengannya.

Pikiranku tidak setenang biasanya. Apa karena masalah yang akan dibahas ini mau tidak mau akan menyangkut diriku? Entahlah. Atau karena masalah Pak Martin yang sekarang, maka aku juga akan terseret? Entahlah. Atau karena adanya masalah ini maka identitas diri Pak Martin dan diriku akan terkuak? Entahlah, maksudku sebodo! Uh! Ternyata aku makin terbelit oleh hal-hal yang bisa jadi adalah hal yang tidak perlu.

“Pak Kris?” dari balik pintu abu-abu, seseorang muncul mengagetkanku.

Aku terpukau sebentar, masih dengan tergeragap aku menjawab singkat, “Ya, betul”

“Ayo silakan masuk, mari…” dokter yang disebut Pak Josep ini, dengan sangat ramah menyambutku.

Aku masuk ruangannya, lalu duduk di balik meja, berhadapan dengan beliau. Aku masih terus menenangkan diri. Dokter itu masih tersenyum sebelum akhirnya berucap terima kasih atas kesediaanku untuk datang menemuinya.

“Saya akan sangat terbantu dengan kehadiran Pak Kris…”

Aku masih diam, kali ini kucoba untuk tersenyum, “ Apa yang dapat saya bantu?”

“Banyak Pak Kris. Mudah-mudahan Pak Kris bisa sampai tuntas dalam membantu saya, karena ini akan butuh waktu cukup lama”

“Maksud Pak Josep?”

“Seperti yang sudah saya informasikan kepada Pak Kris, masalah ini sangat peka bagi Pak Martin. Saat ini beliau sangat terpuruk dengan apa yang menimpanya. Butuh waktu untuk memulihkan beliau. Mudah-mudahan ada keajaiban” wajah tampan dokter jiwa di depanku terlihat serius.

“Mudah-mudahan saya dapat membantu bapak”

“Gini Pak Kris, saya adalah dokter keluarga Pak Martin. Saya sangat kenal baik dengan beliau. Sudah lama beliau konsultasi tetap dengan saya. Seputar anger management dan jati diri. Tidak banyak lho orang seperti beliau yang mau mengakui jati dirinya”

“Pak Martin cerita semuanya?”

“Ya, tentang dirinya yang seorang gay. Sejak ibunya meninggal, dia terpuruk hebat, tapi dia masih punya semangat, dia coba bangkit, menata kesendiriannya, menata masa depannya. Saya salut beliau bisa menghadapi hidupnya..”

Aku tidak bergeming mendengarkan penuturan dokter Josep. Semua ceritanya tentang Pak Martin, sama seperti yang Pak Martin ceritakan padaku dulu. Pak Martin sungguh-sungguh mempercayaiku.

Oh! Tiba-tiba dadaku sesak oleh sesal. Aku merasa telah menghianati kejujuran beliau. Aku menghela nafas yang berdesakan tertekan di pipa tenggorokanku.

“Pak Martin cerita tentang saya?” ada sedikit was-was menyelinap benakku.

Pak Josep menggeleng sambil menimpali, “Tidak, saya tidak pernah dengar dari beliau tentang Pak Kris..” jelas Pak Josep. Sampai di sini saya bisa merasa lega.

“Beberapa hari ini beliau terus menerus mengigau nama Pak Kris…” Pak Josep menatapku tajam. Oh, makin larut saja penyesalanku mendengar penjelasan Pak Josep.

Pak Martin masih mengingatku? Di depan Pak Josep, aku mencoba untuk tidak menuruti perasaanku.

“Lantas?”

“Cuma nama Pak Kris yang disebutnya…” Pak Josep menegaskan. Aku makin menekukkan kepalaku, kelu, tidak lagi kuat untuk bertatapan dengan Pak Josep.

“Pak Kris teman curhatnya di kantor?”

“Ya, dulu saya bawahan beliau” cepat-cepat aku menanggapi pertanyaannya.

“O gitu, ok, good, nanti akan saya pertemukan Pak Kris dengan Pak Martin.. Ini akan membantu memulihkan emosinya, mudah-mudahan beliau mau cerita banyak untuk meringankan beban pikirannya..”

“Saya takut dok..” aku mendadak ragu-ragu

“”Tidak perlu takut, ada saya yang akan juga menangani beliau, percaya saya, Pak Kris.., oke?” Pak Josep menguatkan nyaliku.

“Baiklah, apa yang harus saya lakukan?”

“Bertemu Pak Martin, tunggu sampai beliau merespon Pak Kris…” aku tercekat, apa maksud perkataan Pak Josep tadi? Apa sudah separah itukah kondisi terpuruknya emosi Pak Martin?

Langkahku memberat menuju ruang terapi khusus. Menurut Pak Josep, Pak Martin masih lemah fisiknya. Sudah tiga hari lamanya beliau ditempatkan di sana. Ruang khusus yang dimaksud oleh Pak Josep adalah semacam ruang rawat inap pasien.

“Pak Kris, Pak Martin ditemukan dalam kondisi mengenaskan…”

“Maksud Pak Josep?” aku khawatir.

“Beberapa bagian tubuhnya lebam-lebam, ada beberapa bagian tulang keringnya retak ringan, yang parah lagi adalah jiwanya berubah menjadi tidak stabil…” sambil mengimbangi langkah Pak Josep, aku terus tercenung.

“Pak Martin dianiyaya…” ucapku pelan

“Ya, beberapa teman dekatnya..”

“Maksud Pak Josep, pacarnya?”

“Well, saya tidak tahu persis, Pak Kris tahu kan dunia abu-abu? Maksud saya dunia gay…”

“Ya” aku menjawab singkat.

“Pak Martin tidak pernah cerita kepada saya tentang teman-teman terdekatnya. Saya maklum dan mengerti, itu privasi beliau..”

“Ya”

“Pak Martin dibawa kemari oleh seorang tukang becak, kata abang itu dia distop paksa di ujung jalan sana oleh dua orang laki-laki dari mobil hitam, lalu tubuh lunglai Pak Martin dipapah keluar mobil, dan diletakkan di becak..” Pak Josep berusaha tenang memaparkan. Dengan cepat aku bisa membayangkan kondisi Pak Martin saat itu.

Pak Josep melanjutkan,” Kondisi penampilan Pak Martin sungguh sangat kacau dan mengenaskan…”

Aku terdiam menyimak keterangan Pak Josep.

“Pak Martin dalam kondisi mabuk, pakaian kacau, hanya berkaos dan celana dalam…” Pak Josep sungguh berhati-hati menuntaskan ceritanya.

Aku makin terdiam. Berjuta perasaan berkecamuk dalam benakku. Sekuat tenaga aku tekan gejolak perasaanku.

“Setahu saya Pak Martin tidak suka minuman beralkohol…” aku tercekat

“Bisa jadi dia dipaksa. Ada juga ditemukan butir-butir halus ekstasi di lubang hidungnya, dan hasil visum analnya adalah positif sodomi..” Pak Josep terdiam setelah menerangkan lanjutan cerita kejadian yang dialami Pak Martin. Tuntas sudah kemirisan hatiku. Aku kian sempurna terpuruk dalam sesal.

“Saya juga sedih, Pak Kris. Pak Martin orang baik, masih ada orang yang tega berbuat sekeji itu kepadanya…”

Aku berusaha mengalihkan aliran panas yang merambati kedua kelopak mataku, sebab jika dibiarkan, air mata pasti sudah bercucuran keluar dari sumbernya.

“Abang becak menyerahkan dompet yang cuma berisi kartu identitas Pak Martin, kartu nama saya yang beralamatkan klinik ini, dan kartu nama Pak Kris. Untung mereka membuang Pak Martin ke sini, kalau tidak, entahlah apa yang terjadi padanya…”

“Jangan-jangan mereka juga memeras Pak Martin…”

“Ya, bisa jadi, well…Pak Kris, ini ruang rawat Pak Martin” Pak Josep berhenti pada sebuah ruang rawat, lalu merengkuh pundakku dan menepuknya beberapa kali, memberiku kekuatan.

“Pak Kris tidak perlu takut, kita harus bantu Pak Kris..” sekali lagi Pak Josep menguatakan nyaliku.

“Baiklah, saya akan berusaha..”

“Pak Kris usahakan untuk selalu tenang ya, kita lihat bagaimana reaksi Pak Martin, mudah-mudahan respon beliau positif..”

“Oke, saya siap”

“Thanks, and wish us luck..”

Pak Josep membuka pintu ruang rawat Pak Martin. Aku membuntuti langkahnya di belakangnya. Aku sudah berubah pikir, aku benar-benar sudah siap membantu Pak Josep untuk memulihkan kondisi psikis Pak Martin. Aku sudah siap dengan apapun resiko yang bakal terjadi.

Tekad kecil di benakku ternyata cukup menggugah keberanianku untuk siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun yang bisa aku terima dari Pak Martin.

Aku terus mengikuti dari belakang langkah Pak Josep menuju tempat tidur Pak Martin. Aku terkesiap tiba-tiba. Perasaan getir langsung menyayat nuraniku. Dari jarak beberapa meter, mataku tertumpu pada pemandangan Pak Martin yang tidur dalam posisi meringkuk.

Aku makin mengamatinya. Wajahnya lebih kuyu dan memancarkan kesepian yang dalam. Ah, aku makin merasa sangat berdosa telah meninggalkannya. Enam bulan ternyata bukanlah waktu yang lama untuk merubah seorang Pak Martin yang kukenal dulu, menjadi sosok yang meringkuk kuyu menahan derita.

Mendapati kondisi Pak Martin seperti itu, emosiku makin anjlok. Aku makin terbawa arus berjuta perasaanku sendiri, yang terus menerus meletup-letup tak terkendali.

Hampir saja aku berlari untuk menubruk lalu memeluk dan menciumi Pak Martin, seandainya aku tidak sadari ada Pak Josep yang berdiri di sampingku. Aku kelu menyadari diri bahwa sebenarnya aku masih memendam chemistry itu terhadap Pak Martin.

Benar apa kata Gadis. Tidak mungkin aku dapat memupus bunga cintaku untuk Pak Martin. Karena semakin lama aku berusaha melupakannya, semakin aku tersiksa.

Sesal atas keputusanku untuk berpisah darinya enam bulan yang lalu, mendadak mencuat tajam di otakku. Aku plin plan. Kali ini aku merasa keputusan yang kubuat dulu sepertinya keputusan terburuk yang aku lakukan.

“Selamat siang Pak Martin..” sapa Pak Josep kepada Pak Martin.

Beliau membuka kedua matanya pelan. Sedetik, pandangannya tertumpu padaku. Aku tersenyum sambil terus menatapnya. Sedikit terlonjak, Pak martin beringsut menjauh dari Pak Josep, merapat ke tepi tempat tidur.

Apakah ini respon dari Pak Martin karena kedatanganku? Aku tidak ambil pusing. Dalam kepalaku hanya terpikirkan bagaimana aku harus bantu Pak Martin untuk pulih. Aku tidak peduli sesakit apa beliau bereaksi atas kedatanganku. Aku sudah ambil keputusan untuk ignore.

“Pak Martin, hari ini ada tamu..” Pak Josep berusaha sepelan mungkin berucap

“Aku tidak mau menemuinya” nada suara Pak Martin masih memendam amarah. Aku hanya bisa memaklumi.

“Ini Pak kris, teman Pak Martin” Pak Josep seperti tidak menghiraukan sikap Pak Martin barusan.

“Selamat siang Pak Martin..” aku mencoba untuk tetap bersikap seperti biasa.

“Saya tidak ada urusan dengan dia!” sanggah Pak Martin tajam menusuk.

Aku tetap diam. Dalam hati aku cuma bisa merintih, mencoba mengerti situasi dan kondisi Pak Martin.

“Pak Kris datang untuk menengok Pak Martin” Pak Josep masih membujuk Pak Martin.

“Untuk apa? Dia itu penghianat, dokter..” Pak Martin berucap setengah teriak.

Aku diam dan hanya bisa menunduk. Aku berusaha untuk lapang dada menerima reaksi Pak Martin. Mungkin ini belum seberapa jika dibandingkan dengan sakit hati yang dipendamnya saat harus mengetahui keputusanku waktu itu.

“Pak Kris mau bicara sama Pak Martin..” Pak Josep masih terus berusaha membujuk.

“ Bicara apa? Tidak perlu lagi!” Pak Martin melengking marah.

Aku sudah tergugu sendiri. Kelopak mataku sudah benar-benar memanas. Untung egoku masih mampu menguatkanku untuk tidak menangis.

“Bisa tinggalkan kami berdua, Pak Josep?” pintaku pada Pak Josep. Aku cepat tanggap untuk menepis keraguan Pak Josep. “Percaya saya Pak Josep, semua akan baik-baik saja, saya yang akan tanggung jawab..” aku menegaskan

Pak Josep akhirnya setuju untuk keluar ruangan. Kini tinggal kami berdua. Perlahan kudekati Pak Martin, sambil terus menatap mata marahnya. Sekarang aku benar-benar berada di sampingnya.

“ Kalau Bapak mau marahi saya, marahilah sesuka hati Bapak” aku langsung pada pokok masalah.

“Untuk apa kamu datang?” serangnya sinis.

“Untuk menemui Bapak”

“Aku sudah tidak ada lagi urusan sama kamu” tatapannya tajam menghujam ulu hatiku. Aku mencoba untuk tetap tenang, tidak terpancing oleh sikapnya.

“ Saya yang masih punya urusan sama Bapak” aku menangkis tatapannya.

“Kau pikir kamu itu siapa? Nggak perlu kamu campuri urusan hidupku!” dengan tubuh bergetar Pak Martin berbicara, tunjukkan ketidakpuasannya terhadapku. Dalam posisi berbaring lunglai, tubuhnya menggigil menahan amarah.

Kuraih tangan kirinya. Dingin dan berkeringat. Aliran dingin tangannya merambati syaraf-syaraf tanganku. Pak Martin berusaha untuk berontak beberapa saat. Namun energinya masih lemah.

Bertambah erat kupegangi tangan kirinya dengan kedua tanganku. Tangan kanan Pak Martin yang berselang infus berusaha untuk memukul-mukul tanganku. Berhasil beberapa kali, selebihnya gerakannya melemah. Sekarang beliau menangis tergugu.

“Menangislah jika itu membuat hati Bapak menjadi lebih ringan…” aku usap air matanya dengan sapu tanganku. Beliau menolak. Aku tidak lagi mempedulikannya.

“Pergi kamu Kris..” dengan tersengal beliau mengusirku.

“Saya tidak mau pergi kalau Bapak masih seperti ini” aku usap dahi dan rambut-rambut halusnya yang basah oleh keringat. Pak Martin menggeleng tidak suka dengan apa yang aku lakukan.

“Aku nggak sudi kamu lagi Kris!” makin tajam saja kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya.

“Saya masih peduli dengan Bapak” aku makin tidak mendengarkan ucapannya. Pak Martin terus berusaha berontak. Tubuhnya makin meronta-ronta.

“Pergi kamu! Pergi!” kali ini suara Pak Martin.berupa teriakan yang melengking. Tubuhnya kian meronta berontak. Buru-buru aku tahan rontaan tubuhnya dengan kedua tanganku memegangi kedua lengannya. Aku coba untuk mendekapnya. Semakin kuat beliau berontak, semakin kuat aku mendekapnya.

“Pergi kamu Kris! Aku benci kamu! Aku nggak sudi!” Pak Martin terus meronta, namun aku sudah tidak peduli. Tubuhnya terguncang-guncang dalam dekapanku. Aku ciumi pipinya, mengisaratkannya bahwa aku masih sangat sayang kepadanya.

“Bapak boleh benci saya, tapi bukan begini caranya” aku terus mendekap dan sesekali mencium pipinya.

“Apa Bapak pikir saya tidak tersiksa selama ini?” aku belum berhenti menciumi pipinya.

“Apa bapak pikir aku tidak lagi peduli sama Bapak?” kurasakan rontaannya melemah. Aku lemahkan dekapan kedua tanganku pada kedua lengannya. Aku usap kembali keringat di jidat dan lehernya.

Tiba-tiba kedua tangan Pak Martin terangkat meraih pundakku. Sedetik kemudian pundakku sudah dalam rengkuhannya. Aku biarkan saja apa maunya. Posisi tubuhku makin aku bungkukkan. Kali ini kepalaku benar-benar berada di bawah dagunya. Aku pegangi pundaknya yang masih terguncang-guncang karena beliau belum juga berhenti menangis.

“Saya tersiksa karena jauh dari Bapak” bisikku. “Jangan benci saya..” kalimat itu berulang-ulang aku ucapkan.

“Kris..” tangis Pak Martin mulai mereda. Sekarang tinggal isakan kecil.

“Ya Pak..”

“Kenapa kamu tega kepadaku?”

“Saya tetap peduli sama Bapak”

“Kenapa kamu tinggalkan aku?”

“Saya tidak berniat untuk pergi. Selama ini diam-diam saya selalu memperhatikan Bapak…”

“Kenapa kamu pilih Gadis?”

“Saat itu sangat sulit untuk saya jelaskan. Saya tidak tahu harus jelaskan apa kepada Bapak. Saya tidak berniat untuk tinggalkan Bapak. Keadaan kita waktu itu sudah terlanjur sama-sama egois dan marah…”

“Aku terlantar, Kris..”

“Saya juga tersiksa jauh dari Bapak.” Kuganti posisiku, melepas dekapan Pak Martin. Lalu perlahan aku lumat bibirnya yang sedikit pecah karena bekas pukulan. Pak Martin lemah membalas. Aku sedikit menjadi lega.

“Bapak perlu banyak istirahat” sikap dan perhatianku terhadapnya tidak berubah.

“Aku ingin mati saja, Kris” ucap Pak martin pelan. Suaranya terdengar putus asa. Aku terhenyak sebentar.

“Apa harus begitu?”

“Untuk apa aku hidup?”

“Untuk apa Bapak mati? Untuk selesaikan masalah? Untuk biarkan saya makin tersiksa?”

“Hidupku sudah hancur..”

“Tergantung dari sudut pandang mana Bapak melihatnya..”

“Aku sudah menjadi sampah..”

“Jangan terlalu jauh menilai diri sendiri..”

“Pak Josep sudah cerita apa yang terjadi?”

“Belum seluruhnya”

“Hhhh, aku benci hidup”

“Saya pikir akan lebih tidak mengenakkan jika kita mati hanya karena ingin lari dari sikon yang sekarang Bapak alami..”

“Aku malu!”

“Pada siapa? Tidak perlu berlebihan bersikap”

“Enam bulan aku merasa tidak bahagia” rintih Pak Martin mendera ulu hatiku.

Pak Martin selalu bekata jujur kepadaku. Keluh kesahnya cepat merobek nuraniku. Aku terpuruk lunglai karena yakin Pak Martin benar-benar menderita.

“Maafkan saya” aku menunduk. “Saya tidak ada niatan untuk tidak membahagiakan Bapak…”

“Bukan salahmu sepenuhnya. Aku yang tidak bisa kontrol diri. Aku jerumuskan diriku sendiri. Aku bodoh, Kris..”

“Bapak lakukan itu karena keegoisan saya”

“Aku nggak bisa terima keputusanmu”

“Waktu itu saya kalap, tidak berpikir panjang, saya menyesal”

“Hidupku sudah hancur..” kembali Pak Martin merintih pilu.

“Tidak ada yang hancur..”

“Ini tragedi bagiku”

“Tragedi bisa datang pada siapapun”

“Aku berat menerimanya”

“Saya yakin Bapak mampu”

“Aku tidak tahu”

“Bapak cuma butuh waktu”

“Sangat berat, Kris”

“Saya tahu, Bapak juga butuh percaya diri”

“Entahlah”

“Saya yakin Bapak bisa”

“Kris, aku butuh kamu..” sampai di situ Pak Martin terdiam.

Aku ikut terdiam. Rasanya aku sudah terkubur oleh sesalku sendiri. Bertubi-tubi menusuki ulu hatiku.

“Kenapa Kris?”

“Tidak apa-apa”

“Kamu nggak mau ya?”

“Bukan, bukan itu…”

“Karena Gadis?”

“Entahlah”

“Beruntungnya yah Gadis..”

“Bukan itu maksud saya..” aku coba untuk menetralkan situasi.

Inikah yang Gadis yakini sebagai bentuk cemburu Pak Martin padanya? Bisa jadi. Keyakinan Gadis selalu tepat.

“Aku sudah tidak pantas untuk butuh kamu ya Kris..”

“Bapak tidak perlu punya pikiran itu” aku kebingungan terjebak oleh situasi.

Satu sisi aku dibukakan pikiran bahwa hidup dengan Gadis enam bulan belakangan, membuat aku mulai berpikir untuk jalani hidup seperti yang keluargaku harapkan. Satu sisi yang lainnya, aku disudutkan pada kenyataan bahwa aku tidak dapat melupakan Pak Martin.

Waktu enam bulan ternyata tidak cukup untuk melunturkan kenangan indah bersama beliau. Satu semester tidak berarti apapun untuk menyisihkan diri dari kehidupan Pak Martin. Kuakui, aku bisa merasa sempurna bahagia selama hidup bersamanya.

“Aku tahu diri kok, Kris..”

“Pak, jangan begitu” aku dipojokkan pada hal-hal yang tidak bisa aku logikakan. Selalu saja melibatkan perasaan. Dan aku biasanya terlalu lemah untuk menyingkirkan perasaanku.

“Aku sadar Kris, aku tidak pantas berharap banyak darimu..”

“Saya dalam persimpangan, Pak. Saya tidak bisa berpikir sekarang. Saya perlu waktu..” aku lunglai dalam ketidakberdayaan.

“Aku tetap mencintaimu, Kris..” pengakuan Pak Martin semakin membenamkanku ke dalam kubangan kebimbangan jiwaku.

“Kris..”

“Ya”

“Sebaiknya memang aku tidak ada dalam kehidupanmu”

“Bapak, tolong beri saya waktu untuk berpikir, saya bingung, saya buntu..” aku menutup wajahku dengan kedua tepalak tanganku.

Rasanya ingin meledak isi kepalaku saat ini. Aku tidak dapat membuat pilihan-pilihan jawaban lagi. Keputusan memilih yang aku tentukan enam bulan lalu, ternyata sangat menyiksaku. Membuat Pak Martin menderita. Membuat Gadis selalu dirubung rasa bersalah. Gadis selalu menuding dirinya sebagai penyebab semua ini.

“Kris”

“Ya”

“Maafkan aku ya..”

“Bapak tidak bersalah apapun”

“Aku rapuh. Tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Semua sudah berakhir..” Pak Martin menceritakan kegundahannya.

“Bapak harus kuat” aku tidak rela Pak Martin tidak punya semangat hidup.

“Bagaimana aku bisa kuat, Kris..”

“Stop. Saya yakin Bapak mampu untuk berbuat yang terbaik untuk hidup Bapak”

“Aku tidak butuh hidup”

“Minimal untuk saya Bapak hidup…” aku diam, lalu tanpa disadari, aku telah berkubang air mata dalam diam. Pak Martin mengamatiku. Raut wajahnya merasa bersalah kepadaku.

“Kamu mau aku terus hidup Kris?”

“Ya”

“Apa mungkin Kris?”

“Ya, saya akan bantu..”

“Aku sudah hancur…”

“Tidak usah lagi Bapak berpikir itu”

“Hah..”

“Bapak mau tidak?” aku merajuk sambil mengguncang pundaknya.

“Aku…” Pak Martin menatapku lekat-lekat. Entah apa yang dicarinya.

“Bapak tidak lagi peduli saya?”

“i really love you, Kris” Pak Martin berusaha meyakinkanku.

“Tunjukkan cinta Bapak kepadaku dengan hal terbaik, bukan putus asa seperti ini..” aku balik menatapnya.

“Ya”

Pak Martin menunduk, lalu dengan sesekali terisak, beliau menumpahkan kegetiran hatinya. Pak Martin jujur menceritakan kepadaku apa yang telah terjadi enam bulan yang lalu saat kami berpisah.

Tragedi yang menimpanya saat ini, berawal dari kekecewaannya atas keputusanku. Beliau tidak dapat menerimanya. Beliau lari dari kenyataan, lalu mulai mengenal dunia malam.

Sampai pada titik jenuh, beliau mulai mengenal alkohol. Tidak berhenti sampai di situ, beliau mengenal sorang laki-laki yang bernama Irfan. Tidak berapa lama mereka berlanjut menjalin hubungan teman dekat. Bahkan sampai pacaran. Cerita berlanjut pada Pak Martin terjebak pemerasan oleh Irfan.

Beliau terperangkap dunia abu-abu yang jauh berbeda dengan apa yang selama ini terjalin denganku. Lebih membahayakan dirinya, beliau mulai mengenal drugs. Hidup beliau memang berubah drastis.

Suatu saat kesadaran beliau muncul dalam benaknya. Beliau mulai berpikir untuk menata ulang hidupnya. Saat beliau mulai berontak, beliau mendapatkan perlakuan mafia dari dunia abu-abu.

Enam bulan lamanya bergelut dengan dunia abu-abu dibelahan budaya lain, membuat Pak Martin menuai petaka. Kejadian yang menimpanya kali ini, dianggapnya sebagai sebuah tragedi.

Aku hanya mampu diam mematung mendengar seluruh pengakuan Pak Martin, sampai-sampai aku tidak menyadari kehadiran Pak Josep di tengah-tengah kami.

Pak Josep tersenyum bungah ke arahku, sebelum beliau mengucapkan terima kasih kepadaku.

*****

Chapter 15: PERPECAHAN

Hari Minggu pagi aku dan Pak Martin berencana untuk lari pagi di tepi pantai. Karena jarak tempuhnya cukup jauh untuk ke sana, maka sepagi buta ini aku dan beliau sudah bersiap diri.

Gadis masih tidur di kamarnya. Dia tidak bergabung jogging kali ini karena ada urusan dengan teman kantornya. Pak Martin menyiapkan sekeranjang makanan untuk breakfast. Setelah itu kami ke parking area.

Perjalanan menuju pantai sangat lancar. Antrian hanya terjadi pada pintu gerbang utama area pantai. Seperti biasanya, banyak pengunjung yang akan jogging di tepi pantai. Tempat asri ini memang menjadi salah satu tempat favorit untuk olah raga pagi.

Udara pantai segera memenuhi saluran pernafasanku saat aku keluar dari mobil. Dingin pun menembus jaket trainingku. Dengan handuk kecil di tangan, aku mulai melakukan pemanasan. Pak Martin melakukan hal yang sama.

Kami berlari beriringan menyusuri pantai. Terkadang sambil berbicara membahas urusan kantor. Terkadang saling diam. Terkadang bercanda berdua. Aku mulai merasakan cahaya matahari yang perlahan menerangi area jogging.

Sudah satu jam lebih kami jogging. Keringat sudah sangat membasahi tubuh. Pakaian yang kukenakan menjadi terasa lengket dan dingin. Aku putuskan untuk menghentikan joggingku.

Sambil berlarian kecil, aku menuju mobil dan mengambil tas kecil yang berisi baju ganti dan peralatan mandi. Banyak tempat pembilasan yang bersih dan nyaman di sepanjang pantai. Aku berniat untuk sesegera mungkin membersihkan diri.

Pak Martin tidak mau ketinggalan, lalu menyusulku. Seperti biasa, keadaan sepi dan nyaman di tempat bilas, membuat Pak Martin berinisiatif untuk melampiaskan imajinasinya. Di bawah shower kami saling mentransfer nafsu.

“Saya masih kepikir bapak…” aku biarkan Pak Martin berkreasi.

“Bagaimana kabarnya?” Pak Martin menaggapi sambil terus mengendus.

“Masih di rumah sakit..saya tidak tahu kapan pulang..”

“Berdoa saja Kris..”

“Ya…saya juga kepikir Gadis…” akhirnya aku beranikan diri untuk bicara jujur. Sepulang dari kampung, sebenarnya aku sudah ingin sharing dengan Pak Martin tentang apa yang sudah aku lakukan dengan Gadis di sana.

“Maksudmu?” Pak Martin menghentikan cumbuannya. Dia menatapku cukup serius. Aku hanya bisa menunduk.

“Aku kepikir selama ini aku telah menelantarkannya…” aku tercekat.

“Oh, come on honey..dia yang menginginkan itu…” Pak Martin seperti tidak mau tahu.

“Saya suaminya..” aku makin kelu. Tanggapan Pak Martin menumpulkan nafsuku. Aku masih tidak bereaksi.

“Suami? Bagaimana dengan agreement mu dulu Kris?” Pak Martin seperti terperangah sendiri. Aku menebak pasti beliau sudah ignore terhadap perkawinanku dengan Gadis. Ah!

“Saya menikahinya kan?” aku masih tenang, sementara Pak Martin berusaha untuk menuntaskan imajinasinya.  Lalu membantuku menuju puncak imajinasiku.

“So what, Kris?” Pak Martin lunglai berdiri di sampingku.

“Saya belum bertanggung jawab penuh kepada istri saya…” aku terus terdiam di bawah shower. Air dingin yang membasahi kepala dan tubuhku tidak lagi menarik perhatianku.

“Kamu sudah tanggung jawab sesuai perjanjian…apa lagi?” Pak Martin tampak tidak suka.

“Saya mengabaikannya…” aku membilas sabun yang melekat tubuhku.

“Wait Kris.. you mean sex?” terlalu detail dan to the point Pak Martin menyergapku.

“Lengkapnya kebutuhan batin…” aku terus membilas tubuhku dari sabun sampai bersih. Aku lebih banyak menunduk. Rasanya aku tidak berani bertatap muka dengan Pak Martin.

“Oh no…I don’t understand, Kris.. why?” Pak Martin meraih handuknya dan pindah ke ruang mandi sebelah yang masih kering.

“I’ll talk to you later…” aku mematikan kran shower, lalu kuraih handuk dan tasku. Aku cari ruangan yang masih kering dan kosong. Aku terpuruk sendiri. Aku sudah terlanjur bicara. Aku tidak mugkin menyimpan terus apa yang telah aku lakukan dengan Gadis.

Sudah sebulan ini aku pendam karena aku belum punya waktu yang tepat untuk bicara dengan Pak Martin. Kalau terus ditunda, bisa menjadi bom waktu bagiku dan Gadis.

Sarapan di tepi pantai tidak membuat pikiranku fokus. Imajinasi di bawah shower tidak masuk dalam ruang damai otakku, tidak meninggalkan kesan yang bisa menjadi addicted. Aku lebih banyak diam duduk di sebelah Pak Martin.. Beliau seperti kurang suka terhadap sikapku.

“You said you want to talk..” Pak Martin menagih ucapanku.

“Hope you will not be angry to me…” aku mencoba untuk tetap tenang.

“Yup..I’ll try…” Pak Martin tajam memperhatikan keterdiamanku.

“Saya harus bertanggung jawab terhadap istriku…” akhirnya aku menuntaskan maksudku tanpa basi-basi.

“Again?” Pak Martin seperti tambah tidak suka.

“Yup..saya sudah berjanji kepada bapak…” aku memandangi ombak kecil yang berakhir di pantai. Mungkin hanya sekedar menghindar tatapan Pak Martin yang makin mencengkeram.

“What is your promise?” Pak Martin terus mendesak

“Saya harus tanggung jawab terhadap Gadis, karena dia istriku. Saya mohon pengertian Bapak..”

“For what?”

“Untuk berbakti kepada bapak saya…” aku makin tercekat. Saluran hidung dalamku terasa memanas menahan emosiku.

“Apa yang akan kamu lakukan kepada Gadis?” cecar Pak Martin, membuatku tidak nyaman.

“Saya akan sepenuhnya menganggap dia istriku. Saya berhak dan berkewajiban sepenuhnya memberinya nafkah lahir dan juga batin. Saya harus menebus semua kesalahan yang sudah saya lakukan terhadapnya, karena selama ini saya sudah teramat sangat mengabaikannya. Saya tidak mau mengulangi kebodohan ini. Saya…terlalu banyak dosa kepadanya…” aku tertunduk sesenggukan. Panas di saluran dalam hidung sudah merambat cepat ke arah saluran air mata. Tanpa bisa ditahan aku sudah tersedak – sedak kecil menahan tangis.

“Ow..God! Kris, jadi ini yang membuatmu berubah sikap belakangan ini terhadapku?” Pak Martin sudah menudingku.

“Saya tidak tahu..” aku masih menunduk.

“Come on Kris…aku tidak akan bisa menerima kalau kamu membagi cintamu sama Gadis!” Pak Martin tandas mengungkap.

Seterbuka itukah Pak Martin? Semarah itukah beliau? Aku tambah terpuruk. Aku bukan membagi cinta sama Gadis. Aku justru harus mencintai dia, karena dia adalah istri syahku. Dunia sudah terbalik! Edan!

“Kris, what did you do with her in kampung?” Pak Martin tampak geram. Aku tidak tahu kenapa beliau menjadi sejengkel itu.

“Saya sudah melakukan kewajiban saya sebagai suami terhadapnya..” aku usahakan untuk menghentikan segukanku.

“You did with her?” Pak Martin seperti sudah diujung ledakan.

“Yup, she is my wife, nothing’s wrong, right?” aku berusaha menjelaskan.

“Ow..God!, kamu sudah mengingkari hubungan kita” Pak Martin benar-benar makin tidak suka.

“Saya tidak bermaksud untuk itu”

“Lantas?”

“Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai suaminya”

“Itu lagi alasanmu”

“Memang hanya itu alasan saya.., mohon bapak mengerti saya saat ini…” aku mencari wajah Pak Martin. Perubahannya sangat menyolok. Tampak asam dan menahan marah.

“Saya tidak bisa terima. Lets’ go home!”

Di perjalanan pulang, aku hanya diam. Pak Martin pun membatu, Amarahnya belum reda. Raut wajahnya tak lagi seceria ketika mengawali pagi tadi. Sudah tiga ratus enam puluh derajat berubah. Suasana perjalanan pulang menjadi sangat menyiksa diriku. Aku mencoba untuk tetap tenang.

Aku sudah terlanjur bicarakan hal ini. Jadi tidak ada lagi yang harus aku sesalkan apa akibat yang bisa terjadi selanjutnya. Aku sudah berpikir untuk jujur seperti yang bapakku inginkan.

Selama ini aku berkubang dalam kebohongan. Selama ini aku sengaja menutupi kejujuran hati. Selama ini aku bukanlah anak harapan bapakku. Selama ini nafsu dan egoku yang dominan menyingkirkan kejujuean hati nuraniku.

Aku siapkan diri apapun reaksi dari Pak Martin setelah semuanya aku bongkar pagi ini. Aku hanya ingin jujur kepada orang yang selama ini aku cintai dan memberikan kesetiaan cintanya terhadapku.

Ataukah justru kejujuran ini akan sangat menyakitinya? Atau malah telah menghancurkan harapan, cinta dan kesetiaannya? Jawabannya jelas-jelas aku tidak tahu. Aku sudah tidak lagi peduli. Aku hanya ingin jujur!

Hari-hari selanjutnya tidak lebih menyenangkan dibandingkan dengan perjalanan pulang dari pantai Minggu lalu. Kulewati hari-hari bersama Pak Martin hambar-hambar saja. Pak Martin benar-benar kecewa dan marah atas pengakuan dan keinginanku.

Sudahlah.

Itu kata penghiburku yang terakhir saat ini. Akupun tidak lagi semangat untuk terus mengungkap keinginanku di depan Pak Martin, apalagi sampai mengharapkan pengertian dari beliau. Bisa jadi akan menambah tajam kesalahpahaman.

Sudahlah.

Kembali kata pasrah itu yang sering muncul dari desahan bibirku. Aku sudah putuskan untuk jujur. Itu hal yang sekarang membuat hatiku sedikit lega. Aku tetap harus konsisten dengan apa yang aku lakukan.

Jujur.

Apa sebenarnya makna kata itu? Aku sudah tidak jujur seumur hidupku. Aku sudah tidak lagi akrab dengan kata itu sejak aku mulai melazimkan penyimpanganku. Masihkah aku pantas mengenali kata itu lagi saat ini? Masihkah kata itu akan melekat pada nuraniku?

Jujur.

Sebenarnya apa yang seharusnya aku jujur kan kepada semua orang? Aku limbung dalam pencarian makna kata jujur. Aku gamang untuk meraih makna kata itu saat ini. Namun setidaknya aku telah mengingat kata itu lagi sekarang.

Sampai hari ini, sudah seminggu aku hambar mengawali hari. Pak Martin belum menunjukkan perhatian ekstra mesra yang selama ini sering ditujukan kepadaku. Aku jengah diperlakukan begitu oleh beliau. Tapi aku harus bisa memaklumi akan perubahan beliau.

“Mas, saya mau bicara…” pagi-pagi Gadis sudah menarikku di ruang dapur. Suara pelannya mengisyaratkan hal serius dan rahasia. Aku ikuti langkahnya menuju tempat yang dimaksud Gadis.

“Ada apa?” aku melihat kerut was – was di raut wajah cantik Gadis. Aku jadi ikut berbisik berbicara.

“Ini…” Gadis menunjukkan satu batang alat tes kehamilan. Aku langsung terbelalak.

“Kamu…”

“Ya, saya hamil..” Gadis tampak setengah bahagia setengah cemas.

“Oh ya?” aku justru bahagia. Entah dari mana kekuatan bahagia itu munculnya. Aku rasakah bahagia. Aku bahagia. Bahagia. Sungguh, aku merasakan kebahagiaan yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Inikah sebuah kebahagiaan murni?

Kupeluk Gadis erat-erat, kuciumi pipi dan keningnya. Aku tunjukkan bahwa aku bahagia. Kutunjukkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau ditakutkan. Kulihat Gadis merespon pelukanku. Kami bahagia

Seharian aku simpan kabar bahagia ini serapat mungkin. Aku sudah memastikan bahwa kabar bahagia untukku hari ini adalah sudah tentu kabar yang sangat mengecewakan dan dibenci Pak Martin.

Sesuai dengan kesepakatanku dengan Gadis, aku siap untuk memberitahukan hal ini kepada Pak Martin sore ini. Aku tidak lagi peduli dengan sikap apa yang akan beliau tunjukkan kepadaku dan Gadis. Aku berhak untuk bahagia atas kehamilan istriku. Aku berhak bahagia untuk menjadi calon ayah.

Suasana sore di ruang keluarga di apartemen Pak Martin tampak senyap. Aku, Pak Martin dan Gadis masih saling mengunci diri. Tak ada suara. Desah nafas memburu dari gelagat marah Pak Martin mendominasi suara yang ada. Mungkin urutan yang kedua adalah degup jantungku yang makin tidak beraturan.

Suasana yang ada lebih tidak mengenakkan dari hambarnya hari-hari seminggu ini. Gadis tidak beringsut duduk di sampingku. Dia menunduk tidak bergeming. Aku ikut larut oleh beban pikiran dan perasaan yang serasa jungkir balik bercampur baur tidak karuan. Sampai-sampai aku tidak tahu harus dari mana memulai berbicara.

“Pak Martin, maafkan saya…” aku mencoba mengatur nafasku

“Aku sudah tahu..” Pak Martin melempar udara dari paru-paru dengan hentakan.

“Saya hanya ingin mengabarkan bahwa saya akan menjadi ayah…”

“Jadi?!” Pak Martin amat sangat terlonjak.

“Ya, Gadis mengandung dari benih saya…” aku tuntaskan apa-apa yang ingin aku kabarkan ke Pak Martin sesingkat mungkin.

“What!! Kris!! “ lengkingan Pak Martin menghentakkan kebekuanku dan Gadis. Aku tidak menyangka sama sekali jika Pak Martin akan sangat marah mendengar berita itu.

“Saya…”

“Enough!! Kris, you really hurt me!! Aku tidak terima…”

“Pak Martin..” aku mencoba menjelaskan.

“Cukup! Kris, ini sesuatu yang menyakitkanku! Kamu dengar ya, kamu pilih Gadis atau aku!” Pak Martin meledak-ledak.

“Itu sangat sulit” aku terpojok.

“Kamu tega lakukan ini semua kepadaku. Kamu tidak pernah bisa berterima kasih kepadaku. Kamu tidak pernah mengerti untuk bersyukur karena selama ini aku perhatikan…” Pak Martin melantur. Aku tidak terima diungkit seperti itu.

“Cukup Pak Martin! Saya jadi tahu kalau selama ini cinta Bapak hanya mengharapkan sesuatu dari saya. Saya sudah berikan segalanya untuk Bapak. Bapak sudah mendapatkan tubuh saya. Anggap saja saya sudah melacur untuk Bapak. Saya sudah mencoba mencintai Bapak. Saya hanya ingin Bapak mengerti bahwa saya adalah suami Gadis! Saya hanya ingin berterus terang, bahwa saya harus bertanggung jawab atas Gadis…”

“Jangan bicara soal cinta. Aku tahu kamu tidak punya cinta untukku. Pengecut! Labih baik kamu tidak di sini, Kris!”

“Kalau itu yang Bapak mau, fine!”

“Pergi kamu! Bawa perempuan sial itu!” Pak Martin sudah kalap.

“Baik! Saya akan pilih Gadis. Ini keputusan saya..Thanks for everythings…mudah-mudahan saya bisa membalas budi atas kebaikan Bapak…” aku tetap tenangkan diri untuk menyelesaikan pertengkaran ini. Aku menyeret Gadis untuk enyah dari ruangan, lalu membereskan semua barang-barang yang penting.

Tak berapa lama, aku dan Gadis sudah siap untuk meninggalkan apartemen Pak Martin. Aku sabarkan diri sekuat mungkin mendengarkan semua ocehan, teriakan, bentakan dan usiran Pak Martin yang semakin membabi buta.

Aku tidak perlu mendengarkannya lagi. Yang aku pikir, aku harus membawa Gadis ke tempat tinggal baru. Mungkin sementara aku akan ke tempat kostku yang dulu. Atau mungkin Gadis punya ide lain.

Aku tidak tahu lagi perasaanku saat ini, semakin dijungkirbalikkan keadaan. Perih. Pahit. Bahagia. Tidak tahu. Kecewa. Marah. Entah apa lagi. Akupun tidak sempat lagi untuk memperhatikan perasaan Gadis. Tapi aku sangat tahu dengan jelas perasaan kecewa dan marah Pak Martin.

Ah! Benarkah ini harus terjadi? Bagaimana dengan hari-hari setelah ini?

Entahlah. Itu bisa dipikir nanti.

Entahlah. Perpecahan ini ternyata harus terjadi. Mungkin ada hikmah di balik kejadian ini. Semoga!

*****

Chapter 14: MALAM PERTAMA

Aku tergeragap bangun tidur saat dering handphone-ku menghentak gendang telingaku. Kujawab dengan masih malas sapaan manja Pak Martin. Berkali-kali aku mendengar ocehan kangennya sambil sesekali menguap.

Aku beringsut kaget saat mata malasku tertumpu pada Gadis yang tengah tertidur berselimut di sampingku. Bubar sudah rasa kantukku. Otakku berganti bekerja keras untuk menyadarkan ingatanku.

Tak kuhiraukan rengekan mesra Pak Martin yang menyuruhku untuk bisa cepat kembali ke kota. Aku masih berusaha sekuat otakku untuk mengingat apa yang terjadi semalam sampai Gadis bisa tidur seranjang denganku.

Aku tutup pembicaraanku dengan Pak Martin. Kudengar suara beliau terdengar rada kecewa. Aku benar-benar tidak konsentrasi. Akupun makin terlonjak saat kusadari tubuhku tak berbalut sehelai benangpun.

Klik!

Simpul syaraf otakku langsung tersambung. Buru-buru aku berusaha menenangkan diri dengan rebahan di pinggir tempat tidur. Pagi hari yang sungguh membuatku terperanjat. Pagi hari yang membuat otakku harus bekerja keras meredam letupan keterperanjatanku.

Kulihat tubuh Gadis menggeliat terbangun. Buru-buru dia beringsut mendekap tubuhnya sendiri ke tepi tempat tidur. Raut wajahnya mungkin sama terperanjatnya denganku. Tangannya masih erat memegang selimut.

Wajahnya makin menegang saat disadarinya ada bercak merah di beberapa bagian selimut warna cream ini. Lalu dia menunduk dalam-dalam. Wajahnya drastis berubah pucar pasi.

“Ada apa Dis?”

“Maaf Mas..” Gadis beringsut makin ke tepi tempat tidur. Tubuhnya terliat seperti main menciut. Lalu ditelungkupkan wajanya pada kedua relapak tangan yang berselinut itu. Dia tampak menggeleng beberapa kali.

“Maafkan saya, Mas…”

“Kenapa?” aku makin tidak mengerti.

“Kita mengingkari perjanjian…” Gadis makin tampak kuyu.

“Ya” aku berusaha meredakan kepanikannya.

“Maafkan saya, Mas…”

“Kamu istriku, tidak ada yang salah kan?” kutatap mata Gadis lekat-lekat.

“Ya” Gadis bernafas lega sekarang.

Pagi ini seperti ada nuansa baru dalam kehidupan rumah tanggaku dengan Gadis. Entah apa. Tapi yang jelas ada spirit yang keluar terpancar dari dalam kisi-kisi hati yang selama ini terabaikan.

Inikah rasanya legalitas? Aku melakukan hubungan intim dengan Gadis, dan tanpa ada rasa terkekang ketakutan oleh ketidaklaziman? Inikah yang dimaksud dengan sakral? Pada saat suami istri melakukan hubungan intim,maka kedekatan dan keeratan hati mereka makin tertaut?

Cinta?

Entahlah.

Apakah sebenarnya aku mencintai Gadis?

Tak tahulah! Masih terlalu dini untuk bicara tentang cinta dengan Gadis. Masih terlalu naif untuk sekedar mengatakan “I love You” kepada Gadis. Rumah tanggaku dengan Gadis dibangun atas dasar kesepakan setan. Ah!

Saat ini rasanya tidak perlu untuk memperdebatkan soal cinta. Kejadian semalam bukanlah menjadi tolok ukur mutlak bagiku sebagai awal dari sebuah cinta. Masih banyak pembuktian yang harus aku kumpulkan untuk menandakan bahwa aku mulai jatuh cinta.

Aku menganggap kejadian semalam merupakan kejadian biasa pada saat nafsu tengah melingkupi jiwa. Aku tidak merasakan getaran apapun kecuali terhanyut oleh keadaan semalam. Keadaan yang sebenarnya membingungkan diriku sendiri. Kenapa aku bisa sampai terbawa ritme nafsuku sendiri?

Entahlah.

Atau seharusnya aku bersyukur karena telah memberikan malam pertama kepada Gadis yang selama ini ta tersentuh oleh seujung kuku jariku sekalipun? Aku tidak lagi dapat fokus untuk bersikap kali ini. Semuanya blur jadi satu. Kekuatan logika dan perasaanku belumlah sepenuhnya berani untuk menentukan.

Seusai sarapan, aku ajak Gadis untuk mengunjungi orang tuanya. Setelah seminggu di kampung, baru aku sempat mengajaknya sowan ke orang tuanya. Kali ini Gadis tidak seperti biasanya. Dia antusias menerima ajakanku.

Perjalanan bersepeda motor menuju ke rumah Gadis seperti hal baru bagiku. Hal yang dapat mencuatkan kekikukanku terhadapnya. Gadis seperti menangkap sikapku. Dia berusaha untuk senetral mungkin di depanku. Munkgin biar aku juga bersikap yang sama. Netral.

Bertemu kedua mertuaku, aku harus bersikap yang sesuai dengan suami-suami lainnya lakukan. Sopan. Santun. Tampak harmonis dengan istrinya. Tunjukkan telah bertanggung jawab menikahi anaknya. Aku lakukan semuanya. Aku tidak tahu alasannya f kenapa aku lakukan itu. Yang aku rasa adalah aku tidak merasa terpaksa.

Bapak Ibu mertuaku menanyakan kabar aku dan Gadis di kota. Gadis bercerita tentang hal-hal indah yang dilakukan di pekerjaannya. Gadis menceritakan apartemen kecil di kota yang nyaman untuk tinggal. Gadis menceritakan hal-hal indah lainnya.

Tampak kedua raut wajah mertuaku lega dan bahagia. Mereka turut merasakan kegembiraan kehidupan Gadis dan aku di kota. Gadis memang sosok wanita tangguh. Wanita yang tidak menyerah pada keadaan. Dia jalani apapun konsekuensi dari kehidupannya.

Aku?

Aku bukan apa-apa. Aku hanya bisa terus “berbahagia” di dekapan Pak Martin. Bayang-bayang bosku yang tampan itu teramat lekat di benakku. Sulit untuk lepas dari pengaruh kebaikan dan kesetiaan cintanya kepadaku.

Pertemuan keluarga sudah selesai. Aku dan Gadis pamitan dan minta maaf karena tidak bisa menginap. Kami mampir ke tepi danau, tempat favorit gadis untuk merenung. Di sana aku coba pulihkan kepenatan tubuhku di bale-bale gazebo di tepi danau.

Gadis masih duduk termangu memandangi riak air yang tertimpa cerahnya cahaya matahari jam satu siang. Sudah tidak ada lagi kabut di atas riakan air danau. Sudah jarang cicit burung di antara pohon cemara dan pinus. Yang masih ada dan sama adalah kesunyian tempat ini.

“Mas, boleh saya bertanya?” Gadis ragu-ragu membuka percakapan. Buru-buru dia lanjutkan: “ Tapi jangan marah ya..”

“Ada apa?” aku menunggu pertanyaannya sambil mengubah posisi telentangku menjadi berbaring menghadap Gadis.

“Bener tidak marah?”

“Ayolah Dis, kamu mau tanya apa?”

“Seandainya kita punya anak…” Gadis tampak serius dan tegang.

“Maksudmu?” aku mengernyitkan kedua alis mataku.

“Ya, seandainya saya hamil setelah kejadian semalam, bagaimana?” Gadis tercekat. Bibir bawahnya digigit-gigit pelan oleh gigi seri rahang atasnya.

“Hoh, aku belum terpikirkan..” aku tersudut oleh pertanyaan Gadis. Logikaku bergerak cepat. Bisa jadi hubungan intim semalam akan membuahkan buah hati untuk kamu dan gadis. Aku makin tersudut oleh logikaku sendiri.

“Maaf Mas…”

“Nggak apa-apa”

“Saya akan mempertahankan buah hati kita, Mas setuju?”

“Aku masih bingung, Dis..gimana dengan Pak Martin?”

“Mas masih bisa dengan Pak Martin…saya tidak berhak mengganggu hubungan Mas berdua..” sikap Gadis tegas.

“Pak Martin belum tentu suka…”

“Saya bisa keluar dari apartemen…” Gadis terus bersikukuh.

“Gila aja, bagaimana dengan keluarga kita? Apa kata mereka nanti kalau kita tidak serumah di kota? Apalagi kamu dalam keadaan hamil?” aku terduduk di sisi Gadis.

“Saya tidak tahu, tapi saya akan tetap meghargai hadirnya buah hati, minimal untuk diri saya…” Gadis seperti tidak bisa disangkal lagi. Aku mengalah saja.

“Ok, aku tidak mau kita berjanji nekad dan sesat lagi di tepi danau ini. Sudah cukup perjodohan kita dulu yang didasari niat setan. Aku ingin punya sikap. Entahlah, yang jelas kita jangan lakukan perjanjian setan apapun di sini, oke?”

“Ya, terima kasih Mas..” Gadis tertunduk beku. Air matanya perlahan menitik dari kedua kelopak matanya. Aku biarkan dia beberpa lama untuk menuntaskan perasaan hatinya.

Kebekuan berdua di tepi sanau kembali melanda. Gadis masih merenung. Aku pun hanyut oleh pikiranku sendiri. Masalah yang bisa muncul di depan mataku saat ini adalah apabila Gadis hamil. Malam pertama sudah aku tuntaskan semalam. Berarti tinggal tunggu sebulan lagi untuk mengetahui hasil dari malam pertama itu. Ah!

Pak Martin menelponku lagi. Aku sedang duduk santai di teras depan rumah. Seperti biasanya, suaranya mendayu-dayu di telingaku. Curahan kangen dan sejenisnya meletup-letup dari bibirnya. Hatikui ikut bungah dihujani kalimat-kalimat romantis darinya.

“Pak, cuti saya hanya seminggu, tapi di kampung saya belum bisa tinggalin Bapak…”

“Oke…”

“Bisa saya ijin tiga hari lagi?.”

“No problems”

“Thanks, by the way, bagaimana dengan pekerjaan?”

“So far so good. Do not worry about that, I could handle everything by my self. I worked for you dear…haha…”

“Thanks Pak”

“Your welcome..i miss you Kris..”

“Me too..”

“How was your day?”

“Lonely…ouch..i will be alone for three more days again..haha..”

“Haha…me too..see you..”

“Great, i love you..”

Oh!

Percakapa dengan Pak Martin kali ini tidak begitu menyemangatiku, walaupun aku cukup senang karena aku diberi kesempatan tiga hari lagi di kampung. Tiga hari ini aku akan pergunakan sebaik-baiknya untuk menengok dan menjaga bapak di rumah sakit.

Semalaman di rumah sakit menjaga bapak, bergantian dengan Mbak Novi dan Ibu yang menjaga di siang hari. Jaga malam yang kulakukan membuat tubuhku terasa penat. Sampai di rumah jam sembilan pagi. Aku pulang setelah Ibu dan Mas Adam sampai di sana.

Keletihan merebak tubuhku. Sepertinya di tambah masuk angin. Gadis membuatkanku wedang jahe hangat. Aku meminumnya dengan seruputan yang terdengar nikmat. Aku teguk secangkir wedang jahe, dan minta tambah secangkir lagi. Gadis tetap semangat melakukannya untukku.

Gadis juga sudah menyiapkan air hangat untukku mandi atau hanya untuk sekedar bilasan. Segarnya air hangat banyak mengurangi angin yang sudah terlanjur masuk dalam tubuhku. Mudah-mudahan tidak sampai membuatku sakit.

Aku baringkan tubuhku di tempat tidur di kasurku. Gadis masuk menawarkan wedang jahe lagi. Aku mengiyakan. Kami duduk bersebelahan di tepi tempat tidur. Aku seruput hangatnya wedang jahe senikmat mungkin.

Aku letakkan cangkir kosong di meja kecil di samping tempat tidur. Aku perhatikan Gadis sedikit khawatir dengan kondisi tubuhku. Aku genggam tangannya perlahan. Dia tetegun keheranan tapi tidak berontak.

“Dis..aku sadari bahwa aku banyak melukai hati orang-orang yang aku cintai di rumah ini…terutama bapak dan ibu.. aku bukan anak yang baik…”

“Mas, bukan itu yang seharusnya Mas pikirkan. Saya yakin banyak hal baik yang telah Mas lakukan untuk keluarga…”

“Aku tidak yakin..”

“Mas harus yakin..”

“Aku yakin itu tidaklah seimbang…terlalu banyak hal buruk..”

“Sudahlah, mas perlu menenagkan diri..mungkin terlalu letih di rumah sakit…”

“Bapak banyak bicara tentang aku…”

“Apa kata Bapak?”

“Banyak…betapa bangganya bapak terhadapku..”

“Bapak patut melakukan itu…”

“Bagiku tidak. Aku telah banyak berbohong..sudah banyak cerita kebohongan yang aku bangun di depan keluargaku untuk menutupi kebohongan kehidupanku yang sesungguhnya…”

“Tidka sepenuhnya benar..”

“Aku bohong tentang hidupku..”

“Bisa diperbaiki..”

“Aku bohongi Bapak, Ibu..semuanya…” aku tertunduk. Mataku sudah panas sedari tadi, namun aku tidak lagi bisa menitikkan air mataku.

Kurasakan sikap dan pembicaraan bapak di rumah sakit semalam, telah mampu mencabik pertahanan egoku yang telah aku bangun dengan kokohnya. Perkataan bapak yang sederhana membuatku terperosok dalam kubangan yang paling hina bagiku.

“Bawalah kejujura hati kemanapun kamu pergi ya Kris…” Bapak cuma minta itu. Tapi aku tidak tahu, kenapa itu yang harus bapak harapkan dariku. Hampir lebih dari tiga kali bapak ucapkan di depanku. Seakan-akan bapak tahu apa yang sudah aku lakukan selama ini.

“Gadis, aku ingin jujur seperti kamu..”

“Apa benar aku jujur?”

“Setidaknya kamu berani untuk menerima hadirnya buah hati”

“Ya, mungkin itu naluri seorang ibu, Mas..”

“Aku ingin menjadi ayah yang baik..”

“Terima kasih, Mas..”

Aku raih wajah Gadis. Kucumbui dengan sesadarnya sebagai seorang suami. Akan aku tunjukkan bahwa aku pun punya keberanian untuk melakukan tanggung jawabku sebagai seorang suami bagi Gadis. Akan aku lebur keberanianku untuk membahagiakan batin Gadis, yang bukan sekedar melampiaskan nafsuku seperti malam pertama kemarin.

*****

Chapter: 13. BONGKAHAN KATA HATI

Berjuta kata kata maaf sepertinya belum cukup untuk menguatkan penyesalanku. Aku harus mau bertanggung jawab atas semua akibat yang yang timbul dari keputusanku menikah pura-pura dengan Gadis.

Entah dari mana pastinya aku menemukan setitik kebenaran terbersit dalam hati. Celah kecil di sanubariku membuat cahaya yang menembus ke ruang kesadaranku.

Aku sudah mulai bisa merenungi perlakuanku terhadap Gadis. Sekian lama aku berkubang dengan hidupku sendiri dan mengabaikan hakekat keberadaan Gadis sebagao istri syah di mata hukum, adat dan agama.

Selama ini aku tak melakukan peran apapun sebagai kepala keluarga. Ikrar menikahi Gadis hanya sebatas ucapan di bibir saja, tidak mengusung ketulusan dan niat suci sari lubuk hati.

Rasanya aku tidak akan kehabisan waktu untuk mengutuki diri atas perlakuan kejam pada Gadis. Perasaan Gadis terus menerus aku abaikan dan bahkan aku tindas. Aku tidak pernah mau tahu akan apa yang dia pikirkan, tasakan, inginkan, apalagi untuk menyelami harapannya.

Aku hanya mensejajarkan Gadis pada sebatas teman curhat. Lebih parah lagi hanya sebagai tempatku membuang amarah atau bentuk perasaan senewenku yang lain jika aku punya masalah. Akupun tidak pernah sekalipun untuk sekedar bertanya apakah dirinya bahagia atau tidak dengan cara hidup berkeluarga denganku.

Sejak aku terpojok oleh cecaran pertanyaan dari orang terdekatku tentang kehadiran anak sebagai jalur penerus keturunanku, aku baru seperti tersadar dari pola pikirku selama ini.

Awalnya aku hanya berpikir praktis yang dibungkus keculasan, di mana saat menikahi Gadis hanya atas dasar kepentingan egoku saja. Pikiran picikku saat itu, perjanjianku dengan Gadis sangat menguntungkanku. Bahkan kalau bisa dibilang menyelamatkan angkara nafsuku.

Singat saja, aku menikahi Gadis, berarti telah memenuhi harapan keluargaku, tanpa harus susah payah menyembunyikan siapa sebenarnya identitasku.

Orang-orang tidak akan tahu tabiatku, pilihan abu-abuku, atau jati diri sexku. Sekejap semuanya dapat dikelabuhi dengan cara pernikahan pura-pura ku itu.

Aku benar-benar telah luput dari lubang jarum kegundahan yang teramat sarat menyiksaku sebelumnya. Akupun lupa dengan Gadis. Akupun lupa dengan status Gadis sebagai istri.

Aku hanya mengejar kehidupanku yang ilegal dengan Pak Martin, dengan mengesampingkan status syah Gadis sebagai istri.

Ironis!

Nyinyir!

Layaknya binatang barang kali!

Aku bergelayut dalam gelap nengejar hasrat yang tidak lazim diperjuangkan untuk diraih. Saat ini aku seperti terpuruk dalam lembah kehinaan.

Tak mampu aku bercermin pada hati nuraniku yang tidak diasah dengan itikad kebaikan. Tak mampu aku temukan bayangan wajahku sendiri. Tak mampu aku mengambil hikmah pada apa yang telah terjadi dalam hidupku.

Aku buta mengejar hidup bersama Pak Martin. Aku tidak mampu berontak pada kekuatan cintaku yang keluar jalur kelaziman yang terarah pada Pak Martin. Aku makin terikat pada semua kebahagiaan dan cinta kasih yang Pak martin berikan.

Kesetiaan cinta dan kasih sayang yang ditunjukkan Pak Martin relah menguatkan jati diriku dan nerubah ketidaklaziman menjadi hal yang layak untuk dijalani.

Pilihan hidup dengan Pak Martin yang kau usung atas nama cinta telah melupakan statusku sebagai suami seorang wanita yang bernama Gadis.

Lambat laun dilemaku meluap bergelombang menghempasku pada karang kebimbangan yang tajam. Pecahan batu karang merobek menyayatu kulit dan daging kekuatanku.

Aku seperti semakin lumpuh digerogoti dilemaku sendiri. Hidup macam apa ini?! Apakah cinta sejatiku memang untuk Pak Martin? Apakah keterlibatan diriku pada bongkahan hidup dan tapakan pasir arah hidup Pak Martin adalah benar-benar sebagai pernyataan cinta sejatiku?

Sampai-sampai akhirnya aku dengan suka cita bersedia hidup di sisi Pak martin. Sampai-sampai aku yakini bahwa hidup merunuti kesetian cinta Pak Martin terhadapku kuanggap sebagai bagian dari impian yang harus kuwujudkan.

Lantas apa yang menjadi sebab kegundahanku? Apakah hanya karena semua orang yang kutemui di kampungku saat aku menjenguk bapak di rumah sakit, yang sangatlah antusias menyerbuku dengan pertanyaan seputas momongan, mampu membuat otak dan batinku terbelit dilema?

Rasanya kau sungguh-sungguh terjebak oleh pertanyaan basa basi mereka. Aku akui, jika apa yang aku jalani dengan Gadis adalah yang benar, tentu aku tidak akan sekelimpungan ini untuk berbasa basi menjawab.

Hah. Aku dan Gadis terikat perjanjian setan. Kami tak sekalipun bersentuhan, bermesraan, apalagi untuk sampai berhubungan untim. Bagaimana aku akan menjawab tentang momongan , wong aku sendiri belum pernah menyetubuhi Gadis?

Aku belum lengkap bertanggung jawab untuk memberikan kebutuhan batin Gadis. Bahkan bisa dibilang aku telah menelantarkannya. Penyesalan menyepakku ke sudut tersunyi.aku benar-benar baru menyadariuntuk apa aku harus lakukan semua ini terhadap Gadis.

Aku bukan suami yang baik. Bahkan aku bukan manusia yang baik. Aku merasa menjadi orang yang paling biadab saat ini. Bermula dari kuatnya ego dan nafsuku, sekarang berakhir dengan melecehkan banyak hal.

Aku telah melecehkan Gadis. Aku telah melecehkan hidupku sendiri. Aku telah melecehkan keluarga dan sanak famili di kampung. Alu telah melecehkan tetangga dan orang-orang di kampungku. Aku telah melecehkan lembaga pekawinan. Aku telah melecehkan tujuan suci pernikahan. Aku telah melecehkan moral bahkan agama.

Aku merutuki diri, kenapa baru sekarang aku sadari? Terlambatkah? Atau lebih baikkah? Aku sungguh-sungguh tidak tahu.

“Mas, ini secangkir capucino, lumayan buat menghangatkan tubuh” Gadis menyodorkan secangkir capucino hangat dan harum.

Aku langsung tertarik untuk menerima minuman favoritku. Sekejap renungan panjangku terputus begitu saja.

“Thanks” aku tersenyum

Gadis membalasnya “Your welcome..”

Kami duduk bersebelahan tanpa kata-kata. Masing-masing mengembangkan payung kata hatinya sendiri, tanpa mau diusik dan mengusik satu sama lainnya.

Hari yang panjang dan melelahkan sudah aku lalui hari ini. Bapak masih di rumah sakit. Kakekku meninggal dunia. Dari tadi pagi, aku sibuk dalam pengurusan jenazah dan pemakaman kakekku.

Sore ini aku mencoba membuang letihku di tepi danau tempat dulu aku lakukan perjodohan dengan Gadis. Sore ini pun Gadis menemaniku di sini. Sedari tadi dia membiarkanku dibawa oleh anganku untuk mengembara, menjelajah ke ruang batin suciku.

Aku mendapat teguran dari cahaya batin untuk sadar diri dengan apa yang telah aku perbuat sekian tahun kemarin. Sekarang niatanku adalah untuk bisa memperbaiki langkah hidupku dan bisa menghargai Gadis sebagai istriku. Semoga keinginanku ini bukan sebuah dilema baru.

Seminggu cuti pulang kampung, menjenguk bapak di rumah sakit, dan tiba-tiba kakekku meninggal dunia, membuatku seperti lebih dekat mengenal kembali lingkunganku.

Gotong royong yang dianut orang-orang di kampung dari dulu, masih dijalankan. Komunitas di kampungku belum berubah melakukan kebiasaan baik itu sampai sekarang.

Tetangga dan masyarakat sekitar benar-benar membantu keluargaku. Mereka peduli dengan apa yang tengah menimpa keluargaku. Mereka sangat membantu pengurusan jenazah kakek, saat anggota keluargaku tengah disibukkan oleh kondisi sakitnya bapak di rumah sakit.

Aku merasa malu pada diri sendiri. Selama ini tidak pernah terpikirkan olehku jika sebenarnya akulah yang telah banyak berubah semenjak kutinggalkan kampungku beberapa tahun silam.

Gaya hidupku di kota telah banyak memaklumi hal-hal ganjil yang kumiliki, yang dulu oleh lingkunganku dianggap tabu dan hina. Malah mereka juga ikut peduli untuk membetulkan keganjilan sikap dan tingkah lakuku.

Semua orang seperti tidak membiarkan munculnya dunia abu-abu dalam tubuhku. Dulu aku sering tidak suka dengan teguran mereka, karena aku anggap mereka terlalu mau ikut campur dengan urusanku. Tak jarang akudipermalukan mereka di depan orang banyak.

Seminggu di kampung membuat perubahan pikiran dan paradigmaku. Alu seperti baru mengenal kembali Gadis. Selama ini aku tidak pernah dekat untuk berbincang dengannya. Bahkan untuk bertegus sapapun seperti bukan hal yang penting untuk dilakukan.

Seminggu Gadis menemaniku, mendampingiku melewati masa penting di keluargaku. Gadis mendukungku penuh dengan memberikan perhatian kepadaku dan keluargaku. Gadis gesit untuk melayani dan menyiapkan semua kebutuhanku selama tinggal di kampung. Sampai hal terkecil seperti sandal jepitpun tidak luput dari perhatiannya.

Seminggu bersamanya membuat aku semakin tahu bagaimana Gadis menempatkan diri sebagai istriku dengan sebaik-baiknya.

“Yang sabar ya Mas…” suara pelan Gadis menyusup ke dalam saluran telingaku.

Aku mengangguk mengiyakan. Suara pelan tadi benar-benar bisa meluruhkan kegundahanku. Aku seperti mendapat kekuatan untuk semakin melawan dilemaku.

“Maafkan aku Dis…” aku terpuruk.

“Untuk hal apa?” Gadis malah balik bertanya kepadaku.

“Untuk semuanya…”

“Tidak apa-apa. Mas tidak seharusnya minta maaf…” ucapan Gadis malah makin menyesakkan nuraniku. Ruang jiwaku terasa makin sempit saja.

“Aku bukan orang baik…” Aku tertunduk dalam-dalam.

“Tidak perlu Mas berpikiran sejauh itu…”

“Aku telah jahat sama kamu…”

“Mas telah menolong hidup saya…”

“Aku menelantarkanmu…”

“Saya masih bisa bahagia..”

Pernyataan Gadis barusan, telah meluluhlantakkan jiwaku. Aku makin terseok di ruang gelap tanpa batas. Nuraniku melayang tak menentu, berusaha melarikan diri dari kejaran rasa bersalahku. Berkali-kali aku usaha, sebanyak itulah aku gagal.

Dilemaku masih ada, namun kali ini aku punya referensi lain untuk berpikir lebih baik. Seminggu aku dapat pencerahan, entah apa pastinya. Jiwaku telah mendapatkan desakan pemikiran lain setelah aku menemukan kembali kehidupanku di kampung.

Aku Cuma bisa minta maaf sama Gadis, dan gal itu nyatanya mampu melegakan ruang nuraniku. Apakah itu pertanda jawaban atas dilemaku selama ini? Entahlah!

Aku sendiri tidak berani untuk berharap banyak, meskipun jujur aku mengharap dilemaku cepat terjawab. Bongkahan doa hati ini selalu aku bawa untuk dipanjatkan. Semoga keadaan hidupku lebih membaik, dan jiwaku menjadi lebih tenang.

*****

*********

Chapter 12: DILEMA

Nada handponeku berdering. Dari layarnya tertulis nama Mbak Novi. Buru-buru aku menjawabnya. Masih dengan melangkah cepat di trotoar, aku membuka percakapan dengan kakakku.

“Hallo Mbak…”

“Hai Kris, apa kabarnya?”

“Baik, keluarga bagaimana?”

“Kris, sudah dapat informasi belum?”

“Tentang apa?”

“Bapak, Kris..”

“Bapak kenapa?”

“Sakit lagi, mungkin ini lebih parah..”

“Kenapa?” aku tercekat.

“Nggak tahulah, bapak masih ngantor sih..”

“Dengan kursi roda?”

“Itulah, kaya nggak tahu bapak kamu saja, Kris..”

“Hmm..cari penyakit saja sih..”

“Oke, sudahlah, sabar”

“Hmm..” aku kembali tercekat.

“Kris, kamu bisa pulang cepat tidak? Temui bapak…”

“Aku usahakan ya Mbak, kalau Gadis yang pulang bagaimana?”

“Wah, nggak enaklah Kris, mestinya berdua sama kamu, Kris..”

“Oke deh, nanti aku bicarakan sama Gadis..”

“Cepet lho ya..”

“Iya, iya…”

“Oke dech.. baik-baik di kota ya..daaa…”

“Oke, daa…” sampai di situ aku membisu.

Masih dengan membisu aku lanjutkan sisa langkahku menuju gedung bercat abu-abu, kantorku. Masih dengan membisu aku runuti tangga ke lantai dua, menuju ruangku.

Hari ini aku putuskan untuk berangkat ke kantor tidak bersamaan dengan Pak Martin. Beliau berangkat siang. Aku belum punya mobil. Karena masih banyak pekerjaan yang harus aku bereskan pagi ini, maka aku putuskan untuk berangkat duluan naik taxi.

Tadi aku berhenti di gerobak lontong sayur yang mangkal di ujung blok gedung ini. Aku sempatkan sarapan di sana. Setelahnya, aku sedikit memutar menapaki trotoar menuju pintu utama gedung abu-abu tempatku bekerja.

Pagi ini rasanya sangat malas untuk tersenyum. Setengah porsi semangat dalam jiwakku menguap setelah mendapat kabar tentang bapak. Imbasnya, pagi ini aku malah tidak mengerjakan beberapa tugas yang belum selesai. Beberapa map kuning yang berisi assignment yang harus aku selesaikan, belum aku sentuh sekalipun, masih menumpuk di sudut meja kerjaku.

Aku hanya duduk membisu di balik meja kerjaku. Entah mengapa, otakku pagi ini mudah dipengaruhi oleh berita dari Mbak Novi tentang kesehatan bapak. Otakku malah hanyut dalam perdebatan kata hatiku sendiri.

Bapak sakit lagi. Malah kali ini lebih parah. Bapak jatuh sakit karena masih bekerja. Kursi roda bukanlah halangan baginya. Stroke kecil bukanlah hal besar baginya. Watak keras kepala bapak lebih dominan dari kurang berfungsinya syaraf di separuh tubuhnya. Bapak tidak berhitung dengan resiko. Bapak hanya menuruti egonya.

Terbersit olehku untuk memberi kabar ke Gadis tentang hal ini. Secepat kilat aku raih telpon kantor dan menghubungi nomor handpone Gadis. Mudah-mudahan Gadis cepat menjawab.

“Hallo?” ternyata Gadis tidak mengenali nomor telpon kantor ini.

“Gadis, ini aku, Kris..”

“Hai, mas, ada apa?”

“Kamu lagi sibuk?”

“Nggak, ada apa? Something important?”

“Ya. Tadi Mbak Novi telpon, mengabarkan kalau bapak masuk rumah sakit lagi. Kambuh stroknya…”

“Gimana kondisi bapak?”

“Aku belum tahu pasti…sepertinya mungkin lebih parah dari sebelumnya..”

“Apa kita harus pulang?” Gadis berinisiatif.

“Menurutmu gimana?”

“Pulang..”

“Oh..” aku tergagap.

“Kenapa? Mas sibuk ya?”

“Sepertinya tidak bisa secepatnya pulang..”

“Apa saya yang harus pulang? Saya senggang nih..” aku mendengar ketulusan Gadis. Namun aku menjadi jengah mendengar inisiatifnya.

“Aku usahakan kita berdua pulang”

“Oke, saya setuju”

“Aku lihat scheduleku dulu, mudah-mudahan Pak Martin bisa replace agenda kerjaanku…”

“Oke”

“Thanks, bye…”

“Bye..”

Aku berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan konsentrasiku. Kubuka satu-persatu map kuning yang ada di meja kerjaku. Untunglah, isinya bukanlah assignment yang besar dan sulit. Prediksiku, jika aku kerjakan sampai sore, aku akan bisa menyelesaikannya.

Seharian aku berkutat dengan map kuning. Satu-persatu aku selesaikan assignment kantor. Mulai dari menjawab surat client, e-mail pelanggan di daerah, planning program target market bulan depan, laporan mingguan dan pekerjaan administrasi lainnya yang tidak perlu keluar kantor.

Seharian aku bisa melupakan sejenak kabar tentang bapak. Seharian aku paksakan pikiran dan tubuhku untuk bisa menyelesaikan sekian tumpuk amplop kuning untuk minggu ini. Seharian aku lewatkan lambungku terisi oleh makan siang dan capucino minuman favotirku.

Setengah enam lebih dua menit, lambungku menjerit perih, mengingatkanku. Serentak tubuhku protes untuk diberikan asupan energi. Keringat dingin merembes di pelipisku dan leherku. Lapar menyerang dan lemas menyerbu. Maka aku mendadak seperti orang kalap mencari sesuatu yang bisa dimakan atau diminum.

Aku terburu-buru melangkah ke pantry di lantai dua. Aku berharap menemukan sesuatu yang kuinginkan di sana, minimal untuk mengganjal lambungku. Di koridor menuju pantry, aku berpapasan dengan Pak Surya, salah satu OB di lantai dua.

“Sore Pak Kris…”

“Sore, Pak Surya belum pulang?”

“Saya baru mau pulang”

“Pantry dikunci?”

“Ya, Pak Kris..kuncinya ada di saya”

“Saya kelaparan nih Pak Surya, haha…saya ingin minum kopi..”

“Baiklah, saya antar Pak Kris ke Pantry..”

“Wah, jadi negerepotin nih..”

“Tidak Pak, mari Pak Kris..”

Pak Surya melangkah di depanku menuju pantry. Tidak tahunya Pak Surya cepat inisiatif membuatkan minuman favoritku. Beliaupun masih mau menungguiku minum kopi.

“Lembur Pak Kris?” Tanya Pak Surya, disela-sela aku menyeruput kopi hangat.

“Ya, banyak yang harus saya kerjakan Pak..”

“Wah, sibuk ya Pak..”

“Iya, biasalah Pak, bagian marketing nggak pernah santai.., haha..”

“Iya Pak Kris..”

Minum kopi ditemani Pak Surya menjadikan tubuhku rileks. Kepenatanku setelah seharian berkutat dengan map kuning, berkurang jauh. Pembicaraan informal dengan Pak Surya, sedikit mengalihkan perhatian pikiranku pada kabar tentang bapak di kampung.

Berjalan menyusuri trotoar di avenue depan gedung kantorku petang ini tidak senyaman biasanya. Berdetaknya jantungku melebihi hari biasanya. Aku kembali harus memilih. Pulang menjenguk bapak atau tidak.

Terngiang olehku inisiatif Gadis untuk pulang mewakiliku jika aku tidak bisa pulang menjenguk bapak. Aku makin salut saja dengan Gadis. Selama ini dia konsekuen menunjukkan komitmennya untuk menikah denganku.

Tak pernah sekalipun aku lihat dia kecewa, cemburu atau kesal dengan perlakukanku dan Pak Martin yang sering kelewat batas apabila kami sedang mencurahkan hasrat imajinasi.

Sepertinya Gadis sudah sangat cukup puas diberikan kemerdekaan lepas dari kungkungan keluarganya. Sekarang Gadis tengah mengembara bahagia mengaktualisasikan dirinya di pekerjaannya sebagai interior designer.

Tidak sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan di bidangnya itu. Cantik, smart dan luwes, itulah karakter yang gadis punya. Modal dasar yang komplit untuk mencari pekerjaan. Sekarang, Gadis seperti tengah ber-honey moon dengan pekerjaannya.

Apakah karena aku juga yang tidak sensitif terhadap perasaannya? Selama ini aku tidak pernah sekalipun berusaha untuk mencintainya. Aku memang tidak punya cinta untuknya! Aku menikahinya karena perjodohan diantara kami. Pernikahan ini merupakan realisasi dari bentuk perjanjian kami berdua di tepi danau.

Ah!

Setan!

Aku yang setan!

Sudah satu semester lebih aku belum pernah menyentuh Gadis, yang secara hukum adalah istri syahku. Aku malah membiakannya dalam kesendirian hidupnya. Yang kugapai malah cinta Pak Martin! Bukan cinta saja, tapi juga nafsunya.

Sudah satu semester lebih bapak mengungkapkan kangennya untuk menimang cucu. Lebih ngeri lagi bapak sangat berlebihan mengungkapkan harapan dan perasaannya kepadaku agar aku bisa memberikan cucu kepadanya sebelum bapak meninggal!

Ada-ada saja! Pikirku.

Sentimentil! Pekikku.

Namun tiba-tiba kata hatiku yang lain menimbang-nimbang. Satu semester lebih bukan waktu yang singkat untuk pasangan pengantin baru dalam meluapkan cintanya untuk membuahkan hasil seorang keturunan.

Bagaimana kata orang nanti?

Persetan!

Kok jadi ruwet begini?!

Persetan apa kata orang!

Bagaimana dengan apa kata bapak? Apa kata Ibu? Apa kata keluarga? Aku menghela nafas berat. Udara sore tidak sedikitpun membantu melegakan rongga tenggorokanku. Aku terus berjalan membisu.

Hidupku penuh dilema!

Heh, terlalu aku dramatisir. Mungkin tidak sedilematis itu. Mungkin hanya perasaanku saja yang berlebihan.

Mungkin.

Tapi kenapa masih saja aku dijerat dilema? Satu sisi aku sudah mendapatkan hidup dan cinta Pak Martin. Satu sisi lagi aku menikahi dan menelantarkan Gadis sebagai istri syahku.

Perasaan bahagia sekaligus menyesal makin bercampur aduk belakangan ini. Semain hari semakin aku dikucilkan dan didera oleh ruhku sendiri. Aku yakini sepenuhnya bahwa deraan ruhku adalah kebenaran mutlak.

Sungguh dilematis!

Mudah-mudahan dilema itu tidak berkepanjangan.

Lima menit lagi aku akan sampai di tempat janjianku dengan Gadis. Hanya tinggal dua blok lagi. Malam ini aku ajak dia untuk makan malam sambil membicarakan rencana pulang menjenguk bapak.

Sebagai menantu, ternyata Gadis mampu menempatkan diri, menjunjung tinggi kepentingan bapak mertuanya, mengutamakan perhatian kepada keluargaku. Ketulusannya terpancar jelas pada saat dia menatapku. Sesuatu yang baru aku sadari selama ini. Gadis benar-benar istimewa.

Makan malam yang indah. Makan malam yang menghasilkan kesepakatan kami berdua akan pulang kampung menjenguk bapak. Kamipun punya kesepakatan untuk menjawab bohong seputar pertanyaan orang tentang momongan. Paling tidak jawaban diplomatis yang tidak menyinggung perasaan orang lain.

*****

*********

Chapter 11: BERKELUARGA

Pikiran jahatku mampu membangun nyaliku untuk berbuat curang. Aku leluasa melakukan kecurangan pada diriku, pada keluargaku, pada Gadis dan keluarganya serta pada masyarakat kampungku.

Selain Tuhan, hanya aku, Gadis dan Pak Martin yang mengetahui kecurangan dan bohong besar ini. Kami bertiga punya kepentingan yang sama-sama kuat, maka aku yakin, semua itu tidak akan terbongkar.

Keji!

Ya! Tapi, mau apa lagi?

Aku terus memupuk kebohongan itu sampai benar-benar aku dinyatakan syah menjadi suami Gadis, oleh lembaga perkawinan. Kebohongan yang diam-diam dilakukan dan teramat keji. Aku seperti tidak punya pilihan baik lagi, sehingga hal jahat ini aku lakukan juga.

Entahlah!

Atau masa bodo?

Bisa jadi tepatnya itu!

Acara keluarga yang bisa dibilang besar-besaranpun terjadi di rumah bapak mertuaku. Wajah seluruh anggota keluargaku dan keluarga Gadis memancarkan senyum kelegaan dan kebahagiaan yang sumringah. Wajah-wajah itu menghiasi sepanjang malam resepsi pernikahan – pura-pura – ini.

Aku dan Gadis malam ini menjadi pusat perhatian khalayak tamu undangan. Rumah besar milik bapak mertuaku ternyata tidak henti-hentinya dikunjungi oleh undangan yang datang bergantian.

Peristiwa pernikahan ini dijadikan momen oleh bapakku dan bapak mertuaku untuk mengukuhkan harkat dan martabat sosial keluarga kepada masyarakat kampungku.

Peristiwa pernikahan ini, bagiku tidak berarti apa-apa, kecuali kebohongan dan kepura-puraan. Tidak ada sedikitpun esensi peristiwa ini aku dapatkan, kecuali untuk sekedar menunjukkan bakti kepada orang tua.

Gadis?

Entahlah apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Saat ini aku tidak berani untuk mengungkit perasaannya. Biarlah dia bergelut dengan perasaan dirinya. Biarlah dia menikmati “kemenagannya” atas rencana sesungguhnya kenapa dia mau menikah denganku.

Dunia sudah rusak!

Bukan dunia yang rusak, tapi aku! Moralku!

Persetan saja! Kata hatiku yang lain.

Aku benar-benar sudah diujung ketidakpedulian. Tidak peduli hal itu baik atau salah. Tidak peduli apa yang nanti akan terjadi setelah pernikahan pura-pura ini. Tidak perduli dengan kehendak bapakku lagi. Tidak peduli dengan apa kata hati mertuaku. Bahkan tidak peduli dengan apa yang dirasakan Gadis.

Aku hanya peduli dengan diriku sendiri. Tepatnya hanya peduli dengan egoku saja. Aku tidak lagi berpikir panjang, kecuali hanya ingin mencapai kehendakku sendiri. Menikahi Gadis adalah sesuatu yang hanya untuk memupuk egoku.

Ego yang hanya memikirkan keinginanku saja.

Ya. Keinginan yang aku pikirkan sebenarnya adalah apapun caranya tujuannya adalah agar aku bisa terus hidup bersama Pak Martin. Aku telah mengukuhkan harapan hidup bahagia bersama beliau. Aku sudah berani untuk menapaki jalur yang dianggap menyimpang itu.

Ego yang difasilitasi oleh keadaan.

Benar. Mungkin ini keberuntunganku. Tanpa disangka dan diduga, aku punya peluang untuk picik berpikir sesuai dengan egoku. Aku bertemu Gadis yang ternyata memberiku jalan untuk tetap menutup rapat-rapat kebusukanku, sehingga tidak terbongkar. Aku menikahinya bukan karena niat sakralku, tapi karena sebuah perjanjian kejam.

Ego yang berdasarkan untung rugi.

Aku benar-benar berhitung untung rugi menikahi Gadis. Kedua belah pihak sepakat untuk saling menguntungkan. Aku terselamatkan dari kejaran kehendak keluarga. Gadis terselamatkan dari kungkungan keluarganya.

Ego yang menghambakan keinginan nafsu.

Betapa aku terpuruk pada niatan nafsu yang selama ini menganggap sebuah kelaziman atau kelumrahan sepihak untuk tetap hidup “berkeluarga” dengan Pak Martin.

Edan!

Zaman edan!

Zaman sudah edan! Bukan. Akulah yang saat ini edan.

Aku terus merintih, pongah, cuek, acuh tak acuh, tidak perduli, dan trenyuh dalam hati. Sementara bibirku terus tersenyum sumringah di depan undangan yang menyalamiku.

Sandiwara semalam bagiku merupakan bentuk formalitas bahwa aku sudah berkeluarga. Resepsi itu merupakan acara formalitas pengakuan bahwa aku “normal” di depan keluargaku dan orang-orang. Seabrek formalitas itu berarti bagiku sebagai tiket agar aku dapat leluasa untuk terus melanjutkan hidup bersama dengan Pak Martin.

Malam pertama aku dan Gadis dilalui tanpa darah perawan. Aku tidaklah ada hasrat untuk mencanangkan keperkasaanku terhadap benteng keperawanan Gadis. Aku juga tidak mendapat tuntutan dari Gadis. Dia sudah berkubang dengan “kemerdekaan”nya sendiri: lepas dari keluarga.

Menjijikan! Kata hati kebenaranku menyentil muak. Namun saat ini aku tidak lagi mendengar. Aku sudah tuli akan suara moralitasku sendiri! Mati rasa! Inikah bentuk keluarga setan? Entahlah! Yang aku sadari adalah semuanya berjalan di jalur yang salah!

Perjalanan hidup sebulan berikutnya, aku lalui seperti biasa. Keseharianku dengan Pak Martin berjalan seperti biasa. Keberadaan Gadis di apartemen Pak Martin seperti tidak ada artinya, kecuali bentuk fisiknya. Kepedulian dan kebaikanku terhadap Gadis bukanlah sebagai seorang suami. Hubungan baik di antara kami bertiga boleh dibilang hanya sebatas layaknya kebaikan antar teman atau sahabat.

Tidak terasa sudah satu semester aku menjadi “kepala keluarga”. Sebagai suami aku belumlah lengkap memberikan nafkah kepada Gadis. Setelah menikah, Gadis mendapat pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya, sebagai interior designer. Setelahnya, dia benar-benar sibuk dengan kegiatannya.

Lengkap sudah cerita “keluarga” yang aku punyai. Keluarga yang dibangun dari perjodohan yang menyimpang aturan kelayakan normal yang dianut masyarakat. Keluarga yang tidak berfondasi aturan norma agama.

Aku dan Gadis tersentak sendiri saat kami diingatkan oleh orang tua masing-masing. Saat mereka menyadari bahwa mereka belum juga mendapatkan cucu dari hasil pernikahan kami.

Sesuatu yang sulit untuk dijawab. Sesuatu yang sudah kami sepelekan. Sesuatu yang kami anggap tidaklah penting. Sesuatu yang selama ini terlewat dari pemikiran kami. Sekarang hal itu memojokkan kami.

Apa alasan yang pantas untuk menjawab pertanyaan keluarga itu? Jawaban yang jujur tidaklah mungkin. Akan sangat menggemparkan. Mau tidak mau aku dan Gadis kembali merancang bohong besar lagi.

Tahapan bohong sudah kami lalui dan mungkin akan selalu kami lalui selama perjalanan kami berkeluarga. Keadaan ini akan terus membelit hubunganku dengan Gadis sebagai suami istri. Hubungan ganjil antara seorang kepala keluarga dengan istrinya.

Sampai kapan keadaan ini akan terus berlangsung? Sepertinya jawaban itu belumlah terpikirkan olehku. Ataukah karena aku belum kapok? Tak tahulah. Aku belum berani menyatakan sikapku.

Huh!

*****

*********

Chapter 10: KOMITMEN

Untuk kedua kalinya aku dibenturkan pada kata yang sama.  Komitmen.  Dulu aku berusaha untuk tidak langsung memegang arti kata itu pada saat Pak Martin mengajakku untuk hidup bersamanya.  Sekarang untuk kedua kalinya aku tidak mau untuk begitu saja memegang kata itu pada saat aku harus konsekuen untuk menikahi Gadis.

Sepengecut apakah aku ini?  Sebegitu parahkah sikap pengecutku untuk bertanggung jawab terhadap sebuah komitmen?  Mengapa aku malah memilih menjadi seorang pengecut dari pada harus menunjukkan komitmenku terhadap orang lain dalam menjalin sebuah hubungan?

Aku hanya bisa menggeleng.  Aku sendiri tidak tahu apa kata hatiku yang sebenarnya  mengapa aku tidak berani memulai untuk mempunyai komitmen tinggi terhadap sebuah ikatan hubungan.

Aku bukan orang yang gampang untuk menyanggupi menjalani ikatan dari sebuah hubungan personal yang melibatkan perasaan hati.  Aku sudah mencoba punya komitmen kepada Pak Martin untuk hidup bersama.  Tapi sampai detik inipun aku masih gamang dan tidak berani mengatakan cintaku pada beliau.

Bagaimanakah soal hubunganku saat ini dengan Gadis?  Apakah nantinya aku harus bisa mengerti dan menyanggupinya sebagai bentuk komitmen antara suami istri?  Sanggupkan aku bertanggung jawab atas nafkah lahir dan batin Gadis jika kelak dia sudah menjadi istriku?

Aku tidak kuasa memaksa diriku untuk komitmen pada keputusan yang aku sendiri yang memilih.   Keputusan keluarga sudah jelas.  Pernikahan antara aku dan gadis sudah dibilang pasti.  Hari pernikahanku dengan Gadis sudah ditentukan dan disetujui oleh kedua belah pihak keluarga.

Memang, aku ini pengecut…aku merutuki diri sendiri.  Kenapa aku tidak berani bertanggung jawab atas keputusanku sendiri?  Kenapa aku malah punya pikiran untuk lari menghindari?  Kenapa nyaliku malah makin menciut saat mengetahui pernikahan itu makin dekat harinya?

Stress?

Bisa jadi.

Aku datangi kembali psikolog nyentrik itu. setelah setahun aku tidak berkunjung padanya.  Beliau cuma menggeleng-geleng makin tidak mengerti dengan pola pikiranku.  Jangan-jangan aku memang tidak waras.  Uh.

“Komitmen”  psikolog itu manggut-manggut, berkesan tahu apa yang dipikirkanku saat ini.

“Ya, saya takut untuk berkomitmen” aku menjelaskan

“Kenapa?”

“Saya tidak tahu, makanya saya ke sini lagi”

“Selama ini bagaimana hidup anda?  Apakah anda mendapatkan hidup anda seperti apa yang anda harapkan?”

“Ya”

“Lantas, apa yang harus anda khawatirkan? Anda sudah melakukan apa yang dimaksud dengan komitmen tadi..”

“Ini masalah komitmen lainnya”

“Oh, dalam hal yang sama dengan kemarin, atau berbeda?”

“Sama” aku tidak melanjutkan.

“ Anda sudah tahu harus berbuat apa dong kalau begitu,  Bukannya anda sudah punya pengalaman yang sama?  Harusnya anda bisa selesaikan masalah ini tanpa harus ke sini kan?” psikolog nyentrik menandaskan.

“Tapi berbeda orang” aku belum sepenuhnya bercerita.  Kali ini sangatlah sulit aku untuk berterus terang.

“Berbeda bagaimana? Orang lain?  Laki-laki lain?” psikolog itu sudah mengerti pertanyaan apa yang harus dia tanyakan kepadaku saat ini.

“Bukan” aku cepat menyela.

“Perempuan?”

“Ya”

“Hehehee….” Psikolog nyentrik malah terkekeh-kekeh.  Makin aneh saja.

“Kenapa tertawa?”

“Anda mau memulai sebuah hubungan khusus  dengan perempuan?” sergahnya.

“Ya”

“Baguslah kalau begitu.  Saya setuju aja. Orientasi anda sudah mengarah kepada arah yang seharusnya”  paparnya

“Tapi ini berat bagi saya” aku mengeluh di depannya.

“Kenapa anda merasa berat?  Ini pilihan anda bukan?”

“Bukan”

“Oh..”

“Pilihan keluarga”

“Anda menyanggupi pilihannya?”

“Ya”

“Lalu, apa yang harus anda khawatirkan?”

“Tapi…”

“Anda sudah menentukan.  Anda sudah memutuskan lho.  Anda tidak bisa lari dari keputusan itu..”

“Saya tidak akan menghindar..”

“Lantas?”

“Saya berat untuk melakukannya”  aku mengakuinya.

“Anda harus mencoba konsekuen dengan pilihan anda.  Keluarga sudah memupuk harapan terhadap anda lho” psikolog nyentrik ini setengah mengingatkanku.

“Ya. Itu yang membuat saya semakin pusing” keluhku

“Menurut saya, bukan itu yang membuat anda pusing” psikolog itu langsung membantah.

“Lalu, apa?” aku sedikit terhenyak dari relaksasiku berbaring di sofa panjang, empuk dan nyaman di ruang terapi.

“Anda tersiksa oleh hal yang sama seperti anda rasakan setahun yang lalu” tandas psikolog nyentrik itu dengan tenang.

“Jadi saya harus membuat solusi yang sama juga?” aku tertegun.  Masalah dengan perasaanku lagikah yang membelitku saat ini?  Aku sudah menentukan mengiyakan semua urusan pernikahanku dengan Gadis sesuai dengan kehendak orang tua.  Kenapa aku sekarang menjadi bimbang lagi?  Kenapa aku malah menyangsikan kesanggupanku sendiri?

“Pikirkan hal positif untuk melanjutkan apa yang akan anda jalani, sesuai dengan keputusan anda di depan orang tua anda, oke?” psikolog itu menggiringku untuk tidak terjebak oleh kekhawatiranku.  Aku merasa seperti mendapat energi baru yang menyemangatiku saat ini.

“Ya, saya akan coba” aku mendapat keyakinan baru.  Saat ini aku hanya sedang diujung ketakutan hidupku mendatang, tepatnya pernikahanku dengan Gadis.  Pertaruhan keputusan yang aku buat yang bagi orang lain bisa jadi sangat melecehkan hal sakral itu.

Entahlah!

Entahlah!

Entahlah, tepatnya aku tidak peduli!

Egoisku membawaku ke arah yang membuatku tidak perduli akan apa yang terjadi beberapa bulan lagi.  Hatiku telah menetapkan bahwa pernikahan itu akan aku lakukan sebagai bentuk baktiku kepada orang tua, atau entah sebagai pembuktianku pada keluarga bahwa aku menyembunyikan identitasku.

Entahlah!

Entahlah!

Entahlah, tepatnya aku semakin tidak perduli!

Pikiran nekadku adalah membiarkan perkawinanku dengan Gadis terjadi atas dasar perjodohan ganjilku dengan dia waktu kami berbincang pagi-pagi di tepi danau itu.  Biarlah pilihan itu yang kami tetapkan.  Kami mendapatkan keuntungan masing-masing atas keputusan itu.

Aku menghindari komitmen?  Bisa jadi!

Aku tidak menepati komitmen?  Bukan aku yang meminta!

Aku melecehkan komitmen?  Biarlah!  Biarkan saja orang-orang berkata begitu.  Biarkan saja orang-orang berpendapat begitu.  Biarkan saja  orang-orang menganggapku begitu. Egoku kembali meletup.  Egoku begitu kuat menepis semua asumsiku. Egoku tak terbendung dan mampu merubah kepribadian dan memupus perasaan.  Egoku telah menampik moral valuesku sendiri saat ini.  Egoku telah mengarahkanku untuk menjadi sosok yang berpikiran lain.  Egoku menguatkan pikiranku untuk tetap dengan Pak Martin, tanpa harus memikirkan perasaan Gadis.

Komitmen!

Biarlah kata itu ada, tapi bukan untukku saat ini.

“Kamu kelihatan cape, Kris” sapa Pak Martin di kantornya, saat aku menyodorkan hasil evaluasi bulanan di departemen marketing.

“Kelihatan ya Pak?” aku balik bertanya

“Yup. Wajahmu nggak seperti biasanya” Pak Martin menatapku tajam.

“Oh” aku terdiam.

“Apa kamu perlu cuti?” Pak Martin menawarkan cuti padaku.

“Saya belum perlu, Pak…” aku berusaha untuk menolak.

“Beberapa harilah, untuk menghilangkan stressmu..” Pak Martin terus memancingku.

“Saya tidak stress” aku mengelak

“Bener?” Pak Martin menggodaku.

“Ya” aku menggangguk.

“Beberapa hari ini tidurmu mengigau terus..” Pak Martin ternyata punya bukti yang memojokkanku.  Aku tidak lagi bisa mengelak.

“Masa?” aku mencoba mengalihkan perhatian Pak Martin.

“Apa perlu aku temenin cuti?” Pak Martin senyum-senyum ke arahku penuh arti.

“Nggak tahulah”  aku jadi ragu.

“Oke, kita cuti bersama minggu depan” Pak Martin sepihak memutuskan.  Aku hanya bisa diam.   Seperti biasanya, aku tidak bisa menyangkal apa yang telah ditetapkan Pak Martin.  Selama ini aku selalu percaya apa yang beliau lakukan untukku.

“Up to you, thank you so much” aku tersenyum bungah, lalu keluar ruangan.

Duduk bersebelahan dengan Pak Martin di waiting area bandara internasional, membuatku sedikit melupakan penatnya pikiranku saat ini.  Pak Martin bercerita banyak tentang kota metropolitan di negara bekas jajahan negara Inggris yang akan kami kunjungi untuk beberapa hari mendatang.

Sesuai dengan jadwal, tidak berapa lama lagi kami akan dipersilahkan untuk menuju ke pesawat.  Minggu ini, akhirnya aku mengambil cuti empat hari. Ternyata Pak Martin diam-diam memberiku surprise.

Sebenarnya beliau punya tugas ke luar negeri.  Aku disuruh beliau untuk mengambil cuti sesuai dengan hari tugasnya.  Beliau mengurus semua dokumen perjalanan.  Aku tinggal menyiapkan paspor saja.

“Lumayan kan Kris, biaya akomodasi sudah ditanggung oleh kantor.  Aku tinggal beliin kamu tiket.  Lagian, daripada aku lonely di sana, aku ajak kamu aja…” bisik Pak Martin kepadaku.  Aku hanya memandangnya sesaat, lalu melanjutkan pandanganku melihat-lihat sekitar ruang tunggu boarding pass ini.

“Kita akan honeymoon Kris…” Pak Martin cekikikan, masih berbisik-bisik.

“What?” aku terlonjak sejenak.  Pak Martin makin terkekeh.

“Apa perlu aku teriak?” Pak Martin makin kegelian dengan tingkahku yang terkaget-kaget dengan ucapannya.

“Nggak” jawabku singkat, sangat tidak setuju.

“Aku akan ketemu client selama sehari, mudah-mudahan urusannya kelar dan sukses, selebihnya kita akan jalan-jalan di sana…” Pak Martin menjelaskan rencananya, tepatnya harapannya.

“Mudah-mudahan saja” aku tidak punya kata-kata lagi untuk menimpali ucapannya.

Suara perempuan lewat load speaker mengumumkan kepada penumpang yang bertujuan ke negara  yang seperti kami tuju, untuk segera memasuki pesawat.  Aku siapkan ransel dan boarding pass.  Semua penumpang berbaris menuju pintu masuk pesawat.

Duduk di pesawat boing sungguh menyenangkan perasaanku.  Entah mengapa.  Sengaja aku memilih duduk di tepi jendela pesawat.  Pak Martin duduk di sebelahku. Aku perhatikan sekeliling.  Situasi dalam pesawat tampak sedikit lengang.  Penumpang pesawat ini tidak penuh.

Perjalanan selama kurang lebih lima jam, ternyata tidak membuatku merasa bosan.   Pak Martin banyak bercerita tentang hal-hal kantor dibandingkan dengan hal-hal pribadi.  Aku lebih banyak mendengarkan saja.

Sekeluar dari bandara internasional Kai Tak, kami langsung menuju ke hotel yang terletak di luar kota.  Seperempat jam kendaraan hotel melalui jalan tol yang melintasi rumah susun yang berderet, tepian laut, bukit-bukit hijau di kejauhan, perkantoran yang berlabel huruf yang aku tidak tahu dan tunnel yang berjarak cukup panjang, akhirnya  sampai di tujuan.

Lega rasanya bisa berbaring di tempat tidur hotel, setelah sekian lama duduk di perjalanan.  Hari belumlah sore.  Tubuhku butuh istirahat.  Kulihat Pak Martin sibuk menelpon client-nya.  Sepertinya sedang melakukan appointment.  Tak berapa lama setelah selesai, beliau membereskan dokumen yang dibutuhkan.

Sambil berbaring telentang, aku perhatikan kesibukan Pak Martin.  Marketing Manager handal ini terlihat serius dengan rencananya. Segala sesuatunya dipersiapkannya dengan matang.  Aku tidak berani mengganggunya saat ini.  Lebih baik aku putuskan untuk tidur saja.

Sepertinya aku belum lama terlelap. Tiba-tiba tubuhku menggigil. Tubuhku juga merasakan seperti menopang berat.  Perlahan aku buka kedua mataku.  Ternyata Pak Martin sudah menindihku.  Aku baru menyadari jika  Pak Martin sudah melucutiku.

Aku biarkan beliau meneruskan inspirasinya.  Aku biarkan saja beberapa lama, sebelum akhirnya aku bereaksi karena aksinya.

Empat hari di Hongkong, banyak pengalaman yang aku rasakan.  Melihat-lihat pasar tradisional Mekong, wisata ke Ocean Park, lari pagi di sekeliling Victorian Bay, makan malam di perahu apung, jalan-jalan di kota, berhujan-hujanan di perahu tongkang, ke diskotik hotel, belanja di pertokoan dan segudang acara weekend lainnya, ternyata sungguh dapat meringankan beban pikiranku.  Belum lagi acara yang Pak Martin sebut  honey moon membuatku makin mabuk oleh kehidupan dunia abu-abu.

Kalau bisa dibilang, empat hari di Hongkong dapat membuatku makin memupuk keegoisan dan ketamakanku.  Aku punya solusi yang aku anggap paling benar untukku.  Aku tidak perlu pusing dengan komitmen.  Aku akan jalani saja apa yang akan terjadi.

Lebih curang lagi, aku berpikir bahwa saat ini sumber kebahagiaanku adalah Pak Martin. Pilihanku sekarang adalah aku akan tetap bersamanya. Pikiran jahatku terhadap Gadis sebatas menolongnya untuk kabur dari rumahnya. Bukannya aku harus komitmen karena adanya proses pernikahan itu.

Bukankah dengan keputusan yang diambil Gadis justru aku malah mendapatkan banyak keuntungan?  Ya. Karena dengan begitu aku masih bisa melanjutkan hubunganku dengan Pak martin dan aku juga bisa memenuhi harapan dan keinginan keluargaku agar aku menikah.  Bukankah Gadis juga punya tujuan sendiri?   Bukankah Gadis juga diuntungkan karena  keinginannya untuk  kabur dari rumah dapat dicapainya?

Komitmen.

Apa benar Gadis juga punya komitmen pada pernikahan itu? Apa benar Gadis akan mengusung arti kata itu jika dia sudah menjadi istriku, maksudku, istri pura-puraku? Apa Gadis akan memegang erat komitmen yang disodorkan oleh lembaga sakral yang bernama pernikahan itu?

Belum tentu. Aku malah yakin jika Gadis tidaklah sepusing seperti diriku.

Komitmen.

Atau berjuta-juta komitmen.

Ah! Sekarang, aku tidak lagi takut pada kata atau berjuta-juta kata itu, karena aku bisa menganggapnya tidak ada dalam kehidupanku.

*****

Older Posts »